Waiting for a Rainbow

Waiting for a Rainbow
Tigabelas - He Knows



"Chanel..."


Windy bergegas keluar saat sedang membersihkan jendela kafe melihat anjing Koo keluar dari mobil dengan pemiliknya. Windy berlutut, memeluk dan mengelus Chanel yang tidak ditolak anjing berbulu sutra itu.


"Ah, yang ini belum." Windy berdiri memberikan pelukan dan mengelus Koo dengan cara yang sama seperti dia memperlakukan Chanel.


Koo protes. "Aku bukan anjing."


"Hm, kamu kelinci." Sahutan Windy hanya membuat Koo menggelengkan kepala. "Kalian mau kemana?"


"Jalan-jalan di taman kota."


"Benar juga, ini hari minggu." Windy tersenyum cerah, mengingat hari ini dia akan kedatangan tamu spesial, dua kapalnya yang sudah dia berikan voucher gratis untuk makan di kafenya hari ini, Windy tidak sabar.


"Ikut?"


"Tidak, aku akan sibuk hari ini."


"Apa Kak Ananta nanti akan kemari?"


Windy mengangkat kedua bahunya. "Entah," Dia tidak memikirkannya, yang dipikirkan sekarang adalah dua kapalnya yang nanti akan datang entah jam berapa tidak masalah karena seharian ini Windy akan berada di kafe sampai tutup.


"Aku harus kembali bersih-bersih, kafe sebentar lagi akan buka. Chanel, jaga kelinci ini baik-baik, awasi dia jangan sampai hilang." Windy mengelus Chanel, lalu Koo.


"Kak Win!"


Seperginya Koo, Windy kembali pada kaca yang dibersihkannya, cuaca hari minggu ini cerah, berharap banyak pelanggan berdatangan hari ini.


Pukul 9 kafe dibuka, hari ini Windy menjadi pelayan dan pelanggan pertama yang masuk ke kafenya adalah...Ananta.


"Apa hari ini otakmu sedang bermasalah?"


Itu pertanyaan yang diajukan Ananta melihat Windy sejak tadi tersenyum berdiri disampingnya, senyum yang menurutnya aneh, bukan senyum sapa terhadap pelanggan tapi seperti sedang berkhayal dengan dunianya sendiri dan itu membuatnya seperti orang gila.


"Hm, otakku sedang bermasalah." Windy mengakui, tidak biasanya.


Orang yang sedang duduk memperhatikan Windy dari atas sampai bawah lalu menggelengkan kepala melihat bawahan yang dikenakan sama panjangnya dengan apron yang digunakan.


"Apa rok ini juga punya ibu Koo?" Ananta menunjuk rok Windy.


"Ini? Ini punyaku, cantikkan?" Apronnya diangkat memperlihatkan rok yang dikenakan.


Ananta kehabisan kata-kata. "Waaah...kamu menutup tanganmu tapi kamu memperlihatkan kakimu, bukankah itu sangat keterlaluan?"


Plak!


Buku menu mendarat dikepala Ananta. "Ini namanya fashion!"


"Sakit!"Ananta mengusap kepalanya. "Apa bosmu tidak marah kamu mengenakan rok dan hampir memperlihatkan setengah pahamu ini? Rok ini bahkan tidak lebih pendek dari punya ibunya Koo."


"Berisik!"


"Kalau ada pelanggan yang berbuat sesuatu padamu bagaimana? Dan juga bagaimana kamu bisa naik motor dengan rok seperti ini? Seharu-"


"Jadi kamu kesini mau beli atau menceramahiku? Kalau menceramahiku pulang saja sana! Aku sibuk!"


Sebelum Ananta selesai berbicara Windy menyela, sebenarnya juga hari ini dia ke kafe bukan dengan motor tapi mobil, yang tentu Ananta tidak tahu.


"Aku juga sibuk, tapi aku ingin melihatmu sebentar."


"Hm, lalu? Jadi pesan?" Windy bersedekap.


"Ya, take away."


Windy mencatat pesanan Ananta dan memberikannya ketika pesanan selesai.


"Ini," Windy menyerahkan kantong plastik ditangannya yang diterima Ananta.


"Terima kasih, kalau begitu aku pergi." Baru akan melangkah tapi lengannya dipegang oleh Windy. "Kenapa?" Ananta kembali menatap gadisnya.


"Euhm...sesibuk apa hari ini?" Walau sebenarnya malas bertanya, tapi Windy penasaran, dan itu membuat orang yang mendapat pertanyaan tersenyum samar.


"Aku diminta Bunda untuk menemaninya bekerja, sebenarnya mulai liburan tengah semester nanti, tapi aku memilih memulainya minggu ini supaya liburan nanti setidaknya aku lebih berguna untuk membantu." Windy mengangguk mendengarkan. "Tapi aku akan tetap punya waktu untukmu, dan...nanti malam aku akan mampir."


