
"Assalamualaikum." Fikri mengetuk pintu rumah Dhea sopan.
"Waalaikumsalam. Eh ada Fikri," Sapa Lovanda, ibunda Dhea.
"Iya tante. Saya mau ajak Dhea jalan ke danau. Boleh gak tante?" Fikri mencium tangan ibunda Dhea.
"Boleh. Tapi jangan malam-malam ya pulangnya. Tolong hibur Dhea. Sejak dua hari kemarin Dhea jarang keluar kamar. Eh pas keluar, matanya sembab. Tante tanya, tapi bilangnya gapapa terus," Curhat ibunda Dhea saat mereka sudah duduk di ruang tamu. "Ya sudah. Kamu tunggu di sini dulu. Tante panggilin Dhea."
3 menit berlalu.
"Ya sudah. Kalian hati-hati di jalan ya." Lovanda memawas Fikri dan putri semata wayangnya itu.
"Iya tante. Kami berangkat dulu, assalamualaikum."
Fikri dan Dhea berangkat setelah mencium tangan sang ibunda. Hening di perjalanan. Hanya deru angkot yang terderngar.
<~| Skip |~>
"Aya. Tinggal beberapa hari lagi gue tinggal di sini sama lo. Dan setelah itu, kita akan berpisah," Ucap Fikri di tengah keasyikan mereka bergurau di tengah danau menaiki perahu.
"Iya."
"Kita ke tepi dulu yuk!" Ajak Fikri, lalu mulai mendayuh perahu.
"Hei Fik..." Teriak seorang cowok yang berjarak lumayan jauh dari Dhea dan Fikri. Fikri hanya melambaikan tangan menandakan agar cowok dan cewek di sampingnya segera menghampiri Fikri.
"Fik, mereka siapa?" Tanya Dhea tak mengerti. Padahal jarang sekali orang yang mengetahui ataupun mengunjungi danau ini.
Lalu sekarang ada? Kok aneh!
"Kenalin ini Dhea. Aya, kenalin ini Bagas dan ini Cyntia."
"Hai Dhea," Sapa Bagas dan Cyntia hampir bersamaan.
"Assalamualaikum," Ujar Dhea.
"Waalaikumsalam. Maaf lupa, hehehe," Ucap keduanya.
Hening sesaat.
"Fik, maksudnya?" Dhea bertanya maksud semua ini. Sungguh ia benar-benar masih tak mengerti.
"Cyntia sekarang teman lo dan Bagas adalah sahabat lo. Anggap Bagas sebagai gue. Dia yang akan menjaga lo setelah gue pergi," Jelas Fikri panjang lebar.
"Hah? Penjaga? Pengganti lo?" Mata Dhea memanas. Bagaimana tidak? Fikri lucu sekali! Bagaimana bisa ia berpikir bahwa dirinya dapat digantikan?
"Ini gak lagi becanda Ay!"
Mulus Dhea menganga sempurna. Bagas dan Cyntia? Jangan ditanya! Sudah pasti mereka juga bingung setengah mati. Dhea segera menghapus air matanya sebelum Fikri sempat melihatnya.
"Lo gapapa Dhea?" Tanya Cyntia.
"Iya. Gue baik-baik aja." Dhea berusaha menormalkan kembali semuanya. Mimik wajahnya dan perasaannya.
Ini keputusan sahabatnya. Ia ingat betul kata-katanya dulu, bahwa 'Kebahagiaan sahabatnya adalah kebahagiaannya.' Jika keputusan yang Fikri ambil saat ini membuatnya bahagia dan tenang ketika tholabul ilmi nanti.
Apa boleh buat?
"Aya. Mau senja," Seru Fikri semangat.
Fikri, Dhea, Cyntia, dan Bagas duduk beralaskan rerumputan hijau. Bagas dan Fikri saling berbincang, entah tentang apa. Meski Dhea berada tepat di samping Fikri, ia tak tau. Karena jarak yang memisahkan.
Sedangkan Dhea juga audah mulai akrab dengan Cyntia.
"Nama lengkap lo siapa Dhea?" Tanya Cyntia ingin tau.
"Senjaputri Zahra Dhealova."
"Wih. Senja?" Tanya cyntia bersemangat. Dhea hanya tersenyum singkat.
"Kenapa?"
"Kenapa apanya?" Tanya Dhea kepada Cyntia.
"Kenapa senja?" Cyntia nampak serius menunggu jawaban Dhea.
"Gue gak pernah tanya ini sama ibu. Tapi---"
"Tapi?" Senggak Cyntia penasaran.
"Tapi bagi gue, arti kata senja adalah pembawa kebahagiaan. Sama seperti kebanyakan orang yang selalu tersenyum bahagia saat melihat keindahan senja, gue juga ingin seperti senja. Senja yang bisa membuat orang-orang di sekitarku tersenyum bahagia meski tak pernah gue sadari." Dhea menatap manik hitam milik Cyntia yang juga menatapnya.
Tak sadar, Fikri yang mendengar jawaban itu, menatap Dhea dan mengembangkan senyumnya.
"Gue bangga punya sahabat setulus lo Ay," Batin Fikri.
Cuma ada dua orang di dunia ini yang berusaha gue lihat senyumnya dengan alasan karena gue. Hanya ada dua. Ibu gue, dan lo, Fik!