Waiting For You

Waiting For You
Ingatkah?



Tapi mungkinkah?


Pertahanan yang selama ini susah payah Fikri jaga telah runtuh?


Apa dia menyentuh Dhea?


Menyentuh seseorang akhwat yang bukan muhrimnya?


Benarkah ia rela melakukannya hanya untuk menyelamatkan Dhea?


Tok tok tok...


"Assalamualaikum." Itu suara seseorang yang berada di balik pintu.


"Waalaikumsalam," Jawab Dhea dan Lyska bersamaan.


"Gimana keadaan lo Ay?" Ternyata Fikri pemilik suara itu.


"Alhamdulillah, udah lebih baik kok Fik."


"Boleh gue bicara sama lo?" Fikri kembali bertanya.


"Boleh."


Jujur saja Dhea deg-degan saat itu. Bagaimana tidak? Memikirkan apa yang akan Fikri bicarakan saja tidak bisa.


"Ya udah aku permisi dulu ya Ay, Fik." Lyska pamit keluar setelah melihat raut wajah Fikri yang serius.


"Tolong jangan tutup pintunya!" Seru Fikri dingin.


2 menit,


3 menit, akhirnya Fikri memulai pembicaraan.


"Lo sakit apa?" Tanya Fikri serius.


"Gue gak sakit apa-apa Fik. Gue sehat." Dhea mengelak pertanyaan Fikri tersebut. Meski hatinya sendiri tak tau apa yang terjadi pada tubuhnya.


"Gue mohon lo jujur Dhea!" Kembali Fikri menekan Dhea. Menekan mental Dhea.


"A... Aku gak tau Fik."


"Maaf ay," Ucap Fikri seraya mendekati Dhea, saat melihat Dhea mulai menitikkan air mata.


Benar-benar bukan seperti Dhea. Dhea bukan cewek yang mudah menangis. Ia tegar. Ia gadis yang tak mudah putus asa. Bahkan Dhea tidak pernah menangis dihadapan laki-laki manapun, termasuk Fikri.


Serapuh itukah Dhea hanya karena seorang Fikri?


Begitu terlukanya kah Dhea hanya karena sebuah persahabatan?


"Ingatkah lo saat pertama kita kenalan?" Tanya Dhea.


Fikri tampak mengingat-ingat sesuatu. Semudah itu Fikri melupakan saat-saat berkenalan dengan Dhea untuk pertama kalinya?


***FlashBack On***


"Jangan ambil tas aku! Kembaliin!" Gadis kecil itu merajuk sambil menangis ingin mengambil tas miliknya.


"Anak cengeng! Anak cengeng!" ketiga cowok itu terus saja meledek sang gadis mungil. Tasnya pun tak kunjung dikembalikan. Bahkan tas itu malah dibuat bahan lemparan.


"Aduh! Siapa yang nimpuk sih?" Salah satu cowok berseragam merah putih itu mengaduh.


"Aaa... Aku juga ditimpuk," Kata cowok yang satunya.


"Ash. Ayo kabur!" Ketiga cowok itu berlari ketakutan karena sama-sama terkena timpuk ajaib. Sebenarnya bukan timpuk ajaib sih, hanya saja pelakunya tidak kelihatan batang hidungnya.


Seorang anak laki-laki mengambil tas lalu mendekati gadis itu.


"Ini tasnya. Kamu gapapa?" Tanya anak laki-laki itu berjongkok menyetarakan tingginya dengan sang gadis yang tengah duduk bersandar dan menangis di tembok usang.


"Udah jangan nangis! Kan mereka udah pergi," Ujar anak laki-laki itu lagi.


"Ma... kasih... Hiks... Hiks..."


"Iya sama-sama. Ya udah ayo aku antar pulang."


Gadis mungil itu sudah tidak menangis lagi. Bahkan sekarang ia banyak tertawa karena lelucon yang dilontarkan anak lelaki tadi.


"Oh iya. Nama aku Senjaputri Zahra Dhealova. Nama kamu siapa?" Dhea mengulurkan tangan kanannya berharap anak laki-laki yang baik hati tadi mau berjabat tangan dengannya.


Anak laki-laki itu merapatkan kedua tangannya di depan dada. Bersalaman ala orang arab mungkin. "Namaku Muhammad Ali Fikri."


Sungguh malu! Dhea menarik kembali uluran tangannya. Mungkin takut dengan orang asing, pikir Dhea.


***FlashBack Off***


"Lo gak ingat Fik?" Tanya Dhea sekali lagi. Ia sungguh tak habis pikir, jika Fikri benar-benar telah melupakan memori itu.


"Gue ingat Ay. Gue ingat semua kenangan yang udah kita buat. Gue ingat semuanya," Ujar Fikri meyakinkan.


"Maaf!" Satu kata beribu luka yang terpendam selama ini di hati Dhea, rupanya harus terkubur lebih dalam lagi.


"Lo cepat sembuh. Lusa kita ke danau persahabatan ya."


"Lo serius? Kita ke danau persahabatan?" Dhea menganga tak percaya. Karena hampir 3 tahun ini, mereka tak pernah berkunjung ke sana bersama.


"Iya lusa gue jemput lo. Gue pulang dulu. Ini udah mau larut. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Hati-hati ya!"


"Cie yang diajakin jalan. Jangan-jangan Fikri mau nembak lo lagi." Heboh Lyska yang langsung kembali masuk setelah Fikri keluar.


"Mati dong! Hahaha." Canda Dhea mengundang tawa keduanya.


Lo harus tau satu hal Fik. Kenangan bahagia maupun sedih gue saat bersama lo, akan tetep jadi kenangan terindah buat gue. Karena di dalamnya ada kisah kita. Lo dan Gue!