"Um."


——


"Kamu kerja disini?"


"Hm," Windy mengangguk semangat menjawab pertanyaan Juan yang datang bersama Ginan sesuai permintaannya. Windy mengantarkan pesanan mereka dan senyum diwajahnya tidak memudar sama sekali melihat kapalnya ada di kafenya sekarang.


"Enak," Ginan memuji bahkan sebelum Windy selesai meletakkan pesanan mereka Ginan memakannya lebih dulu.


Windy tersenyum senang sekaligus bangga. "Tentu, aku yang membuatnya."


"Benarkah? Apa Ananta tahu kamu bisa membuat kue?"


"Entah, tapi sepertinya tidak."


"Apa dia sering kemari?" Giliran Juan bertanya.


"Ya, tadi pagi dia datang untuk take away setelah itu langsung pulang, katanya dia akan mulai membantu ibunya bekerja."


"Hm, tidak mudah menjadi Ananta, walau dia pintar dia akan belajar terus menerus karena dia pewaris tunggal keluarganya. Ananta memisahkan diri dari yang lain untuk belajar dan menghindar, terkadang ada orang yang mendekati hanya untuk memanfaatkan Ananta, entah itu dari harta atau ketampanannya, itulah kenapa dia jarang terlihat dan lebih suka bersembunyi hingga mendapat julukan Hantu Kampus, tapi kamu hebat bisa membuat dia keluar dari guanya."


"Apa itu bisa dibanggakan?"


"Aku rasa bisa. Oh ya, apa kamu sudah menemukan jawaban saat aku bilang dia menyebutmu Gadis Gila?"


"Aku lupa, tapi sepertinya itu cocok denganku." Windy sendiri menyadari dirinya suka bertingkah aneh terutama saat melihat kapal-kapalnya, tidak heran Ananta menyebutnya gila. Tapi sekarang bukan itu yang penting, yang penting adalah mengabadikan moment Juan-Ginan yang berada di kafenya sekarang.


"Euhm...apa aku boleh memotret kalian untuk masuk di media sosial kafe?" Windy bertanya yang disetujui oleh keduanya. Dia pergi mengambil kamera dslr, bukan kamera ponsel seperti yang biasa dia gunakan untuk mencuri foto-foto kapalnya. Ini adalah moment langka dimana dia tidak perlu memotret diam-diam, jadi Windy memanfaatkannya sebaik mungkin bahkan meminta Juan dan Ginan melakukan beberapa pose dan keduanya tidak keberatan, itu benar-benar membuat Windy merasa senang, dia akan memilih tang terbaik untuk di posting di media sosial kafenya dan sisanya akan disimpannya dengan baik di laptopnya.


"Woaaahh...hasil fotomu bagus." Juan memuji.


"Tentu, itu karena modelnya adalah dua orang tampan."


"Ya, terlalu tampan sampai orang yang dekat denganku tidak sadar kalau aku menyukainya."


Klik!


Seperti ada suara jentikan jari dikepalanya, mata Windy langsung mengarah pada Ginan saat Juan selesai dengan kalimatnya.


Ginan, pria bertubuh kecil itu seperti tidak mendengar ucapan Juan karena fokus pada makanan didepannya selagi Windy menjerit dalam hati apakah pemuda di depannya sedang menyatakan perasaan pada orang yang sedang makan dengan lahap.


Kalau Juan dan Ginan datang setelah makan siang, Arya dan Peter datang setelah makan malam.


"Selamat datang..." rasa lelah Windy hampir seharian ini bekerja rasanya menghilang melihat Arya-Peter datang dengan senyum cerah mereka.


"Jadi ini adalah kafemu?" Windy tersenyum mendengar pertanyaan Arya sambil menyerahkan buku menu padanya, kenapa dia bisa menebak dengan mudah?


"Dari segi mana Kak Arya melihat kafe ini milikku?"


Dari buku menu pandangan Arya beralih ke rok yang Windy pakai. "Tidak ada manager yang akan mengijinkan karyawannya memakai rok seperti yang kamu pakai." Arya melirik kearah seseorang yang berdiri tidak jauh dari mereka berpakaian rapi dan memakai nametag bertuliskan nama Rini sebagai Manager sedang tersenyum ramah pada pelanggan.


"Ya, aku pemilik kafenya, dan tidak banyak orang menyadari itu."


"Menyamar itu menyenangkan, bukankah begitu?" Windy mengangguk setuju dengan pendapat Arya.


"Kalau begitu kamu sengaja memberikan voucher gratis ini pada kami? Kenapa?" Peter bertanya.


