
---ENDRA: Keraguan ---
Endra hanya bisa menaruh punggungnya didinding.
"Ada rencana lain?" ,bertanya Zera yang hanya menyandarkan punggungnya disamping Endra.
Ia gagal...ia sudah menunggu waktu ini untuk kembali setelah setahun..
"Aku mau beli green tea milkshake.." ,ucap Endra dengan suara malas.
Ia awalnya menyukai urusan seperti ini, ia malah melakukan semacam ini ratusan kali..
Tapi setelah insiden tubrukan motor tersebut dia sadar kalau semua ini tak memiliki banyak harganya..
Ia bosan dengan semua ini...ia bosan dengan semua cerita...ia bosan dengan semua tokoh didalamnya..
Ia menyukainya.
Tapi bosan dan suka kadang bisa bercampur..
Dan setelah insiden motor itu perasaan bosan memenangkan hatinya..
Sekarang api rasa dihatinya kembali membakar...
Tapi target apinya telah hancur dan menghilang dikegelapan sekarang..
Ia mungkin akan kembali lagi, ketempat sebelumnya, sebuah kekosongan yang membuatnya merasa nyaman..
Tapi anehnya rasa dihatinya masih membakar..
Ada perasaan yang mengatakan kalau ia belum selesai...dan harus melanjutkannya..
"Hadehh..semangatmu langsung hilang.." ,ucap Zera yang tersenyum pahit.
"Ayolah Zera! Kau pikir kapan lagi kita bisa tangkapnya seperti ini? Ketika kita bisa lihat apa yang orang yang paling berpengaruh dikasus ini akan lakukan setelah kejadian perkara?" ,ucap Endra dengan suara yang marah.
"Mungkin kita bisa pecahkan kasus ini lain kali, saat ini mari kita pulang" ,ucap Zera.
"Lain kali? Lain kali?! Aku tak sangka kau sebodoh ini Zera, kita dekat! Kita dekat sekali menarik ekor kucing yang kita cari! Tidak! Tidak! Kita tidak akan pulang! Kita akan lihat apa yang OSIS lakukan kepada Eni" ,ucap Endra yang hanya melepas punggungnya dari dinding dan berjalan menjauh dari Zera.
"Memangnya apa yang akan kau dapatkan dari kasus ini Endra?" ,bertanya Zera dengan tatapan tajam, "diakhir apa yang akan kau dapatkan?"
Tatapan tajam Zera membuat Endra terdiam sebentar, dia sudah tak lama ditatap begitu selain ibunya sendiri.
Tangan Endra hanya perlahan mengenggam dan membentuk sebuah tinju.
Tak ada yang mengerti dirinya sepenuhnya..
Lapangan menjadi sepi hari ini, dengan suara angin yang melewati mereka berdua.
Roknya Zera terlihat berkibar diantara sepatunya..
Cahaya sore menerangi wajah Endra, membentuk sebuah bulu babi putih terang disamping wajah Endra..
"Ini sesuatu yang kau takkan mengerti kalau kau belum mencapai akhir Zera.." ,ucap Endra yang mengadah kepalanya menatap kearah matahari, "kita membangun sesuatu yang takkan banyak orang mengerti...setiap detail itu penting...dari awal hingga akhir.."
Zera hanya terdiam dan menaikkan salah satu alisnya.
Dia hanya menggesek bahunya dengan salah satu tangannya.
"Hahh...bagaimana jika kau salah? Bagaimana jika Eni mau berlari saja menuju WC untuk buang air, dan dompet itu hanya ditemukan orang random terus ditaruh didepan ruang guru?" ,ucap Zera dengan wajah yang terlihat kelelahan dengan semua ini.
Endra baru mengingat kalau Zera bukan perempuan itu..
Kenapa dia tak mengerti? Kita sangat dekat, sangat dekat dengan semua ini, Endra bisa merasakannya, "tidak, tidak, tida-
Ucapan dimulut Endra tersangkut dengan sesuatu...
Ia dekat...
Ia sadar ia sangat dekat...
"Mungkin dia memang mau ke-WC.." ,ucap Endra yang tersenyum.
"Hah?" ,heran Zera mendengarnya.
"Zera, bisa kau kunjungi WC atau lorong belakang, coba cari kalau ada seseorang yang menunggu disitu, kalau kau kenal maka bilang kepadaku siapa itu" ,ucap Endra yang mendekatinya dengan terlihat sambil tersenyum.
"Hah? Kenapa?" ,ucap Zera yang masih kebingungan.
"Eni berjalan lewat lorong yang diapit dua bangunan sekolah, ayolah kau harusnya tahu tempat apa itu biasanya" ,ucap Endra yang sambil menunjuk kearah lorong yang Eni lewati.
