
"Lo pulang bareng temen Gue gapapa? Gue masih ada urusan," Ucap Reinhart ketika sepulang sekolah menjemput Dhea di kelasnya.
"Oh. Ya udah Kak. Gue bareng Raisa aja. Boleh kan, Sa?"
"Sip." Raisa menunjukkan deretan giginya dan kedua jempolnya.
"Oke. Lo bawa mobil sendiri?" Tanya Reinhart pada Raisa.
Raisa tergagap. Aish! Dia ditanya sama Ketua OSIS paling populer di sekolah. "Gue dijemput Kak. Tapi nanti Gue antar Dhea pulang dulu kok," Jawab Raisa setelah berhasil mengendalikan dirinya.
Reinhart manggut-manggut mengerti. "Thanks ya."
"Gue pergi dulu ya. Kalo udah sampai, kabarin Gue!" Reinhart memeluk Dhea singkat, kemudian berjalan menjauhi mereka.
Raisa membelalakkan matanya lebar. Ia menatap Dhea yang masih terdiam kaku. "Lo dipeluk anjay!"
"Hush! Udah ah! Pulang yuk!" Ajak Dhea mengalihkan pembicaraan.
Di sepanjang perjalanan, Dhea dan Raisa hanya saling diam. Mereka sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing, hingga sopir Raisa berkata, "Udah nyampek Non."
Dhea dan Raisa menengok kanan kirinya. Dan, benar saja ini rumah Dhea. Begitu cepat waktu dilalui.
"Thanks ya, Sa. Gue masuk dulu. Lo hati-hati," Ucap Dhea saat ia sudah turun dari mobil Raisa.
Raisa mengangguk sembari tersenyum. "Gue pulang dulu. Assalam'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Dhea menunggu mobil Raisa keluar dari pekarangan rumahnya, sebelum ia masuk ke dalam rumah.
Krreekkkk
Dhea menoleh tepat di balik pohon besar samping kanan rumahnya. "Suara apa itu?"
Dhea mendekat dan semakin mendekat ke arah pohon. Hatinya was-was. Tapi pikirannya sangat penasaran.
Dhea mengambil kayu panjang yang kokoh. Jika saja dibalik pohon itu adalah penjahat, ia bisa lebih dulu memukulnya. "HIAKKKK."
Dhea membuang tongkatnya ke sembarang arah. Nggak ada siapapun? Perasaan tadi ada suara ranting keinjek.
Dhea menunduk dan terpana melihat boneka Bear berwarna cokelat susu yang berada di balik pohon. Tidak hanya boneka bear, tepat di saku lovenya, ada sebuah surat di sana.
Dengan hati-hati, Dhea berjongkok untuk mengambil boneka bear itu kemudian kembali berdiri. Ia membaca surat dari si pengirim boneka bear dalam hati.
'Untuk Dhea yang selalu berharap menjadi senja di kehidupannya.
Assalamu'alaikum Ay :-)
Dengan boneka ini, ada salam yang belum tersampaikan, kini telah sampai.
Ada sayang yang belum terucap, tapi dengan ini aku mengatakan sayang.
Ay, jangan pernah berusaha mengingat siapa aku. Sudah cukup dulu perilakuku yang melukaimu. Aku tak mau kenanganku pula menyakitimu. Aku akan selalu berdoa untuk kebahagianmu.
Wassalamu'alaikum.
\_**MAF**\_'
Dhea kembali memasukkan secarik kertas berisi tulisan dari si pengirim boneka untuknya. Ia memeluk bonekanya erat. Erat sekali.
√√√
Kok tumben aku ngerasa capek ya.
Dhea duduk di tempat tidur setelah sebelumnya mengambil boneka bear tadi siang.
Ia bersandar dengan memeluk bear tersebut. Ia menghadapkan boneka bear untuk menghadapnya. Ia menamainya dengan inisial yang tertulis di surat si pengirim, MAF.
MAF, sebenarnya lo siapa? Kenapa lo ngelarang Gue buat ingat masa lalu Gue? Kenapa lo bilang kalo di masa lalu, lo selalu nyakitin Gue? Sebenarnya lo itu siapa?
Beep beep. Beep beep.
Refleks, Dhea membuka ponsel miliknya. Aish! Ternyata dari pacar barunya. Dhea meletakkan boneka bearnya di sisi kanan tempat tidur, sedangkan ia mulai memanjakan dirinya dengan tiduran.
**Kak Reinhart**
Lo udah sampai? Lo baik-baik aja?
Aish! Kenapa ia bisa sampai lupa mengabari Reinhart kalo ia sudah sampai rumah sejak 1 jam yang lalu.
**Kak Reinhart**
*Maaf kak. Gue lupa ngabarin🙏 Gue udah sampai kok. Gue juga baik\-baik aja*.
Bagus kalo gitu
*Iya kak*. \(Read\)
Buat lo yang udah kirim boneka bear kesukaan Gue, makasih. Tapi maaf, Gue akan tetep coba buat ingat tentang lo, meskipun lo larang.
_Senjaputri_Zahra_Dhealova_