White Ink

White Ink
Mencari (part 2)



----ENDRA: MENCARI ----


"K-kau tak mau menyerahkannya pada OSIS?" ,bertanya Zera sambil berdiri bersandar dilorong ini.


"Iya.." ,jawab Endra dengan suara yang pastinya terdengar ragu ditelinga Zera.


Dia sendiri agak ragu, tapi mungkin ini waktunya...dia sudah punya keberanian..dia sudah punya a-api?


Mungkin api yang tepat untuk mengungkapkan suatu perasaan didadanya.


"K-kenapa? Kenapa begitu? Kau mau dituduh sebagai pencuri apa? Aku mendengarmu saja sudah curiga" ,ucap Zera sambil menoleh kearahnya dengan wajah yang terlihat kebingungan.


"Tidak, aku masih penasaran...kenapa dompet ini bisa berada didepan ruangan guru..bagaimana..dan siapa yang menaruhnya.." ,ucap Endra sambil mengerutkan dahinya sambil melihat dompet ini.


"Kau kan bisa tinggal beri dompet ini, baru telitinya nanti" ,ucap Zera yang terlihat masih curiga.


"Heh, 'telitinya nanti', kau saja sudah tak mau ikut dalam urusan menyusahkan seperti ini..." ,ucap Endra sambil menghentukkan bagian belakang kepalanya secara ringan ke-dinding.


"T-tentu saja bukan?" ,ucap Zera.


"Apalagi OSIS, setelah mereka dapatkan dompetnya, mereka akan pergi kemana aja dan gak peduli soal misteri seperti ini Zera.." ,ucap Endra dengan senyuman mulai terbentuk diwajahnya, "aku mungkin butuh bantuan OSIS dalam menemukan misteri ini Zera...mereka masih tak boleh pergi dulu.."


"Kau mau saja ikut dalam hal seperti ini" ,ucap Zera yang heran melihat tingkah laku Endra.


"Aku sering melakukan seperti ini dulu...hehehaha...astaga aku kembali lagi.." ,ucap Endra yang tertawa sambil membuka dompet ini, "ini akan menyenangkan kalau misteri ini kompleks"


"Jadi? Kau tak mau menjemputku?" ,bertanya Zera.


"Kau tak ada kerjaan bukan siang ini? Ikut saja aku, aku punya banyak kerjaan karena misteri ini" ,ucap Endra dengan senyuman sambil menaruh dompet itu ditasnya.


Zera hanya mengerutkan dahinya dan langsung melihat Endra dari kaki hingga keatas kepalanya.


Kemudian suara melangkahnya terdengar dan berdiri dia didepan Endra.


"Kau memang bukan pencurinya nampaknya" ,ucap Zera.


"Hm? Kenapa?" ,ucap Endra dengan sengiran.


"Kau takkan mengajak seseorang disebuah usaha untuk melepaskan barang bukti pencurian-mu, apa memang benar kau penasaran?" ,bertanya Zera dengan kerutan matanya terlihat.


Mata Zera terlihat tajam sekaligus agak menakutkan bagi Endra.


"Tentu saja, kau juga penasaran?" ,ucap Endra.


"Hahh..untuk sekarang, iya" ,ucap Zera sambil menghela nafas.


Mata tajam itu hilang.


Dirinya terlihat masih tak bisa mencerna situasi, dan masih agak panik juga takut.


Wajar, Endra juga merasakan hal pertama kali ketika melakukan hal semacam ini.


Rasa takut dianggap sebagai pelaku meskipun sedang mengejar pelaku.


"Apa kata acara TV lama The Wire dari 2006 itu? Dalam bahasa inggris.." ,ucap Endra yang kemudian mengambil permen dari kantungnya.


"Acara TV lama? Kau kelihatannya suka sekali hal lama" ,ucap Zera dengan menaikkan salah satu alisnya.


" 'The Thrill of Chase' " ,ucap Endra yang berhasil mengingatnya sambil memakan permen dimulutnya, "itu perasaan yang harus kau rasakan dimisteri seperti ini Zera"


Dari jendela terlihat ratusan murid pulang dengan bergerombolan.


Beberapa menyapa temannya sebelum mereka pulang.