"Ah...itu sebagai ucapan terima kasih karena sudah membantuku saat aku terjatuh waktu itu." Tentu saja itu bukan alasan Windy sebenarnya, dia hanya ingin melihat moment kapalnya dari dekat untuk memuaskan hasrat fujoshinya.


"Jadi...apa aku sudah boleh bertanya dari mana Kak Peter tahu namaku?"


"Hm, dari makalah yang kamu jatuhkan waktu itu." Peter menjawab dan jawabannya sangat masuk akal dikepala Windy, awalnya Windy mengira Peter tahu tentang dirinya dan itu sedikit membuatnya khawatir, tapi sepertinya dugaannya salah. "Dan aku juga tahu kamu sering memperhatikanku dan Arya."


Ups!


Tidak ada kata yang keluar dari mulut Windy, tubuhnya kaku seperti mati rasa karena Peter tiba-tiba menembakkan kalimat yang menembus jantungnya.


"Aku juga tahu kamu sering memotret kami." Tembakkan kedua Windy terima dari Arya. "Awalnya aku merasa curiga dan tidak nyaman, tapi karena kamu tidak melakukan apapun yang merugikanku dan Peter jadi kami berpikir untuk membiarkanmu sampai kita benar-benar saling bertemu dan berbicara saat kamu terjatuh waktu itu."


"Aku minta maaf, tapi aku bukan penguntit." Windy berusaha menjelaskan. "Aku hanya suka melihat kalian bersama." Suaranyanya mengecil.


"Kamu suka kalau kami ''bersama', begitukan?" Windy mengangguk, dia paham betul apa yang dimaksud Arya.


"Terima kasih dukungannya." Dengan ekspresi manisnya Peter mengucapkan. "Tapi...apa boleh aku meminta hasil foto-fotomu? Aku juga ingin punya koleksi fotoku dengan Arya." Peter berkata malu.


"Tentu, aku akan mengirimkannya pada Kak Peter, aku punya banyak sekali koleksi foto kalian." Ujar Windy bersemangat.


"Ingat, jangan sampai bocor." Arya memperingatkan, bagaimana pun walau dia tidak mencoba menyembunyikan hubungannya dengan Arya, tapi dia tidak ingin foto dirinya dan pacarnya tersebar.


"Aku mengerti." Dan kemudian Windy teringat dengan Ananta yang sering melihat isi foto ponselnya, tapi dia tidak berani mengatakan pada keduanya kalau ada orang lain selain dia yang melihat, sebisa mungkin dirinya akan membungkam Ananta dengan cara apapun.


——


Ketukkan di pintu apartemennya membuat Windy yang lelah karena setelah seharian bekerja dengan malas membuka pintu.


Tampak Ananta dengan sesuatu ditangan kanannya masuk dan meletakkan kantong plastik yang dibawanya di atas meja depan sofa.


"Aku membawa sushi."


"Euhm." Windy bergumam menjawab sambil bersandar di sofa dan menonton acara traveling di televisinya. Hatinya sedang senang, tapi kesenangan dihatinya tidak cukup membuat tubuhnya yang sangat letih menjadi bersemangat.


"Ada apa? Apa kamu sedang sakit?" Ananta menggeser duduknya mendekat pada Windy, memeriksa kening gadisnya yang hanya diam tidak protes. "Badanmu hangat." Kata itu membuat Windy mengecek suhu tubuhnya sendiri dengan membandingkan suhu tubuhnya dengan Ananta.


"Aku rasa begitu." Sahut Windy dengan nada lemas dan kembali bersandar pada sofa.


"Makanlah dulu, minum obat dan tidur."


"Apa malam ini kamu akan menginap?"


Pertanyaan itu menarik perhatian Ananta. "Apa kamu ingin aku menginap?"


Windy menghela napas karena pertanyaannya dibalas dengan pertanyaan. "Terserah." Jawabnya yang beralih membuka kotak sushi di depannya dan makan menggunakan sumpit.


"Jangan jawab 'terserah' kalau kamu ingin aku tinggal maka aku tidak akan pergi."


Masih dengan sushi di dalam mulutnya Windy menoleh menatap Ananta. "Pulanglah."


"Hei!" Tentu bukan itu jawaban yang diinginkan Ananta.


"Salah sendiri membalas pertanyaanku dengan pertanyaan! Tidak ingin aku menjawab 'terserah' sekarang aku menyuruhmu pulang malah protes! Lagi pula tadi pagi kamu bilang akan mampir, bukan menginap!"


Ananta terkekeh, gadis yang sedang sakit itu sedang memarahinya.


"Kenapa tertawa?"


