Waiting for a Rainbow

Waiting for a Rainbow
Empatbelas - Sesuai Kesepakatan



Ananta tidak berhenti mengejek Windy setelah tahu kalau Windy suka memasangkan pria dengan pria.


"Bagaimana dengan mereka? Kalau yang itu? Aku rasa mereka cocok, coba lihat yang disebelah sana, mereka juga menarik. Ah, atau yang di duduk berdua itu."


Kepala Windy rasanya ingin meledak, setiap ada dua orang pria yang sedang bersama Ananta selalu menyarankan padanya.


"Berisik! Aku punya seleraku sendiri!"


Ananta tersenyum, mengacak rambut Windy. "Aku senang bisa tahu kegemaranmu." Windy melirik memicingkan mata ke Ananta menunggu kalimat selanjutnya. "Ya, meskipun aneh." Windy mendengus, sudah menduga kalimat selanjutnya tidak bagus. "Mau makan apa? Yang pasti bukan roti dan susu."


Tanpa berpikir panjang Windy langsung menjawab. "Makanan Prancis."


"Makanan Prancis? Escargot, Fole Gras, itu?"


"Hm, tapi yang ingin aku makan adalah Beef Bourguignon."


Beef bourguignon adalah sup tradisional Prancis yang terbuat dari daging sapi yang direbus dalam anggur merah dan kaldu sapi dengan waktu yang lama.


"Oke." Apapun untuk Windy.


Kenyataannya, mereka tidak jadi pergi makan makanan Prancis karena Windy sibuk membuntuti Evan dan Kana.


"Menjadi penguntit lagi?" Ananta yang berjalan di belakang mengikuti Windy bergumam.


"Aku bukan penguntit!" Windy berbalik protes. "Lagi pula kenapa juga kamu mengikutiku."


"Padahal jelas-jelas perbuatanmu itu tidak sopan." Kalimat Ananta tidak dipedulikan. "Kalau sudah selesai temui aku di tempat persembunyian, kamu dengar aku tidak?"


"Hm."


"Hm apa?" Ananta menghalangi Windy, berdiri menutupi kamera ponsel yang sedang Windy arahkan ke objek.


"Menemuimu dipersembunyian setelah aku selesai." Windy berujar malas.


"Bagus." Ananta menepuk puncak kepala Windy dan pergi meninggalkan gadis yang sibuk itu untuk menyiapkan makan siang dipersembunyiannya.


Selesai membeli makanan dari kantin untuknya dan Windy, Ananta membuka buku untuk dibaca sambil menunggu Windy yang entah kenapa datangnya lebih lama dari yang dia duga.


"Kenapa lama?" Ananta segera bertanya saat melihat Windy datang.


Gadis yang baru sampai tidak menjawab, dia mendudukkan diri dan memberikan orang yang telah menunggu sebuah kantong plastik.


"Ini,"


Ananta menerima, melihat isi kantong plastik yang penuh dengan berbagai macam makanan rasa cokelat kesukaannya.


Cup!


Gemas karena tiba-tiba gadisnya memberikan hal yang disukainya, Ananta mengecup pelipis Windy yang dengan cuek sedang memakan makanan yang dibelinya untuk mereka sejak tadi.


"Terima kasih." Senyumnya lebar.


"Terima kasih kembali." Windy mengucapkan untuk makanan yang sedang dia makan.


——


Windy berbaring di kamar, memikirkan hal bodoh yang sedang dilakukannya berhari-hari kebelakang, terlebih pemuda bernama Ananta yang masuk ke dalam hidupnya.


Aku sedang dibodohi atau aku yang bodoh?


Coba pikirkan, dirinya melarang Ananta untuk mendekatinya tapi karena hutang bodoh yang Ananta tagih dia jadi dekat dengannya sekarang, membiarkan mengenalkannya dan tinggal disisinya, juga tahu masa lalunya dan rahasianya.


Ting!


Hanya melihatnya berjalan melewatiku saja jantungku sudah berdebar.


Hari ini aku melihatnya di kafe sedang duduk sendirian memandang keluar jendela seperti di film romantis yang sedang menunggu kekasihnya datang.


