
---ZERA: Elis ---
Elis terlihat berdiri didepan mereka berdua dengan wajah yang gugup sekaligus suram..
"Soal Eni kah.." ,ucap Elis dengan suara yang terdengar suram.
"Iya, kami mau tahu bagaimana ia menusuk Raihan" ,ucap Zera.
"Kenapa?" ,bertanya Elis dengan cepat.
Zera hanya perlahan membentuk senyum pahit diwajahnya kemudian menoleh kearah Endra..
Endra hanya balik menatap kearahnya dengan senyuman..
Kenapa ia yang harus bertanya pada Elis?
Ia hanya menggenggam salah tangannya dengan kuat..
"Mungkin kami bisa membantu" ,ucap Zera.
Endra tak bilang padanya untuk mengatakan ini, tapi dia harus mengatakannya..
"Bantu apa?" ,bertanya-tanya Elis.
"Kalian semua harus kubantu" ,ucap Zera dengan menajamkan tatapan matanya, "harus ada yang membantu"
Elis terlihat tertawa kecil mendengarnya dengan suara nafas terpecih keluar dari mulutnya..
Elis terlihat melihat pakaian yang pakai.. jaket OSIS merah pembela dan pengurus sekolah..
Zera tahu rasa itu..
Rasa sakit ironi..
Kalau seorang murid yang entah datang darimana mau lebih menolong dari dirinya yang merupakan OSIS itu sendiri..
Elis hanya mengangkat kepalanya..
Kemudian Elis menatap Zera dengan tatapan lembut.. seperti tatapan yang hampir mau menangis..
"Kau mau membantu Eni yang menusuk Raihan?" ,bertanya Elis dengan suara yang hampir tertawa sekaligus hampir menangis.
"Iya" ,jawab Zera dengan cepat.
Tak ada rasa ragu diperkataannya..
Kelihatannya mereka berdua setuju.
Kalau Eni hanyalah hasil dari reaksi masyarakat yang suka mengadili dan menghina seseorang..
Elis hanya tersenyum pahit.. kemudian tersenyum lagi.. dan tersenyum lembut.. kemudian tersenyum mau menangis..
"Eni sama denganku" ,ucap Elis yang mengeluarkan suara percih tawa dari mulutnya, "aku terlalu jauh dimasa jayaku saat ini, jadi aku melupakan seperti apa aku dulu"
Zera tak tahu apa maksud dari ekspresinya..
Ia tak tahu apa yang sebenarnya 'dirinya kak Elis dulu'..
Dia hanya tertawa dan tersenyum dan mau menangis kelihatannya mengingatnya..
"Apapun itu, kita butuh informasi" ,ucap Zera.
"Raihan hanya melindungiku" ,ucap Elis dengan cepat, "aku targetnya Eni"
Hening mengikuti..
Zera hanya bisa mengerutkan dahinya dan menyipitkan matanya..
Raihan melindunginya?
Endra pun mengerutkan dahi mendengarnya..
"Tapi luka diRaihan yang kulihat lebih parah, itu bagaikan ditusuk berkali-kali oleh orang yang punya benci" ,ucap Endra membalas ucapan Elis dengan cepat dan masuk kedalam pembicaraan.
"Apapun yang Eni benci, aku target sebenarnya" ,ucap Elis dengan senyuman sedih.
"Kenapa? Kenapa kau yang targetnya?" ,ucap Zera yang ikut mengerutkan dahinya.
" 'aku sok asik' " ,ucap Elis dengan mata kosong menatap Zera.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
____-_-______
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Eni hanya duduk didepan Annisa yang terlihat berdiri didepannya dengan gugup..
Dekorasi ruangan klub seni yang cerah dan ceria terlihat mengelilingi mereka berdua..
Beberapa gambar wanita anime dengan rambut yang berwarna beragam dipajang dibelakang mereka..
Ada boneka juga dan meja yang terlihat dipenuhi kuas dan pensil..
Beberapa meja dan kursi nampak dilipat dan dibariskan kedinding untuk meluaskan ruangan..
Wajahnya Annisa gugup dengan ratusan senyuman pahit keluar dari wajahnya..
Sedangkan wajah Eni saat ini Eni tutup sendiri dengan kedua tangannya dan ratusan rasa sakit jatuh menusuk dirinya..
"Maafkan aku.." ,ucap Annisa dengan kedua kakinya ia gesek-gesekkan satu sama lain dengan gugup, "a-ak-
"Kau tak tahu kalau aku tak ambil dompetnya?! Bagaimana kau bisa percaya pada kebohongan Zera! Kalau aku bagaimana punya dompet itu?! dan kau langsung mengatakan semuanya padanya!" ,ucap Eni sambil melepas tangannya dari wajahnya.
Semua diam dan suram dirinya diruang interogasi itu sia-sia saja..
Karena informasi dirinya akan terbuka lebih parah..
Dari 5 tahun dia dipenjara bisa ditambah 12 tahun..
Stalking,perusakan privasi,dan dia bisa terkena berpartisipasi dalam pesta berkelompok ilegal..
Ia ingat bagaimana ia harus membeli dan mengonsumsi beberapa pil didepan penjaga bersama Annisa untuk masuk kedalam klub itu..
Polisi bisa tahu itu..
Mereka sudah sangat hati-hati..
Dan semuanya jatuh lebih dalam, lebih dalam dari yang ia kira..
"Dan Rexaina.. apa yang ada dipikiranmu ketika dia menyuruhnya menaruh dompetnya didepan ruang guru dan bilang kalau ia diperintah olehku.." ,suara marah Eni yang pelan tapi kuat bisa terdengar diruangan ini.
