White Ink

White Ink
The First Walk Off (part 3)



------ZERA: The First Walk Off -----


"Menurutmu dompet ini dicuri, atau hilang aja, terus ada yang nemukannya, kemudian ditaruh didepan ruang guru?" ,bertanya Endra kepada Zera sambil berjalan ditepi lapangan sekolah ini.


"Kalau dicuri maka harusnya tidak dikembalikan, tapi tetap aneh jika ditaruh aja seperti gitu didepan ruang guru" ,ucap Zera yang berjalan disampingnya.


Mereka mendekati sebuah Pintu berwarna biru dengan diatasnya terdapat plat hitam dengan tulisan emas 'Ruang Komputer'.


" 'Tetap saja anehkah..' " ,ucap Endra yang berjalan makin dekat dengan Ruang Komputer.


Suara Endra membuka pintu kayu ruang komputer terdengar.


Sepatu Zera terasa menapak lantai ruang komputer yang dipenuhi karpet.


Seperti biasa semua ruangan seperti ini disekolah selalu dipasang AC diatasnya.


Ratusan komputer dibariskan diatas ratusan meja.


Dengan ratusan kursi tanpa penyandar punggung ditaruh semua dibawah meja.


Seorang pegawai guru PNS terlihat duduk disebuah meja sedang bermain sebuah game catur dikomputer.


Dengan headset hitamnya dikepalanya.


Zera pernah ketempat ini untuk mengesktrasi pdf dokumen pendaftaran salah satu murid yang mau masuk kekelasnya, karena diperintahkan oleh wali kelasnya.


Ia ingat kakak kelas 12 yang mendampinginya masuk kedalam Ruang Komputer kemudian menunjuk pegawai guru PNS tersebut.


Dan ia ingat apa perkataannya.


'jangan takut pada pak Harto bahkan jika kau bunuh seseorang disini, dia akan terus tetap memasang wajahnya dilayar komputer'


Zera hanya tersenyum kecil mengingatnya.


Endra hanya mengerutkan dahinya sambil melihat sekeliling ruang komputer ini.


"Ada banyak kemungkinan disini" ,ucap Endra sambil berhenti berjalan, "ayo kita ketempat lain"


"Hah? Jadi? Tak ada penelitian atau apa disini?" ,Zera masih tak mengerti pola pikir anak ini.


"Buat apa? Nanti palingan kalau ada pencurian disini, maka dipecahkan kasus ini sama OSIS, tuh sudah ada CCTV disini" ,ucap Endra sambil menunjuk sebuah sudut dilangit-langit ruangan ini.


"T-tapikan kita sudah berjalan kesini? Mana memecahkan misterinya?" ,ucap Zera yang merasa agak menyesal mengikutinya.


Endra hanya berbalik dengan cepat dan berjalan melewatinya, "ayo kita keruang laboratorium"


"B-buat apa pembicaraaan kita dilorong tadi?" ,ucap Zera.


.


.


.


.


.


.


.


.


>>>>>>> 8 menit


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Zera sudah lelah.


Muak? Masih belum sampai.


Marah? Bisa jadi tapi tak banyak.


Kalau menyesal? Mungkin 100%.


Mereka hanya berjalan dengan cepat dilorong, melewati ratusan ruang yang dipenuhi murid yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dan jam tambahan sekolah.


Mereka sudah memasuki kedua laboratorium kimia dan fisika.


Endra hanya berkata, "hm pencurian disini sulit" sampai 8 kali.


Dia mau pulang.


Ini bisa jadi tambahan alasan menyesal kalau dirinya masih belum ikut jam tambahan apapun.


Dia menyesal belum ikut jam tambahan apapun.


"Jadi? Kemana lagi kita ini?" ,bertanya Zera yang terus mengikutinya.


Dia bahkan tak tahu kenapa mengikutinya.


"Mari temui OSIS" ,ucap Endra sambil memasukkan tangannya dikantung celananya.


"Aku hanya memastikan kalau kasus misteri ini sudah dipecahkan atau tidak, harusnya dengan banyak CCTV maka pencuri atau bagaimana dompetnya hilang sudah ditemukan daritadi" ,ucap Endra yang hanya memasang wajah datar dengan mengambil permen dari kantung celananya.


"Harusnya sudah selesai? Tapi kalau belum?" ,ucap Zera yang masih kebingungan.


"Maka ini bukan pencurian atau kasus dompet hilang" ,ucap Endra yang berhenti berjalan dilorong ini.


"Bukan pencurian atau dompet hilang? Terus apa?" ,Zera makin mengerutkan dahinya dan menarik mundur kepalanya.


"Transaksi" ,ucap Endra yang berhenti melihat dijendela lorong ini, dirinya sedang melihat anggota OSIS dibagian lorong lain, "kasus ini tak masuk akal kalau pencuriannya dan dompetnya masih tak ditemukan dengan ratusan CCTV"


Endra hanya mengerutkan dahinya.


"Ada perdagangan mungkin...perdagangan rahasia yang tak boleh diketahui banyak orang tentunya, jadi dipalsukan sebagai pencurian" ,ucap Endra


"Kenapa gak tinggal lempar dompetnya atau barang didompetnya diam-diam saja? Tanpa perlu buat keributan dengan kasus dompet hilang, sampai OSIS ikut campur begini?" ,bertanya-tanya Zera yang meragukan Endra.


"Kemungkinan yang kehilangan dompet mau menyembunyikannya dari orang dekat mereka yang teliti terhadap mereka, kemungkinan ia mau uang atau barang didompetnya hilang tanpa ada perasaan curiga dari orang tuanya atau orang dekatnya" ,ucap Endra sambil mengambil permennya dan memakannya.