"Tempat...tempatnya anak nakal bolos untuk ke-WC...diam-diam?" ,ucap Zera yang ragu.
Endra hanya tersenyum sambil menyipitkan matanya, "kau pikir kenapa dia mau kesana?"
"Untuk...buang air..?" ,Zera sekali lagi masih ambigu.
"Tidak, dia diam-diam pergi ke-WC, Dia diam-diam melewati kekoridor dibelakang" ,ucap Endra dengan suara yang terdengar senang.
"Tunggu bentar, kenapa begitu?" ,bertanya Zera yang merasa janggal.
"Itulah kenapa! Itulah kenapa kau akan pergi mencheck di-WC dan koridor dibelakang! Kenapa Eni mau pergi secara diam-diam ke-WC?" ,ucap Endra dengan suara yang terdengar terburu-buru.
Zera yang hanya tersenyum tertawa kecil dan merenung sebentar.
Kemudian ketika menatap wajah Endra ia berdiri tegap, "dasar kau, kupikir kita sudah selesai"
"aku belum selesai Zera, kita belum selesai, kita belum mencapai akhir" ,ucap Endra dengan senyuman.
"Heh kalau kita sebenarnya sudah mencapai akhir?" ,ucap Zera yang tersenyum membalas ucapan Endra dengan tawa.
Mata Zera terlihat menatap Endra dengan tatapan tajam yang membuat mereka berdua terdiam sekali lagi..
Wajah Endra tidak membalas apapun, hanya wajah terdiam dengan mata kosong yang agak menakutkan.
"Heh sialan kau, jadi aku sendirian kesana?" ,ucap Zera.
"Ya" ,ucap Endra yang langsung melangkah berbalik, "kelihatannya aku tak perlu meragukanmu"
"Mengecek apa yang terjadi dengan CCTV" ,ucap Endra yang langsung membalikkan punggungnya dan berjalan dengan cepat.
"CCTV? Oi! Oi!" ,ucap Zera berteriak memanggilnya.
Tapi Endra hanya terus menghiraukannya dan berjalan dengan cepat.
"Tenang aja! Tinggal chat aku kalau ada apa-apa" ,ucap Endra yang memasukkan tangannya kedalam saku celananya.
Dia harusnya sadar sejak awal..
Dia tidak memiliki perempuan itu kembali, maupun teman-temannya..
Dia tidak berada dikampung halamannya..
Dia diBloedek.
Kota penuh keraguan.
.
.
.
.
.
.
___-_-_____
.
.
.
.
.
.
.
----ENI: The Fall of Pawn before become a Queen ----
"Oi Eni! Berhenti!" ,teriak anggota OSIS perempuan dibelakang.
Dia bisa merasakan langkah kaki mereka dibelakang, teriakan mereka dan juga cepatnya mereka berjalan.
Dia panik dan ketakutan.
Saking ketakutannya ia bahkan tak berani menghadap kebelakang.
Kenapa? Kenapa OSIS mencarinya?
Ia berjalan dikoridor sepi ini, dengan dikejar oleh 3 orang.
Disampingnya terdapat dinding keluar sekolah.
Disampingnya yang lain lagi ada kelas kosong dengan jendela mereka bisa ia lihat dari sini.
Pasti OSIS sudah menemukan rencananya..
Jika tidak, kenapa mereka harus mencarinya lagi?
Apakah mereka sudah menemukan foto-fotonya? Apakah mereka sudah menemukan dompetnya? Bagaimana dengan Annisa?
Mereka juga sudah dapat rekamannya?
Sialanlah! Sialanlah! Gara-gara perempuan bodoh itu!
Rencananya gagal...semua yang ia siapkan..
Semua uang yang ia habiskan..
Kenapa? Kenapa? Kenapa ini bisa terjadi?
Ia belum memulai langkahnya, ia belum mencapai apapun yang kakaknya buat ia iri memandangnya dari belakang.
Kenapa? Apakah dunia tak menginginkan agar ia memulai langkahnya?
Apakah begitu?
Apakah dunia pun bahkan tak mengerti dirinya..
Dunia menghancurkan kakinya bahkan sebelum ia melangkah dianak tangga.
*Srrretttttt!*
Suara gesekan sepatu anak murid terdengar didepan Eni.
Terlihat seorang anggota OSIS pria dengan muncul dari lorong lain.
Memotong arah kaburnya.
Ini akhirnya..
Kakinya memelan.
Dan pelukan seseorang ia rasakan dengan keras dari belakangnya.
Dan ia terjatuh ketanah.
"Dapat kau!" ,teriak seorang perempuan.