Waiting For You

Waiting For You
Sad Party



"Gue jemput ke sini lagi jam 2 siang ya," Ucap Reinhart setelah sampai di depan rumah Dhea.


"Iya kak. Makasih." Dhea langsung masuk ke rumahnya dan segera bersiap-siap untuk acara yang akan dihadirinya.


|~< Skip >~|


"Tante, Dhea nya saya pinjem lagi ya. Insyaallah jam 7 udah pulang," Ujar Reinhart kepada Lovanda, Ibunda Dhea.


"Ya udah. Hati-hati!"


"Iya bu. Assalamualaikum," Ucap Dhea sebelum pergi bersama Reinhart.


Awalnya, di mobil hanya ada kesunyian. Namun tidak lagi setelah Reinhart mengajak Dhea untuk berbicara.


"Gue mau minta tolong sama lo," Ucap Reinhart tanpa basa-basi.


"Ehm, minta tolong apa kak?"


"Nanti, lo pura-pura jadi pacar gue ya!" Reinhart to the point.


"Hah?"


"Terserah lo sih."


"Ya, ya udah kak. Terserah kak Rei aja."


|~< Skip >~|


Reinhart menggenggam tangan Dhea yang mengayun bebas di udara. Hal yang biasa, namun cukup mengagetkan bagi Dhea. Ini adalah kali pertama Reinhart melakukan itu.


"Lo keberatan?" Tanya Reinhart saat merasakan tangan Dhea ingin terbebas dari genggamannya.


"Ha? Gapapa kak. Cuma agak gatel aja," Ucap Dhea sedikit grogi.


"Ya udah. Ayo masuk!"


"Iya kak."


Reinhart dan Dhea melangkahkan kakinya memasuki gedung yang mewah sekali.


Mungkin ini acara orang kaya, pikir Dhea.


"Gue lupa ngomong sesuatu sama lo," Ujar Reinhart tiba-tiba.


"Ada apa kak?"


"Penampilan lo---"


"Maaf kak. Aku emang gak punya gaun yang bagus. Jadi aku cuma pake gamis ini," Sahut Dhea sebelum Reinhart menyelesaikan kalimatnya.


"Bukan! Lo cantik hari ini," Ucap Reinhart yang membuat pipi tembem Dhea memerah.


"Makasih kak." Dhea menundukkan kepalanya malu.


Dibalik kebahagiaan Dhea. Dibalik Senyuman Dhea. Sesungguhnya ada seseorang yang terluka diatasnya.


Fikri!


Fikri seraya memegang gelas minuman yang sempat ia ambil di sudut aula, menyaksikan bahkan mendengarkan pembicaraan antara Reinhart dan Dhea.


Bukankah itu yang ia mau sebenarnya?


Ia mau agar Dhea melupakan perasaannya untuknya bukan?


Lalu, mengapa ia-lah yang kini merasakan hati yang teramat perih?


"Fik!" Bagas menepuk pelan pundak Fikri dari belakang.


"Sabar! Gua tau perasaan lo pasti hancur banget. Tapi---"


"Gua masih punya allah dan lo. Gue baik!" Fikri pergi dari hadapan Bagas begitu saja. Tanpa pamit.


Cyntia menghampiri Bagas yang masih terheran dengan perilaku Fikri. Pasalnya, ia tak pernah seperti itu.


Bagas juga mengenal Fikri dari kecil, namun ia berbeda dengan Fikri.


Di saat Fikri memilih menemani Dhea, Bagas juga menemani Cyntia. Mereka juga teman sejak kecil. Namun sekarang, mereka menjalin cinta. Indah!


"Gue mau ajak Reinhart bentar. Lo gunain kesempatan itu buat deketin Aya. Lo tanya-tanya lah tentang keadaan atau hatinya buat Fikri mungkin," Ucap Bagas setelah lama diam.


"Oke nice."


Bagas mendekati Reinhart yang masih setia menggenggam erat jemari Dhea.


"Serius lo?"


"Gue serius kak."


"Ay. Gue pergi dulu. Nanti kalo urusan gue udah kelar, gue balik lagi kesini," Ujar Reinhart.


"Iya kak."


Reinhart pergi keluar Aula disusul oleh Bagas.


"Hai Dhea. Udah lama kita gak ketemu. Rindu banget sama lo," Ucap Cyntia memeluk tubuh mungil Dhea.


"Gue juga rindu." Dhea membalas pelukan Cyntia dengan sama eratnya.


