White Ink

White Ink
The Last Way Out (Part 4)



"Dunia selalu bergerak bagaikan tembakan peluru pistol ditangan orang mabuk, 10% terencana dan 90% random"



Seorang Pensiunan Polisi.



.


.


.


.


.


.


.


---ENI HARAMINAH AYU: Bayangan ---


Tangan Eni bergetar meskipun saat ini dirinya berada disudut ruang kelas.


Wajahnya ia bisa rasakan berkeringat.


Suara guru menjelaskan dengan suaranya menggema diruangan ini.


Sedangkan semua murid disekelilingnya menulis sesuatu dikertas yang pasti berhubungan dengan pelajaran yang diajarkan guru..


Begitu bukan? Kalau begitu buat apalagi belajar dijam tambahan ini?


Akh! Buat apa memikirkan orang disekelilingnya? Disekelilingnya semuanya merupakan orang asing, tak ada yang ia kenal disini, buat apa?


Dia hanya bisa tersenyum pahit...


Dan menunggu ini semua sudah selesai..


Setelah itu ia tinggal bilang pada kakaknya kalau dirinya kehilangan dompetnya..


Dan Annisa yang sudah dibayar, akan kembali kerumahnya setelah itu bagian rencananya yang lain akan ia lancarkan.


Setelah itu ia bisa lepas..


Pastinya tak ada masalah.


Tak ada masalah.


Tapi ia membayangkan mata tajam dan menakutkan kakaknya menatapnya..


Kakaknya merupakan orang yang menakutkan, meskipun perempuan dia memiliki aura semenakutkan seorang pria dewasa.


Lebih dari pria dewasa malah, dia semenakutkan Raja Edward I dari Inggris yang katanya bisa menakuti seseorang pendeta hingga pendeta tersebut mati ketakutan.


Dia belum membunuh seseorang dengan rasa takut, tapi menekan seseorang untuk melakukan semua perintahnya dia selalu bisa.


OSIS bisa dibilang merupakan kumpulan prajurit miliknya.


Dia adalah Ketua OSIS.


Menambah alasan Eni menyembunyikan dompet ini.


Kakaknya terpilih karena dia awalnya bukan ketua melainkan wakil.


Eni dengar Ketua OSIS sebelumnya merupakan seseorang kharismatik dan suka tersenyum.


Ketua OSIS tersebut turun dari jabatannya dengan bahagia dan membuat kakaknya menjadi Ketua OSIS.


Kakaknya awalnya diragukan tapi naik dengan cepat, dia populer tapi tak begitu populer dimurid, melainkan dia lebih populer dikalangan guru.


Kebanyakan kebijakannya menguntungkan sekolah dan guru, tak banyak dikalangan murid.


Lagipula yang menguntungkan murid itu cuma jam kosong dan event atau tambahan menu dikantin.


Murid-murid dikelasnya juga tak begitu suka dengan kakaknya cuma menghormatinya dan menakutinya.


Kakaknya juga jarang dilihat.


Hanya dilihat oleh murid kelas 8 dan 9 dibeberapa event saja.


Dia sendiri anak baru kelas 10 yang datang dari SMP sudah mendapat semua informasi ini soal kakaknya dari mendengar.


Kakaknya sendiri jarang pulang kerumah, karena urusan kerja.


Topik soal kakaknya cukup hangat.


Eni tak punya teman baik dikelas, tapi ia selalu bisa mendengar.


Kakaknya pun begitu, kakaknya selalu bisa mendengar.


Ia tak butuh orang yang bisa diajak bicara sama seperti kakaknya.


Kakaknya kuat maka dia juga bisa kuat.


Dia hanya perlu kekuatan dari dirinya sendiri, ia tak perlu orang lain.


Ia sudah lelah berada dibelakang kakaknya, ditutup oleh bayangan kakaknya sejak dulu..


"Eni? Coba praktikkan rumus yang ibu tadi terangkan dipapan tulis" ,ucap Ibu Guru dengan senyuman pahit terbentuk diwajahnya sambil mendekati Eni.


Eni juga mengikuti ibu guru dengan senyuman pahit..


Ia singkap sebentar roknya dan taruh penanya dimeja.


Dan berdiri dirinya..


Dia tak ingat apa yang ibuk terangkan dipapan tulis..


Tapi setidaknya ia bisa mencoba...


Mungkin ini begini juga dirinya yang melakukan urusan dompet ini..


Dia tak seharusnya melakukan ini..


Dia sudah tahu dia kalah, tapi dia tetap mencoba..


Tak ada yang bisa lari dari kakaknya..


.


.


.


.


.


.


.


.


-----ENDRA: The Last Way Out ----


Zera keluar dari WC dengan wajahnya yang berkerut.


"Tak ada CCTV didalam?" ,bertanya Endra yang menunggunya didepan WC perempuan.


