
"Kamu hati-hati di jalan ya sayang! Reinhart, tolong jaga Dhea!" Wejangan dari Lovanda, Ibunda Dhea kepada putrinya dan Reinhart, anak dari seseorang yang menyebabkan Dhea kehilangan ingatannya.
"Siap tante," Ucap Reinhart sambil mengangkat tangan kanannya ala hormat kepada bendera.
"Siap siap. Awas aja nanti kalo anak tante kenapa kenapa!"
"Udah ih ibu apaan sih? Ya udah, Aya berangkat dulu ya. Assalamualaikum," Ucap Dhea akhirnya, sebelum ia dan Reinhart pergi ke sekolah.
Hari ini adalah hari pertama Dhea menginjakkan kakinya di sekolah baru. Yaitu di SMAN Favorit. Setelah hampir 2 minggu ia tak bisa mengikuti Masa Orientasi Siswa karena masih dalam masa pemulihan, akhirnya kini ia bisa mencium hawa baru.
Di dalam mobil, Reinhart dengan hangat berbincang dengan Dhea. Membicarakan ini dan itu. Kebetulan, Reinhart adalah Ketua OSIS di sekolah baru Dhea. Ia tampan, baik, cool, cuek dengan lawan jenis tapi bijaksana.
"Nanti kalo ada kesulitan apa-apa, lo bisa temuin gue atau chat gue," Ujar Reinhart sebelum pergi dari hadapan Dhea, setelah mengantarkannya ke kelasnya.
"Iya kak. Makasih." Dhea tersenyum tulus.
Dhea masuk ke kelas dan ada seorang siswi yang melambaikan tangan ke arahnya. Namun, ia sama sekali tak mengenalnya. Dhea memilih untuk menghampirinya.
"Hai. Gue Raisa. Lo duduk di sebelah gue aja," Ucapnya sembari menyodorkan tangan kanannya.
Dengan senang hati, Dhea menyambut uluran tangannya, "Makasih. Gue Dhea."
Tet... Tet... Tet...
Bel istirahat membuat kantin yang luas menjadi semakin sesak akibat banyaknya siswa yang ingin memanjakan cacing-cacing di perutnya, tak terkecuali Dhea dan Raisa.
"Lo mau apa? Biar gue yang pesan," Tawar Raisa sebelum duduk.
"Sama kayak lo aja deh," Putus Dhea.
"Emang kalo gue suka sama seseorang, lo juga mau suka sama dia? Hahaha," Canda Raisa setelah ia kembali membawa 2 mangkok somay dan 2 gelas es jeruk.
"Hush... Gak boleh ngomong gitu. Emang lo mau?" Tanya Dhea sarkartis.
"Ye. Ya enggak lah."
Seketika, mata Raisa membulat.
"Kok gue juga ikut pulang kak?" Tanya Dhea bingung.
"Lo nanti sore juga ikut gue!" Dia mengucapkannya sepertinya bukan sebagai sebuah pernyataan, tapi sebuah perintah. Dan Dhea lagi-lagi tidak bisa menolaknya.
"Ya udah terserah kak Rei."
"Oke. Nanti gue jemput lo ke kelas," Ujar Reinhart, setelah itu ia pergi tanpa menghiraukan tatapan seisi kantin yang menyorotnya.
"Lo kenal kak Reinhart, Dhea?" Tanya Raisa penasaran.
"Iya, emang kenapa?"
"Dia cool boy Dhea. Banyak siswi di sini yang deketin kak Reinhart, tapi semuanya dia tolak mentah-mentah. Jangankan dapetin hatinya, ngobrol aja sulit banget," Jelas Raisa yang membuat Dhea menganga.
"Tapi kak Reinhart baik sama gue?" Astaga. Perkataan itu bukan seperti pernyataan melainkan pertanyaan yang ia buat untuk dirinya sendiri.
"Keren lo Ay."
"Apaan? Dia kakak doang buat gue."
"Kenapa lo gak coba suka sama kak Reinhart?" Tanya Raisa.
"Gue juga gak ngerti. Semenjak gue di rumah sakit kemarin, rasanya kepala gue sakit banget. Dan selama gue bersama kak Reinhart, gue pernah coba buat buka hati, coba suka sama dia. Tapi anehnya gue gak bisa." Penjelasan Dhea membuat Raisa sedikit prihatin.Karena tak ada seorang hawa pun yang tak mungkin apabila tak tertarik pada ketampanan seorang Reinhart.
"Maksud lo?"
"Gue juga gak paham Sa. Gue juga gak ngerti kenapa setiap gue di rumah atau jalan-jalan di sekitar rumah gue, gue selalu merasa ada kenangan di sana. Dan hati gue? Gue merasa bahwa gue pernah dan udah mendedikasikan hati gue untuk seseorang. Tapi gue gak tau, siapa dia?" Raut wajah Dhea terlihat bingung mencoba mencerna perkataannya sendiri, namun ia masih tak mengerti akan perasaannya.
Andai gue tau nama siapa yang selama ini tertera di hati gue, gue janji akan setia.
@Senjaputri_Zahra_Dhealova