
~Via Whatsaap~
Fikri - "lagi ada acara gak Ay?"
Dhea - "lagi Pra-MOS di sekolah. Nanti jam 3 udah pulang."
Fikri - "kita jalan. Gue jemput jam 5."
Dhea - "oke" (read)
~Via Whatsaap End~
"Ini mau ke danau Fik?" Tanya Dhea karena sejak turun dari angkot, mereka hanya jalan disini-sini saja.
"Iya." Jawab Fikri dingin.
Memang fikri sedingin itu dengan cewek. Tapi sekali ia menyayangi seorang cewek, sepenuh hati ia akan menjaganya.
"Udah berulang kali kita melihat senja disini sama-sama." Ucap fikri setelah mereka sudah duduk di tepi danau.
"Heem."
"Pertama kita kesini lo gak pakai hijab. Sekarang lo pakai hijab, tapi masih memakai celana jeans." Fikri menatap Dhea yang serius memperhatikan senja.
"Aya. Ikut gue!"
"Kemana?" Tanya Dhea penasaran. Karena Fikri tak mungkin mau melewatkan masa senja di danau kalau ia sedang berada di sana.
Dhea ikut berdiri saat Fikri sudah mulai melangkah pergi. Dhea hanya mengekor dibelakang Fikri.
"Mau naik itu Fik!" Rajuk Dhea bak anak kecil.
"Jangan! Kayak anak kecil." Tolak Fikri.
"Fikri. Dhea. Assalamualaikum." Sapa Cyntia dan Bagas yang tiba-tiba ada di pasar malam itu.
"Waalaikumsalam." Jawab Dhea dan Fikri hampir bersamaan.
"Kalian juga lagi malming disini? Ciee. Yang---" ucapan Cyntia terpotong.
"Gak. Jangan salah paham. Kita tadi habis dari danau. Mampir ke sini mau beli gamis." Potong Fikri.
"Gamis buat ibu lo?" Tanya Dhea polos.
"Kita permisi dulu ya. Assalamualaikum." Fikri berjalan mendahului Dhea.
Ia berhenti tepat di pedagang gamis kaki lima.
Fikri mengambil salah satu gamis dengan warna biru muda kesukaan Dhea.
"Pak saya ambil ini satu ya. Ini uangnya pak," Ucap Fikri memberikan 2 lembar uang 50 ribuan.
"Ndak ada uang receh nak? Ndak ada kembaliannya," kata penjual gamis itu.
"Ini nak."
Fikri kembali berjalan. Kali ini menuju kamar mandi wanita.
"Gue nggak lagi---"
"Pakai ini!" Fikri memotong ucapan Dhea. Yang disuruh malah masih diam mematung di tempat.
"Aya." Tegur fikri saat Dhea tak kunjung mengambil pakaian di tangan Fikri.
"I... iya." Dhea masuk ke dalam kamar mandi.
Pelan dhea mulai terisak. Fikri tidak dengar? Jelas tidak. Karena dhea menyalakan kran air.
Selang 5 menit, dhea keluar dengan mata memerah. Dia hanya menunduk saat Fikri memperhatikannya.
"Masyaallah. Saat gue pulang dari pondok. Gue ingin lihat lo memakai gamis ini lagi." Rupanya Fikri terpesona dengan keeleganan seorang Dhea saat memakai gamis.
Dhea sudah mulai kembali seperti biasanya. Bahagia. Mereka memakan permen kapas dan es kepal. Sungguh enak sekali jajanan sekarang.
"Fik naik anting lah. Yah. Sekali ini aja. Kan selama sahabatan gue pengen banget naik ini sama lo. Sekali aja kok." Dhea kembali merajuk.
"Aya jangan kayak anak kecil. Nggak ada naik-naikan. Kita pulang. Ayo." Fikri kembali berjalan duluan meninggalkan Dhea yang masih berada dibelakangnya.
Saat mau naik angkot, Dhea dan Fikri mendengar ada yang memanggil nama Fikri.
"Fikri. Fik..." seorang cewek memanggilnya.
Dhea seperti tak asing melihat wajahnya. Tapi siapa?
"Jadi nggak mas?" Tanya sopir angkot.
"Nggak mas maaf. Maaf ya," ucap Fikri sopan.
Perempuan itu sontak memeluk Fikri. Seorang Fikri dipeluk dan dia diam saja? Masih ada hubungan darah kah?
"Marwa. Maaf ini tempat umum," Ucap fikri melepaskan pelukan orang itu yang ternyata adalah Marwa.
Penyebab perubahan Fikri, pikir Dhea.
"Kenalin ini Dhea. Sahabat gue."
Marwa menjabat tangan Dhea sebentar. "Kok lo gak pernah cerita kalo punya sahabat cewek disini?"
"Iya maaf."
Jadi Fikri tak pernah cerita kepada Marwa tentang Dhea?
"Begitu gak pentingnya gue ya Fik bagi lo." Batin dhea menjerit.
Sekarang gue tau Fik, apa arti gue buat lo. Bagi lo, gue hanyalah debu yang singgah. Memberi arti lusuh dan gak akan pernah bisa lo anggap!