Waiting for a Rainbow

Waiting for a Rainbow
Dua - ‘Hantu Kampus’ II



Mengingat jawaban serta sunggingan di bibir Ananta membuat Windy merinding sepanjang perjalanan pulang, apa yang menarik dari dirinya sampai Si Hantu Kampus keluar dari gua dan mau menunjukkan dirinya di tempat umum hanya karena tertarik dengan seseorang seperti Windy.


Windy segera masuk ke dalam apartemennya yang berantakkan, jika dipikir-pikir, mungkin dia hanya membersihkan apartemennya satu minggu sekali, itu pun kalau dia tidak malas.


Sudah sejak SMA Windy tinggal di apartemen yang menjadi tempat tinggal permanennya sekarang, sebelumnya dia tinggal bersama keluarga Koo, tapi kemudian memutuskan untuk pindah karena tidak ingin merepotkan.


Begitu masuk, tujuan utama Windy adalah kasurnya, tempat paling nyaman untuk merebahkan dirinya yang lelah sambil memandangi foto-foto hasil jepretannya hari ini.


Ting!


Koo mengirimi Windy pesan, berisi foto-foto yang Koo ambil saat Windy mencoba mengambil flash drivenya dari Ananta.


Koo : Foto kalian menggemaskan😆


Windy :😑


Koo : Lihat bagaimana caranya menatap Kak Win, tubuh kalian juga sangat dekat😆


Windy : Koo.....😤


Koo : (mwngirimkan link)


Windy menekan link yang dikirimkan Koo lalu terbukalah laman Facebook, disana Koo memposting foto Windy dan Ananta dengan tulisan "Hari ini aku melihat Hantu Kampus dari jarak dekat."


Windy melihat banyak yang memberikan suka di foto itu, juga banyak komentar yang membuat Windy membacanya karena penasaran.


Aku juga ingin melihat Ananta dari dekat.


Aku dengar katanya dia ada di kantin Fakultas Teknik siang ini.


Aku melihatnya di kantin, gadis itu menggebrak meja dan berteriak pada Ananta karena menganggunya. Tapi kalian tahu apa yang dilakukan Ananta saat gadis itu pergi? Ananta tersenyum!! Aku penasaran bagaimana Ananta akan menaklukkan gadis itu.


Siapa gadis yang bersamanya? Apakah Ananta menyukainya?


Aku juga pernah melihatnya dari dekat, pesona dan auranya luar biasa!!


Apa yang Kak Ananta lakukan dengan gadis itu? Apa dia sedang menggodanya?


Aku iri pada gadis itu, baru kali ini aku melihat Ananta dengan seorang gadis, aku rasa Ananta menyukainya.


Aku juga suka Ananta, tapi aku akan mengalah jika Ananta menemukan cinta sejatinya.


Karena Ananta menemukan gadisnya, aku rasa kita akan sering melihatnya mulai tahun ini, kyaaa!!


Windy menggaruk kepalanya yang tidak gatal membaca komentar-komentar itu. Koo mengatakan kalau Ananta adalah incaran para gadis, jadi Windy sudah bersiap membaca komentar tidak mengenakkan untuknya, tapi yang dibacanya sekarang diluar perkiraan.


—-


Pagi ini Windy datang lebih cepat ke kampus walau kelasnya akan dimulai agak siang. Tujuannya adalah pergi ke Fakultas Ekonomi, bertemu Koo yang membawakannya sarapan.


"Ini," Koo mengeluarkan kotak bekal makanan untuk Windy dari ibunya di meja bulat di bawah pohon tempat mereka duduk sekarang. "Mama bilang Kak Win harus sering datang ke rumah."


"Iya..." Windy mengacak gemas rambut Koo yang halus sebelum mengambil sesuap salad buah untuknya lalu untuk Koo.


"A," Windy menyuruh Koo untuk membuka mulutnya menerima suapan darinya.


Koo menggeleng. "Tidak mau."


"Kenapa? Biasanya tidak pernah menolak kalau aku suapi."