"Jujur aja aku tak tahu" ,ucap Annisa membalasnya, "Rexaina ngetext aku, kalau taruh dompet itu didepan ruang guru"
"Anak itu nampaknya sudah muak.." ,ucap Eni sambil memasang wajah pahit dan gigi ia gertakkan, "dia yang bawa jatuh kita berdua!"
*Tak!*
Suara Eni menghentakkan kakinya kelantai dengan keras terdengar menggema diruangan ini.
Eni hanya menoleh kearah Annisa dengan tatapan muak..
"Setelah kita selesai dari urusan ini, kita harus fokus untuk ke-Rexaina.. dia harus kena hukuman.." ,ucap Eni sambil memandang Annisa yang hanya menelan ludahnya mendengar ucapan Eni.
Annisa hanya kemudian memberanikan diri untuk menatap Eni, "apapun yang kau mau Eni.."
Suaranya terdengar gugup,ketakutan,sekaligus kuat..
"Ngomong-ngomong siapa yang mengambil dompetku?" ,bertanya Eni dengan kerutan dahi diwajahnya.
"Kalau soal itu.. a-aku tak tahu.." ,ucap Annisa dengan gugup.
"Siapa? Kenapa mereka mau mengambil dompetnya? Buat apa?" ,ucap Eni sambil menatap lantai dan menyipitkan matanya.
Annisa hanya tersenyum pahit sambil memandang Eni.. semuanya jatuh..
Semuanya hancur..
"Rexaina.. Zera.. orang yang mengambil dompetku.. semuanya jadi membingungkan.. semuanya jadi aneh.." ,ucap Eni dengan wajah pahit.
Annisa hanya perlahan melepaskan pinggulnya dari sandaran meja-meja yang dilipat dibelakangnya..
Kemudian berjalan lebih lembut dan perlahan lagi kearah Eni..
Annisa taruh tangannya dengan rasa lembut seorang kakak dibahu Eni..
"Kita berdua akan menghabiskan 5 tahun penjara.. kau tak takut dengan itu?" ,ucap Annisa dengan matanya pandang Eni.
Eni hanya tersenyum pahit, "takut.. tentu saja iya.. tapi apa yang kita bisa buat?"
"Aku tak takut" ,ucap Annisa dengan cepat bagaikan tak ada rasa ragu diperkataannya.
Annisa kemudian menatap Eni dengan tatapan setengah sedih setengah kuat..
"Hah?" ,heran Eni.
"Aku ambil semua hukum penjara" ,ucap Annisa sambil menaruh tangannya didadanya, "aku akan bilang kalau selama ini aku memanfaatkanmu dan aku yang merencanakan semua ini, aku yang memintamu untuk menusuk Raihan"
Eni hanya memandangnya dari kursinya dengan cepat dan tatapan yang heran ditujukannya pada Annisa.
"Kau palingan akan ditaruh dirumah konservasi remaja selama 2-8 bulan, sedangkan aku.. aku yang akan ambil berapa tahun penjara yang ada.." ,ucap Annisa dengan senyuman kecil sedih diwajahnya sekaligus tatapan yang terlihat kuat.
Eni hanya mengerutkan dahinya lebih kuat, "apa maksudmu? Kupikir polisi akan percaya itu-
"Mereka akan percaya, coba lihat perbedaan fisik kita" ,ucap Annisa dengan suara tegas seorang kakak, "aku bilang kalau Raihan menghalang beberapa rencana kami, jadi aku meminta kau menusuknya"
"Jika polisi bilang 'kenapa kau mengakuinya?' " ,ucap Eni dengan suara yang perlahan berubah dari suara kuat menjadi suara wanita yang lemah.
" 'rasa kasihan', 'rasa muak', 'rasa takut', semacam drama seseorang penjahat yang mau tobat atau semacamnya" ,ucap Annisa dengan senyuman.
"Kenapa kau mau melakukannya?" ,bertanya Eni dengan suara setengah heran setengah lemah.
Eni sudah tak bisa menahan penampilan kuat jahat dan marah muak jijik villainnya..
Dia hanya heran dan kebingungan saat ini..
Dan disaat kebingungan.. Eni bisa merasakan.. kalau dia cuma wanita biasa pendiam lainnya..
"Rasa bersalah? Rasa kasihan mungkin? Aku tak tahu, Bukan cuma kau yang merasakan roda siksaan yang dibuat kompetensi keluargamu sendiri Eni" ,ucap Annisa sambil menepuk bahunya.
Eni bagaikan merasakan tepukan dari seorang kakak.. bukan kakak yang miliknya.. tapi kakak yang sesungguhnya..
"12 tahun kah.. kau tidak menyesal nanti?" ,bertanya Eni dengan mata yang menyipit.
"Sudah kubilang aku tak takut apapun" ,ucap Annisa dengan senyuman sedih.
*Tikngggtttt*
Suara pintu ruangan ini terbuka dengan kasar terdengar.
Terlihat polisi yang menjaga mereka berdiri didepan mereka berdua, dengan tangannya memegang pintu ruangan ini.
Dan matanya menoleh kearah mereka berdua.
"Ada orang nyari kalian" ,ucap polisi itu.
Polisi itu kemudian minggir dan memperlihatkan seorang pria yang berdiri menoleh kearah dirinya.
Suara langkah kakinya terdengar pelan tapi dalam sekaligus menakutkan..
Bayangannya yang besar terlihat melewati pintu ruangan ini memberi perasaan gugup dihati Eni..
Pria itu terlihat tersenyum melihat mereka berdua..
"Tarian yang indah Eni" ,ucap seorang pria dengan wajah tajam masuk keruangan ini, "Boleh aku minta satu tarian lagi? Tapi kali ini dengan arahanku?"