Waiting for a Rainbow

Waiting for a Rainbow
Empat - Can’t Sleep I



Tangan Ananta menghapus air mata yang masih tersisa di wajah Windy. Ananta panik saat Windy mulai menangis, tapi lebih panik ketika Windy tiba-tiba pingsan dihadapannya.


Sudah setengah jam sejak Ananta membawa Windy ke klinik, tapi Windy masih terbaring belum sadarkan diri, membuatnya khawatir.


Aku keterlaluan.


Ananta menyalahkan diri, kalau dia tidak bertindak bodoh seperti tadi, Windy tidak akan sampai begitu marah padanya, Windy tidak akan menangis seperi apa yang dilihatnya, tidak terbaring di klinik seperti sekarang.


Bodoh! Kau sangat bodoh Ananta!


Kutuknya pada diri sendiri.


"Eugh,"


Mata Windy perlahan terbuka menyesuaikan dengan cahaya yang masuk. Windy melihat sekeliling, lalu menatap Ananta yang berdiri disampinganya dengan badan setengah membungkuk menatapnya khawatir.


"Win?" Panggil Ananta.


Windy tidak menjawab, tangan kirinya bergerak menggenggam tangan Ananta yang dilihatnya. Windy ingin memastikan pada dirinya sendiri kalau dia terbangun di tahun yang sekarang.


"Aku disini." Ananta menggenggam balik tangan Windy dengan kedua tangan.


Sadar dirinya berada di tahun yang benar, Windy melepaskan tangannya dari Ananta dengan kasar.


"Jangan menyentuhku!" Tepisnya, Windy sudah sepenuhnya sadar dan dia mencoba mendudukkan diri.


"Hm!" Ananta bergumam keras, baru sadar dari pingsannya Windy sudah kembali menjadi macan, padahal Windy sendiri yang menggenggam balik tangannya dengan erat tapi dia sendiri yang marah. "Minumlah," Ananta menyerahkan botol minum dan memberikan sedotan untuk Windy.


Mata Windy memperhatikan Ananta yang duduk dipinggir kasur, wajah pemuda itu mengatakan kalau dia merasa bersalah.


"Apa aku berat?" Pertanyaan Windy membuat kepala Ananta yang menunduk menatapnya. Butuh beberapa saat bagi Ananta untuk mencerna pertanyaan Windy, karena bukan itu yang Ananta duga akan keluar dari mulut gadis didepannya.


"Tidak, kamu terlalu ringan untukku."


Windy menyunggingkan senyum tipis, ada perasaan berdesir di dada Ananta, ini pertama kali dia melihat Windy tersenyum karenanya. "Iya, terlalu ringan untuk Tuan Muda yang tidak pernah mengendarai motor." Windy mengejek, dia ingin mencairkan suasana diantara dia dan Ananta, hubungan mereka terlalu tegang dari saat pertama bertemu.


"Ehm, aku akui aku tidak pernah naik motor." Pengakuan Ananta membuat Windy tersenyum, bisa saja Ananta mendebat, tapi dia mengalah.


"Kenapa bisa?" Windy berujar heran, dunia seperti apa yang Ananta huni sampai pemuda itu tidak pernah menaiki sepeda motor.


"Terlalu berbahaya, ibuku tidak mengijinkannya."


Windy mengangguk seolah dia mengerti, Si Hantu Kampus pengganggu ini rupanya anak kesayangan.


"Anak tunggal?"


"Hm."


"Pantas, sama seperti Koo, manja." Windy menekankan kata terakhir.


"Aku tidak manja." Tukas Ananta cepat.


Windy menahan tawa, jawaban Ananta persis seperti jawaban sepupunya dulu.


Hening.


"Nan," panggilan Windy membuat Ananta mengerutkan alis.


"Kalau dipikir ternyata kamu benar-benar gadis tidak sopan. Aku lebih tua darimu satu tahun, tapi sejak awal kamu memanggilku hanya dengan nama."


"Aku? Sopan pada orang sepertimu? Mimpi! Tapi...aku minta maaf, dilapangan tadi aku tidak seharusnya berkata kasar dan mengumpat padamu. Tapi kamu tidak sopan! Tapi...aku juga yang tidak bisa mengendalikan emosiku, maaf."


