
"Ay, maafin gue! Sekarang lo bangun, please!" Fikri berusaha menahan tangisnya melihat raut pucat Dhea.
Bagas dan Cyntia yang duduk di depan dapat melihat kepanikan seorang Fikri dari kaca spion.
"Bentar lagi nyampe Fik. Lo harus tenang!" Ucap Cyntia tak sanggup melihat penderitaan Fikri yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Suara roda dari ranjang pesakitan rumah sakit berbunyi memenuhi ruangan dan lorong-lorong yang dilewatinya. Kepanikan Fikri bertambah ketika Dhea menyebut namanya dalam ketidaksadaran.
"Tunggu di sini!" Ujar dokter sebelum ia masuk ke dalam ruangan serba putih itu.
"Mending lo hubungin tante Lovanda sekarang! Pasti dia lagi khawatir banget sama Dhea. Karena ini udah kelewat jam 8 malam," Ujar Bagas berusaha bijak dalam suasana seperti ini.
"Udah gue hubungin kok tadi. Sekarang tante Lovanda lagi on the way ke sini," Ucap Cyntia mencegah Fikri yang akan menelpon ibunda Dhea.
Fikri hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan kembali memasukkan Handphone nya ke saku celana.
"Dengan keluarga pasien?"
"Sa... Saya sahabatnya dok. Bagaimana dengan keadaan sahabat saya?" Tanya Fikri yang langsung berdiri dan menghampiri sang dokter.
"Dia baik-baik saja. Tapi---"
"Tapi kenapa dok?" Bentak Fikri tak sabaran.
"Sabar dong Fik!" Cyntia memegang bahu kanan Fikri, namun langsung dihempaskan oleh Fikri perlahan.
"Tapi kenapa dok?" Tanya Bagas pelan.
"Tapi tolong jangan paksa dia untuk mengingat masa lalunya. Ini akan sangat sulit untuk dia. Jika dipaksa, semua itu bisa berakibat fatal pada fisik maupun mentalnya," Jelas dokter.
"Saya boleh masuk?" Tanya Fikri.
"Silahkan. Dia masih tertidur karena obat penenang yang tadi diberikan."
Tanpa menghiraukan siapapun, Fikri melesat masuk ke dalam ruang rawat inap Dhea. Melihat Dhea tertidur di ranjang pesakitan untuk kedua kalinya, membuat hati Fikri benar-benar hancur.
Benar perkataan Reinhart. Sahabat macam apa dirinya ini? Untuk kedua kalinya ia melihat sahabat yang ia sayang tidur di ranjang pesakitan, dan itu karena dirinya. Karena kesalahannya.
Dirinya yang seharusnya menjaga Dhea, malah sudah berulang kali menyebabkannya terluka. Itu yang membuat nyali Fikri menciut ketika melihat muka pucat pasi milik Dhea. Selalu saja ada penyesalan yang menghinggapi hatinya.
Tatapannya nanar. Butiran bening menetes dari mata teduh seorang Fikri. Ia menggenggam erat tangan Dhea. Menciumnya untuk yang kedua kali. Sesak dihatinya semakin bertambah.
"Maafin gue Ay. Gue janji ini terakhir kalinya gue ngebuat lo kayak gini. Gue gak akan ngulangin ini lagi Ay," Ucap Fikri pelan.
"Gue janji akan jagain lo."
"Buka mata lo Ay. Gue ada di sini buat lo. Cuma buat lo." Fikri kembali mencium punggung tangan Dhea lembut. Air matanya membasahi punggung tangan seseorang yang sangat ia sayang itu. Kedua tangan Fikri ia gunakan untuk menggenggam erat tangan mungil itu.
"Hei. Kenapa nangis?" Tak salah lagi, suara itu milik sahabatnya, Dhea.
Fikri mendongakkan kepalanya menatap Dhea. Benar saja, Dhea menatapnya dengan tatapan yang hangat disertai senyuman ramah yang tak pernah hilang drari bibirnya.
"Lo udah enakan? Kepala lo masih sakit? Lo mau gue ambilin sesuatu? Minum? Atau ap---"
"Gue sehat," Tegas Dhea yang sedetik kemudian mengundang lengkungan di bibir Fikri.
Dhea berusaha mengambil sesuatu di nakas sebelah kanannya.
"Gue ambilin. Lo mau ambil apa?" Tanya Fikri berdiri beralih ke nakas sebelah kanan.
"Sebelum pingsan, gue pegang foto."
"Ini?" Tanya Fikri menunjukkannya pada Dhea tanpa melihatnya.
