Waiting For You

Waiting For You
Tangis Penyesalan



Lovanda langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Boleh dok?" Ulang Fikri kepada dokter ketika ia sudah berdiri menahan emosinya.


"Boleh tapi hanya satu orang saja," Ucap dokter memperingatkan.


Tanpa peduli dengan yang lainnya, Fikri menerobos masuk ke ruang ICU.


"Assalamualaikum Ay. Lo tidurnya lelap banget. Cepat bangun ya Ay! Gue kangen sama puisi lo," Ujar Fikri setelah duduk di samping ranjang pesakitan Dhea.


Fikri menggenggam lembut tangan Dhea.


"Lo ingat waktu itu Ay? Saat lo minta gue bacain hafalan surah Al-Kahfi. Tapi gue gak mau, karena gue bacanya belum lancar. Itu udah 2 tahun lalu. Tapi sekarang gue udah hafal loh Ay. Lo masih mau denger kan?" Fikri berbicara ditengah isakannya.


Hal-hal yang telah ia lalui bersama Dhea, kembali terbayang diingatan. Suka, duka, dan peristiwa konyol, semua pernah mereka lalui.


Dengan isakan yang masih tersisa, Fikri mulai melantunkan hafalan surah Al-Kahfi yang telah fasih.


Sebenarnya waktu itu, Fikri tak mau membacakan hafalan surah Al-Kahfi bukan karena ia masih belum fasih, tetapi karena sejak Fikri bisa menghafal surah ini, selain karena allah, fikri juga ingin mempersembahkannya sebagai salah satu mahar yang kelak ia berikan kepada sang pelengkap tulang rusuk.


"Lo ingat puisi lo tentang senja? Sampai gue nyuruh lo buat nulis syairnya di buku tulis gue. Gue juga masih punya rekaman audio saat lo baca puisinya loh Ay." Fikri masih setia menggenggam erat tangan Dhea. Sesekali ia membelai puncak kepala Dhea.


"Maafin gue Ay. Gue gak pernah ngertiin lo. Disaat lo butuh, gue selalu sibuk. Tapi lo? Lo selalu ada di samping gue setiap gue butuh lo Ay."


"Gue bahagia banget Ay, lihat lo pakai gamis yang gue beliin tadi. Lo cantik! Waktu lihat lo pakai itu, hati gue udah bertekad buat jagain lo! Ay, lo cewek satu-satunya yang tau seluk beluk dan latar belakang gue. Cuma lo yang selalu dengerin cerita gue. Lo selalu peduli sama gue. Tapi kenapa gue begitu bodoh Ay? Gue gak pernah lihat sisi perhatian dari lo. Yang gue lihat hanyalah sisi manja dari lo. Padahal sebenarnya lo bijak dalam menghadapi masalah."


Fikri sudah tak kuasa menahan air matanya yang semakin deras. Ia eratkan lagi genggamannya di tangan Dhea. Seakan tak mau kehilangan sosok itu.


"Gue rindu lo buatin puisi lagi Ay. Udah lama juga kan? Bangun Ay. Gue rindu lo! Gue janji gak akan jutek lagi sama lo. Gue janji Ay. Tapi tolong, sekarang buka mata lo dan lihat gue di sini ada untuk lo. Gue gak akan tenang sebelum lihat lo siuman Ay."


"Maafin gue Ay. Besok gue harus pergi tanpa lo tau. Pergi pisah sama lo. Tapi tenang aja, gue gak akan pernah bisa lupain lo kok. Lo sahabat gue yang terbaik Ay." Fikri menarik nafas sesaat. Meredakan sesenggukannya.


"Maafin gue Ay. Sebenarnya gue peka sama perasaan lo. Tapi gue cuma gak mau hubungan persahabatan kita yang indah ini, jadi renggang hanya karena perasaan baru lo ke gue. Gue harap lo ngerti itu ya. Meskipun begitu, harus lo tau Ay! Gue sayang sama lo!" Ujar Fikri.


Ia mencium pelan punggung tangan milik Dhea. Air matanya kembali hadir mengiringi. Lama. Lama sekali ia melakukan itu. Seakan tak ingin lepas.


Jutek gue dan sifat dingin gue ke lo selama ini, itu adalah bentuk kasih sayang gue sama lo. Gue udah anggap lo sebagai sahabat dan adik gue. Gue sayang sama lo!


@Muhammad_Ali_Fikri