"Kak Windy sekarang terlalu kurus, makanlah yang banyak, aku tidak ingin Kak Windy sakit, dan berhentilah hanya memakan roti, siang ini Kak Windy harus makan denganku, setidaknya makanlah nasi walau sedikit."


Kecerewetan Koo membuat Windy tersenyum, lalu terkekeh, gemas pada Koo.


"Aku sayang padamu." Windy meletakkan tangan kirinya di pipi kanan Koo yang lembut.


Koo menyandarkan pipinya di tangan Windy sambil menggenggamnya. "Aku juga sayang Kak Win."


"Koo..." suara yang memanggil Koo membuat Windy ikut menoleh. Nato yang memanggil Koo berjalan ke arah mereka dengan Thio disebelahnya.


Windy menyembunyikan senyum, baginya melihat Nato dan Thio bersama seperti melihat 'kapal hantu'. Windy sendiri yang memasangkan Nato dengan Dirra dan Thio dengan Wino, tapi saat melihat Nato dan Thio pun Windy juga suka memasangkan mereka bersama, begitu pula Dirra dan Wino. Windy jadi terus berkutat dengan pikirannya sebagai shipper sampai melupakan makanan di depannya.


"Kak Win, di makan." Perintah Koo membuat Windy kembali menyendokkan salad buah di depannya sambil memandangi tiga pemuda menggemaskan yang duduk bersamanya, walau Windy tidak mengerti apa yang mereka bicarakan karena membahas pelajaran yang tidak Windy mengerti.


"Aku melihat foto yang kamu posting di Facebook, itu foto Kak Windy dengan Kak Ananta, iyakan?"


Pertanyaan Nato pada Koo membuat Windy memicingkan mata ke arah keduanya.


"Apa yang coba Kak Windy ambil dari tangan Kak Ananta? Foto kalian terlihat menggemaskan."


Windy semakin menyipitkan matanya, Windy tidak tertarik membahas dirinya.


"Hm, kalau diperhatikan dari cara Kak Ananta menatap Kak Windy, jelas terlihat kalau dia tertarik pada Kakak." Imbuh Thio sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.


"Apa tidak ada pembicaraan lain? Topik itu tidak menarik."


"Tapi bagi kami ini menarik!" Ujar ketiganya bersamaan, Windy terkejut.


"Bayangkan saja, seorang Ananta Si Hantu Kampus yang acuh tak acuh dan jarang terlihat tiba-tiba muncul dan mendekati seorang gadis, bukannya itu sudah jelas kalau Kak Ananta tertarik pada Kak Windy?"


Ucapan Koo membuat Windy menjitak kepalanya gemas. "Terserah, aku tidak peduli pada pengganggu itu. Dan kamu Koo, jangan berani memposting fotoku lagi." Ancam Windy membereskan kotak makannya lalu meninggalkan Koo dan teman-temannya.


Windy berjalan menuju perpustakaan, ke lantai paling atas tempat buku-buku lama diletakkan dan Windy selalu memilih meja paling pojok. Masih ada waktu sebelum kelasnya di mulai, jadi Windy memutuskan untuk menonton drama Boys Love di ponselnya yang sudah dia unduh.


Sebagai tempat yang jarang dikunjungi dan tempat yang tenang, disini Windy dapat mengeskpresikan dirinya selain di dalam kamar meski tidak dapat menjerit heboh dengan apa yang ditontonnya sekarang.


Layar di ponsel Windy kini memperlihatkan adegan yang membuat Windy histeris tanpa suara, menggigit jari, memukul dirinya sendiri, Windy tampak seperti berada di dunia lain yang tidak dapat dimasuki.


"Berhentilah bertingkah seperti orang gila." Earphone ditelinga kanan Windy dilepas.


Windy mengerang karena dia diganggu, Windy tidak suka, dia mempause layar diponselnya dan mendorong Ananta untuk menjauh walau tidak semudah itu.


"Menyingkirlah," Windy tetap berusaha mendorong Ananta karena dirinya dihimpit tembok dan pemuda disebelahnya.


"Biarkan aku ikut lihat." Windy menggelengkan kepala, tentu dia tidak mau rahasianya terbongkar ke Ananta. "Kenapa?"