Endra tak bisa masuk kedalam, dia bisa kena denda 200.000.


Terutama dengan CCTV didepan WC ruang perempuan ini, dia bisa ketahuan dan reputasinya bisa saja menjadi hitam.


"Tak ada" ,ucap Zera yang setelah itu meminum sebotol air mineral.


"Hm, kalau begitu memang iya, transaksi ini memang bagus dilakukan disini" ,ucap Endra sambil melihat sekelilingnya.


Dengan tidak adanya CCTV diWC maka melakukan transaksi akan bagus disini.


Disekelilingnya ada beberapa tumbuhan bunga dan semak-semak indah yang ditaruh dipot sebagai hiasan disekitar WC.


Ruangan WC dibelah dua, yaitu ruang pria dan ruang wanita.


Perempuan masuk berdua kedalam WC sangat mudah untuk lepas dari rasa curiga, berbeda dengan laki-laki.


jadi sangat masuk akal transaksi dilakukan diWC perempuan, kalau salah satu yang berpartisipasi itu perempuan.


Endra berdiri didepan WC ini.


"Tapi kenapa dompetnya harus dikembalikan didepan kantor guru?" ,bertanya Zera, "apakah ini dilakukan oleh orang yang panik?"


"Bisa jadi, mereka merencanakan mengembalikan kekantor terus mereka panik dan menaruhnya dilantai" ,ucap Endra yang terdiam sebentar.


Ada sesuatu, masalahnya Endra bahkan ragu dengan ide yang ia katakan.


"Mungkin waktu kita lewat, mereka berencana untuk memberi dompet itu kepada guru tapi panik dan mereka tinggalkan aja disitu?" ,menebak-nebak Zera.


"Itu bisa, tapi masalahnya aku tak mendengar apapun atau melihat siapapun, saat menemukan dompet itu.." ,ucap Endra.


"Bisa jadi kau tak menyadarinya" ,ucap Zera.


"Tidak..tidak...ada sesuatu bukan itu.." ,ucap Endra, "bagaimana jika mereka mencoba mengantarnya keorang lain...menurutmu berapa orang yang ikut dalam urusan ini? 2? 3? 5?"


"Soal itu aku tak bisa menebaknya" ,jawab Zera, "mungkin mereka sedang coba ngirim pesan yang creepy?"


"Tidak-tidak, mari kita pikirkan manusia yang menaruh dompet ini sebagai manusia yang memiliki akal" ,ucap Endra.


"Akal? Kau pikir menaruh dompet didepan ruang guru itu ide yang dimiliki mahluk berakal? Endra, menaruhnya didepan ruang guru itu terlalu aneh" ,ucap Zera.


"Human error" ,ucap Endra.


"What?" ,heran Zera yang mengerutkan dahinya.


"Itu satu-satunya yang bisa buat masuk akal, human error, mereka buat kesalahan Zera" ,ucap Endra yang menggeretakkan giginya, "tidak...ada sesuatu yang salah..kita butuh sesuatu..."


Apa keuntungannya menaruh dompet itu didepan ruang guru?


"Hahh...kita malah kembali kepemikiran kita yang pertama, mari kita ke-topik yang lain?" ,ucap Zera sambil menepuk bahu Endra.


"Apa? Soal transaksi barang apa ini? Kau bisa masukin banyak hal kedalam dompet itu Zera" ,ucap Endra yang hanya menggigit bibirnya kemudian menggerakkan lidahnya.


"Jadi? Kau mau apa?" ,ucap Zera.


"Menunggu Eni keluar dari jam tambahannya, kita jalan-jalan ajalah, mencari informasi sekecil mungkin kalau kita bisa" ,ucap Endra sambil menyipitkan matanya melihat sekelilingnya.


"K-kita langsung tanya Eni?" ,Zera yang masih tak mencernanya ternyata.


Endra butuh melakukan ini, semua tanda dan petunjuk dari awal kasus ini selalu mengarah kepada gerakan ini.


Konfrontasi dengan Korban.


Atau bahkan bisa jadi pelaku itu sendiri.


Diakhir dia tak memiliki semua gerakan lain untuk memecahkan kasus ini.


Dia tak memiliki izin seperti OSIS untuk membuka semua CCTV disekolah ini untuk melihat semua petunjuk.


Dia tak memiliki petunjuk yang cukup untuk melihat semuanya.


Atau bahkan bukti.


Dia butuh bicara dengan siapapun yang berpengaruh dalam kasus ini sedikitpun untuk memecahkannya.


Apa maksud dari transaksi ini? Tujuannya? Kenapa dilakukan disekolah? Kenapa yang melakukannya merupakan murid?


Apakah semua ini penting diakhir?


"Last way out of this case Zera" ,ucap Endra.