
Suara gemuruh dari langit terdengar, rintik hujan mulai turun, Ananta dan Windy bergeming dari tempat mereka, masih saling menatap.
Menurut Ananta, cinta adalah ketika menemukan seseorang yang dapat membuatmu tersenyum dan terus memikirkannya.
Menurut Windy, cinta adalah sebuah perasaan menyakitkan yang hanya akan berakhir dengan luka, perasaan yang membuatmu bertindak tidak menggunakan logika.
Ananta meletakkan tangan kirinya di atas kepala Windy. "Lupakan yang barusan kukatakan, ayo berteduh, hujannya semakin deras."
Walau hatinya terasa sakit, tapi menurut Ananta dirinya salah, terlalu cepat menyatakan perasaannya pada Windy disaat mereka belum benar-benar mengenal satu sama lain. Terkadang dirinya bertindak egois untuk hal yang dia sukai, termasuk Windy.
Tangan Ananta turun kepundaknya, mengajaknya berteduh, tapi Windy bergeming. "Aku mau pulang." Ujarnya.
"Tapi hujannya semakin deras, kalau kamu naik motor bahaya, aku antar dengan mobilku, hm?"
Dengan cepat Ananta melepaskan jaketnya melindungi dirinya dan Windy yang masih berdiri di tengah hujan. Tanpa menjawab, Windy mengikuti Ananta menuju mobil untuk mengantarkannya, membiarkan motornya tetap terparkir di kampus.
Kepalanya terasa pusing, otaknya mengingat sesuatu tapi Windy menolak untuk mengingat.
"Win?" Ananta menoleh pada Windy yang belum memasang sabuk pengamannya. "Windy?"
Tatapan gadis disebelahnya kosong, Ananta mendekat untuk memasangkan sabuk pengamannya.
Tuk!
Windy meletakkan kepalanya di pundak Ananta tiba-tiba. "Kepalaku pusing." Gumamnya lirih. Selesai memasangkan sabuk pengaman, Ananta menyandarkan kepala Windy ke kursi, memeriksanya.
Suhu tubuhnya normal, hanya basah karena terkena hujan, tapi Windy merasa seperti ada sebuah benda berat diletakkan di atas kepalanya.
Sampai di parkiran, Ananta mengantar Windy sampai ke depan pintu apartemennya. "Istirahatlah,"
"Nan," tangan Windy menahan ujung kemeja Ananta. "Maaf," ujarnya, bibirnya bergetar, begitu juga matanya yang memandang Ananta, pemuda yang sedang menatapnya dengan tatapan bingung.
"Kenapa minta maaf?" Ananta mengenggam tangan Windy.
"Aku...tidak bisa membalas perasaanmu."
"Jangan minta maaf, aku yang terlalu cepat mengatakannya padamu."
Windy menggeleng cepat. "Tidak, bukan begitu, tapi aku memang tidak bisa, aku...tidak bisa menyukai orang lain, aku tidak bisa jatuh cinta padamu."
Waktu seakan berhenti untuk Ananta, jantungnya berdegup kencang, bibirnya bergetar bertanya. "Kenapa? Apa kamu benar-benar menganggapku sebagai Penganggu Busuk? Kamu membenciku?"
Suara Windy seperti tercekat ditenggorokkan, "A...aku...hanya tidak bisa, bukan berarti aku membencimu, tapi...aku memang tidak bisa, maafkan aku."
——
Sore hari itu adalah sore yang indah bagi Windy, senyumnya cerah, langit berwarna orange menemaninya pulang dari bermain.
Langkahnya berhenti saat melihat kedua orang yang dia sayangi berdiri di depan rumah. Melambaikan tangannya untuk menarik perhatian orang tuanya, lambaiannya berhenti, senyum diwajahnya menghilang.
Windy melihat ibunya menangis di hadapan ayahnya.
Kenapa?
Windy bergeming, terpaku, matanya memanas dan tak lama dirinya menangis.
Orang tuanya bertengkar.
Windy berlari cepat masuk ke dalam rumah saat ibunya seperti orang kerasukkan menarik ayahnya yang berusaha menenangkan.
Dirumahnya, tangis Windy semakin pecah melihat kekacauan yang terjadi. Pecahan piring, vas, bingkai foto yang berserakkan dimana-mana.
"********! Brengsek! *******! Apa lagi yang mau kamu sembunyikan hah?!"
Plak!