Ananta mengerjapkan mata, dia takjub dengan Windy, gadis itu selalu marah, lalu merasa menyesal, dan kemudian meminta maaf walau bukan sepenuhnya salahnya.


Dari mata Windy, mata Ananta beralih ke bibir si gadis gila, tempat dimana dia menggigit bibir Windy cukup keras karena tidak suka mendengarnya mengumpat.


"Aku juga minta maaf sudah..."


"Oke, aku maafkan." Belum selesai Ananta berbicara Windy sudah memotong, itu karena Windy merasa aneh mendengar orang meminta maaf padanya.


"Aku belum selesai bicara," Ananta memprotes.


"Aku tidak ingin dengar, terlalu menggelikan. Sudahlah, ayo pergi dari sini." Windy beranjak dari tempat tidur, memakai sepatunya dan berjalan ke luar ruangan.


"Kenapa berhenti?"


Ananta yang berjalan dibelakang heran tiba-tiba Windy menghentikan langkah padahal dua meter lagi sampai di depan pintu.


"Shhhh..." Telunjuk Windy di depan bibirnya menginstruksikan untuk diam tidak bersuara. Gadis itu berjalan perlahan ke arah bilik lain sambil mengeluarkan ponsel.


Melihat apa yang dilakukannya, Ananta tahu Windy pasti sedang mengambil foto orang lagi yang entah siapa karena Ananta diam berdiri ditempatnya tidak mengikuti Windy.


Begitu Windy selesai dan mereka keluar ruangan, tangan cepat Ananta mengambil ponsel Windy yang sedang dilihat gadis gila itu.


"Ananta...kembalikan." Windy meminta dengan suara merengek, dirinya lelah jika harus berteriak pada Ananta, lagi pula ini bukan kali pertama lagi Ananta mengambil ponselnya.


"Siapa lagi mereka? Orang yang kamu suka?" Heran Ananta melihat foto yang baru diambil Windy. "Sebenarnya berapa banyak pria yang kamu suka di kampus ini?"


"Tidak perlu tahu." Windy menjawab cuek. Dia tadi mengambil foto Dirra dan Nato yang sedang tertidur, sepertinya Nato sedang sakit dan Dirra sedang menemaninya.


"Tentu aku harus tahu, aku sudah mengatakan sebelumnya," Ananta mengembalikan ponsel Windy. "Aku bilang kamu menarik, itu artinya aku tertarik padamu."


Windy menghela napas, dirinya tidak terkejut atau kaget, ekspresinya tak acuh, malas mendengarkan apa yang baru Ananta ucapkan.


"Kak Win!" Dengan semangat Koo berlari kearahnya.


"Hai Kak!" Sapa Koo ceria pada Ananta. "Oh?!Kak Windy terlihat pucat, apa Kak Windy sakit?"


Koo memperhatikan wajah Windy dari dekat. Windy menggeleng cepat, tidak ingin membuat Koo khawatir. "Aku tidak sakit."


"Baguslah, kalau Kak Windy sakit aku akan sedih." Koo menyandarkan kepalanya dibahu Windy, bersikap manja. "Jangan lupa makan, aku mau melihat Nato dulu di klinik."


"Hm, sampai jumpa." Windy melambaikan tangan lalu bernapas lega, dia merasa beruntung sudah keluar dari klinik lebih dulu sebelum Koo melihat Nato. Windy tidak mau Koo melihatnya seperti tadi terbaring di klinik karena pingsan.


"Kenapa tidak bilang kalau kamu baru saja pingsan?"


Pertanyaan Ananta membuat Windy kembali menghela napas.


"Bukan urusanmu!"


——


Windy : Koo, apa kamu sudah tidur?


Jam menunjukkan pukul 02.09 saat Windy mengirimkan pesan. Tidak ada balasan dari Koo, itu berarti sepupunya sudah terlelap.


Windy mengerjapkan mata memandang langit-langit lalu menyalakan lampu kamarnya, tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan, dia tidak ingin tidur, lebih tepatnya takut untuk tidur, takut dengan mimpi buruk yang sering dialaminya.


Mimpi gunung meletus, mimpi melihat hantu merayap yang mengejarnya, mimpi berada ditempat gelap dan mendengar suara tangisan, mimpi-mimpi seperti itu sering Windy alami. Tapi karena hari ini dia pingsan, Windy tahu apa yang akan datang ke dalam mimpinya, jadi dia berniat tidak tidur.


