
Aku tidak tahu apakah chapter ini dan chapter-chapter sebelumnya terkesan dipaksakan atau bagaimana, tapi itulah yang ada dipikiranku.
——
"Apa kamu pernah berpikir apakah perasaanmu untukku itu nyata?"
Pertanyaan itu masih terngiang di kepala Ananta, bahkan saat sekarang dirinya sedang berbaring ditempat tidur, menatap foto gadis yang ada di dalam bingkai, foto yang ditemukannya saat usianya 11 tahun, foto yang menarik perhatiannya, foto yang dipandanginya setiap malam sebelum tidur, foto gadis kecil yang tersenyum cerah dengan boneka bebek kecil dipelukkannya, foto gadis yang akhirnya dia temukan siapa gadis itu.
Windy Lusitanica.
Ananta ingat hari itu adalah hari pertama mahasiswa baru menjalani ospek dimana itu menjadi tahun keduanya di universitas. Tanpa sengaja dirinya bertabrakkan dengan seorang gadis, membuat barang-barangnya terjatuh berserakkan. Ananta membantunya, tangannya mengambil dompet yang terbuka, memperlihatkan foto di dalam dompet gadis itu yang sama persis seperti yang dimilikinya di rumah.
Matanya terus mengamati gadis yang ditabraknya bahkan setelah gadis itu mengucapkan maaf dan terima kasih lalu pergi Ananta masih memandangnya, dia tahu dia sudah menemukan gadisnya hari itu, yang pada akhirnya di kampus dirinya selalu memperhatikan Windy sampai satu tahun lamanya, membuatnya yakin, kalau dia benar-benar menyukai gadis itu lalu mulai mendekatinya.
Ananta mengambil ponselnya, mengetikkan sesuatu lalu mengirimnya pada Windy.
Ananta : Merindukanmu.
Satu kata yang cukup menggambarkan dirinya saat ini.
Windy : Kata yang mengerikan!
Balasannya membuat Ananta tersenyum, dia menyukai Windy, dirinya suka gadis itu, mencintainya, mungkin dirinya sudah menambatkan hatinya untuk Windy bahkan dari pertama kali melihat foto gadis itu, rasanya seperti orang gila memiliki perasaan seperti ini selama bertahun-tahun, selalu bertanya kapan akan bertemu, dan ketika bertemu, tidak mungkin akan mudah melepaskannya.
Turun ke dapur, Ananta melihat Bundanya dalam cahaya remang yang menerangi.
"Bunda belum tidur?"
Vera menoleh melihat buah hatinya. "Ananta sendiri belum tidur?" Ananta menggeleng, duduk di meja makan mengambil air untuk diminum. "Mau mie rebus?"
Ananta tersenyum melihat Bundanya menaruh mie yang sudah matang ke dalam mangkuk, sangat jarang Ananta melihat Vera memakan junk food, Bundanya pun melarangnya, tapi hari Vera menawarkan.
"Tidak, Bunda saja, Ananta tidak lapar." Ananta memandangi Vera yang mulai menyeruput mienya hingga tandas, dirinya hanya diam menemani Bundanya makan dengan segala pikirannya yang sedang memikirkan Windy.
"Nan,"
"Ya Bunda?"
Vera mengambil satu tangan Ananta di atas meja untuk digenggam. "Apa libur semester nanti kamu sibuk?"
"Tidak,"
"Euhm...kalau Bunda minta kamu mulai menemani Bunda bekerja bagaimana? Apa kamu keberatan? Tapi kalau kamu belum siap tidak apa."
Ananta tampak berpikir, cepat atau lambat dirinya sudah harus mulai belajar, dari yang membaca buku, mungkin sekarang waktunya dia terjun ke lapangan.
"Baiklah, Ananta mau." Jawaban anaknya membuat Vera membelai kepala anaknya lembut.