Komentar random di foto-foto Ananta membuat kening Windy berkerut, terutama komentar terakhir.


Windy : Apa hari ini kamu ke kafe?


Ananta : Tidak, kenapa? Merindukanku?


Windy : Sedikit.


Ananta : Jawabanmu membuatku ingin berlari ke apartemenmu sekarang juga.


Cekrek!


Windy bangun dari kasurnya mendengar suara pintu apartemennya terbuka, melihat Koo dengan wajah lelahnya masuk dan langsung membaringkan diri di sofa.


"Malam ini aku tidur disini, aku lelah, tidak sanggup menyetir pulang ke rumah, kenapa mahasiswa tahun pertama harus mengikuti semua kegiatan? Seminar ini, seminar itu, ada absen kehadirannya juga, melelahkan!"


Koo menggerutu dengan tubuhnya yang tengkurap, menceritakan kekesalannya sebagai mahasiswa tahun pertama pada Windy yang duduk disampingnya mendengarkan.


"Melelahkan, benarkan?" Windy setuju.


"Hm!"


"Tapi kamu tetap harus membersihkan dirimu dulu baru tidur." Dengan kekuatannya Windy menarik Koo ke kamar mandi.


"Untuk sehari ini saja biarkan aku langsung tidur." Koo memohon.


"Kamu sudah seharian diluar, harus mandi, Chanel bahkan lebih bersih dibanding dirimu."


Koo protes dengan perkataan Windy karena dia disamakan dengan Chanel, membuatnya bicara tanpa henti yang membuat Windy menggelengkan kepala karena Koo yang katanya lelah sekarang berbicara tanpa ingat bernapas.


"Aku sudah bersih, puas?" Koo keluar dengan pakaian santainya yang dia taruh beberapa di apartement Windy.


"Puas, sudah makan?"


"Aku sudah makan, aku ingin tidur sekarang." Koo menjawab sambil menjemur handuknya di balkon.


"Mau tidur denganku? Ada yang ingin kuceritakan."


Mempertimbangkan, Koo setuju, dia berjalan ke kamar Windy dan membaringkan tubuhnya di samping Windy.


"Koo,"


"Hm,"


"Ananta,"


"Kenapa?"


"Aku tidak tahu."


Koo memiringkan tubuhnya menghadap Windy. "Galau?"


"Bingung." Menghela napas, lalu memiringkan tubuhnya menghadap Koo. "Sepertinya aku mulai membuka diriku."


"Bukannya itu bagus?"


Koo mengelus kepala Windy. "Hm, Kak Windy akan baik-baik saja. Apapun itu, aku akan ada disamping Kak Win. Kak Windy adalah gadis paling kuat, sejak kecil belajar berjuang sampai seperti sekarang, apa Kak Windy tahu kalau aku sangat mengagumi Kakak? Aku ingin Kak Win bahagia tanpa mengkhawatirkan apapun, tahu sendiri kan, kalau Kak Win sedih, aku juga akan sedih."


Koo mengatakan semua itu dengan matanya yang terpejam karena dia benar-benar lelah dan mengantuk hingga tak sanggup membuka matanya lagi.


"Boleh aku peluk?" Windy meminta ijin, orang yang ingin dipeluk mulai memeluknya. "Koo..." panggilnya menggumam sedangkan orang yang dipanggil tidak segera menjawab. Windy melonggarkan pelukkannya, melihat Koo yang sejak awal mengeluh karena mengantuk dengan cepat tertidur dalam sekejap.


"Dasar!"


——


"Aku menyerah." ujar Windy pada Ananta yang duduk disampingnya di tribun lapangan sepak bola.


Kalimat Windy membuat Ananta menahan napas sesaat dengan jantung berdetak keras, dia tidak tahu maksud gadisnya. "Menyerah apa?" suaranya sedikit bergetar, Ananta takut Windy akan menjauh dan menghindarinya.


"Aku menyerah tidak bisa membayar hutang yang kedua." Ya, Windy menyerah, dia tidak ingin punggungnya patah karena harus menggendong Ananta dari stadion sampai ke klinik, disampingnya Ananta bernapas lega mendengar jawaban Windy, bibirnya tersenyum lebar.