Foto-foto di laptopnya adalah hiburan untuk Windy, berbagai macam series Boys Love dia tonton, tetap seperti biasanya Windy terbawa perasaan dan tersenyum heboh sendiri saat melihat drama yang ditontonnya, tapi tetap, perasaannya belum membaik.


"Koo..." Windy memeluk Koo, tanpa melepas pelukkan Windy Koo masuk ke dalam apartemen dan menutup pintunya.


"Kak Windy belum tidur?" Koo membelai rambut halus Windy, mendongakkan wajah sepupunya agar melihatnya.


Windy memandangnya sendu. "Aku tidak mau tidur."


"Kalau begitu makanlah, aku membawa sarapan, setelah itu pergilah tidur, aku akan ada disamping Kak Win."


Koo perlahan melepaskan pelukkan Windy, menuju dapur untuk menyajikan sarapan yang dibawanya dari rumah.


"Aku bilang aku tidak mau tidur." Windy kembali mengulang kalimatnya.


"Baiklah, lalu setelah sarapan apa yang akan Kak Windy lalukan?"


"Euhm...ke Cafe?"


"Baiklah."


Cafe yang dimaksud Windy adalah Cafe Kukirajuni, cafe yang menyajikan berbagai dessert, pelanggannya cukup banyak, dan cafe itu adalah miliknya. Tidak hanya itu, Windy juga memiliki beberapa bakery & coffee shop bergaya vintage dan beberapa toko pakaian dengan brand fashionnya sendiri yang dikelolanya.


Hidup seorang diri membuat Windy sejak kecil memutar otak untuk menghidupi dirinya. Windy kecil mulai berjualan sejak usianya 10 tahun, apapun dilakukan agar dia tidak merepotkan Om dan Tantenya yang tak lain adalah orang tua Koo yang mengasuh dirinya. Dan sekarang ketika usianya 20 tahun, Windy sudah memiliki cafe dan beberapa toko pakaian sebagai sumber penghasilannya.


"Kak Win, aku mau yang ini." Koo menunjuk dessert yang dia inginkan dengan senyum ceria diwajah. Sulit bagi Windy untuk menolak keinginan Koo, Koo adalah inspirasi Windy untuk membuka cafe. Bagi Windy, cafe miliknya menggambarkan kepribadian sepupunya yang imut, ceria, dan manis.


"Apalagi?"


"Ini, ini, ini."


"Yakin bisa menghabiskan semuanya?"


"Kak Win..." Koo memajukan bibir tipisnya. Windy hanya menggoda, dia tahu Koo mampu menghabiskannya karena dia suka makanan manis.


"Baiklah, pesanan Anda akan segera datang Tuan." Windy menjadikan dirinya pelayan hari ini lalu mengambilkan pesanan Koo.


"Jangan lupa es krim vanilla!" Imbuh Koo membuat Windy menggelengkan kepala.


Windy sibuk melayani beberapa pelanggan di cafenya, sesekali dia duduk bersama Koo di meja dekat jendela dan membicarakan hal-hal ringan. Seperti Chanel yang tidak mau makan, Chanel yang sedang jatuh cinta, Chanel yang sering tidak menurut pada Koo, cerita Koo tentang Chanel membuat Windy tertawa, Chanel adalah anjing putih peliharan Koo yang berjenis Maltese, ras anjing yang memiliki bulu lembut bagaikan sutra yang imutnya sama seperti Koo.


"Kamu membuatku rindu pada Chanel." Ujar Windy.


"Kalau begitu malam ini menginap saja di rumah."


——


"Nan," Ananta mendongakkan kepalanya dari buku yang dibaca. Di depannya ada wanita paruh baya yang terlihat awet muda sedang tersenyum manis padanya. Sang Bunda menghampiri, duduk disamping anaknya, mengelus rambutnya.


"Ini hari libur, kamu tidak main?"


Ananta menggeleng. "Bunda, Ananta belum selesai baca buku," Ananta menunjukkan buku ditangannya, buku mengenai hotel management. "Buku ini penting."


"Iya Bunda tahu, tapi kamu pergi bermain juga penting." Ujar sang bunda, Vera. "Setidaknya hiburlah dirimu diluar rumah."


Ananta menutup buku ditangannya, memeluk Bundanya. "Iya Bunda...iya."