"Bunda..." suara Ananta yang berubah dan mulai meletakkan kepala dibahunya serta mengaitkan tangan dilengannya membuat Vera menaruh perhatian lebih.
"Ada apa sayang?"
"Bagaimana ini? Windy tidak menyukaiku." Bibirnya melengkung kebawah mulai bercerita pada Vera, pernyataan cintanya pada gadis itu, pembayaran hutangnya, juga pertanyaan terakhir Windy yang Ananta sudah dapatkan jawabannya dan sekarang bingung bagaimana meyakinkan Windy agar percaya bahwa perasaannya untuk gadis itu adalah nyata.
"Waktu, kamu tidak bisa memaksanya, hanya waktu yang nanti akan menjawab apakah perasaan Windy untukmu akan berubah atau tidak. Walau Ananta memaksa menjadikannya kekasih, Ananta hanya akan memiliki tubuhnya, tidak dengan hatinya. Untuk beberapa orang, cinta itu adalah kebahagiaan, cinta itu adalah kesabaran, cinta itu adalah keegoisan, atau mungkin cinta itu adalah rasa sakit, setiap orang menafsirkan cinta dengan kata yang berbeda, kalau menurut Ananta, cinta itu seperti apa?"
"Ketika menemukan seseorang yang dapat membuat tersenyum dan terus memikirkannya."
"Lalu apa Ananta tahu apa cinta menurut Windy?"
Ananta diam, kemudian menggeleng, dia harus mencari tahu cinta untuk Windy itu seperti apa.
Tanpa berpikir panjang, Ananta menyambar kunci mobilnya, meminta ijin pada Vera lalu melajukan mobilnya ke apartemen gadisnya tinggal walau jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
Terengah-engah, dirinya seperti terburu-buru ingin bertemu Windy, tapi ragu ketika sudah berdiri di depan pintu apartemennya.
"Kamu kenapa?"
Suara dari samping kanannya membuat Ananta menoleh, Windy dengan celana trening dan hoodie yang dikenakannya sedang menenteng sebuah kantong plastik dilengan kirinya, tangan kanannya memegang kaleng minuman susu berwarna putih.
"Darimana?" Ananta bertanya walau napasnya belum teratur.
"Dari supermarket di bawah." Windy mengeluarkan kartu kunci apartemen, membukanya dan mempersilahkan Ananta masuk. "Masuklah." Matanya tidak lepas dari Ananta yang berjalan menuju sofa, menatapnya bingung karena jam segini datang ke apartemennya. "Kamu kenapa?"
"Merindukanmu."
Jawabannya membuat Windy yang mendengarnya merinding secara nyata. "Dan kamu berlari untuk menemuiku?"
"Tidak, hanya terburu-buru ingin melihatmu."
Sama saja, itu membuat si pendengar mengerutkan alisnya.
"Cuci kaki dan tanganmu baru kembali kemari." Windy menyuruh Ananta untuk pergi ke kamar mandi di ujung sebelah kiri ruang tengahnya, begitu juga Windy, lalu keduanya duduk di sofa besar sambil menonton tv yang menunjukkan wisata-wisata di luar negeri.
"Kamu suka traveling?"
"Lebih tepatnya aku suka melihatnya, terlihat menyenangkan." Windy menyodorkan snack ditangannya dan Ananta mengambil beberapa.
"Apartemenmu tidak berantakkan seperti sebelumnya."
"Hm, aku baru membersihkannya tadi sore." Jawabnya tanpa mengalihkan perhatian dari tv.
"Apa kamu keberatan kalau aku menginap?"
Windy menoleh ke samping kirinya. "Dari traveling, apartemen, lalu menginap, sebenarnya ada apa denganmu?"
"Aku sudah mengatakannya, aku merindukanmu."
Ananta membuat ekspresi cemberut yang baru pertama kali Windy lihat, sejak tadi dia sudah menjawab dirinya merindukan gadis disampingnya tapi Windy masih bertanya.