"Kamu tahu kan, kalau kamu tidak bisa membayar hutang kamu harus-"


"Tunggu-" Windy menginterupsi. "Aku memang tidak bisa membayar hutang kedua, tapi biarkan aku tahu bagaimana caraku membayar hutang yang pertama."


"Untuk apa? Kalau kamu tidak bisa membayar hutang yang kedua aku tidak akan memberitahumu cara membayar hutang yang pertama. Menyerahlah, bagaimana pun juga kamu tetap akan menjadi kekasihku."


"Nan..." bahu Windy menurun, dia hanya benar-benar tidak bisa berada dalam suatu hubungan walau mungkin dirinya mulai membuka diri untuk Ananta, tapi terlalu mengerikan untuk seorang Windy dengan apa yang dilihatnya di masa lalu.


"Win, sudah kukatakan, tidak perlu membalasku, biarkan aku berada di dekatmu saja sudah cukup, jangan menghindariku, jangan menjauh, jangan tinggalkan aku, dan jangan menghilang, hm?"


Ucapan yang terlontar dari Ananta tanpa sadar membuat sebuah tekanan untuk Windy, gadis berambut sebahu itu menatap Ananta tanpa mengatakan apapun, lebih tepatnya dia tidak tahu lagi bagaimana mengungkapkan seberapa takut dirinya.


Air mata gadis di depannya jatuh. "Windy..." saat Ananta akan menyentuh pipi Windy, gadis itu menolak.


"Aku minta maaf, aku bukan gadis yang kuat untukmu, aku bukan gadis pemberani." Windy menyalahkan dirinya, Ananta menggeleng kuat.


"Sudah aku katakan aku akan menjadi orang pertama yang menghapus air matamu, kemari." Ananta menyuruh Windy yang sempat menghindar darinya untuk mendekat. "Aku mengatakan untuk berbagi beban denganku tapi aku malah menambah bebanmu sekarang, bukankah begitu?" Windy mengangguk. "Maafkan aku." Ananta mendekatkan dirinya menghapus air mata Windy dan membawa kepelukkannya.


"Jadi apa aku tetap harus menjadi kekasihmu?" Windy mendongak menatap Ananta dengan mata sembabnya.


"Tentu saja, itu kesepakatannya."


"Haaah!" Windy menghela napas berat sambil menghapus air matanya.


----


Lagu L-O-V-E yang Windy dengar di restoran sekarang membuat dirinya memasang wajah pahit, suara lembut penyanyi dan saxofon yang mengiringi membuat tubuhnya merinding, tapi apapun akan dilakukannya demi melihat kapalnya bersama, Juan dan Ginan.


Sepulang dari kuliahnya tadi, tanpa sengaja Windy mendengar Juan mengajak Ginan ke restoran Italia karena Juan ingin makan masakkan Italia, dan disinilah Windy sekarang, duduk berjarak beberapa meja dari tempat Juan dan Ginan, tidak ada niat mengambil foto mereka sekarang, Windy hanya akan melihat moment keduanya.


Rasanya seperti menonton drama di dunia nyata, entah kenapa Windy merasa Juan sangat romantis malam ini ke Ginan, membuat jiwa fujoshinya berteriak meminta moment yang lebih intens.


"Kak Windy!" suara yang memanggil namanya membuat Windy sedikit frustasi, dirinya berharap Juan dan Ginan tidak mendengar namanya dipanggil.


Menoleh melihat siapa yang memanggilnya, gadis berambut sebahu itu tidak jadi marah dan langsung memeluk orang yang memanggilnya. "Linkya..." Windy memanggilnya dengan suara manja karena rindu. Linkya adalah gadis yang tinggal di dekat rumah Koo sepupunya, mereka bertiga berteman sejak kecil dan sudah Windy anggap sebagai adik, sudah beberapa bulan terakhir mereka tidak bertemu karena Linkya yang berada di kelas 3 SMA sibuk dengan belajarnya dan juga...sibuk memulihkan hatinya yang sedang patah.


