
Menghapus air mata, mimpi buruk Windy kali ini adalah dia dibully dan dibunuh, membuatnya di dalam mimpi berlari sambil menangis, menyimpan dendam pada orang-orang yang mengacamnya di dalam mimpi.
Matanya menantap kosong ke arah dinding disampingnya, perasaan di dalam mimpinya terbawa ke dunia nyata, otaknya masih berusaha menyadarkan diri kalau sekarang dia sudah terbangun dari mimpi buruk.
Ting!
Ananta : Datang jam 8 pagi di Fakultas Manajemen.
Pesan Ananta hanya dibaca tanpa balasan, dan sesuai permintaan pemuda itu, Windy datang jam 8 di depan gerung Fakultas Manajemen, dirinya setuju dengan permintaan Ananta, membuat pemuda itu agar tidak menganggunya, atau terkurung menjadi kekasihnya.
Konyol, tapi Windy menurutinya.
"Nah,"
Sebuah makalah muncul di depan Windy, Ananta disampingnya menunjukkan tepat di depan wajahnya.
"Bayar hutangmu yang kelima, kumpulkan tugasku."
Windy mengambil makalah dari tangan Ananta tanpa mengomel.
"Jadi kamu Fakultas Manajemen?" Windy membaca cover yang menjadi sampul makalah yang ada ditangannya.
"Kamu tidak tahu selama ini aku di fakultas apa?" Ananta merasa harga dirinya terluka, gadis yang disukainya tidak tahu apapun tentangnya, bahkan fakultasnya.
Windy menjawab tak acuh. "Memang tidak tahu." Kemudian Windy kembali membaca. "Dan nama lengkapmu adalah Ananta Agara Damar."
"Hm," Ananta menjawab dengan wajah cemberut yang disembunyikan, gadis yang suka memotret itu bahkan lebih tahu pria-pria lain yang tidak lebih mempesona darinya.
"Berhenti,"
"Kenapa?" Windy yang berjalan lebih dulu di depan berbalik.
"Lewat tangga."
"Hah?! Tidak mau!" Tolak Windy mentah-mentah, tapi Ananta kembali menekankan ucapannya.
"Le-wat tang-ga."
Tatapannya tajam, tangannya bersedekap, membuat gadis berambut sebahu tidak bisa membantah.
Membuang napasnya kesal, Windy menghentakkan setiap langkahnya di anak tangga yang dia naiki.
Wajahnya jutek, dari belakang pun Ananta tahu ekspresi itulah yang sekarang Windy pasang.
"Jadi dilantai berapa tugasmu dikumpulkan? Ini sudah lantai enam."
Windy bertanya karena Ananta belum juga menyuruhnya belok ke kanan atau ke kiri, pandangannya menyapu sekitar, kakinya sedikit lelah, tapi matanya menemukan sesuatu yang berkilauan...
Dua pasang kapalnya yang sedang bersama, Dirra-Nato dan Wino-Thio.
Tanpa melepaskan pandangan dari target, tangan Windy mengambil ponsel di dalam tasnya dengan mudah, lalu mengarahkan kameranya.
Hap!
Windy tentu sudah tahu siapa yang berani mengambil ponselnya, Pengganggu Busuk.
"Ck! Ananta kembalikan!"
Ini adalah moment yang Windy inginkan sebelumnya di lapangan tenis tapi dia tidak mendapatkannya. Sekarang, pemandangan ini tepat berada di depannya dan Ananta menganggunya.
"Kumpulkan tugasku lebih dulu baru lakukan hal tidak sopanmu itu." Ujarnya datar, lengannya dikalungkannya dileher Windy, membawanya ke kantor jurusan dan menyuruhnya masuk.
"Sudah kukumpulkan, sekarang kembalikan ponsel..." suara Windy menghilang diudara, keluar dari ruangan, dia tidak melihat Ananta yang tadi menunggunya.
Matanya mencari sekeliling.
"Dia pergi ke arah toilet." Wino dengan senyum khasnya memberi jawaban tanpa bertanya.
"Aaa..." gumam Windy mengangguk.
"Kak Windy sedang apa disini? Ini bukan Fakultas Sastra." Thio disebelah Wino bertanya.
