
Windy baru saja kembali dari olahraga berjalan kakinya yang tidak berlebihan seperti sebelumnya.
Pembayaran hutangnya yang keempat ditunda karena jadwal kuliahnya padat hari ini, yaitu hutang membuat Ananta tertidur karena sebelumnya Ananta membantunya tertidur, walau sebenarnya Windy merasa dia tidak dibantu tidur oleh Ananta, melainkan tertidur dengan sendirinya saat mendengar detak jantung pemuda itu.
Dirinya sadar, setiap kali Ananta merangkulnya dan tubuh mereka berdekatan, Windy dapat merasakan jantung Ananta yang seperti di pompa begitu cepat, entah bagaimana Ananta mengatasinya karena dia bertindak seperti tidak terjadi apapun, biasa saja.
Sedangkan katanya, saat berdekatan dengan seseorang yang kita sukai jantung kita akan berdetak lebih cepat, Windy rasa kalimat itu benar karena Ananta mengalamai hal seperti itu saat didekatnya. Tapi mau sampai kapan jantungnya akan berdetak seperti itu? Apa tidak lelah?
"Sedang apa disini?"
Windy yang baru sampai di depan apartemen melihat Ananta berdiri di depan pintunya.
Belum sempat Ananta menjawab, Windy menyela. "Kamu tidak sedang mencoba menggunakan kekuasaan untuk masuk ke apartemenkukan?" Matanya memicing menatap curiga pada pemilik gedung apartemen, bisa masuk ke dalam gedung, bukan berarti dia tidak masuk ke dalam apartemennya bukan? Secara pasti dia bisa memiliki banyak kartu duplikat.
"Bukan seperti itu, aku memang punya kartu akses, tapi aku tidak memiliki kartu kunci untuk masuk ke apartemen setiap orang di gedung ini, termasuk apartemenmu."
Mata Windy masih memicingkan matanya curiga.
Cekrek!
Windy dan Ananta saling berpandangan karena pintu apartemen Windy tiba-tiba terbuka dari dalam.
"Koo..."
"Oh?! Kak Win sudah pulang?" Senyumnya lebar menatap Windy dan menyapa Ananta. "Aku meletakkan beberapa makanan di lemari penyimpanan, ingat, jang-an lu-pa di-ma-kan." Koo mengejanya dengan penuh penekanan.
Tangan Windy terulur membelai rambut halus Koo. "I-ya."
Koo berdecih, "Bohong, roti yang minggu lalu saja sampai kadaluarsa."
"Iya maaf, maafkan aku." Windy merasa bersalah, Koo adalah orang yang selalu mengingatkan dan memaksanya untuk makan, mengantarkan makanan yang dibuat ibunya untuk Windy dan memastikan sepupunya memakannya, karena kalau tidak begitu, Windy tidak akan makan dengan alasan malas, lupa, atau tidak nafsu.
"Lalu apa Kak Win sudah makan malam?" Dengan jujur Windy menggelengkan kepalanya. "Lihat, sudah jam berapa sekarang dan Kak Win belum makan. Setelah ini makanlah, atau Kak Win yang akan dimakan Kak Ananta lebih dulu."
"Koo!" Windy mendengus melototi sepupunya.
"Baiklah baiklah, aku pulang, jangan bertindak macam-macam seperti terakhir kali."
Windy memutar bola matanya malas mendengar ucapan sepupunya yang melantur.
"Koo punya kartu kuncimu?" Suara Ananta kembali terdengar setelah Koo menghilang di ujung lorong.
"Hm, aku memberikan padanya."
"Apa aku juga bisa memilikinya?" Ananta mengikuti Windy yang mempersilahkannya masuk dengan isyarat gerakkan kepalanya.
"Tentu, tapi di dalam mimpimu, Tuan Muda."
Ananta mengedarkan pandangannya melihat apartemen Windy. "Apa kamu pernah membawa laki-laki kemari sebelumnya? Selain Koo."