Windy menyembunyikan ponselnya ke belakang punggung. "Karena aku tidak mau!"


"Kenapa tidak mau?"


"Karena aku memang tidak mau!"


"Ananta!"  Windy marah, wajahnya mengerut, napasnya mulai memburu mendorong Ananta menjauh darinya. Tapi Windy tidak benar-benar berteriak, dia masih sadar dirinya ada di perpustakaan.


"Jadi kamu tahu namaku?" Ananta tersenyum miring sambil memposisikan dirinya duduk dengan benar disebelah Windy.


"Hm, baru tahu kemarin!"


Gumaman Windy membuat Ananta meliriknya, memperhatikan gadis yang sedang merapikan diri seolah mereka sudah berbuat sesuatu.


Senyum Ananta tersungging tipis disudut bibir, gadis disebelahnya benar-benar menarik dan mudah sekali marah. Melihat tingkah Windy membuat Ananta tersenyum, entah apa yang ada dipikiran gadis itu, Ananta ingin masuk ke dalam dunianya, dunia yang Windy miliki sendiri, dunia yang membuat Windy bertingkah seperti orang gila.


Cukup lama dirinya memperhatikan Windy dari jauh, melihat Windy yang sering kesana kemari di kampus dengan ponsel yang selalu siap ditangannya.


Baru Ananta tahu saat memergoki gadis itu dia memiliki banyak foto-foto pria diponselnya. Entah Windy menyukai para pria itu dan memiliki perasaan terhadap mereka, atau Windy mungkin adalah seorang psyco yang terobsesi dengan pria tampan. Tapi jika seperti itu, Ananta tidak melihat ada foto dirinya di dalam ponsel Windy saat memeriksanya, bukan besar kepala, tapi dirinya termasuk salah satu incaran para gadis selain para pria tampan yang foto-fotonya Windy ambil.


"Minggir! Aku mau lewat!"


Ananta belum memberikan jalan, dia masih menghalangi Windy yang berdiri disebelahnya siap untuk pergi. "Kemana?"


"Kelas!" Jawab Windy ketus.


Ananta memberikan jalan, melihat Windy berjalan menjauh darinya.


Galak, tapi Ananta suka.


—-


Seperti apa yang dikatakan Koo tadi pagi, dia sudah menunggu di depan kelas Windy untuk mengajak sepupunya itu makan siang.


Windy menyambut tangan Koo yang mengajaknya untuk bergandengan tangan. Tangan Koo lentik dan cantik untuk seorang pria muda, Windy suka melihatnya, bahkan menurutnya Koo lebih cantik dari Windy yang seorang perempuan.


"Kita makan apa?"


"Ehm..." Koo berpikir sebentar. "Bagaimana kalau soto?"


"Baiklah," Windy menyetujui, sudah lama dirinya tidak makan soto.


"Aku dengar soto di kantin Fakultas Ilmu Sosial sangat enak, kita makan di sana, oke?"


Windy mengangguk, bukan hanya setuju karena Koo mengajaknya makan di sana, tapi Windy juga berharap bertemu dengan satu kapalnya yang lain, Juan dan Ginan.


Sampai di kantin Fakultas Ilmu Sosial, tidak seperti dugaan Windy, walau jam makan siang berlangsung tapi di sana tidak begitu ramai, padahal sebelumnya saat dia kesana untuk memotret Juan dan Ginan kantin itu cukup ramai.


"Sedang ada acara fakultas, aku barusan bertanya pada Bibi penjual soto."


Koo yang selesai memesan duduk di depan Windy seolah menjawab pertanyaan sepupunya yang sedang mengedarkan pandangannya kesekeliling. Saat soto mereka sudah habis setengah, banyak mahasiswa mulai berdatangan, sepertinya acara fakultas mereka telah selesai.


"Koo, kamu juga kurus, ini, makanlah yang banyak." Windy menyerahkan mangkuknya, lebih tepatnya dia tidak habis dan memberikan sisanya pada Koo.


"Kak Win," Koo memprotes, tapi dia tidak memaksa Windy untuk menghabiskan makanannya, melihat sepupunya mau makan nasi untuk hari ini itu cukup. "Kalau begitu tunggu aku menghabiskan semua ini."