"Sedang apa disini? Bukannya belajar." Windy melepaskan pelukkan dan langsung memarahi Linkya.


"Tentu saja untuk makan, aku kesini bukan untuk mencuci piring." Linkya menjawab dengan bibir mengerucut.


"Sendiri? Koo mana?" Windy mengajak Linkya duduk dimejanya, dia menyempatkan untuk melihat ke arah meja Juan dan Ginan sebentar meyakinkan kalau mereka masih berada ditempatnya.


"Sendiri, aku tidak tahu apa yang Koo lakukan, saat aku mengajaknya dia menolak."


"Kalau begitu makan saja denganku."


"Tenang saja, kalau Kak Windy tidak habis aku siap menghabiskannya." Linkya tersenyum memperlihatkan deretan giginya, adik Windy yang satu ini memang banyak makan sama seperti Koo. "Tapi tumben sekali Kak Windy datang ke tempat seperti ini? Sendiri pula."


"Aku sedang menjadi detektif." Jawaban aneh Windy membuat Linkya mengangguk, tidak bertanya lebih lanjut karena sebenarnya dia tahu rahasia besar Windy, tapi tidak berani mengatakan kalau dia tahu.


"Kak Win,"


"Hm?"


"Aku khawatir pada Koo."


Perhatian Windy dari Juan dan Ginan beralih ke Linkya. "Aku tahu," Windy mencoba tersenyum menenangkan. "Mungkin menurut Koo sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk kita tahu kenapa sikapnya cukup berubah."


"Hm, aku tahu, aku hanya merindukan kelinci kita yang dulu."


"Aku rasa sudah saatnya kamu menemukan hewan peliharaan baru, biar Koo aku yang mengurusnya."


"Memangnya semudah itu menemukan orang yang mau menjadi hewan peliharaanku? Kak Windy tahu sendiri aku takut pada binatang."


Windy tertawa. "Ya...dan itulah kenapa Koo menawarkan diri menjadi hewan peliharaanmu kan?"


"Dan Kak Windy memberikannya nama Bunny." sambung Linkya bertepuk tangan senang.


"Makanlah yang banyak, fokuslah pada belajarmu supaya kita bertiga satu tempat belajar lagi." Windy mengusap rambut Linkya.


"Tentu saja, aku mati-matian belajar untuk bisa bersama Kak Win dan Koo lagi, tunggu saja."


Windy melihat Linkya yang selalu bersemangat saat makan, melupakan sejenak apa tujuannya datang ke restoran Italia sampai dia kembali ingat dan menyapukan pandangannya ke tempat Juan dan Ginan duduk, tapi mereka sudah tidak ada disana.


"Apa mereka sudah pergi?" gumam Windy tanpa sadar.


"Sudah, sekitar lima menit yang lalu."


Linkya menjawab.


Windy membatu.


"Apa?"


"Apa?" Linkya balik bertanya dengan sedikit rasa gugup, dia sadar dirinya keceplosan karena menjawab gumaman Windy yang dia dengar, jadi dia kembali mengalihkan perhatiannya pada makanan.


"Kamu tahu?" Windy memberanikan diri bertanya, dia bahkan tidak berani mengatakan pada Koo kalau dirinya Fujoshi, tapi sepertinya Linkya tahu.


"Hm, sejak kita SMA." Jawab Linkya tidak berani menatap Windy dan hanya menunduk sambil makan.


Windy terkejut, tentu saja. "Jangan katakan pada Koo." peringatnya.


"Aku tahu....penguntit." kata terakhir Linkya membuat Windy mendengus.


"Aku bukan penguntit." Windy mengelak.


"Tentu saja Kak Windy disebut penguntit, kebiasaan Kakak ini aku sudah memperhatikannya sejak kita SMA." Linkya mulai buka-bukaan.


"Diam!" Windy membentak dengan suara berbisik. Mendengar Linkya menyebutnya penguntit mengingatkannya pada Penganggu Busuk yang entah apa yang sedang pemuda itu lakukan sekarang, Windy rasa pasti dia sedang membaca buku seperti biasa.


"Aku juga suka Boys Love, tapi tidak separah Kak Windy, hahaha..."


TBC...