Waiting For You

Waiting For You
Bahagia Meski Menyakitkan



Sudah satu minggu lebih sejak hari dimana Dhea mengalami kecelakaan. Namun rupanya, mata Dhea masih enggan untuk terbuka.


Begitu juga dengan Fikri. Genap tujuh hari ini ia berada dalam lingkungan yang baru. Suasana yang baru. Dan teman yang baru. Namun tidak dengan pikirannya. Sepertinya, insiden satu minggu yang lalu berhasil menyita seluruh isi dari pikiran seorang Fikri. Seakan-akan pikirannya hanya tercipta untuk memikirkan Dhea.


~Via WhatsApp~


Fikri - Gmn keadaan Aya?


Bagas - "Masih belum sadar."


Fikri - "Gua cuma pesan satu sama lo. Kalo nanti Aya sadar, gua mohon bahagiain dia!"


Bagas - "Knp harus gue? Gue rasa Aya itu bahagianya cuma saat di dekat lo!"


Fikri - "Lo salah besar. Aya gak pernah bahagia saat sama gue. Karena gue selalu aja nyakitin Aya."


Bagas - "Knp yg gue lihat gak gitu?"


Fikri - "Intinya, tolong bahagiain Aya! Dan kabarin gue terus soal perkembangan Aya!"


Bagas - "Oke, terserah lo!" (Read)


~Via WhatsApp End~


|~< Skip >~|


"Dok... Dokter..." Teriak ibunda dhea ketika melihat kelopak mata putrinya bergerak.


Setibanya dokter di ruang rawat Dhea, Lovanda berseru, "Tolong periksa keadaan anak saya dok!"


"Syukur alhamdulillah. Anak ibu sudah melewati masa komanya. Anak ibu selamat. Kita tinggal berdoa saja, semoga tidak ada dampak yang negatif dari kecelakaan yang terjadi tempo hari," Ujar dokter seraya tersenyum.


"Alhamdulillah. Aamiin dokter. Terima kasih," Ucap Ibunda Dhea sembari meneteskan air matanya.


Ketakutannya telah sirna. Tak lagi ia takut jika pada kenyataannya putrinya akan diambil kembali oleh sang maha pencipta. Kini putri semata wayangnya telah kembali.


Seperti inilah seorang ibu. Terlihat tak peduli. Namun pada kenyataannya, ialah orang yang paling terluka pada saat melihat anaknya tak baik-baik saja.


Jangan pernah menyalahkan seorang ibu. Jangan pernah membenci sosok ibu. Kenapa?


Kau membencinya karena ia selalu memarahimu?


Kau membencinya karena ia tak pernah memberikan apa yang kau minta?


Ingat!


Tuhan pun tidak akan memberikan restunya padamu ketika ibumu tidak menghendakinya.


Ingat!


"Assalamualaikum tante."


"Waalaikumsalam. Bagas sama Cyntia. Udah pulang sekolah?" Tanya Lovanda.


"Udah tante. Lagian belum efektif juga pelajarannya. Masih banyak Jam Kosong," Curhat Cyntia.


"Gimana tante keadaan Dhea? Udah ada perubahan?" Tanya Bagas sembari memperhatikan muka pucat pasi milik Dhea.


"Alhamdulillah. Kata dokter, Dhea sudah melewati masa komanya. Jadi tinggal nunggu Dhea sadar," Ucap Lovanda dengan gembira.


"Alhamdulillah," Ujar Bagas dan Cyntia bersamaan.


"Ya udah ibu tinggal dulu ya. Ibu belum sholat ashar soalnya. Titip Dhea ya."


"Iya bu," Jawab Bagas.


|~< Skip >~|


"engh..." Lenguhan itu berasal dari bibir mungil Dhea. Dhea sadar?


"Panggil dokter Gas! Panggil dokter!" Seru Cyntia pada Bagas.


Dokter kembali ke ruang rawat inap Dhea dengan terburu-buru. Ia mengecek denyut nadi, dan kelopak mata Dhea.


Perlahan Dhea mengerjapkan kelopak matanya hingga terbuka sempurna. Iya, Dhea telah sadarkan diri. Sungguh ini pasti akan menjadi hal yang membahagiakan untuk sanak keluarga termasuk Fikri.


"Kamu baik-baik saja? Apa yang kamu rasakan?" Tanya dokter pada Dhea setelah merasa Dhea telah kembali sepenuhnya.


"Kepala saya pusing. Dimana saya?"


"Lo sedang berada di rumah sakit Ay," Jawab Cyntia memegang lengan Dhea.


"Lo siapa?" Tanya Dhea bingung. Ia sama sekali tak mengenal dua orang yang kini berada di sampingnya.


"Lo... Lo kenapa Ay? Lo lupa sama kita?" Tanya Bagas juga ikut bingung.


"Jangan salahkan Dhea! Setelah saya cek ulang, ternyata akibat dari kecelakaan yang menimpanya tempo hari, menyebabkan ia mengalami amnesia yaitu lupa ingatan. Jadi tolong, dia jangan terlalu dipaksa untuk mengingat! Biarkan dia ingat dengan sendirinya," Jelas dokter itu lugas.


Lovanda yang mendengar itu tepat di depan pintu, langsung masuk ke ruangan. Ia tak apa jika harus menuntun putrinya untuk kembali mengingat memori-memori masa lalunya. Sungguh ia tak apa. Karena yang terpenting adalah kesehatannya. Hanya itu!


Andai saja Fikri tau semua yang terjadi pada Dhea saat ini. Mungkinkah Fikri tak akan menyesal? Apakah Fikri akan bahagia jika mengetahui bahwa Dhea telah sadarkan diri meski tak bisa mengingat masa lalunya?


@Cyntia_Paluvi