
---ENDRA: The Red and Black ---
Endra berjalan diatas tanah yang dipenuhi rumput ini.
Dengan tas miliknya ia pasang diperutnya.
Dirinya saat ini sedang memandang salah satu bagian belakang sekolah ini.
Jauh dari tempat Zera berada pastinya.
Terlihat ada taman bermain yang ditinggalkan dibelakang sekolah.
Dengan tempat seluncuran besi yang sudah rusak, beberapa kursi perunggu yang sudah berwarna biru, dan tiang yang cat birunya mulai mengelupas.
Tantenya pernah bilang kalau dahulu sekolah ini merupakan sekolah tempat anak TK dan SD, kemudian ada perubahan dan renovasi yang membuat sekolah ini berubah menjadi SMA.
Endra hanya menghirup nafas ditempat belakang sekolah yang agak lembab.
Dimana?
Endra sedang mencari tombol dan pengendalian listrik disekolah ini, ia ingat ia datang kesini kali pertamanya ia kesekolah.
Sebuah kotak besi raksasa dengan ratusan kabel dan tombol didalamnya.
Baru setelah itu ditempel disebuah tiang yang berkarat.
Endra hanya berjalan didalam ditaman yang sudah ditinggalkan ini, ia ingat lokasinya tak salah disekitar disini.
Endra kemudian menyingkirkan beberapa ranting semak-semak.
Oh iya disini..
Akhirnya..
"Sudah berapa bulan kita tak bertemu hah? Kabel dan tiang berkarat" ,ucap Endra sambil melihat kotak besi raksasa yang ditempelkan ditiang ini.
Terlihat tempat pengendalian listrik sekolah ini memiliki pintu kecil yang menjaganya dan membukanya.
Yang dikunci dengan gembok berkarat...
Endra melihat sekelilingnya..
Tak ada orang..
Kemudian ia keluarkan kawat besi dari tasnya.
Kemudian ia masukkan kawat besi tersebut didalam gembok besinya.
*Cklik*
P*ntek, mudah sekali terbukanya.
Pantas aja bisa disabotase, ini merupakan salah satu gembok yang paling mudah dibuka dihidup Endra.
Endra sudah menebak semua ini ada semacam sabotase dibelakangnya..
Dengan CCTV terkena konslet didaerah yang memiliki hubungan dengan kasus dompet ini..
Ini semua tak masuk akal kalau tak ada sabotase dibelakangnya..
Endra hanya menghela nafasnya, kemudian ia buka secara perlahan.
Dengan suara gesekan besi yang terdengar.
Terlihat ratusan kabel dan tombol penghidup tertempel didalam kotak besi ini.
Terlihat ada beberapa tombol dan kabel yang dicopot.
Yang dicopot memiliki plat bernomor A3,A4,A5,A6,A7, dan A8 juga H1.
Apapun nomor itu tapi Endra semacam tahu kalau itu tak benar, jadi dia bisa pastikan kalau ada sabotase.
Yang meng-sabotase bisa siapapun, asalkan kau memasukkan kawat atau benda panjang kecil yang kuat kedalam gembok dan mengocoknya maka kau bisa membukanya.
Endra menutupnya kembali kemudian mengembalikan posisi kunci gemboknya.
"Hahh...sistem keamanan disekolah ini kacau.." ,ucap Endra yang menghela nafasnya.
*Tsinggggttt!*
Endra ingat tak ada kelas jam tambahan disekitarnya, tempat ini sepenuhnya kosong.
"Halo?" ,ucap Endra yang menoleh kebelakangnya.
Endra menoleh kearah dinding bangunan sekolah dibelakangnya.
Terlihat dijendela salah satu ruang kelas kosong...seseorang berdiri menatapnya..
Ia hanya menelan ludahnya.
Apa yang ia lihat adalah seorang yang berjaket hoodie dengan masker dan sarung tangan serba hitam menatapnya dari jauh dibarisan meja dikelas kosong tersebut..
Sebuah rambut hitam panjang keluar dari hoodienya.
Perempuan?
Apa yang ia lakukan dijam segini? Kenapa memakai pakaian serba hitam?
Apa ia ingin melakukan sesuatu?
Apa yang lakukan setelah ini? Mengunjungi Endra?
Endra mengakui dia agak ketakutan..
Endra hanya memasukkan tangannya kesebuah kantung ditasnya..
Ia menyiapkan pisau ditasnya..
Tangannya bisa merasakan dingin besi pisau miliknya didalam tasnya..
Orang itu hanya bisa terus menatapnya dari jauh..
Apa yang ia mau?
Apa yang ia perhatikan?
Kena-
*WHHHHHHEEOOOOOOUUUUU*
Suara besar tersebut itu hanya mengejutkan Endra.
Diantara rasa takut dan perasaan tegangnya...
Endra hanya kebingungan..
Endra menoleh kearah lapangan sekolah yang bisa terlihat dengan sebuah koridor dari taman ini.
*WHEEEOOOOUUUUUUU*
Terlihat sebuah ambulans putih melaju memasuki lapangan sekolah ini.
Ambulans? Kenapa? Apa yang terjadi? Apa maksudnya semua ini?
Terlihat sebuah rombongan dengan seragam coklat muda kekuningan dan putih hitam mengiringi datangnya ambulans tersebut.
Terlihat puluhan security dan guru sedang berjalan cepat masuk kedalam lapangan sekolah ini.
Terlihat wajah guru dan security itu tegang semua, ketakutan dan panik akan apa yang terjadi.
*WHHHHEOOOOUUUUUUUU!*
Cahaya merah ambulans membuat cahaya lapangan sekolah terlihat..
Sedangkan langit yang sudah memerah mencocokkan dirinya dengan cahaya ambulans..
Hanya bisa membuat Endra merinding..
"TOLONG! CEPAT PAK! TOLONG! RAIHAN PAK! RAIHAN SEKARAT PAK!"
Teriakan seseorang perempuan yang meminta tolong terdengar terdengar diantara keributan ini.
Endra kembali melihat seseorang serba hitam tersebut dikelas kosong itu..
Dirinya terlihat hanya tersenyum dibalik masker hitamnya..
Berbalik dirinya kemudian melangkah dirinya keluar dari kelas itu...