Matanya menelusuri satu sofa besar di tengah ruangan dengan karpet berbulu tebal dibawahnya, televisi besar, lemari dengan banyak buku, dapur, lalu balkon, secara keseluruhan apartemen Windy ruangan bernuansa putih yang tidak cukup rapi untuk seorang gadis. Bantal sofa yang tidak tertata tapi, beberapa buku tergeletak di karpet, cucian piring yang menumpuk, Ananta menghela napasnya melihat kekacauan tempat tinggal gadis gila yang disukainya.
"Pernah," jawabnya santai tapi cukup membuat Ananta kesal tanpa disadari. "Duduklah, dan kalau kamu tidak menyukai tempat tinggalku yang berantakkan kamu bisa membersihkannya, dengan senang hati aku akan berterima kasih." Ujarnya sambil lalu meninggalkan Ananta duduk di sofa sedangkan dirinya pergi ke sebelah ruangan yang merupakan kamarnya dan pergi mandi. Dari tatapan Ananta saat masuk pun Windy tahu Tuan Muda yang rumahnya selalu bersih itu cukup terganggu dengan keadaan apartemennya yang kacau.
Tuan Muda menghabiskan waktunya untuk membaca salah satu buku Windy yang tergeletak tidak jauh dari kakinya, buku tentang traveling berisikan tempat-tempat rekomendasi yang harus dikunjungi di dunia.
"Sudah makan?"
Ananta yang sedang menelusuri setiap kalimat yang dibacanya mendongak melihat Windy menghampirinya mengenakan piyama panjang dengan rambut setengah basah dan harum sabun yang menyeruak ke indra penciumannya, membuatnya menahan napas untuk sesaat.
"Sudah."
Windy mengangguk, berjalan ke arah dapur mengambil mangkuk mengisinya dengan satu sendok nasi lalu membuka lemari makanan yang baru diisi Koo dan mengambil dua sendok abon daging kering sebagai makan malamnya.
"Makanmu sedikit sekali." Ujar Ananta melihat mangkuk ditangan Windy yang duduk disebelahnya sambil menyalakan tv.
"Begitulah," gadis berambut sebahu mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan mata yang fokus pada layar lebar didepan, tapi tetap mengajak orang disebelahnya untuk bicara.
"Jadi apa maksudmu datang ke apartemenku?" Windy menanyakan apa yang seharusnya dia tanyakan.
"Apalagi kalau bukan menagih hutangmu." Ananta menutup buku, meletakkannya di atas meja.
"Apa menagihnya sampai harus ke apartemenku juga?"
"Kenapa? Bukankah bagus jika hutangmu cepat lunas? Jadi kamu juga bisa cepat terbebas dariku."
Windy setuju, "Jadi aku membayar hutangmu yang membatuku tertidurkan?"
"Hm."
Windy mengangguk, dia menghabiskan makanannya, minum, lalu pergi ke dapur untuk mencuci mangkuk bekas makannya sekaligus cucian piring di bak wastafelnya, dan kembali ke sofa untuk duduk disamping Ananta.
"Kemarilah," Windy menepuk pundaknya untuk Ananta sandarkan kepalanya.
Ananta sedikit ragu, tapi pada akhirnya dia menyandarkan kepalanya di bahu Windy, gadis gila ini benar-benar ingin dirinya segera berhenti menganggunya, bahkan tanpa banyak berpikir Windy mempersilahkan Ananta dengan segera untuk bersandar ditubuh yang bahkan sebelumnya tidak diijinkan untuk disentuhnya.
"Jantungmu berdegup kencang," ujar Windy merasakan detak jantung Ananta yang mengenai lengan kanannya.
"Hm, beginilah detak jantungku saat bersamamu." Gumamnya menjawab Windy dengan mata terpejam.
"Apa jantungmu tidak lelah?"
"Entah, tapi saat aku tertidur nanti juga akan normal." Kedua tangan Ananta menyusup melingkari perut Windy, menarik gadis disebelahnya agar lebih mendekat, memposisikan dirinya senyaman mungkin dibahu gadisnya.