"Kalau begitu...apa Ananta mau menemani Bunda?"


"Kemana?"


Ananta memakirkan mobilnya di parkiran sebuah cafe, cafe yang menurutnya terlalu 'anak muda' untuk bundanya datangi.


"Bunda yakin mau kesini?" Wajah Ananta menyiratkan keraguan.


"Kenapa?"


Senyum aneh tercetak dibibirnya. "Tidak cocok dengan Bunda."


"Kamu ini, ayo masuk, kamu suka dessertkan, ini tempat yang cocok, bunda saja baru tahu kalau di kota kita ada cafe seperti ini."


Krincing krincing!


Bunyi lonceng di pintu masuk cafe berinterior putih itu membuat beberapa orang menoleh, berkasak-kusuk untuk memberitahu teman disebelahnya kalau dia melihat pemuda tampan.


"Selamat sore, untuk berapa orang?" Windy tersenyum menyambut wanita paruh baya dan sang anak dibelakangnya.


"Dua." Jawab Vera tersenyum, berbeda dengan Ananta dibelakangnya yang menyembunyikan keterkejutannya melihat Windy di cafe sebagai pelayan seolah tidak mengenalnya, Windy langsung mengarahkan mereka untuk duduk lalu memberikan buku menu dan menjelaskan dengan sangat detail berbagai macam dessert pada bundanya.


"Kamu mau yang mana Nan?" Vera bertanya, melihat anaknya yang tidak melihat buku menu tapi sedang menatap pelayan di samping mereka.


Ananta bersedekap, menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Apa yang bisa direkomendasikan untukku?" Ananta bertanya seolah menantang Windy untuk memuaskan indra perasanya.


"Saya merekomendasikan lava chocolate cake, chocolate parfait, dan chocolate fondue." Windy tersenyum manis menjawab pertanyaan Ananta, berbeda dengan Vera yang terlihat heran karena pelayan disampingnya merekomendasikan makanan serba cokelat seolah tahu kesukaan anaknya.


"Kalau begitu aku pesan ketiganya." Ujar Ananta.


"Terima kasih, mohon ditunggu."


Vera menutup buku ditangan, mengembalikan, tatapannya sekarang menyelidik ke Ananta. "Kamu mengenalnya? Siapa dia?"


"Gadis gila." Jawab Ananta, bibirnya melengkung membuat senyuman yang coba dia sembunyikan.


"Gila seperti apa sampai membuat anakku terus menatap kearahnya? Bunda rasa bukan dia yang gila, tapi kamu." Goda Vera.


"Bunda..."


Tepat saat Ananta merengek ke Vera Windy datang mengantarkan pesanan. Windy menggelengkan kepalanya samar, Ananta Si Penganggu Busuk sedang merengek manja ke ibunya.


"Silahkan," Windy meletakkan lava chocolate cake dan chocolate parfait di meja Ananta. "Untuk chocolate fondue sebentar lagi kami antarkan, mohon ditunggu." Windy memberikan senyuman sebelum berbalik.


Melepas apronnya, Windy berjalan ke arah Koo yang menghabiskan sedikit lagi makanannya.


"Sudah selesai?"


"Tunggu, satu suap lagi." Koo menyuapkan sendok terakhir ke mulutnya dan Windy dengan cekatan mengambil tisu untuk membersihkan bibir Koo. "Sudah selesai, ayo kita pulang."


Windy mengangguk, mengambil tasnya disamping Koo lalu menggandeng lengannya. "Kak Rin, aku pulang dulu, terima kasih untuk kerja kerasnya hari ini." pamitnya pada Rini, manager di cafenya yang sedang berdiri di tempat kasir.


"Kami pulang dulu Kak Rin," imbuh Koo.


"Hm, hati-hati, terima kasih hari ini telah membantu."


"Ah ya, untuk yang di makan Koo, masukkan ke dalam tagihanku."


Rini tersenyum. "Aku tahu,"


"Sampai jumpa Kak Rin." Koo melambaikan tangan.


Ananta memperhatikan keduanya sampai Windy dan Koo keluar cafe. "Cemburu?" Suara itu berasal dari sang Bunda yang menggoda anaknya.


"Tidak, itu sepupunya." Ananta kembali menyantap lava cake miliknya, terdiam khawatir.