Windy tersenyum melihat Koo kembali melanjutkan makannya. Kalau diingat, sejak Windy masuk kuliah dia sangat jarang makan nasi, kalau pun makan pasti tidak habis, nafsu makannya benar-benar berkurang, dan itu membuat Koo khawatir padanya.


Tangan Windy meraih tisu didekatnya, terulur membersihkan pipi merah muda Koo yang terkena kuah soto.


"Aku bukan bayi." Ujar Koo dengan ekspresi menggemaskan.


"Iya, kamu memang bukan bayi, tapi kamu adalah kelinciku yang imut." Windy mencubit gemas pipi Koo. "Mau es krim?" Koo mengangguk tiga kali. "Aku akan belikan untukmu, tunggu sebentar."


Pergi membelikan sepupunya es krim, Windy memilih rasa vanilla kesukaan Koo dan rasa stroberi untuknya.


"Aku suka rasa cokelat."


Windy melirik sebelah kanannya, heran, kenapa Hantu Kampus itu suka muncul tiba-tiba didekatnya.


"Aku tidak peduli." Windy mengabaikan Ananta, setelah membayar dia kembali ke tempat duduknya dengan Koo.


"Kenapa kamu lebih sering terlihat di fakultas orang lain dibanding fakultasmu sendiri?"


Koo yang fokus makan mendongakkan kepalanya melihat Windy tidak kembali sendiri, tapi dengan Ananta yang duduk disebelahnya.


"Bukan urusanmu!"


Diam-diam Koo meraih ponsel disakunya, Windy sudah memperingatkannya untuk tidak memposting fotonya, itu bukan berarti Windy melarangnya untuk mengambil fotokan? Karena tidak mungkin Koo tidak mengabadikan momen langka seperti sekarang.


"Koo, letakkan ponselmu." Suara Windy berubah dingin saat melihat Koo dengan ponselnya, Windy tahu Koo akan memotretnya dengan Ananta.


"Ayolah Kak Win, Kak Windy hanya melarangku untuk mempostingnya, bukan mengambil fotonya."


"Hm, dia hanya mengambil foto kita, itu baik karena dia mengatakannya, sebelumnya aku pernah bertemu dengan orang yang suka mengambil foto orang lain secara diam-diam."


Windy melirik Ananta tajam, dirinya disindir.


"Siapa namamu?" Ananta beralih melihat Koo yang sedang membuka es krimnya.


"Namaku Koo, sepupunya Kak Win." Koo menjelaskan.


Ananta mengangguk. "Nama yang menggemaskan."


"Nama Kak Ananta juga, sangat bagus." Puji Koo.


Ananta tersenyum, wajahnya dia pangkukan di atas meja menatap gadis disebelahnya yang sibuk dengan es krimnya.


"Namamu juga bagus, Windy Lusitanica."


Koo tidak tahan lagi, dia meraih ponselnya dan mengabadikan pemandangan di depannya. Cara Ananta berbicara sambil menatap Windy benar-benar membuatnya meleleh, bahkan untuk pria sepertinya Koo dapat merasakan jantungnya ikut berdetak kencang, pesona Ananta sulit ditolak, kenapa sepupunya tidak terpengaruh?


Windy tak acuh, dia tetap memakan es krimnya, menganggap Ananta tidak ada.


Hap!


Ananta dengan santai mendekatkan wajahnya ke Windy, menggigit potongan es krim ditangan Windy yang sedang Windy masukkan ke dalam mulutnya.


Koo menatap layar ponselnya dengan wajah tercengang, dirinya berhasil mengabadikan momen menakjubkan. Bukan hanya Koo yang melihat bagaimana Ananta barusan, tapi mahasiwa disekitar mereka juga menyaksikan bagaimana Si Hantu Kampus menggoda Windy.


"Pengganggu busuk." Windy menggeram, tatapan marah di mata Windy secara perlahan menghilangkan senyum di bibir Ananta.


Ananta pikir Windy akan merajuk merengek atau berteriak seperti sebelumnya, tapi kali ini gadis itu tidak melakukannya.