Kening Windy mengerut, mendengar kalimat yang keluar dari lawan bicaranya membuatnya merasa frustasi di tengah malam.
"Nan, bisakah kamu tidak mengatakan hal-hal seperti merindukanmu, menyukaimu, tertarik padamu, mencintaimu, hal-hal yang seperti itu? Rasa ketertarikkanmu padaku, bisakah kamu tidak membicarakannya? Itu membuat kepalaku pusing."
Ananta terdiam, Windy berkata seolah dirinya benci dengan kalimat-kalimat yang diucapkannya.
"Kenapa?" Wajahnya berubah bingung menatap Windy yang masih mengerutkan kening. "Aku mengungkapkan perasaanku padamu agar kamu tahu."
Windy tidak menjawab, dia menyandarkan kepalanya di sofa, memejamkan mata dan mengatur detak jantungnya yang meningkat.
Ananta tidak berbicara lebih lanjut, tapi kemudian dia menggeser duduknya, merapatkan tubuhnya ke Windy.
"Win," kedua tangan Ananta menyentuh lengan kanan Windy, sedikit menggoyangkannya, matanya tertuju pada sesuatu yang membuatnya takut kalau itu bergerak.
"Windy, ada kecoa." Ananta mengadu, suaranya memelas meminta Windy untuk menyingkirkan makhluk aneh itu dari hadapannya.
Kepala Windy masih terasa pusing, tapi kemudian dia tidak bisa untuk menahan kekehan yang keluar dari bibirnya. Walau matanya masih terpejam, Windy seperti bisa membayangkan bagaimana wajah Ananta yang memasang wajah jijik, takut, dan memohon padanya sekaligus.
Menghembuskan napas agar merasa lebih baik, Windy membuka mata, melihat Ananta dengan ekspresi wajahnya yang minta diejek.
"Dasar Tuan Muda Manja."
Ananta tidak menyangkal, dia hanya ingin agar Windy segera menyingkirkan kecoa di lantai dekat sofa mereka.
Dengan mudahnya Ananta melihat Windy membuat kecoa dihadapan mereka mati hanya dengan sekali pukulan menggunakan sapu lalu membuangnya melalui balkon.
"Sudah kusingkirkan, berhentilah menangis."
"Siapa yang menangis?!"
Windy menyunggingkan senyum, dia tahu Ananta tidak menangis, hanya saja melihat ekspresi Ananta yang terlalu serius untuk seekor kecoa membuat Windy ingin menggodanya.
"Sudah hampir jam tiga, kamu tidak pulang?" Windy bertanya setelah dia keluar dari kamar mandi mencuci tangannya.
"Aku ingin disini." Jawabnya melihat layar didepan.
Masuk ke kamarnya, Windy mengambil selimut, tanpa Ananta mengatakannya Windy tahu pemuda itu bermaksud menginap.
"Win, menurutmu...cinta itu apa?"
Ananta menatap Windy di kedua mata cokelat yang sama seperti miliknya, tangannya mengerat memegang pergelangan tangan Windy, memberitahu kalau dia tidak berniat melepaskan jika gadis di depannya tidak memberikan jawaban.
Mata Windy terpaku pada Ananta, pertanyaan yang diajukannya adalah pertanyaan yang tidak ia duga, tapi tidak mengagetkannya. Pemuda di depannya suka padanya, tentu dia memiliki pandangan sendiri tentang cinta, begitu juga dengan dirinya, hanya saja...definisi cinta mereka bertolak belakang.
"Cinta? Cinta itu rasa sakit." Windy menjawab tanpa berkedip, memastikan bahwa Ananta mendengar jawaban darinya.
Ananta menelan ludah, tenggorokkannya tiba-tiba terasa kering mendengar jawaban Windy. Jawabannya seperti yang dikatakan ibunya, definisi cinta itu ada bermacam-macam, tapi kenapa harus 'sakit' yang menjadi jawaban Windy?