Tamparan keras mendarat dipipi ayahnya.
Tangan Windy bergetar, wajahnya sudah penuh dengan air mata melihat pertengkaran di depannya.
Prang!
Ibunya memecahkan vas di dekatnya, melemparnya ke belakang lemari di belakang ayahnya, membuatnya kacanya juga pecah.
"Katakan! Berapa lama kamu sudah bersama wanita ****** itu?!
"Dengarkan aku dulu!"
"Tidak ada yang perlu aku dengar! Aku sudah menemukan semua buktinya! Kenapa kamu seperti ini? Aku menyukaimu, aku mencintaimu, tapi kenapa kamu berkhianat?!"
Suara ibunya yang semakin meninggi.
"Aku tidak akan pernah memberikanmu pada wanita lain, tidak akan pernah dan tidak akan ada orang lain yang boleh menghancurkan keluargaku!" Giginya menggertak, wajah ibunya benar-benar mengerikan dimata sang anak.
"Jangan dia! Aku mohon!"
Ayahnya berlari menghampiri Windy saat melihat istrinya mengambil pistol dan mengarahkan ke anak mereka satu-satunya.
Tangis Windy semakin keras, dia tidak tahu harus bagaimana dan hanya terus menangis melihat orang tuanya,
Dor!!
Dor!!
Suara tangisan Windy menggila.
Dari tempatnya berdiri, ibunya menembakkan pistol ke kepala ayahnya.
Dia melihat ayahnya dibunuh.
Dan,
Dia melihat ibunya bunuh diri.
Di depan matanya, kedua orangnya mati.
——
Sakit, dada Windy terasa sangat sakit, lagi-lagi dia bermimpi apa yang dilihatnya dulu, kematian orang tuanya yang tepat di depan mata.
Keringat bercucuran membasahi kepalanya, Windy menyibakkan selimut yang dipakainya, berjalan sempoyongan ke arah dapur untuk minum.
Semakin dia dewasa, Windy semakin mengerti maksud perkataan ibunya. Ayahnya selingkuh, selingkuh dari ibunya yang sangat mencintai ayahnya yang berkhianat.
Cinta membuat ibunya tidak bisa berpikir, ayahnya haruslah mencintai ibunya, tidak ada yang boleh memilikinya selain ibunya, Windy setuju, tapi membunuh dan bunuh diri? Itu sebuah kegilaan, dan kegilaan itu membuat Windy tidak bisa jatuh cinta, tidak menyukai setiap orang yang mengatakan cinta padanya.
Windy takut, ketika dia benar-benar menyukai seseorang maka dia akan bertindak segila ibunya yang sampai membunuh ayahnya.
Cinta itu menyakitkan.
Pada akhirnya, bukan orang lain yang menghancurkan keluarganya, tapi ibunya sendiri.
——
"Hari ini aku yang akan jadi barista."
Gadis berambut sebahu itu menyibukkan diri di cafe menyiapkan pesanan untuk para pelanggannya. Selalu seperti ini setelah dia menerima pernyataan cinta dari lawan jenis, menyibukkan diri untuk mengusir segala pikiran mengenai kehidupan percintaan yang tidak diinginkannya. Dirinya hanya suka melihat kisah cinta orang lain, tapi tidak dengan kisah cintanya, membuatnya sampai sekarang tidak memiliki pengalaman cinta apapun selain rasa sakit.
Windy mengingat bagaimana mata Ananta menatapnya hari itu, mata jahil yang suka mengganggu dan menggodanya itu berubah menjadi sendu, menyimpan perasaan sedih yang tidak diungkapkan.
"Dua affogato dan dua strawberry parfait." Windy meletakkan pesanan di atas meja bar yang segera diambil dan diantarkan ke pelanggan.
Krincing krincing!
Hampir seluruh mata tertuju pada pelanggan tampan yang baru saja masuk, Ananta, pemuda yang menepati kata-katanya pada Windy.
Tuan Muda Manja Kaya Raya datang di akhir pekan, memilih meja di pojok dekat jendela, memesan beberapa menu, menatap sekeliling untuk mencari orang yang ingin dia lihat, dan setelah matanya menemukan Windy, Ananta membuka buku, fokus membaca seperti yang biasa dia lakukan di rumah.
"Pesanan Anda, selamat menikmati." Manajer cafe kukirajuni mengantarkan pada pelanggan setia cafe yang baru.