"Nah iya. Makasih," Ucap Dhea setelah menerima selembar foto dari tangan Fikri.
"Muhammad Ali Fikri," Sebut Dhea yang berhasil mengagetkan Fikri.
"Lo ingat nama gue Ay?" Tanya Fikri tak percaya.
"Apa benar lo bagian dari masa lalu gue?" Sebuah pertanyaan yang sukses membuat air mata Fikri kembali lolos.
Dengan sigap, Dhea menghapus air mata dari seseorang yang masih kemungkinan adalah bagian dari masa lalunya yang masih abu-abu.
"Gue gak ada maksud buat lo nangis. Maaf," Ujar Dhea merasa bersalah.
"Gue gapapa. Kelilipan tadi. Ada debu yang masuk," Gurau Fikri tertawa renyah. Padahal remuk redam rasa hatinya.
"Hahaha. Bisa aja lo." Dhea ikut tertawa melihat sosok di depannya tertawa. Entah mengapa, hatinya terasa sangat tenang.
Fikri tak tau apa yang harus ia rasakan sekarang. Apakah sedih? Ataukah bahagia? Sedih karena Dhea ternyata belum mengingatnya. Bahagia karena setelah sekian lama, ia kembali melihat Dhea tertawa karenanya.
"Tuh kan nangis lagi lo." Dhea kembali mengusap butiran air di pipi Fikri.
Hening...
Tatapan mereka bertemu. Mengendalikan detak jantung, itulah yang mereka lakukan saat ini. Sama-sama ingin memutuskan kontak mata, namun tak bisa. Ini terlalu nyaman.
Tangan Dhea perlahan turun dari pipi tirus Fikri.
"Gue akan berusaha ingat tentang lo kok," Ucap Dhea menenangkan. Seakan ia tau apa yang kini berada di pikiran Fikri.
"Gak perlu. Lo jalani aja semuanya. Jangan pernah lo paksa lagi otak lo buat ingat semuanya. Nanti lo bisa drop lagi," Ujar Fikri tersenyum tulus.
"Gue emang belum ingat siapa lo di masa lalu gue. Tapi entah kenapa gue percaya sama lo. Apa gue boleh cerita sesuatu sama lo? Gue gak tau harus cerita sama siapa lagi."
"Lo bebas cerita apapun ke gue sesuka lo. Kapanpun yang lo mau."
"Sebenernya gue kesel sama diri gue sendiri. Karena gue berulang kali buat ingat masa lalu gue, tapi gak bisa. Dan di sekolah, ada beberapa cowok yang suka ngusilin gue ataupun nyoba buat deketin gue. Bahkan udah pernah ada yang nyatain cintanya buat gue." Dhea menjeda perkataannya.
"Terus? Lo terima?" Tanya Fikri.
Dhea menggelengkan kepalanya lemah.
"Kenapa?"
"Gue gak tau. Tapi gue tuh merasa kalo pernah mencintai seseorang di masa lalu gue. Sepertinya, sampai saat ini hati gue cuma buat dia. Tapi gue gak tau siapa dia. Mungkin hati gue tau, tuannya ada dekatnya," Jelas Dhea panjang lebar.
Fikri tersenyum. Pandangannya kembali mengabur karena air mata. Ia tak menyangka disaat Dhea kehilangan ingatannya, ia tak kehilangan hati dan perasaan untuknya. Ia tau hatinya sudah bertuan meski masih abu-abu.
"Loh lo kok nangis sih?" Tanya Dhea.
"Gak. Gue gak nangis. Ini tadi debunya nakal, masuk ke mata," Ucap Fikri penuh dusta.
"Oh. Terus, gue harus gimana sama perasaan gue? Gue bingung harus cari tau siapa nama seseorang yang ada di hati gue, atau berhenti dan coba buka hati buat yang lain?"
"Itu terserah lo. Kalo lo merasa cinta lo buat dia kuat, pertahanin! Tapi---"
"Tapi?"
"Tapi kalo lo merasa udah saatnya lo menyerah dan buka hati buat yang lain. Silahkan lo buka hati. Mungkin di luar sana banyak yang akan lebih sayang sama lo," Putus Fikri.
Entah mengapa kerongkongan Fikri rasanya tercekat ketika mengatakan itu? Serasa ia tak rela melepaskan Dhea. Tapi di sisi lain ia juga belum bisa membalas perasaan Dhea. Karena hatinya masih untuk Marwa.
Cinta lo terlalu kuat dan tulus untuk gue yang gak pernah menghargai perasaan dan perjuangan lo.
@Muhammad_Ali_Fikri