"Se-sakit apa?"
"Sesakit seperti aku mendengarkan kata manis dari orang sepertimu."
Windy, matanya berubah menyiratkan kebencian, Ananta mulai memahami, itukah kenapa dia tidak suka dan melarangnya untuk berkata hal-hal yang ingin diutarakan pada gadis ini, bahkan rasa tidak sukanya menimbulkan rasa sakit dikepala.
"Apa sekarang kepalamu terasa pusing lagi?"
"Hm."
"Tidurlah."
Ananta melepas tangannya yang memegang tangan Windy, menatap sampai punggung gadisnya menghilang dibalik kamar.
Helaan napasnya berat, Ananta mematikan tv, merebahkan dirinya di sofa besar yang menjadi tempat tidurnya untuk kali kedua, menatap langit-langit memikirkan Windy, selama ini dirinya hanya melihat dan memperhatikan gadis yang disukainya tanpa mencari tahu apapun tentangnya.
Bodoh.
Ananta merutuki dirinya, tidak sepantasnya dia mengatakan cinta bahkan disaat dia tidak tahu apapun tentang Windy.
Egois, itulah penggambaran dirinya, hanya memikirkan agar Windy menyukainya dan menjadi kekasihnya.
——
"Dok, saya numpang tidur."
Dengan suara lesu Windy datang ke klinik, meminta ijin pada Juno yang sedang berjalan keluar dan berpapasan dengannya di pintu masuk.
"Win," kepala Windy yang menunduk mendongak melihat Juno, matanya tampak lelah, Windy ingin tidur, tapi dia tidak bisa sejak Ananta datang ke apartemennya terakhir kali. "Kamu terlihat sangat buruk."
"Saya tahu," jawabnya lemah. "Boleh minta obat tidur Dok? Satu saja."
Juno menghela napas, setiap Windy datang padanya pasti yang diminta adalah obat tidur.
"Mengkonsuminya terus menerus tidak baik Win, kamu harus menemukan cara lain untuk bisa tidur."
Windy terdiam, kepalanya menunduk. "Kalau begitu mati saja, jadi aku akan tertidur selamanya dan tidurku tidak akan terganggu lagi."
"Windy." Juno menegur Windy dengan tegas.
"Iya maaf Dok,"
Berjalan masuk menuju ruangan dan duduk di salah satu tempat tidur, Windy menggenggam pergelangan tangan kirinya sebelum mengambil ponsel dan menghubungi Koo.
"Ini, makanlah dulu."
Koo datang secepat kilat ke klinik dengan makanan yang dibawanya.
Windy makan, tapi seperti biasa tidak habis.
"Koo..."
"Hm?" Mata Koo menyiratkan kalau dia khawatir pada sepupunya, memberitahukan kalau dirinya ada untuk Windy.
"Aku sayang padamu." Ujar Windy sebagai ucapan terima kasih.
"Aku tahu." Koo menjawab penuh semangat dengan senyuman lebarnya yang secerah matahari, membuat Windy tidak bisa menolak pesona imut sepupu yang disayanginya.
"Bunny," Windy memanggil Koo dengan nama kesayangannya, membuat Koo waspada karena tahu apa yang akan dilakukan Windy, mata yang tiba-tiba tampak berkilau itu akan segera menyerangnya.
"Tidak mau..." Koo segera menghalangi Windy yang berusaha mendekat untuk menciumnya, bukan ciuman biasa, tapi Windy akan menghujani seluruh wajahnya dengan ciuman yang menurut Koo sangat kekanak-kanakkan.
"Kenapa tidak mau? Saat kecil kamu membiarkanku menciummu, sekarang kamu sangat pelit! Tidak membiarkanku tidur denganmu, bahkan menerima suapan dariku saja sudah jarang."
Windy merajuk, tapi masih tidak menyerah, dia mendekatkan wajahnya pada Koo yang terus menolak.