Dirinya menyadari kedekatan pemilik cafe dengan pelanggan barunya, tapi kali ini, pemilik cafe yang biasanya memilih sebagai pelayan agar bisa berinteraksi dengan para pelanggannya memilih berdiri di balik meja bar sebagai barista.
"Win, sudah berjam-jam kamu membuat pesanan pelanggan, mau bertukar? Aku akan menyuruh Crenata untuk menggantikanmu."
Seluruh karyawan cafe kukirajuni ada lima orang dan satu manajer, ditambah bantuan pemilik cafe menjadi tujuh orang, dan semua serba bisa, dari menjadi pelayan, kasir, barista, membuat kue, semua Windy ajarkan pada karyawannya sehingga mereka bisa saling bergantian.
"Tidak, aku disini saja."
"Baiklah," Rini membiarkan Windy tetap berada di bagian barista dengan ekspresi bingung memandang pemilik cafe. Kalau sebelumnya dia melihat pemuda yang menarik perhatian para gadis di cafenya itu dekat dengan Windy, kali ini bahkan mereka saling memandang saja tidak.
"Windy," Rini kembali memanggil pemilik cafe yang lebih muda darinya.
Fokus Windy masih pada membuat minuman di depannya, tapi tetap menjawab. "Kenapa kak?"
"Pelanggan tampan yang dekat denganmu datang lagi, dia duduk disana." Rini mencoba memberitahu, siapa tahu Windy tidak melihatnya masuk sehingga tidak ada interaksi diantara keduanya.
"Hm, aku tahu." Tanpa menoleh Windy menjawab, dari suara-suara pelanggannya yang berisik saat pintu cafe berbunyi Windy tahu Ananta datang tanpa perlu melihatnya, karena begitulah para pelanggan di cafe yang pada umumnya para gadis, mereka akan berisik jika ada pemuda tampan yang masuk.
Windy menggeleng. "Aku yakin dia pasti sedang membaca buku, aku tidak ingin menganggunya, lagi pula aku sibuk."
Jawaban Windy yang menurut Rini agak ketus baru didengarnya kali ini. Tanpa melihat pun bosnya tahu pelanggan barunya sedang membaca buku, tentu Windy tahu karena setiap Ananta datang ke cafenya pemuda itu selalu membaca buku sambil menghabiskan pesanannya, kecuali saat dia pertama datang dengan ibunya.
Merasa tidak perlu mencampuri urusan pemilik cafe, Rini kembali bekerja, mengawasi sambil berdiri di depan meja kasir.
Prang!
Suara gelas dan piring yang jatuh ke lantai membuat telinga Windy tiba-tiba berdengung nyaring, dia berhenti dari menuangkan air ke dalam gelas dan berpegangan erat pada sisi meja sambil memejamkan mata dan mengatur napasnya yang mulai memburu.
"Maafkan saya, maaf, saya tidak sengaja, biar saya bersihkan."
Di sisi lain, Crenata, salah satu pegawai Windy yang bertugas sebagai pelayan tidak sengaja menjatuhkan nampan yang dibawanya, menyebabkan air yang tersisa di dalam gelas terciprat ke buku yang sedang dibaca dan celana seorang pelanggan.
"Tidak apa-apa," Ananta menutup bukunya dan membersihkan celananya.
"Maafkan pegawai kami, kami akan bertanggung jawab untuk mengganti buku Anda yang basah dan juga...pakaian Anda." Rini datang menghampiri, meminta maaf atas kekacauan yang dibuat Crenata.
"Tidak masalah, tidak perlu diganti." Ananta menolak, dia merasa mereka tidak perlu sampai mengganti bukunya yang basah dan celananya yang hanya terciprat air, walau airnya berwarna biru yang jatuh dan mengenai celana berwarna cokelat terangnya.
"Tidak, maafkan kami, kami bersalah dan akan menggantinya." Setelah Windy berhasil menenangkan diri karena telinganya berdengung, dia menghampiri meja Ananta, ikut meminta maaf dan bertanggung jawab.
Ananta menghela napas menatap Windy. "Tidak perlu." Ananta menekankan kalimatnya.
"Tapi kami-"
"Tidak perlu." Ananta kembali menekankan, matanya saling menatap dengan Windy seolah keduanya tidak ingin mengalah. Ananta yang tidak mempermasalahkan, dan Windy yang bersikukuh bertanggung jawab.
