
"Ayo pulang Fik. Udah mau isya'." Ajak marwa.
"Iya. Ayo Ay!" Dhea berjalan di samping Marwa yang berada ditengah-tengah Fikri dan Dhea.
"Kok lo ajak Dhea? Kita pulang berdua aja. Gue juga mau ajak lo makan dulu." Marwa berbicara sedikit keras.
"Tapi Dhea kan---"
"Dhea kan bisa pulang sendiri naik angkot." Marwa menyela ucapan Fikri.
"Gapapa kok Fik. Lo duluan aja! Gue bisa pulang sendiri kok," Ucap Dhea meyakinkan.
Belum sempat Fikri menjawab, Marwa langsung menarik lengan Fikri.
Saat mau menyebrang jalan, Fikri kembali memperhatikan Dhea yang berjalan sambil melihatnya. Fikri tidak tau jika Marwa sudah berjalan untuk menyebrangi jalan raya itu.
Tiiiittt tiiitt tiiitt....
"Marwa awaaas!" Teriak Fikri sudah tak bisa ditahan.
Melihat itu, Dhea tak bisa tinggal diam.
"Awaaas!" Teriak Dhea seraya mendorong tubuh Marwa ke arah lain yang sepi kendaraan.
BRUUUAAAKKK....
Tubuh Dhea terpental setelah tertabrak sebuah mobil hitam.
"Ayaaa..." Fikri yang tadi sedang berlari ingin menyelamatkan Marwa, kini merengkuh tubuh mungil Dhea. Marwa juga mendekati sosok yang berada dalam pelukan Fikri itu.
"Aya. Maafin gue. Aya bangun!" Tangisan Fikri pecah.
Ia tak bisa lagi menahan ini. Hari ini ia begitu jahat kepada Dhea. Ia terlalu jutek kepada Dhea. Ia juga membiarkan Dhea jalan sendirian. Tetapi Dhea lah yang menyelamatkan orang yang sangat ia sayang saat ini. Dhea telah menyelamatkan Marwa.
"Ayaaaaaa...." Teriak Fikri sekeras mungkin. Sekeras hatinya saat ini. Tak pernah ia menyadari pengorbanan yang dilakukan Dhea. Tak pernah!
"Aya maaf Ay." Fikri menunggu di depan pintu ruang ICU bersama dengan Marwa, ibunda Dhea, ibunda Fikri, juga 2 orang yang tadi menabrak Dhea.
Ibunda Dhea menangis terisak di pelukan ibunda Fikri. Sedangkan Marwa hanya diam memainkan handphone-nya.
"Anda telah menabrak anak saya hingga masuk ruang ICU. Hiks.. hiks.. Saya akan membawa kasus ini ke persidangan. Saya mau keadilan!" Ujar ibunda Dhea berapi-api.
"Maafkan kesalahan saya dan anak saya bu. Saya akan bertanggung jawab atas biaya anak ibu selama di rumah sakit. Saya janji." Bapak yang seumuran dengan ibu dhea berlutut dihadapannya memohon maaf.
"Maafkan saya dan papa saya tante." Anak lelaki itu juga ikut berlutut dihadapan ibunda Dhea.
Ibunya Dhea tak menggubris permintaan maaf kedua orang itu. Bagaimana tidak? Mereka hampir merenggut nyawa putri semata wayangnya. Merenggut cintanya.
"Fikri. Sudah 6 tahun kamu menjaga putri ibu. Ibu percaya sama kamu. Dhea ibu percayakan sepenuhnya kepada kamu. Kenapa sekarang bisa seperti ini? Jawab! Kenapa?" Ibunda Dhea membentak begitu keras Fikri.
"Maafkan saya tante. Dhea begini karena menyelamatkan teman saya. Saya benar-benar minta maaf tante. Kali ini saya gagal menjaga Dhea," Ucap Fikri meneteskan air mata penyesalan.
"Permisi. Dengan keluarga pasien?" Dokter yang keluar dari ruang ICU bertanya. Semua yang menunggu di depan ruangan Dhea turut berdiri ingin tau.
"Saya ibunya dok. Bagaimana dengan putri saya?"
"Mari kita bicarakan di ruangan saya," ajak dokter itu.
"Dok. Dok," Panggil Fikri membuat dokter itu kembali menoleh ke belakang.
"Apa saya boleh masuk melihat pasien?" Tanya Fikri.
"Untuk apa? Mau mencelakai Dhea? Tidak. Kamu tidak boleh mendekati Dhea lagi. Tidak boleh!" Teriak Lovanda sarkartis.
"Untuk sekali ini saja tante. Setelah itu saya tidak akan menemui dhea lagi. Saya mohon." Fikri menangis berlutut dihadapan Lovanda.
Cowok itu pantang menangis. Tapi jika ia menangis, lihatlah dan ketahuilah! Pasti ada ketulusan dalam air matanya.