"Kamu juga sedang apa disini? Ini bukan Fakultas Ekonomi."
Wino menggelengkan kepala, mengabaikan dua orang dihadapannya dan masuk ke kantor jurusan untuk mengumpulkan tugas miliknya dan tugas Dirra.
"Aku kesini untuk ketemu Kak No." No adalah nama pendek dari Wino.
"Dan Nato kesini untuk ketemu Dirra?" Imbuhan Windy entah kenapa menimbulkan gelagat aneh pada teman Koo di depannya, matanya mengatakan kalau dia sedang mencari jawaban, dan itu membuat Windy tersenyum melihatnya.
"Kamu sendiri kesini untuk Ananta?" Mendengar pertanyaan itu Windy memutar malas kedua matanya.
"Iya, untuk ditindas, dia sedang menindasku sekarang."
"Ditindas dengan cinta maksudnya?" Thio menggoda.
"Kak No, aku rasa Kakak harus melindungi adik tingkat kesayangan Kakak karena sekarang aku akan memukulnya."
Windy bercanda, tidak menyentuh atau memukul, tapi candaan itu diperankan dengan baik oleh Thio yang ikut bermain, dia benar-benar menyembunyikan dirinya dibalik Wino, menjadikannya sebagai tameng.
"Nan," pandangan Wino beralih ke belakang Windy. "Sudah mengumpulkan tugas?"
"Hm," Ananta bergumam sambil mengangguk sebagai jawaban.
"Jadi kamu bisa punya teman juga, aku kira Hantu Kampus sepertimu hanya bisa menghilang tanpa kenal siapapun."
Wino terkekeh mendengar ucapan Windy. "Dengan sikap acuh tak acuhnya yang jarang terlihat, mengenal beberapa orang di kampus itu sudah hal yang luar biasa."
"Dan berkat Kak Windy sekarang, Kak Ananta jadi sering terlihat." Dari balik punggung Thio beralih ke samping Wino, mengulurkan tangannya. "Aku Thio, dan ini Nato." Nato yang baru menghampiri mereka dengan Dirra disebelahnya terlihat bingung karena tiba-tiba Thio memperkenalkan dirinya ke Ananta. "Kami temannya Kak Dirra dan Kak Wino, juga temannya Koo, sepupunya Kak Win, salam kenal." Dengan senyum lebar Thio memperkenalkan dirinya.
Ananta menerima uluran tangan Thio, tapi tidak mengatakan apapun.
"Lupakan," Windy memisahkan tangan Ananta dan Wino yang sedang berjabat tangan. "Jangan perkenalkan dirimu pada orang seperti dia." Nasehat Windy yang tentu membuat Thio bingung tidak mengerti maksud ucapannya.
Bip bip bip bip!
"Jam berapa sekarang?" Tanya Windy, dia tahu itu bunyi alarm ponselnya yang diambil Ananta.
Dirra menjawab setelah melihat jam ditangannya. "Jam 9."
"Kalau begitu aku pergi, aku duluan." Pamitnya tanpa melihat Ananta yang berdiri disamping kirinya.
"Kemana?" Dengan cepat Ananta menghalangi jalan Windy.
"Kuliah, memangnya apa lagi?!"
Ananta mengeluarkan ponsel Windy dari sakunya. "Tidak butuh ini?"
"Ah benar, ponselku." Windy hampir melupakan barang pentingnya padahal itu baru saja berbunyi.
Seperti biasa Ananta akan mengangkat tinggi satu tangannya yang memegang ponsel Windy saat gadis didepannya meraihnya. Dia suka seperti ini, membuat Windy mendekat padanya, merasakan benturan dari tubuh Windy yang membentur ditubuhnya.
"Aku bisa terlambat Nan," gadis gila mengeluh.
"Akan aku berikan saat didepan kelasmu, ayo!" Hantu kampus mengalungkan lengannya di leher Windy, mengantarkan gadis yang disukainya ke kelasnya, tidak mempedulikan Windy yang terus mendorongnya untuk menjauh.
"Benar kata orang," suara itu berasal dari Thio setelah melihat Ananta dan Windy menjauh yang sejak tadi dia perhatikan.
