Waiting For You

Waiting For You
Pacar Baru



"Mending kak Rei pulang. Lagipula, Gue gapapa kok kak," Ucap Dhea mengingat Reinhart yang bolak-balik ke rumah sakit selama 3 hari terakhir.


"Gua mau jagain lo!" Tolak Reinhart cepat.


"Ehm, Kak Rei lihat foto yang ada di nakas nggak? Kemarin pas mau tidur masih ada, tapi tadi bangun tidur udah nggak ada," Curhat Dhea.


"Gak lihat. Mungkin kebawa suster yang bersih-bersih." Dhea hanya manggut-manggut berusaha mengerti. Padahal foto itu sangat berarti baginya. Bisa saja foto itu menjadi kunci supaya dia bisa mengingat kembali masa lalunya.


√√√


"Belajar yang rajin. Nanti Gua jemput ke kelas lo," Ujar Reinhart sebelum berjalan dingin meninggalkan Dhea di depan kelasnya.


Dhea tersenyum kecut sembari masuk ke kelasnya. Belum sampai sebulan ia menempati tempat duduknya karena ia selalu lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit. Membosankan!


Apa Fikri nggak sekolah di sini? Kenapa bisa lupa tanya dia sekolah di mana sih?


"Dhea!"


"Siapa ya?" Tanya Dhea melihat salah satu cowok mendekatinya seperti seseorang yang sudah sangat dekat.


"Yah. Lo gak ingat Gua?" Tanyanya lagi.


Dhea menggelengkan kepalanya. "Siapa?"


"Gua Reno. Pacar lo dulu."


"Pacar? Gue pernah pacaran?" Tanya Dhea.


Reno menganggukkan kepalanya singkat. Ia naik ke bangku di depan Dhea. "Lo makin cantik juga ya ternyata."


Dhea menghembuskan napas kasar. Ia bosan mendengarkan ocehan lelaki macam Reno.


"Gak perlu sok jual mahal lah ya," Ujar Reno mencolek dagu Dhea singkat.


Refleks! Dhea berdiri. Ia takut dengan spesies lelaki seperti ini.


Seseorang tolong dong! Kenapa sekolah masih sepi sih? Nggak ada yang datang buat piket apa?


"Kenapa Sayang?" Langkah kaki Reno semakin mendekati Dhea yang sudah terdiam kaku di sudut kelas.


Reno kembali mencolek dagu Dhea meski dengan segala penolakan yang Dhea lontarkan.


Reno mengunci Dhea dengan kedua tangannya yang menjadi penjara bagi Dhea.


"Kakak mau apa sih?" Tanya Dhea sekilas melihat tag kelasnya yang ternyata kelas 12.


"Gua mau ganggu lo!" Gertakan dari Reno membuat Dhea semakin meringkuk ketakutan.


"BRENGSEK!"


Reno ditarik ke belakang semakin menjauhi Dhea.


Buukk!


Bogeman demi bogeman mendarat tepat di perut, wajah bahkan pelipis Reno hingga bibirnya berdarah.


Kak Rei


"Sekali lagi lo ganggu dia, lo berhadapan sama Gua. Ngerti lo!" Gertak Reinhart kasar.


Setelah memastikan Reno pergi, ia berlari ke arah Dhea yang sudah terduduk syok dengan tatapan nanarnya.


"Lo gapapa?" Reinhart memegang kedua bahu Dhea untuk sejenak menenangkannya.


"Di... Dia mau mau macam-macam. Gue takut kak." Dhea semakin meringkuk ketakutan dan memeluk lututnya erat.


"Ada Gua di sini, oke? Gua bakal jagain lo!"


Reinhart menarik tubuh bergetar Dhea dalam pelukannya. Membiarkan dia menangis tergugu. Memberikan tempat ternyaman di dadanya. Tepukan pelan di punggung Dhea, ia beri dengan segenap ketulusan hati untuk menguatkannya.


Beberapa siswa yang sudah datang, masuk ke kelas dengan terheran-heran karena pemandangan pagi yang jarang mereka temui.


Sebagian besar teman sekelas Dhea yang sudah datang ingin bertanya kepada Dhea atau sekadar ingin tau, dilarang mendekat oleh Reinhart. Ia ingin membiarkan Dhea tetap tenang dalam pelukannya meski sebentar.


"Lo udah tenang?" Tanya Reinhart ketika Dhea terlebih dahulu melepaskan pelukannya. Dhea menganggukkan kepalanya singkat dan berterima kasih pada Reinhart yang telah menenangkannya.


"Gua mau lo jadi pacar Gua mulai sekarang!" Perkataan lantang yang berasal dari Reinhart sontak membuat yang mendengarnya menoleh. Kini Reinhart dan Dhea menjadi sorotan.


"Kak, Gue gapapa kok," Ucap Dhea pelan.


"Gua gak mau kejadian itu terulang lagi. Jadi lo harus jadi pacar Gua," Tegas Reinhart.


"Tapi kak---"


"Mulai sekarang, lo pacar Gua!" Ujar Reinhart lantang.


Ia memang niat melakukannya. Agar semua tau, bahwa Dhea adalah pacarnya. Agar tidak ada seorangpun yang bisa mengganggunya lagi seperti tadi. Ia benar-benar tak suka melihat Dhea diperlakukan seperti itu.


Cukup Fikri yang melakukan kekejaman pada Dhea, dulu. Tidak lagi sekarang! Ia akan melindungi Dhea. Menjaganya juga memberinya bahagia.


Cukup Fikri, Dhea. Gua gak akan pernah nyakitin lo sekalipun.


-@Reinhart-