"Gimana keadaan lo Ay? Masih sering sakit kepalanya?" Tanya Cyntia setelah mereka memilih tempat di salah satu sudut aula yang tidak bising.


"Kadang-kadang doang kalo keinget masa lalu. Dan sebelnya, aku masih gak bisa lihat semua itu dengan jelas," Curhat Dhea blak-blakan.


"Lo pernah deket sama cowok gak sih dulu?" Telak! Hatinya saja tidak tau apa jawaban untuk pertanyaan itu.


"Gue gak ingat! Tapi gue ngrasa punya seseorang yang sangat gue sayang di masa lalu gue."


Cyntia tersenyum mendengar jawaban Dhea. Ia tak puas, namun jawaban tersebut dapat sedikit melegakan hatinya.


Cyntia membuka tasnya dan mengeluarkan selembar foto. Ia menyerahkannya pada Dhea.


"Foto siapa?" Tanya Dhea tak mengenal siapa yang berada tepat di sampingnya.


Dalam foto itu ada 2 cowok dan 2 cewek. Dhea masih dapat mengenali dirinya sendiri, Cyntia, dan Bagas. Namun tidak dengan seorang cowok yang berada tepat di sampingnya dan Bagas.


"Dia Muhammad Ali Fikri."


"Siapa dia? Kenapa dia berada di antara kita bertiga?"


"Ayo pulang Ay!" Suara Reinhart mengagetkan Cyntia yang masih belum sepenuhnya berhasil melancarkan rencananya dengan Bagas.


"Loh kenapa kak? Kan acaranya belum selesai? Gue masih mau di sini kak." Tanya Dhea polos.


Bukan jawaban yang didapatkan Dhea, melainkan sebuah tamparan yang melayang di pipinya. Tangan yang beberapa minggu ini menjaganya, kini tangan itu menamparnya. Menampar pipinya hingga memerah.


Rupanya suara tamparan itu mampu mengalihkan pandangan semua orang sehingga Reinhart dan Dhea lah kini yang menjadi pusat perhatian.


Dhea berusaha menahan air matanya agar tak jatuh. Cyntia merengkuh tubuh bergetar Dhea.


"Gue gapapa." Suara Dhea bergetar. Tapi kenapa sebuah senyuman masih bisa terukir dibibirnya?


"Gila lo!!!" Ucap seseorang yang berada di kerumunan orang-orang.


"Fikri," Gumam bagas melihat seseorang yang muncul ketika orang-orang membiarkannya lewat.


Mukanya merah padam.


Fikri berhenti tepat di depan Dhea.


"Gak sepantasnya lo nampar cewek. Lawan lo cowok, bukan cewek!!!"


"Sekali lagi gue lihat atau bahkan cuma dengar kalo lo nyakitin dia lagi, lo gak akan aman!" Fikri menatap sekilas manik Dhea yang juga menatapnya.


"Hah. Lo siapanya? Lo gak berarti buat dia! Lo hanya cowok yang tega biarin sahabatnya pulang sendiri di malam hari, sedangkan lo jalan dengan cewek lo. Dan---"


"Cukup!!!" Potong Fikri mulai kesal dengan tingkah laku Reinhart.


"Dan di waktu cewek lo gak hati-hati saat mau nyebrang jalan, lo gak bisa nyelametin dia. Dan akhirnya siapa yang nyelametin cewek lo? Dia kan? Hah. Sahabat macam apa lo!" Reinhart menunjukkan telunjuknya ke arah Dhea.


"Gue gak seabsurd itu!" Teriak Fikri tak terima.


"Sahabat macam lo gak perlu ada di hidup dia!"


"Bang---" Ucapan Fikri tak bisa ia lanjutkan ketika mendengar teriakan Dhea.


"Aaaaaa.... Hiks... Hiks... Aaaaaa.... Kepala gue sakit... Hiks... Hhh." Pandangannya mengabur dan ia pingsan tepat di pelukan Fikri.


"Ay... Bangun Ay... Ay sadar ay... Bawa ke rumah sakit Gas. Ayo!" Fikri bangkit mengangkat tubuh Dhea.


Tak salah lagi.


Kali ini memang Fikri benar-benar panik.


Saat ini yang terpenting adalah kebahagiaan lo Ay. Cukup lihat lo sehat dan tersenyum ceria, gue udah bahagia. Cepat buka mata lo Ay! Gua rindu!


@Muhammad_Ali_Fikri