Wino disebelahnya menanggapi. "Apa?"
"Kak Ananta, dia penuh dengan pesona." Ujarnya kagum. "Lihat bagaimana cara dia menatap Kak Windy tadi?" Thio menoleh pada Nato.
"Hm, aku lihat, aku juga ingin ditatap seperti itu." Nato dan Thio saling berpandangan. "Tidak heran para gadis menggila, tatapan itu berlaku hanya saat Kak Ananta menatap Kak Win, bagaimana mungkin Kak Windy tidak menyadari Kak Ananta sudah jatuh hati padanya? Jelas-jelas mata Kak Ananta sudah seperti berlian saat menatapnya." Heran Nato.
Sebuah tangan besar mendarat di puncak kepala Nato, membuatnya yang lebih pendek dari Dirra mendongak untuk menatap. "Justru yang dekat itu yang tidak terlihat."
"Pepatah yang mana?"
"Ada,"
"Yang mana?"
"Ada pokoknya..."
——
"Lihat, bukankah wajah Kak Ananta seperti aktor jepang ini?"
Suara percakapan dua teman sekelas yang duduk didepannya membuat Windy ingin tahu, mengintip dari belakang layar ponsel menyala yang menampilkan wajah seseorang.
"Siapa dia?" Kedua temannya menoleh, Nia dan Nidia.
"Ini?" Nia mendekatkan ponselnya pada Windy agar dapat lebih jelas melihat. "Aktor jepang, namanya Kento Yamazaki, mirip Kak Ananta kan?"
"Tidak mirip." Jawabnya segera, Windy tertarik dengan foto dilayar ponsel temannya karena gambar itu menarik, pemuda di dalam foto itu tampan.
Windy mulai bermain dengan otaknya, dia mencari di sebuah aplikasi merah dan mengetikkan nama 'Kento Yamazaki', melihat foto-foto pemuda tampan yang menarik itu.
Cocok jadi Seme.
Windy tersenyum menyimpulnya setelah menelusuri berbagai macam pose yang aktor jepang itu buat.
"Sayang sekali tidak punya Uke." Gumam Windy terkekeh sendiri dengan pikiran fujoshinya.
"Win,"
"Hm," jawabnya mendengar panggilan yang berasal dari salah satu dari dua teman yang sedang menghadapnya. "Apa?"
"Euhm..."
"Kenapa?" Dari layar ponselnya Windy beralih menatap temannya yang ragu. "Tanya saja."
"Tapi aku akan menanyakan hal pribadi, kalau tidak mau jawab tidak apa."
"Iya, jadi apa pertanyaannya?"
Ragu, tapi Nia tetap bertanya. "Apa...kamu...suka Kak Ananta?"
Windy menghela napas, menatap dua teman yang menunggu jawabannya.
"Tidak." Jawabnya santai.
"KENAPA?!"
Windy terkejut, Nia dan Nidia pun terkejut karena jawabannya.
"Kenapa? Ya karena aku tidak menyukainya."
"Kenapa tidak suka? Padahal kami semua merestui kalian berdua."
"Hah?" Windy mengerutkan kening, tidak mengerti maksud perkataan Nia dengan kata 'merestui'.
Nidia membuka ponselnya, menunjukkan pada Windy komentar-komentar yang juga sering Windy baca saat fotonya dan Ananta diunggah karena Koo membagikan padanya.
"Lihat, semua komentar ini menunjukkan kami semua merestui kamu dan Kak Ananta." Ujar Nidia semangat.
Mau tidak mau gadis berambut sebahu memasang senyum yang dipaksa diwajahnya. "Terima kasih dukungannya." Tepuknya pada dua pundak temannya lalu meninggalkan mereka.
Memasukkan ponselnya ke dalam tas, Windy melihat dua voucher yang tadi pagi dia siapkan sebelum berangkat, voucher makan gratis di cafenya untuk dua kapalnya, Evan-Kana dan Arya-Peter yang sengaja Windy buat khusus hanya untuk kapalnya agar Windy dapat melihat mereka.