Bertemu,mengobrol,merencanakan,dan duduk santai.


Ratusan gerombolan dengan seragam hijau dan kuning terbentang dijendela ini.


Tapi ini hanya setengah dari sekolah, beberapa anak murid lainnya masih disekolah karena ikut kegiatan ekstrakurikuler atau kelas kursus guru disekolah ini.


"Jadi? Apa langkah pertamamu dalam memecahkan misteri ini?" ,bertanya Zera.


"Kau ada daftar mata pelajaran disemua kelas disekolah ini?" ,bertanya balik Endra.


"Daftar mata pelajaran semua kelas? Buat apa?" ,bertanya Zera.


"Berikan saja" ,ucap Endra dengan senyuman sambil melihat beberapa murid yang sudah pulang.


Zera hanya membuka HP-nya dan terlihat membuka aplikasi chatnya, kemudian sebuah notifikasi pesan datang kedalam chatnya Endra.


"Hm?" ,gumam Endra sambil melihat chat yang diberi Zera.


Terlihat foto daftar mata pelajaran yang dibuat dengan excel dengan warna tabel kuning,hijau,dan ungu diisi ratusan angka dan nomor juga kata-kata terlihat.


Endra tahu arti beberapa angka ditabel ini, ini adalah nomor setiap guru dan materi pelajaran disekolah ini.


Ia kemudian dengan cepat menemukan daftar nomor materi dan guru kelas 10 MIPA 6.


Dan dahinya langsung mengerut.


"Aku mengerti, OSIS itu salah.." ,ucap Zera.


"Mungkin" ,jawab Endra yang mendengarnya, "konslet CCTV dikelas Eni bisa jadi tak ada hubungan kuatnya dengan misteri ini"


"Kelasnya Eni sepenuhnya belajar materi diluar kelas mereka, coba lihat 'PJOK' dilapangan, kemudian 'Kimia' yang adanya dilaboratorium sama guru bapak Alimudin, yang terus 'Seni Budaya' yang juga diruang kerajinan juga, 'TIK' yang mana pastinya diruangan komputer" ,ucap Zera dengan makin mengerutkan dahinya.


Disekolah ini, kamu harus membawa tas dan semua barang-barangmu jika ada materi diluar kelas, ini karena tingginya pencurian dikelas jurusan IPS dahulu.


OSIS yang menjabat sekarang sendiri yang mengusulkan peraturan ini ke-guru, yang mana guru dan kepala sekolah menyetujuinya.


"Jadi? Apa yang kita akan lakukan? Kita minta rekaman CCTV dilapangan hari ini? Memang mereka mau ngasihnya terhadap murid random yang datang sembarangan?" ,ucap Zera.


"Kita tak perlu minta, OSIS sudah ngelakukannya" ,ucap Endra sambil berjalan kearah keluar dari lorong ini.


"Iyakah?" ,ucap Zera yang kebingungan tapi mengikuti arah jalan kaki Endra.


"Tentu saja, mereka tak sebodoh itu untuk tak menginterogasi teman-teman Eni, pastinya OSIS sudah tahu kalau kelas Eni pelajarannya hari ini semuanya diluar kelas" ,ucap Endra dengan kakinya merasakan kerasnya lantai keramik dilorong ini.


"Jadi? Jadi kenapa OSIS tadi mau minta rekaman CCTV dikelasnya?" ,bertanya Zera.


"Untuk memastikan kalau mereka tak ketinggalan sudut, memastikan semua detail, memastikan semua hal kecil" ,ucap Endra, "cara terbaik memecahkan misteri Zera"


Langkah kaki Endra bisa terdengar menggema dilorong ini.


Sedangkan dibalik pembicaraan mereka suara kebisingan murid pulang terdengar.


Cahaya matahari secara perlahan mulai berubah dari kuning menjadi jingga.


Sudah berapa kali pandangan ini masih sama bagi Endra?


Cahaya sore bahkan bisa menjadi suara yang terdengar ditelinganya.


Suara sesuatu mulai berakhir.


Ini mungkin akhir dari perasaan kosong yang membuatnya nyaman ini.


"Jadi kita mau kemana?" ,bertanya Zera.


"Ruangan komputer" ,ucap Endra, "mencari detail kecil"