
"Kadang perasaan menjadi pemenanglah yang menjadi hadiah paling besar dari sebuah kemenangan [......] bukan uang,hasil,kemajuan,atau material...Tapi kemenangan..tapi rasa menjadi pemenang itu sendiri"
- Letnan Mcguess diPerang Saudara Botswana 2041 waktu duduk bersama prajuritnya setelah memenangkan pertempuran kota St. Antony.
Pertempuran paling berdarah diperang Saudara Botswana 2040-2045.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
---ENDRA: Victory ---
Endra berjalan dengan tergesa-gesa mendekati lapangan sekolah.
Langkah kakinya agak bergetar, ketakutan dirinya sekaligus penasaran apa yang terjadi.
Apakah ini berurusan dengan apa yang ia lakukan?
Apakah ini terulang lagi?
Ketika ia menapak ditanah lapangan sekolah yang keras dan berdebu..
Ia hanya sedikit sesak nafas dan memasang wajah terkejut..
Ia lihat Raihan ditaruh diranjang darurat ambulans dengan mengeluarkan darah yang cukup banyak.
Darahnya cukup banyak hingga ia melihat ranjangnya menurunkan darah kelapangan sekolah.
Dengan diiringi petugas rumah sakit yang memakai pakaian serba putih yang menggembung dan helm kaca yang menutupi wajah mereka.
Ketika petugas rumah sakit menekan suatu tombol.
Suara mesin terdengar diranjang Reihan.
Tabung kaca kemudian secara otomatis menutupi ranjang daruratnya dan tubuh Raihan yang terbaring diatasnya.
*Tintt!* *Tintt!* *Tintt!*
*Pasien memiliki kerusakan diulu hati yang parah, pendarahan status parah, diharapkan petugas rumah sakit membawa dalam 41 menit dan 54 detik*
Suara semacam program ditabung tersebut terdengar, menghitung kerusakan dan sisa waktu nyawa Raihan.
Terlihat semua security dan guru-guru hanya bisa memasang wajah terkejut dan shock.
Semacam tangga keluar secara otomatis dari ambulans.
Mengangkut ranjang darurat dan tabung yang Raihan berada didalamnya.
"Ada apa ini?" ,ucap seorang bapak guru bertanya.
Endra hanya ikut melihat kearah guru tersebut bertanya.
Ia melihat Eni berdiri...dikelilingi 2 OSIS yang shock dan memasang wajah pahit semua...
Pakaian Eni terlihat dibanjiri darah terutama dibagian lengannya..
Terlihat sebuah pena terlihat merah dengan cairan darah membanjirinya terbaring dilantai..
Pena tersebut terbaring dilantai bersama dengan darah-darah yang berhamburan lainnya...
Seorang pria OSIS terlihat sedang memegang tubuh Eni.
Wajah Eni terlihat gelap dan matanya kosong..
Bahunya diapit dengan lengan besar pria OSIS yang memegangnya..
Apa yang terjadi?
*Tap* *Tap* *Tap*
Suara langkah kaki terdengar mengarah kesini.
Ia melihat dua orang perempuan mengarah kesini.
Zera?
Zera terlihat berlari kesini dan ketika ia cukup dekat dengan ambulans ia juga memasang wajah terkejut.
Ada seseorang disamping Endra...seorang perempuan dengan rambut pendek dan tubuh yang tinggi..
Perempuan disamping Zera juga ikut terkejut ketika melangkah cukup dekat.
"A-apa yang terjadi?" ,ucap perempuan disamping Zera.
Endra agak ketakutan ketika melihat Eni menggerakkan kepalanya mendengar ucapan perempuan disamping Zera...
Ia mengenalnya..
Eni langsung menoleh kearah perempuan yang disamping Zera..
Tangannya yang dipenuhi darah terlihat menggenggam..
Membentuk tangannya seperti ingin meninju..
Giginya terlihat ia gertakkan..
"APA YANG TERJADI ANNISA?!" ,teriak Eni dengan suara yang keras dan wajah membelalak marah mengarah keperempuan disamping Zera, "BERANI KAU NANYA GITU SETELAH NGERUSAK RENCANA KITA!?"
Annisa? Apakah itu nama perempuan disamping Zera?
"A-apa maksudmu Eni?" ,ucap Annisa dengan wajah yang kebingungan tidak tahu apa yang terjadi.
"KAU! ANAK ANJING! P*NTEKLAH LEPASKAN AKU!" ,ucap Zera yang bergerak marah secara histeris.