"Kamu juga seperti ini saat tertidur dipundakku, jadi jangan protes." Sebelum Windy mengkritik tangannya, Ananta lebih dulu berujar.
"Aku tahu." Windy sadar saat itu dirinya memeluk Ananta saat tertidur, jadi dia tidak protes atau mengutuk Ananta.
Bergerak menyesuaikan dirinya yang malam ini harus rela tidur di sofa, Windy meraih bantal disampingnya untuk diletakkan dibelakang kepalanya, beruntung sofa miliknya besar dan nyaman, jadi tidak perlu Ananta sampai harus masuk ke dalam kamarnya yang sangat privasi.
Satu jam berlalu, Windy masih membuka matanya, berbeda dengan Ananta yang tadi tidur dipundaknya kini menjadi tidur dipangkuannya, Hantu Kampus itu benar-benar datang untuk tidur, padahal awalnya Windy kira dia akan diganggu atau digoda olehnya.
"Sudahlah, terserah," pada akhirnya Windy menutup mata karena dia mengantuk, mimpi buruk atau tidak itu urusan nanti, dirinya lelah dan mumpung matanya bisa dipejamkan itu lebih baik daripada dia tidur berhari-hari.
——
Euughh...
Lenguhan kecil terdengar dari Windy yang masih memejamkan mata, tubuhnya tengkurap, kedua tangannya bersembunyi dibalik hangatnya bantal.
"Sudah bangun?"
Suara asing membuatnya ingat ada orang lain yang tidur di apartemennya, perlahan, Windy membuka mata.
Dug dug! Dug dug! Dug dug!
Kesadarannya yang baru kembali setengah sudah membuat Windy harus berpikir sejak kapan bantal memiliki detak jantung, juga membuatnya berpikir sejak kapan bantal memiliki tangan untuk membelai rambutnya dan memeluknya.
Kepalanya yang miring ke kanan membuat Windy sedikit mendongak dengan mata yang masih sipit mengatur cahaya masuk ke matanya, menyadari ternyata dirinya tidur di atas Penganggu Busuk yang menganggunya, kedua tangannya yang dia kira sembunyikan di balik bantal ternyata melingkari leher Ananta.
Hah!
Helaan napasnya lebih terdengar sebagai gumaman. Windy mengatur posisinya agar lebih nyaman dengan menarik dirinya untuk lebih ke atas menyembunyikan wajahnya di leher Ananta, satu tangannya dia tarik lalu meletakkannya di dada kiri Ananta untuk merasakan detak jantung pemuda dibawahnya dan kembali memejamkan mata.
Nyaman.
Entah kenapa dirinya malah merapatkan tubuhnya ke Ananta dimana seharusnya gadis normal berteriak kaget dan marah karena posisi mereka yang intim, tapi Windy sendiri sebenarnya tidak begitu mempedulikan bagaimana mereka berakhir dengan posisi seperti sekarang.
Sedangkan orang yang dibawah, tangan kirinya memeluk punggung gadis diatasnya dan tangan kanannya membelai rambutnya, lalu sesekali ketika gadis itu belum terbangun, dia mengecupkan bibirnya ke puncak kepala si gadis.
Saat orang diatasnya terbangun, Ananta sudah menyiapkan dirinya untuk menerima protes dan teriakkan dari Windy, tapi berbanding terbalik dengan perkiraannya, Windy malah semakin intens dengan napas teratur yang kini dia rasakan dilehernya.
Semalam, ketika dirinya terbangun dari tidurnya dipangkuan Windy, dia melihat gadis itu mengeluarkan air mata dari matanya yang terpejam, juga terdengar sesegukkan kecil. Ananta menghapus air matanya, membelainya, entah apa yang Windy mimpikan, Ananta membuatnya merasakan bahwa dia tidak sendiri dan bersamanya, memeluk Windy dalam tidurnya, menenangkan gadis yang disukainya.
Sedangkan Windy, gadis itu tidak ingat dia bermimpi dan menangis, yang dia tahu dia mengakui kalau dirinya merasa nyaman tidur di dekat Ananta, lupa kalau Ananta adalah si Penganggu Busuk.