Windy pergi ke Fakultas Ilmu Sosial dimana itu adalah Fakultas Kana dan Peter, kalau tidak menemukan keduanya berarti dirinya harus mencari ke Fakultas Seni atau Teknik, atau ke club sepak bola.
"Bukankah kamu gadisnya Ananta?"
Windy yang sedang mengedarkan pandangan mencari Kana atau Peter menoleh ke samping kanannya, Juan, pemuda itu ada disampingnya dengan Ginan, seperti mendapat bonus, Windy menjerit senang dalam hati, tapi tidak suka saat Juan mengatakan 'gadisnya Ananta', tapi karena itu Juan, Windy memaafkannya.
"Sedang apa disini? Kalau mencari Ananta seharusnya di Fakultas Manajemen."
"Aku tahu, dan aku tidak sedang mencarinya." Jawab Windy, entah mengapa rasanya kesal mengetahui Juan adalah teman Ananta, seperti Dirra dan Wino yang ternyata satu fakultas dan berteman dengan Ananta, kenapa dari sekian banyaknya orang Ananta harus berteman dengan orang-orang yang dia ship-kan. Windy takut identitasnya sebagai fujoshi akan terbongkar, apalagi kalau Ananta sampai tahu, pemuda itu pasti akan memanfaatkannya.
"Lalu?" Juan melihat voucher ditangan Windy. "Apa mencariku?" Godanya. "Dan apa ini?" Juan mendekat melihat voucher ditangan Windy. "Voucher makan gratis? Apa aku juga bisa memilikinya?"
Windy berpikir sejenak, voucher itu untuk kapalnya yang lain, tapi kalau kapal didepannya menginginkannya juga Windy tidak bisa menolak.
"Apa Kak Juan akan pergi dengan Kak Ginan?"
"Apa aku harus pergi dengan Ginan?" Windy mengangguk. "Kalau aku pergi dengan Ananta?"
"Tidak akan kuberikan." Juan tersenyum mendengar jawaban Windy.
"Kenapa?"
Windy menghela napas. "Aku bosan melihatnya."
Juan terbahak memegangi perutnya, berbanding terbalik dengan Ginan yang menatapnya datar dan Windy yang tidak mengerti kenapa Juan tertawa.
"Baiklah, aku akan pergi dengan Ginan, berikan padaku." Windy memberikan satu vouchernya ke Juan. "Terima kasih," jantung Windy berhenti sejenak saat Juan mengacak rambutnya pelan. "Tidak heran Ananta menyebutmu Gadis Gila."
"Gadis gila?" Windy mengulang.
"Hm, untuk lebih jelasnya tanyakan sendiri pada Ananta, sampai jumpa hari minggu." Juan melambaikan tangannya pada Windy sebelum merangkul Ginan dan pergi.
Mata Windy menyipit.
Jadi dia memanggilku dengan sebutan Gadis Gila? Dasar Penganggu Busuk sialan!
Puk!
Tepukkan dibahunya membuat Windy terkejut.
"Maaf membuatmu terkejut," suara lembut dan malu-malu meminta maaf pada Windy.
"Kak Peter?" Windy tersenyum lebar mendongak melihat pemuda bak pangeran disampingnya.
"Hai," Peter tersenyum. "Sedang apa?"
"Ini," Windy langsung menyodorkan voucher ditangannya yang kemudian dibaca Peter sejenak.
"Terima kasih, aku akan memberitahu Arya." Windy mengangguk tersenyum.
"Euhm...Kak Peter, boleh aku bertanya?"
"Silahkan," Peter tersenyum menunggu pertanyaan Windy.
"Yang waktu itu...Bagaimana Kak Peter tahu namaku?"
Peter mengangguk mengerti, gadis didepannya ini penasaran darimana dia tahu namanya. "Yang waktu itu ya?" Peter tersenyum. "Akan kujawab hari minggu nanti, sampai jumpa!"
Peter berlalu, meninggalkan Windy yang bibirnya sedikit mengerucut karena Peter membuatnya harus menunggu sampai hari minggu untuk tahu jawabannya.
Grep!
Sebuah lengan mendarat dileher Windy disusul sebuah bisikkan intens ditelinga kanannya.
"Saatnya membayar hutangmu yang keempat."
To Be Continue...