"Baiklah, sebagai permintaan maaf, Anda tidak perlu membayar pesanan Anda, terima kasih."
Windy sedikit membungkukkan badan sebelum kembali ke tempatnya semula. Dia tidak menyadari, satu kata darinya membuat Ananta terluka walau Ananta tahu posisinya sekarang adalah seorang pelanggan dan Windy adalah pegawai di cafe, tapi mendengar satu kata itu membuat seperti dirinya dan Windy tidak pernah mengenal satu sama lain. Kata itu adalah "Anda", sebelumnya Windy selalu memakai kata "Kamu" bahkan untuk memanggilnya dari awal bertemu, tapi sekarang dia memakai lain untuk memanggilnya dan itu terdengar asing ditelinga Ananta, dia tidak suka.
"Jangan kasih dia untuk membayar," Windy memperingatkan Rini saat melihat Ananta berdiri di depan meja kasir.
Rini mencoba tersenyum pada Ananta, kalau pemilik cafe sudah memperingatkan seperti itu dia tidak bisa tidak patuh. "Anda tidak perlu membayar pesanan."
Mata Ananta memperhatikan tag di baju Rini bertuliskan 'Manager', tapi kenapa Windy yang hanya seorang pegawai berani menyuruh seorang manajer yang berdiri di depan kasir melarang pelanggannya untuk membayar.
"Kenapa kamu bertindak seolah kamu pemilik cafe dan melarangku untuk membayar?"
Windy belum menjawab, dia fokus pada gelasnya, tapi tidak dengan Rini yang mengerutkan kening mendengar pertanyaan pemuda tampan di depannya.
"Aku sudah bilang pada pemilik cafe dan pemiliknya setuju Anda tidak perlu membayar pesanan Anda, bukan begitu Kak Rini?"
Rini yang tiba-tiba namanya disebut menjadi bingung, tapi dia mengerti apa yang harus dilakukan. "Benar, pemilik cafe sudah setuju, Anda tidak perlu membayar pesanan Anda."
Ananta mengalah, "Baiklah kalau begitu, terima kasih."
Setelah keluarnya Ananta dari pintu cafe, Rini memicingkan mata menatap pemilik cafe yang jelas-jelas berdiri tiga meter disampingnya.
"Jadi pemuda tampan itu tidak tahu kalau kamu pemilik cafe ini?"
"Hm."
"Dan dari awal dia mengira kamu sebagai pegawai biasa?"
"Hm."
Rini menggelengkan kepala menatap Windy, lalu mengangkat bahunya dan kembali bekerja, mengabaikan bosnya yang berbohong pada pelanggan mereka yang tampan.
——
Windy meregangkan tubuhnya, setelah cafe tutup, dirinya tidak langsung pulang, melainkan membuat beberapa cake di cafenya yang habis, kali ini dia menambahkan beberapa tambahan bahan, mencoba untuk bereksperimen dan hasilnya memuaskan.
Keluar dari pintu belakang dan menguncinya, Windy menghampiri motornya yang terparkir sendirian di tempat parkir. Sebenarnya Windy memiliki mobil, tapi jarang dipakai karena dirinya lebih terbiasa mengendarai sepeda motor.
Tepukkan dibahunya membuat Windy terkejut, siap memukul siapapun orang di belakangnya, ini sudah larut dan lewat tengah malam, tentu dirinya harus waspada.
"Ini sudah larut, kenapa baru pulang?"
Suara familiar membuat Windy yang sudah meremas tasnya sebagai alat pukul melonggar, berbalik menatap Ananta yang masih berpakaian sama seperti saat datang ke cafenya tadi.
"Kamu belum pulang?"
Mendengar Windy memanggilnya dengan kata 'Kamu' membuat Ananta tersenyum di dalam hati. Tadi hanyalah bentuk formalitas di depan pelanggan, Windy tetap memanggilnya seperti biasa diluar kejadian tadi, membuat Ananta merasa lega.
"Hm, aku ingin mengantarmu pulang."
"Hah?" Windy memasang ekspresi bingung. "Tidak perlu, kalau aku naik mobilmu bagaimana dengan motorku?"
"Maka dari itu aku tidak membawa mobil."
"Lalu?"
"Aku akan naik motormu sampai apartemenmu dan pulangnya aku akan naik mobil, mobilku terparkir di apartemenmu."
Niat.
Windy membatin menggelengkan kepalanya samar.