Dia kelihatan hanya menggerakan kakinya secara putus asa dan lengannya secara terbatas karena ditahan pria OSIS.
Terlihat Zera melayangkan tinju dan tendangan yang tak mencapai Annisa.
Annisa hanya kebingungan dan masih shock.
"Oi, oi ada apa ini?" ,ucap bapak guru mendekati Eni.
Seorang security mulai melangkah mendekati Eni.
"NGEJAUH KALIAN SEMUA! AKU MAU NGOMONG BERDUA DENGAN PELACUR BODOH INI!" ,ucap Eni dengan menggeliat mau bergerak
"Tenang, tenang" ,ucap bapak guru itu mencoba menenangkan Eni.
Security itu hanya tersenyum pahit sambil mendekati Eni.
"Sekarang bilang apa yang terjadi?" ,ucap bapak guru itu sambil menatap kedua anggota OSIS yang sedang shock.
Anggota OSIS pria hanya memasang wajah pahit, sedangkan yang perempuan sedang gelap dan matanya agak kosong merenung.
Apakah Annisa memiliki hubungan dengan kasus ini?
Kelihatannya iya dari teriakan dan amarah Eni yang diarahkan kepadanya...
Tapi ini semua tak jelas.
Ini semua terlalu kabur.
Ini semua terlalu kacau.
Endra hanya melewati semua security dan guru menembus untuk mencapai Zera.
Langkah kakinya terasa lebih cepat kali ini, entah karena ketegangan atau panik.
"Oi Zera, siapa perempuan ini?" ,bertanya Endra yang mendekatinya.
"Endra? Oh ini Annisa.." ,ucap Zera yang hanya menunjuk Annisa dengan jempol, "..a-apa yang terjadi?"
"Tidak, aku mau tanya kau dulu" ,ucap Endra sambil melihat sekelilingnya dengan mengerutkan dahi, "aku tak tahu apa yang terjadi disini, aku datang kesini setelah semuanya telah selesai"
Ketika Endra menoleh kebeberapa bangunan sekolah..
Ia lihat beberapa anak kelas jam tambahan terlihat keluar dari kelas dan berdiri dibalkoni panjang sekolah menyaksikan kearah ini...
Wajah mereka juga penasaran sama seperti Endra..
Apakah orang serba hitam ada dikumpulan murid-murid itu? Atau sudah keluar dari sekolah?
Masuk akal keluar dari sekolah, sekarang semua security telah teralihkan dengan urusan ini.
"Apakah kau sudah temukan orang yang menunggu Eni dibelakang sekolah itu?" ,ucap Endra dengan suara dalam.
Annisa hanya mengerutkan dahinya dan menoleh kearah Endra, "ada apa ini?"
"Sekarang? Didepan dia?" ,heran Zera.
Endra kemudian kembali menoleh kearah Annisa.
Jadi dia memang memiliki hubungannya dengan kasus ini...Annisa..Endra tak mengenalnya..
Teriakan marah Eni tadi...itu semua masuk akal jika dia ada hubungannya..
"Iya sekarang" ,ucap Endra dengan tatapan tajam.
Ia sedikit merasakan perasaan tegang memegang tubuhnya.
"Hahh...aku tak mengerti kenapa, tapi aku turuti kemauanmu" ,ucap Zera yang kemudian menunjuk Annisa, "dia orang yang ikut dalam rencana Eni, kau benar ini adalah transaksi rahasia, transaksinya adalah Eni yang memberinya uang gaji lewat kartu kredit"
Endra hanya tersenyum..
Dia senang dan tegang disaat yang sama..
"A-apa maksudnya ini Zera?" ,kebingungan dan terkejut Annisa.
Endra mau tertawa rasanya..
"Kau sudah kalah Annisa" ,ucap Zera yang menoleh kearah Annisa dengan wajah dingin, "rencanamu dengan Eni telah hancur"
Endra merasakan chills memenuhi tubuhnya..
"Ahaha" ,ucap Endra tertawa dengan senyuman merasakan kesenangan disekujur tubuhnya, "Zera benar, kau kalah Annisa.."
Untuk sebentar Endra tak peduli sisa ceritanya..
Dia hanya peduli saat ini ia menang, apapun yang terjadi..
Dia berhasil menebak fakta besar dalam kasus ini, ia tak peduli bagaimana cara dia menang..
Ia hanya peduli soal perasaan kemenangan itu sendiri..
"Dan kami menang" ,ucap Zera tersenyum kecil sedih sedangkan tangan kanannya menepuk bahu Endra.
Ia menang.