
---ELIS: Let the Weak be Strong ---
Dia duduk dikursi dilorong sekolah ini dengan cahaya lampu terang meneranginya diatasnya..
Sepi dan hening.. itulah gambarannya terhadap lorong ini dan dirinya saat ini..
Tak ada yang bisa ia katakan setelah semua ini..
Malam sedang menyebar dan menari dengan misterius-indah dibelakangnya dibalik jendela panjang lorong ini.
Ia hanya melihat tangannya yang baru ia bersihkan tadi.. masih ada bekas darah dikuku dan beberapa bagian jarinya..
Terlihat beberapa darah dibagian pakaian dadanya.. yang tak mudah ia bersihkan dari tadi meskipun ia usap dengan air..
'KENAPA KAU LINDUNGI CEWE KAYAK DIA HAH!'
Dia dengar teriakan itu terus menerus dikepalanya.
Ia lihat lagi bagaimana Eni menusuk dada Raihan berkali-kali dengan pena dan Raihan yang hanya mencoba menahannya.
Semua erangan Raihan dan Adam, teriakan Eni, dan bagaimana Elis hanya bisa duduk melihat semuanya ia ingat.
Kemudian Adam datang mengambil Eni dengan cepat dengan dua tangannya ia pegang dengan kuat kemudian mengangkatnya.
Tangannya tiba-tiba bergetar dan kakinya menjadi tegang karena ketakutan.
Semacam perasaan tumbuh dari ujung kakinya hingga kekepalanya, perasaan cemas dan takut.
"Apa yang kulakukan?" ,bertanya Elis.
Dia ingat bagaimana ia tertawa ketika ia menekan Eni ditanah dan memegang kedua tangannya bagaikan diborgol.
Ia tutup mulutnya dan hanya merasakan mau muntah mengingatnya..
Apa yang aku lakukan?
Ia menyatukan kedua tangannya dan menggenggamnya dengan kuat..
Ia gertakkan giginya..
Apa yang aku lakukan? Kenapa aku bermain seperti itu?
'Perempuan sok asik'
Ia dengar lagi suara itu mengelilinginya dan dorongan dari seorang wanita yang membuatnya jatuh menggeser sebuah meja dikelasnya.
'Pergilah sana, ngapain kau disini?'
Sebuah dorongan sekali lagi ia rasakan hingga mendorong kelantai-
"Kak Elis" ,ucap suara wanita mendekat kearahnya.
Seorang murid perempuan terlihat berjalan menuju kearahnya.
Terlihat dia didampingi seorang pria.
Murid perempuan tersebut memiliki kulit sawo matang dengan rambut hitam panjang yang ia kibarkan sepanjang bahunya.
Sedangkan pria yang mendampinginya adalah seorang pria yang tak begitu pendek maupun tinggi, tapi cukup tinggi dari perempuan tersebut. Rambutnya hitam pendek serta kulitnya putih dengan ekspresi tajam.
"A-ada apa?" ,suara Elis yang masih terbata-bata terdengar.
Dia harus bisa ramah setidaknya.. dia harus bisa ramah..
Tapi entah kenapa ia tak bisa.. rasa takut memenuhi hatinya..
Ia menjadi mirip dengan wanita yang ia benci.
Ia tak bisa lari dari masa-masa buruknya diSMP..
"Ada semacam pertanyaan yang kami mau tanyakan" ,ucap perempuan tersebut sambil mendekatinya.
Perempuan tersebut terlihat berlutut satu kaki ketika mendekatinya..
Perempuan itu kelihatannya lebih tahu rasa takutnya lebih dari dirinya itu sendiri..
"A-apa yang kalian cari?" ,ucap Elis terbata-bata dengan nada gugup lemas.
”Boleh kami bicara ditempat yang gak terlalu.. apa namanya? 'Terbuka' " ,ucap perempuan itu.
"Diruang suplai kebersihan" ,ucap pria dibelakangnya menyambung ucapan perempuan itu.
Elis menoleh kearah pria itu.. matanya cukup serius dan tajam.. bagaikan seperti membara..
Lebih dari membara.. tapi semacam sesuatu yang sudah lama padam dan sekarang terbakar dengan besar..
"N-nama kalian?" ,bertanya Elis sambil mengusap beberapa pakaiannya sendiri, mencoba merapikan dirinya sendiri.