"Tapi bagaimana bisa kamu memarkirkan mobilmu di apartemenku? Hanya orang yang tinggal disana dan memiliki kartu akses yang bisa masuk."
"Mudah, karena aku pemilik gedung tempatmu tinggal jadi aku punya akses."
"Sombong!" Windy mencibir, dia ingat saat Koo menjawab pertanyaannya yang bertanya seberapa kaya Ananta dan Koo menyebutkan berbagai macam properti.
Menghela napas karena tahu dirinya tinggal di apartemen milik Ananta, Windy pasrah jika pemuda itu mungkin akan sering muncul di apartemennya, terlebih Ananta sudah tahu nomor apartemennya tinggal.
"Naiklah," ujar Windy sudah siap diatas sepeda motornya.
"Pelan-pelan," Ananta memperingatkan, ini kedua kali dirinya akan naik motor.
Tangannya merapat melingkari perut Windy, duduknya pun begitu maju, Ananta bertingkah seolah dia akan jatuh.
"Menjauhlah sedikit dan longgarkan peganganmu, aku akan menyetir dengan baik, tidak perlu terlalu menempel padaku."
Menurut, Ananta duduk sedikit ke belakang dan dia melonggarkan pelukkannya di perut Windy. Kali ini, gadis gila mengendarai sepeda motornya dengan benar, tidak seperti sebelumnya yang membuatnya seperti menaiki wahana di taman bermain, membuat Ananta menikmati selama perjalanan walau tidak ada percakapan diantara mereka.
"Kalau seperti ini, namanya aku yang mengantarmu pulang." Ujar Windy setelah memarkirkan sepeda motornya, menatap Ananta yang melengkungkan senyum tipis dibibirnya.
"Nan, untuk yang waktu itu...aku minta maaf, tapi aku hanya bisa menganggapmu sebagai teman, itu pun kalau kamu mau menjadi temanku."
Tanpa basa-basi Windy mengatakan apa yang ada dipikirannya. Bisanya laki-laki yang menyukainya tidak akan menghampirinya lagi setelah mendengar penolakkan darinya, tapi Ananta, pemuda di depannya masih tetap datang padanya dan Windy tidak ingin memberikan harapan, dia akan mengatakan kalau dirinya memang tidak bisa dan tidak memiliki perasaan apapun pada Ananta, jadi sekarang, Windy menegaskan kalau Ananta bisa menjadi temannya.
Melipat kedua tangannya di depan dada, mata cokelat Ananta menatap Windy serius.
"Aku tidak bisa," ucapan Ananta baru akan disahut Windy, tapi Ananta segera menyambungnya, meraih tangan Windy, menggenggamnya.
"Aku sudah menyukaimu entah sejak kapan, coba rasakan," Ananta membawa tangan kanan Windy ke dadanya, merasakan detak jantung Ananta yang berdetak lebih cepat saat bersama Windy, detak jantung yang Windy dengar saat tidur di pundak Ananta waktu itu.
"Aku ingin hubungan kita lebih dari teman."
Windy terdiam, tangannya masih merasakan detak jantung Ananta, matanya tepat menatap mata pemuda di depannya.
"Ingat hutangmu?" Pertanyaan Ananta membuat Windy menarik tangannya dari dada Ananta.
"Tidak ingat, aku tidak berhutang apapun padamu."
"Tapi kamu pernah ingin membayar hutangmu dengan cara membayar pesananku waktu itu di cafe, itu berarti kamu merasa memiliki hutang padaku."
"Kamu membodohiku." Windy mengatakan penuh penekanan.
"Tapi kamu setuju, kalau kamu membayar hutangmu, aku tidak akan mengganggumu lagi, begitukan?"
"Hm." Windy ingat dirinya mengatakan seperti itu agar terbebas dari gangguan Ananta.
"Kalau kamu bisa membayar semua hutangmu, aku tidak akan menganggunu. Tapi kalau kamu tidak bisa membayar, kamu akan menjadi kekasihku."
"Tapi aku sudah bilang aku-"
"Win, kamu tidak perlu menyukaiku, biar aku yang menyukaimu, aku mohon, hm?"
Mata Ananta menelas menatap meyakinkan Windy, berharap gadis gila itu mengabulkan permintaannya.
"Bukankah menyukaiku itu menyakitkan karena aku tidak menyukaimu?"
"Hm, tapi tidak lebih menyakitkan ketika aku menyerah."
——
See u di chapter sembilan...
💚💛🧡