Waiting For You

Waiting For You
Prolog



"Siapa Marwa?" Tanya gue ketika tak sengaja bertemu.


"Sekarang lo tau kan kalo yang gue pakai PP WA itu fotonya Marwa?" Tanyanya balik. Gue hanya bergumam ria.


Ternyata benar apa yang ia katakan dichat. Sepertinya dia memang memiliki perasaan khusus untuk Marwa. Cewek yang katanya teman masa kanak-kanaknya dulu. 9 tahun, berlalu sudah sejak taman kanak-kanak itu. Tapi rupanya, mereka masih saling mengingat. Ini tidak biasa. Karena 9 tahun bukanlah waktu yang singkat.


"Dua minggu lagi, gue berangkat ke pondok." Disela-sela kami belajar sastra, ia mengatakan itu.


"Lo jadi lanjut ke pondok fik?"


Iya. Namanya adalah Muhammad Ali Fikri. Dia teman SD gue. Kami bersahabat sejak kelas 6 SD. Dulu kami selalu bersama, sampai akhirnya kami memilih sekolah yang berbeda saat sekolah menengah pertama. Sedikit renggang. Itulah hubungan kami. Semua tak seperti dulu lagi.


"Iya jadi. Kemarin gue udah lanjut ke MTSN. Sekarang gue mau lanjut di MAN sekalian mondok. Biar dapet berkahnya," Ujarnya yakin.


"Oke. Gue cuma bisa dukung lo." Gue menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan kalimatku, "Marwa cewek yang baik kan? Bukan apa-apa. Foto dia di PP kamu kan gak pakai hijab. Ehm---"


"Baik lah. Meaki dia gak pakai hijab, tapi dia alim, sholihah," Potong Fikri yang sungguh percaya akan sosok Marwa itu.


"oh."


'Iya. Sepertinya Marwa memang cewek yang baik buat lo. Lebih baik daripada gue.' Kata-kata itu entah sejak kapan rasanya sudah menggeluti pikiran gue. Rasanya sesak sekali saat mengetahui orang yang sejak dulu menuntun gue hijrah, orang yang kini namanya selalu gue harapkan tertulis sebagai jodoh gue di lauhul makhfudz. Ternyata orang itu telah menyimpan perasaan untuk cewek lain.


"Aya, kenapa?" Fikri sepertinya memperhatikan gue yang sedang kalut.


"Lebih baik simpan cinta lo untuk diadukan kepada sang pemilik hati. Lo tau kan kisah cinta dalam diam Sayyidina Ali R.A dan Fatimah Az-Zahra? Berharaplah kisah cinta lo berjalan dan berakhir seperti kisah cinta mereka. Meaki cintamu tak setulus cinta Sayyidina Ali R.A kepada Fatimah Az-Zahra."


Memang benar ya 'Jangan hitung pahala-mu, karena belum tentu yang telah kau hitung sebagai pahala adalah pahala untukmu. Tapi hitunglah dosa-mu, karena setiap yang engkau lakukan bisa saja itu ladang dosa untukmu.'


Dan gue baru saja melakukan itu.


"Ya allah. Ampuni gue yang telah melakukan zina itu," Batin gue. Rasanya seaak sekali.


"Sejak kapan lo belajar tentang hal itu ay? Bisa gitu juga ya lo. Lo cemburu?"


"Ish. Fikri gue serius!"


"Gue juga serius Senjaputri Zahra Dhealova!" Nada suaranya terdengar 2× lebih lebih tinggi. Dia marah? Hanya karena itu?


"Maaf." Sebuah kata yang gue katakan sebelum gue pergi dari sana. Bentakan itu memang tidak terlalu keras. Tapi mengingat siapa yang melakukannya, hati gue terasa rapuh sekali. Selama 6 tahun kami saling mengenal, Fikri tak pernah membentak gue.


Tapi sekarang? Bahkan karena hal kecil dia melakukannya!


"Ya allah tolong turunkan hujan dan petir. Karena aku ingin menangis tanpa terlihat. Dan aku ingin berteriak tanpa siapapun dapat mendengarnya." Batin gue berteriak disela isak tangis yang lolos begitu saja.


Dengan langkah gontai dan mata yang masih dibanjiri butiran air, gue berjalan menuju suatu tempat. Gue duduk di tepi danau sebelah timur. Sunyi sekali. Memori memori yang pernah gue lalui di sini kembali terputar acak diotak gue bak kaset usang.


Pernah menjadi sesuatu yang indah, namun kini semua telah kadaluarsa