"Arinauli Zera" ,ucap perempuan yang dipanggil Zera tersebut.
"Arinauli? Batak?" ,ucap Elis.
"Iya, tapi sudah bercampur banyak dengan melayu dan minang, gak ada marga juga" ,ucap Zera sambil berdiri dengan cepat kemudian memegang bahu Elis.
"Aku.. juga batak.." ,ucap Elis yang merasakan pegangan Zera dibahunya.
"Bedanya ada marga?" ,bertanya Zera.
"Iya" ,jawab Elis dengan cepat.
"Apa?" ,bertanya Zera sekali lagi kali ini mereka berjalan kearah ruang suplai kebersihan.
"Matondang" ,ucap Elis.
Iya dirinya adalah Elisabeth Matondang.
Dirinya adalah Elisabeth Matondang..
Dan darah orang kuat batak mengalir dalam dirinya.
_____-_-_____ <<<<< 6 menit
---ENI: Annisa ---
Eni berjalan keluar dari ruangannya tadi..
Dengan terang lampu lorong ini yang terlalu terang menyakiti matanya..
Ia bisa merasakan kedua tangannya diborgol dengan seorang polisi mendampinginya disampingnya..
Ia bisa melihat seluruh mata dilorong ini ketika keluar dari ruangannya mulai diarahkan padanya..
Ia lihat guru-guru dan security yang berdiri dilorong ini menatap padanya..
Tak ada murid..
Tadi rasanya ada 2 murid itu..
Seorang pria dan seorang perempuan yang masih disekolah dan nampaknya tak mengikuti jam tambahan..
Eni ingat melihat mereka berdua ketika dirinya lari dari kelas..
Mereka pacaran?
Dan Annisa..
Salah satunya perempuan disamping Annisa ketika berlari kearah dirinya..
Annisa ada urusan dengan perempuan itu?
"Bisa aku bicara dengan temanku?" ,bertanya Eni.
"Siapa?" ,bertanya polisi disampingnya.
"Perempuan yang berambut pendek yang tubuhnya agak tinggi, itu" ,ucap Eni sambil mendongakkan kepalanya kearah Annisa.
Polisi tersebut hanya menoleh kearah Annisa yang sedang duduk dengan didampingi seorang guru.
"Tidak, sampai dia buat kesaksiannya" ,ucap polisi sambil kembali menoleh kearahnya.
"Hanya sebentar pak" ,ucap Eni.
Eni dan polisi itu kemudian menatap satu sama lain dengan suara obrolan guru yang samar-samar dilorong ini terdengar..
Ia bisa merasakan dingin borgol besi ditangannya..
Dengan tatapan polisi itu yang terlihat datar terlihat..
"Ya sudah, disana, aku yang jaga" ,ucap polisi tersebut sambil menunjuk Ruangan Klub Seni Animasi.
Eni hanya menghela nafas mendengarnya..
Kemudian ia menatap Annisa..
Dan Annisa menatapnya balik..
____-_-____
---RAIHAN: Just a Sad Girl ---
Raihan membuka matanya..
Ia bisa merasakan dingin dan semacam rasa basah diperutnya..
Ada semacam sesuatu yang keras mengelilingi mulutnya..
Masker pasien?
Ia bisa melihat beberapa puluhan pipa kecil yang dipasang ditubuhnya dan semacam kaca yang memblok pandangannya..
Saat ia sadar.. ia sadar ia sedang berada didalam tabung pasien..
Entah kenapa ia merasa lebih relaks dan mengantuk didalam tabung ini..
Ia selalu menanyakan apa yang orang rasakan didalam tabung ini.. jadi begini rasanya..
Lebih dingin.. lebih terasa relaks.. tak ada sesak nafas atau semacam rasa panik..
Oh iya bagaimana Elis?
Ia ingat wajahnya yang terkejut dan ketakutan dibelakang sekolah itu.. wajah yang ia tak sangka akan keluar dari seorang seniornya..
Apakah ia berhasil melindunginya? Kelihatannya iya..
Dan Eni..
Ia tak tahu apa yang terjadi padanya..
Entah kenapa saat Raihan melihatnya menusuknya..
Ada semacam perasaan..
Kalau ia cuma seorang wanita yang sedih.