
"Seriusan lo jadian sama Kak Reinhart?" Tanya Raisa bak pewawancara.
Dhea mengedikkan bahunya singkat. Ia harus mengatakan apa? Ia saja belum sepenuhnya mengerti apa yang telah terjadi antara dirinya dan Reinhart.
"Gila! Siap-siap famous lo," Ucap Raisa nyengir.
"Nggak! Apaan famous?"
"Famous itu enak tau," Ujar Raisa lagi.
"Gue bahkan gak pernah pengen Famous. Sama sekali. Gue gak suka." Dhea mengeluarkan beberapa buku dari tasnya tanpa menghiraukan ocehan ngawur dari teman barunya itu.
"Udah deh lupain omongan Gue tadi."
"Yang penting lo sekarang jadian sama Kak Reinhart."
"Gila! Demi apa dong? Gue temanan sama pacarnya Kak Reinhart dong..." Raisa terus saja mengoceh tanpa peduli apakah Dhea mendengarkannya atau tidak.
"Ay, lo dengerin Gue gak sih?"
Dengan santainya Dhea menjawab, "enggak."
"Kan Gue lagi baca buku, Sa" Dhea tersenyum singkat melihat Raisa mengerucutkan bibirnya.
"DHEAAA...." Teriak Raisa yang langsung dibungkam oleh Dhea ketika ia lebih dulu melihat Bu Rena melintasi depan kelasnya.
"Aish! Tangan kamu bau parfum cowok," Ujar Raisa sedikit pelan, karena Bu Rena masuk ke kelasnya.
Dhea mendekatkan dirinya pada Raisa. "Hehehe maaf. Kena parfumnya Kak Reinhart deh kayaknya."
Bu Rena menjelaskan maksud kedatangannya ke kelas. Ternyata akan ada lomba teater di sekolah untuk merayakan hari jadi sekolah yang ke-31.
Drama yang ditampilkan boleh tradisional atau modern. Yang terpenting ada pesan moral yang bisa dipetik.
"Untuk judul dan pemerannya, kalian bisa koordinasi dengan wali kelas ya. Sekian yang bisa ibu sampaikan, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," Ucap Bu Rena kemudian pamit undur diri karena masih harus memberitahu kelas yang lain.
Seperginya Bu Rena, kelas menjadi riuh. Usulan judul drama datang tak beraturan dari siswa yang berada di kelas.
Johan, ketua kelas, mengambil alih kepemimpinan rapat yang bahkan belum dimulai. Setelah beberapa saat ia diserang oleh banyak usulan anak yang lain ia memutuskan untuk menemui Bu Indah, selaku wali kelas dulu.
Johan pergi dengan selembar kertas yang sudah berisi beberapa judul drama yang diusulkan.
√√√
"Ke kantin yuk!" Ajak Raisa.
"Ke perpus yuk!" Ajak Dhea balik.
"Gue sehat!" Ujar Dhea mengerti maksud perlakuan Raisa. "Cuma Gue udah janjian sama Kak Rei di sana. Jadi, temenin ya. Bentar doang kok," Lanjut Dhea.
"Ye... Malah jadi nyamuk dong Gue!" Gerutu Raisa.
Reinhart memang mengerti seluk beluk sekolah ini. Bagaimana tidak? Dia kan ketua OSIS. Masa iya, setahun jadi Ketua OSIS ia tidak bisa menghafal keadaan sekolah.
Dhea mengambil sebuah buku dari rak yang bertuliskan 'Fiksi'. Ia kembali duduk dan membacanya mulai dari halaman awal.
Dulu, mungkin hingga sekarang, ia sangat berkeinginan menjadi seorang penulis terkenal. Penulis yang bisa membawa pembacanya turut merasakan apa yang dialami oleh karakter utama yang ia tulis.
Andai saja, dulu ia mau mengikuti seminar kepenulisan bersama Lyska. Pasti sekarang, ia kurang lebih audah bisa membuat sebuah cerpen atau puisi. Aish! Kata andai tak bisa mengubah apapaun.
"Ay!" Panggil seorang lelaki yang sudah tak asing bagi Dhea.
"Iya kak. Kak Rei mau ngomong apa kok ngajak ketemu pas istirahat?" Tanya Dhea to the point.
Bukannya ia tak ingin berlama-lama bersama dengan kekasih batunya ini. Tapi ia masih saja merasa canggung bila didekatnya.
"Gapapa. Cuma mau tanya, kelas kamu tampil teater apa?" Tanya Reinhart.
"Oh itu. Katanya sih, Romeo Dan Juliet, Kak," Ujar Dhea apa adanya.
"Terus yang jadi Romeo sama Juliet nya siapa?"
"Kata Johan, Gue sama dia yang bakal jadi peran utama. Soalnya Bu Indah juga bilangnya gitu. Emang kenapa, Kak?"
"Sial!" Umpat Reinhart pelan.
"Kenapa Kak? Gue salah ya?" Tanya Dhea mencoba menilik kembali apa yang ia katakan. Mungkin ia memang mengatakan hal yang salah.
"Gapapa kok. Tapi janji sama Gue ya..." Ucapan Reinhart menggantung.
"Janji untuk?"
"Janji kalo lo gak bakalan baper sama dia, oke?" Ujar Reinhart serius.
Dhea tertawa kecil, kemudian menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Reinhart. "Janji"
"Ya udah, Gue ada rapat OSIS. Gue tinggal ya," Pamit Reinhart yang diangguki oleh Dhea.
Raisa turut berdiri dan mendekati Dhea. "Cie... Belum tampil. Bahkan belum latihan udah cemburu duluan. Takut banget kehilangan lo kayaknya," Goda Raisa hingga membuat semu merah di pipi Dhea.
Entah mengapa Gue suka saat diperhatiin dan lihat dia cemburu. Apa Kak Reinhart adalah lelaki dari masa lalu Gue, yang selalu Gue cinta?
-@Senjaputri_Zahra_Dhealova-