"Karena aku senang melihatmu marah." Ya, itu lebih baik daripada melihatnya menangis. "Aku akan menginap, malam ini aku akan menjagamu, aku tidak mau gadis yang sedang sakit ini sendirian di dalam apartemennya. Jadi, apa kamu punya obat?"


"Hm, di dalam kamarku meja sebelah tempat tidur." Windy meletakkan sumpitnya dan kembali bersandar lemas pada sofa.


Ananta berjalan menuju kamar Windy, ini pertama kalinya dia akan masuk ke kamar gadis itu, dia juga tidak pernah melihat pintu yang sedang dia tuju itu terbuka, selalu tertutup.


Ckrek.


Ketika pintu itu terbuka pemandangan yang dilihat Ananta adalah kamar Windy yang tidak rapi seperti saat dirinya masuk ke apartemen Windy pertama kali. Tapi Ananta tidak ingin menelusuri lebih jauh, saat matanya melihat meja disebelah tempat tidur yang Windy maksudkan, Ananta segera melangkahkan kakinya kesana membuka satu persatu laci dan menemukan obat yang dia cari.


Pluk!


Sebuah buku terjatuh dari sisi ranjang yang tidak sengaja Ananta senggol dengan kakinya. "Komik?" Ananta mengambilnya, ini adalah hal baru baginya karena tahu Windy ternyata membaca komik.


Sedangkan di sofa, Windy yang badannya lemas menyuruh Ananta untuk mengambil obat tiba-tiba berdiri dan berlari ke kamarnya yang kacau.


"Ananta!" Windy memanggilnya sedikit berteriak dari pintu kamarnya.


"Hm?" Yang dipanggil menoleh padanya dengan senyum yang sulit ditebak.


Ketahuan.


Windy segera berjalan ke arah Ananta yang sedang duduk diatas kasurnya dengan komik ditangan yang sedang dia baca, ada juga beberapa komik di dekatnya yang Windy yakin Ananta juga telah melihatnya.


"Kembalikan! Berhenti membacanya!" Windy mencoba merebut komiknya dari Ananta,


"Tidak mungkin, komik ini sangat seru, aku tidak menyangka kamu menyukai hal-hal seperti ini." Senyumnya licik, Ananta meninggikan komik ditangannya.


Penganggu Busuk didepannya saat ini mengetahui rahasia terbesarnya.


"Tidak heran, jadi kamu memotret mereka dengan anggapan mereka adalah pasangan seperti yang ada di komik ini. Ck, otakmu ternyata kotor juga."


"Ananta!"


"Aku kira kamu suka pada mereka, ternyata kamu suka dengan pandangan yang berbeda."


"Berisik! Bukan urusanmu! Cepat kembalikan!"


Yang digoda mulai habis kesabaran sedangkan si penggoda masih saja terus bermain.


"Kalau kamu mengembalikannya aku akan membiarkanmu menciumku."


Kalimat Windy membuat si pendengar berhenti dan menatapnya.


"Di bibir?" Ananta bertanya.


"Di pipi, aku sedang sakit dan tidak ingin kamu tertular."


Sudut bibir Ananta menyungging, Ananta beranggapan bahwa Windy membuat alasan agar dia tidak menciumnya dibibir.


"Oke." Ananta mengembalikan komik ditangannya pada Windy lalu meraih pinggang gadis didepannya agar merapat padanya.


"Satu lagi, jangan beritahu pada siapapun!" Windy menekankan,


"Heran, kenapa kamu menyimpan begitu banyak rahasia, atau jangan-jangan kamu juga merahasiakan kalau kamu sebenarnya adalah laki-laki."


Plak!


Pukulan mendarat di kepala Ananta dari komik yang Windy pegang.


"Bercanda, aku tahu, jadi boleh aku mencium pipimu sekarang?"


Tangan kirinya sudah melingkar dipinggang Windy dan tangan kanannya sudah di pipi kiri gadisnya, siap mencium.


Windy menyodorkan pipi kanannya pada Ananta yang bersemangat komik ditangannya ditukar dengan sebuah ciuman.


Ananta menempelkan hidung dan bibirnya di pipi kanan Windy, mengecupnya pelan dan berulang kali tanpa menjauhkan wajahnya. Hidungnya masih menempel, Ananta memberikan kecupan-kecupan kecil hampir diseluruh pipi kanan gadis yang sedang berada dalam rengkuhannya.


"Nan," bisikan panggilan dari orang yang sedang diciumnya tidak membuat Ananta berhenti, justru sebaliknya, hasratnya seperti dipanggil.


Windy merasa pipi kanannya basah karena ciuman pemuda di depannya yang tidak juga berhenti, bukan seperti hanya mencium pipi, tapi Ananta memperlakukan pipinya seperti sedang mencium bibir karena Ananta mulai menjilat dan *******.


"Ananta!"


TBC...