——
Keduanya kini berada di WWW Bakery & Coffee Shop, seperti kebiasaannya makan roti dan minum susu, Ananta mengajak Windy kemari untuk sarapan karena toko roti ini adalah toko roti langganannya yang telah memiliki beberapa cabang di kota mereka tinggal.
"Selamat datang," sambutan datang dari seorang karyawan yang berdiri dibelakang counter, ada 3 karyawan yang bekerja di setiap toko roti WWW, satu untuk melayani pelanggan, satu untuk membuat roti, dan satu untuk membantu yang lainnya, jam buka dari jam 9 pagi sampai jam 10 malam dengan 2 kali shift. Berbeda dengan cafe kukirajuni yang buka dari jam 3 sore sampai jam 9 malam dan diakhir pekan jam 10 pagi sampai jam 9 malam.
"Toko roti ini punya beberapa cabang dan rotinya sangat enak, tidak sulit untuk menemukan tokonya, kamu sering makan roti bukan? Datanglah kemari, aku merekomendasikannya, aku jamin kamu tidak akan kecewa."
Windy mengangguk mendengar saran Ananta, dirinya berterima kasih pemuda disampingnya mengatakan hal baik tentang toko rotinya.
Ya, WWW Bakery & Coffee Shop adalah milik Windy yang memiliki lima cabang yang akan diperluas di berbagai kota di Indonesia, juga ada kemungkinan dirinya akan membuka toko roti dan toko pakaian dengan nama brand fashionnya 'Wilusca' di Bangkok, jadi setidaknya dia ke Thailand bukan hanya untuk fangirling, tapi juga untuk mengembangkan bisnisnya, Windy rasa liburan semester kali ini dia akan menghabiskan waktu sepenuhnya di Thailand.
Mengambil pesanan di counter, Ananta meletakkannya di meja mereka.
"Jam berapa kuliahmu?"
"10.40, 3 mata kuliah."
Ananta mengangguk mendengar Windy langsung menjawab. Gadis depannya terlalu fokus pada roti yang masuk ke mulutnya, tampak sangat menikmati sehingga dia buru-buru menjawab agar tidak diganggu saat sedang makan.
"Suka?"
"Hm."
Bagaimana mungkin dia tidak menyukai toko roti yang dibukanya, juga gratis karena Ananta yang membayar dan dia mendapat untung.
"Apa kamu mau membayar hutangmu yang ketiga?"
"Apa hutangku yang ketiga?" Windy balik bertanya setelah menyesap susu cokelat pesanannya.
"Kamu membuat kepalaku pusing saat ngebut memboncengku."
"Jadi kamu akan membalas dengan membuat kepalaku pusing juga? Begitu?"
Sudut bibir Ananta menyungging. "Agar setimpal seharusnya begitu, tapi apa yang dapat membuatmu pusing?"
Windy menghela napas, "Tidak perlu repot memikirkan, melihatmu berada disekitarku saja sudah membuatku pusing."
"Benarkah? Lalu apa kita akan beralih ke hutangmu yang kedua?"
"Apa yang kedua?"
"Menggendongku dari lapangan sepak bola sampai klinik."
"Yang benar saja?!" Windy rasanya ingin mengumpat, apa yang dipikirkannya hari itu benar akan terjadi, Ananta memintanya untuk digendong dari lapangan sepak bola sampai klinik, melihat tubuh Ananta yang lebih besar darinya saja sudah membuat Windy dapat merasakan kalau tulang punggugnya akan patah. Apa harus sampai seperti ini agar Ananta tidak menganggunya lagi?
Windy mengeluh, menghela napas kasar.
"Bisa kita menundanya?"
Ananta tersenyum. "Tentu," menunda membayar hutang berarti membuatnya masih terikat dengan Windy, bisa menganggu dan menggodanya.
"Nan,"
"Hm?"
"Apa kamu pernah berpikir apakah perasaanmu untukku itu nyata?"
TBC...