"Karena sekarang aku sudah besar."
"Justru karena kamu sudah besar aku memberikan kasih sayang lebih, tidak peduli apapun, kamu tetaplah adik kecilku, adik kecilku yang manja."
Koo mengerucutkan bibirnya sehingga Windy bertambah gemas.
"Biarkan aku menciummu, hm?" Windy membuat mata memohon yang tidak menggemaskan di mata Koo.
"Hm," Koo memberikan pipi kirinya untuk Windy cium.
Tersenyum senang, Windy yang duduk disamping Koo merangkulkan kedua tangannya di leher sepupunya agar pemuda imut itu tidak kabur, lalu menghujaninya dengan ciuman berkali-kali yang bukan hanya di pipi kiri yang dia serahkan tapi di seluruh wajahnya.
Mmuuaacch...
Mmuuaacchh...
Muuaacchh...
"Kak Win sudah hentikan, ini memalukan."
"Tapi aku suka, pipimu sangat lembut. Kalau kamu punya istri nanti, aku pasti akan sangat iri karena dia bisa menciummu kapan saja."
Koo memutar bola matanya, punya pacar saja belum sepupunya sudah membahas soal istri.
"Pipiku juga lembut, kalau kamu mau kamu juga bisa menciumnya setiap saat."
Koo dan Windy menoleh, mata Windy menyipit, berbeda dengan mata lebar Koo yang seperti melihat seorang pahlawan datang menolongnya.
"Kamu mau tidurkan? Biar aku temani."
Ananta mendekat ke samping kanan tempat tidur, melepas sepatunya dan tanpa ijin Windy dia membaringkan diri di ranjang yang sama dengan gadisnya.
"Apa-apaan?" Dengan kakinya Windy menendang kaki Ananta yang tidak berpengaruh.
Windy yang masih duduk dengan tangannya di lengan Koo ditarik oleh Ananta, membuatnya berbaring disisi Penganggu Busuk.
"Tidurlah, aku akan menemanimu." Dua tangan Ananta meraih tubuh Windy untuk lebih dekat. "Aku tidak akan berbuat apapun padamu, kamu tahu itu."
Ya, tentu Windy tahu, dan dia mulai memejamkan matanya, tangan kanannya bergerak untuk berada di dada kanan Ananta, merasakan detak jantugnya.
"Aku pergi dulu kalau begitu, selamat tidur." Koo tersenyum, matanya bertemu dengan mata Ananta seolah dia mengatakan 'biar aku yang menemaninya.'
Di ranjang yang dibantu Koo menutup dengan tirainya saat pergi agar tidak ada orang yang melihat, Ananta kembali mengalihkan perhatiannya pada Windy. Dia mendengar percakapan gadisnya dengan Dokter Juno, Ananta sudah mengikuti sejak Windy meninggalkan kelas, dia pikir gadisnya seperti biasa akan pergi berburu foto pria tampan dan mengira targetnya adalah Dokter Juno, tapi percakapan yang didengarnya membuat Ananta terdiam seribu bahasa.
Matanya menatap lekat wajah tertidur Windy, tidak tidur, menangis saat tidur, hanya sering makan roti.
"Kalau aku mengurusmu mulai sekarang, apa aku boleh melakukannya?"
Ananta bergumam pelan tidak berharap Windy mendengarnya, tangannya menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Windy, membelai pipinya, lalu matanya mengikuti tangan kanan Windy yang berada di atas dadanya. Seperti sebelumnya, kalau diperhatikan Windy suka meletakkan tangan atau kepala didadanya.
"Jantungmu berdegup kencang,"
"Hm, beginilah detak jantungku saat bersamamu."
"Apa jantungmu tidak lelah?"
Ananta tersenyum mengingat percakapan mereka tempo hari, mengenggam erat tangan Windy yang merasakan detak jantungnya.
TBC...