Masuk akal...


Endra terlihat sedang merapikan penampilan dan pakaiannya.


"Ayo kita tanya OSIS" ,ucap Endra.


"Hah? Sekarang?" ,suara Zera yang kaget bisa terdengar oleh Endra.


"Kau pikir kapan lagi?" ,ucap Endra sambil berjalan dengan memasang sebuah pena disaku pakaiannya.


"Hahh...ya sudahlah" ,ucap Zera yang hanya mewajarinya.


Endra langsung berjalan dengan cepat dilorong dengan langkah kakinya terdengar agak ribut dan menggema.


Dia berjalan cukup cepat hingga Zera tak bisa mengikutinya.


Endra berjalan hingga mencapai tangga untuk turun lantai disekolah ini, menuju bagian lorong lain dimana anggota OSIS itu berada.


Endra lari dan kemudian melangkah dilorong lain.


Setelah itu langkah kakinya terdengar memelan dilorong tersebut.


Zera akhirnya bisa menyusulnya dan melihat gayanya yang terlihat menjadi sopan dan rapi.


Zera hanya berhenti disebuah dinding lorong dan bermain handphone sambil menggerakkan matanya melihat Endra sedang berjalan kearah OSIS.


Endra terlihat memasang kacamata dari kantung celananya.


Dia berjalan dengan cepat dilorong ini kearah dimana OSIS terlihat sedang berbicara dengan seorang murid perempuan.


Langkah kakinya dengan cepat mengarah kearah anggota OSIS pria tersebut.


"Eh bang...anggota OSIS..?" ,ucap Endra dengan suara yang terdengar aneh.


"Hm? Ada apa?" ,jawab OSIS tersebut dengan suara ramah yang terpaksa.


"Hari yang cerah bang! Siapa tuh pacar abang?" ,ucap Endra dengan senyuman ramah sambil menunjuk kearah perempuan disamping anggota OSIS tersebut.


Perempuan tersebut hanya berwajah merah.


OSIS hanya tersenyum pahit, "tak usah ganggu orang siang-siang, apa yang kamu mau?"


"Tak ada bang!" ,nada ramahnya aneh dan agak mengganggu, tapi entah kenapa Zera agak tersenyum melihatnya, "ini hari cerah! Tak masalahkan?! Agak akrab sekali-sekali dengan adik kelas kan bang!? Ngomong-ngomong tadi saya dengar dipengumuman ada dompet hilang, kasus dompet yang hilang tadi sudah selesai bang?"


Ucapan Endra hanya membuat OSIS tersenyum pahit sambil memasukkan sebuah kertas dokumen terlihat milik OSIS kedalam kantung plastik miliknya.


"Kasus dompet hilangnya belum selesai" ,ucap OSIS tersebut.


Wajah Endra berubah menjadi mengerut dan hanya tersenyum heran, "belum? Bukankah abang bisa lihat CCTV langsung ketemu?"


Perempuan disamping OSIS tersebut terlihat mau tertawa bagaikan melihat Endra bagaikan orang bodoh lainnya.


"Tidak semudah itu dek, kami sudah lihat semua CCTV dilapangan,laboratorium,dan semua yang kelas anak yang dompetnya hilang itu kunjungi hari ini tapi gak ada tanda-tanda diambil dompetnya" ,ucap OSIS tersebut, "kami bahkan juga cari di-WC tetap tak ada"


"Ohh...tunggu sebentar.." ,ucap Endra yang hanya tersenyum masam sambil memundurkan kepalanya kebelakang, "WC?"


"Heh, iya anak yang dompetnya hilang tadi pergi ke-WC, kemungkinan ia kehilangan dompetnya disitu" ,ucap perempuan disamping OSIS dengan sengiran yang merasa lebih pintar dari Endra.


Endra hanya merenung sebentar...matanya sebentar terlihat bagaikan tertawa...


"Hadeh...kamu ini, kembali ke-kelas tambahanmu, nanti guru nyari" ,ucap OSIS sambil menepuk kepala Endra dengan buku secara ringan.


Endra hanya menyengir kecil dengan buku dikepalanya.


Tatapannya terlihat tajam ketika melihat kearah OSIS.


Ketika OSIS melihat itu, dia hanya berbalik berjalan menjauh dari Endra secara perlahan.


Setelah itu perempuan tersebut berjalan bersamanya menjauh dari Endra.


Tak lama mereka berdua sudah cukup jauh dari Endra.


Endra sendiri sedang berdiri merenung, dan dirinya berjalan kearah Zera.


Sedangkan Zera hanya tersenyum ketika melihat Endra mendekat kearahnya, "jadi benar, ini bukan pencurian-


"Tapi transaksi...transaksi.." ,ucap Endra dengan senyumannya melebar dan melepas kacamatanya.


"Heh, 'Siapa tuh pacar abang?' pfff...sialan kau Hedrawan.." ,ucap Zera yang mau tertawa.


"Apa sih? Tak apa bukan? Tak apa bukan pandai berakting ramah sebentar? Kau juga berhenti didinding itu untuk berakting bukan?" ,ucap Endra yang hanya mengerutkan dahinya dan tersenyum dengan kacamatanya ia taruh kembali dicelananya.


"Memanglah kau Hendrawan...aku akhirnya merasakan apa yang kau rasakan...'The Thrill of Chase'.." ,ucap Zera sambil berjalan disamping Endra dan tersenyum.


"Heh" ,Endra hanya tertawa sedikit mendengarnya, "kelihatannya kita akan rasa hal tersebut sekarang Zera.."


"Jadi aku tebak kita akan mengarah ke-WC" ,ucap Zera.


"Oh the lady get the idea, the lady must walk first" ,ucap Endra.