
***FlashBack On***
"Fik, kok pakai ditutup sih matanya? Kan aya jadi gak bisa lihat." Dhea mendengus kesal.
"Udah nurut aja." Beberapa menit kemudian, Fikri kembali berucap, "Udah nyampe. satu... dua... tiga..." Fikri membuka penutup mata yang beberapa menit lalu sempurna menutup mata Dhea.
"Sejak kapan ada danau seindah ini? Kok gue gak pernah tau?" Dhea menatap manik indah milik Fikri. Dan seperti biasa, Fikri langsung mengalihkan tatapannya ke arah lain.
"Danaunya indah kan?" Tanya Fikri mencairkan suasana.
"Gue kok gak pernah dikasih tau sih kalo ada danau seindah ini?"
Hampir saja Dhea memukul pelan Fikri dengan kepalan tangannya. Namun rupanya Fikri sudah lebih dulu menyingkir. "Eits. Gak boleh sentuh!"
Fikri duduk di samping Dhea dengan jarak hampir 1m. Seperti itulah Fikri dengan cewek. Sedekat apapun pasti masih ada jarak.
"Lo mau gak jadi sahabat gue? Kita lewati suka dan duka semua sama-sama. Apa lo mau jadi sahabat gue Senjaputri Zahra Dhealova?"
Sontak Dhea menoleh ke samping. Dhea tidak melihat mimik wajah bercanda pada wajah Fikri. "Iya. Gue mau jadi sahabat lo Muhammad Ali Fikri."
"Alhamdulillah." Sebuah kata yang diucapkan Fikri setelah mendengar jawaban Dhea.
Sekilas Dhea melihat Fikri tersenyum kecil.
"Fik. Kayaknya gue mau kasih nama buat danau ini. Bokeh gak?" Dhea bertanya polos.
"Hem." Fikri hanya bergumam pelan, namun itu sudah lebih dari cukup untuk Dhea mengingat sikap Fikri yang memang dingin kepada cewek.
"Gue mau kasih danau ini 'Danau Persahabatan', karena danau ini saksi alam awal persahabatan kita."
Fikri tersenyum sekilas menatap Dhea yang tak mengetahuinya.
***FlashBack Off***
"Apa lo lupa danau persahabatan ini Fik? Apa lo lupa janji persahabatan kita?" Isak tangis masih terdengar di kesunyian danau.
"Gue ingat semuanya ay." Itu suara seseorang yang sangat ia kenal. Fikri? Benarkah Fikri ada di sini? Mungkinkah ia hanya berkhayal?
Benarkah?
Benarkah Fikri ada di sini?
"Gue masih ingat semuanya ay."
Dhea menoleh ke belakang. Dia tak percaya semua ini. Pasti hanya semu.
"Lo bukan Fikri kan? Lo siapa hah? Lo siapa? Fikri gak mungkin ada di sini! Fikri gak peduli sama gue! Fikri gak peduli sama gue!" Dhea berteriak-teriak layaknya orang kesurupan.
"Ay. Aya, lo kenapa? Gue Fikri Ay. Ini Fikri," Ujar Fikri tak mengerti dengan sikap Dhea.
Dan ya. Dhea sudah lebih baik Tapi dia pingsan.
Pingsan?
Fikri kembali kalang kabut.
Bagaimana bisa ia menemukan bala bantuan di danau sepi ini?
|~< SKIP >~|
"Fik... Fikri..." Dhea memanggil nama itu saat matanya masih terpejam.
Perlahan ia membuka matanya.
"Ay. Lo gapapa kan ay?" Lyska, sahabat Dhea berhambur memeluknya.
"Gue gapapa Lys."
"Tadi kenapa lo nyebut nama Fikri?" Lyska bertanya penasaran.
"Iya kah? Perasaan enggak."
"Ih serius Ay." Mata Lyska menatap tajam manik Dhea, seakan mencari sesuatu di sana.
"Mungkin karena mimpi tadi malam Lys," Jawab Dhea asal.
"Mimpi apa Ay? Mimpi buruk?" Tanyanya lagi.
'Mampus gue! Pake alasannya ngasal lagi.' Batin Dhea.
"Nanti deh Lys. Oh iya. Yang bawa gue pulang ke sini siapa?" Sekarang giliran Dhea yang bertanya.
"Terakhir kali lo sama siapa?"
"Ih malah balik nanya."
"Gue serius!" Lyska sedikit menekankan kalimat itu.
"Gue gak tau pasti apa itu Fikri atau bukan," Jawab Dhea akhirnya.
"Ya itu yang bawa lo ke sini." Lyska tersenyum lebar.
"Becanda ya lo! Mana mung---"
"Gue serius Ay!" Sekali lagi Lyska mengunci mata Dhea agar ia mempercayai kebenaran itu. Agar Dhea tau bahwa ia tak sedang becanda.
Terkadang gue rindu masa kecil dimana gue belum mengenal sakit karena cinta