Waiting for a Rainbow

Waiting for a Rainbow
Tujuh - Pernyataan



Ananta : Ingat! Total hutangmu padaku ada LIMA!!


Windy mengacak rambutnya membaca pesan Ananta.


Ananta : Cara membayarnya mudah, cukup melakukan seperti yang sudah aku lakukan untukmu.


Windy berpikir keras, itu berarti seperti saat Ananta mengumpulkan tugas untuknya berarti dia harus membayar dengan cara mengumpulkan tugas untuk Ananta, begitukan?


Semuanya terlihat mudah, tapi tidak ketika Windy memikirkan dirinya juga harus menggendong Ananta untuk membayar hutang yang menggendongnya ke klinik.


"Yang benar saja!!"


Windy berguling-guling diatas kasurnya tidak terima, dirinya benar-benar dibodohi oleh Si Pengganggu Busuk.


Windy : Lalu apa yang aku dapatkan jika hutangku telah terbayar semuanya?


Ananta : Tentu saja berarti hutangmu lunas.


Windy : Tidak mau, aku tidak sepakat. Aku mau kamu berhenti menggangguku jika hutangku lunas, bagaimana?


Ananta : Baiklah.


Windy kembali membaca pesan Ananta, cepat sekali Tuan Muda itu membalas dan setuju dengan permintaannya? Tapi itu bagus, karena Ananta sepakat dengan mudah.


Di ruang makannya, Ananta tidak berhenti menyunggingkan senyum membaca pesannya dengan Windy, membuat Vera yang baru kembali sepulang kerja menatap anaknya ingin tahu.


"Bunda pulang..."


Ananta menyambut wanita yang melahirkannya dengan senyum lebar. "Bunda..." sang anak memanggilnya dengan manja, memeluknya dengan erat.


"Kamu terlihat senang," Setelah Ananta melepaskan pelukkannya, Vera mengambil nasi yang sudah terhidang di meja makan untuk Ananta.


"Ananta-kan lagi jatuh cinta bunda, jadi perasaan Ananta sekarang berbunga-bunga." Tuan Muda tidak menyembunyikan apa yang sedang dia rasakan, bundanya adalah tempat untuknya bercerita, dan Ananta tidak malu untuk mengungkapkan perasaannya.


"Dengan Si Gadis Gila yang kita temui di cafe waktu itu?" Ananta mengangguk.


"Dia bekerja di cafe sebagai pelayan, pulang pergi ke kampus menggunakan motor." Ananta menatap Vera yang sedang mengambil lauk didepannya, mencoba melihat ekspresi bundanya yang mungkin tidak menyetujuinya suka pada gadis biasa, bukan dari kalangan kaya raya, dengan ekspresi takut Ananta bertanya. "Euhm...bunda tidak marahkan? Dan dia tinggal di salah satu apartement kita." Dengan cepat Ananta menambahkan, dia tahu harga untuk tinggal di apartement mereka diatas rata-rata, sehingga Ananta berpikir mengatakan hal itu agar Vera tidak memandang rendah gadis yang dia suka.


"Bunda tidak marah selama dia gadis yang baik untuk anak bunda," Vera meletakkan piring yang berisi nasi dan lauk ke meja depan Ananta. "Dan bukankah berarti gadis itu hebat? Dia bekerja untuk biaya kuliah dan tempat tinggalnya sendiri, justru Bunda kagum."


"Sungguh?"


"Iya," Vera meyakinkan anaknya. "Sudah berapa lama kamu mengenalnya?"


"Beberapa bulan terakhir, Ananta tahu Windy sudah cukup lama, tapi Ananta baru mendekatinya sekarang."


"Jadi nama Gadis Gila itu Windy?"


"Hm, Windy Lusitanica, baguskan Bun?"


Vera mengangguk. "Nama yang menarik, Lusitanica."


Ananta mulai menceritakan pada Vera bagaimana dia mendekati Windy selama makan malam. Windy yang suka mengambil foto pria tampan tapi tidak memiliki fotonya, Windy yang tidak mengenalnya, yang suasana hatinya cepat berubah, gadis yang galak, yang suka bertingkah gila, juga julukkan Ananta yang diberikan Windy padanya 'Tuan Muda Manja Kaya Raya'.


Vera tersenyum geli, dia tidak menyangka anaknya melakukan hal-hal gila untuk menarik perhatian seorang gadis bernama Windy. Dimata Vera, Ananta adalah anak cukup manja  padanya yang selalu bersikap acuh tak acuh pada sekitarnya, yang jarang mengijinkan orang masuk ke dalam dunianya karena Ananta sadar dia memiliki tugas besar di masa depan untuk mengemban usaha yang akan diturunkan padanya sehingga dia belajar lebih keras dan memilih belajar dibanding bergaul dengan orang lain.


"Jadi apa yang membuat anak bunda menyukai Gadis Gila?"


Ananta mengangkat kedua bahunya. "Dimata Ananta Windy gadis yang menarik, Ananta memperhatikannya sejak lama dan Ananta ingin masuk kedunianya, Ananta ingin menemaninya melakukan hal-hal gila, Ananta suka saat melihat Windy mulai masuk kedunianya sendiri dan bertingkah aneh."


"Sepertinya anak bunda juga sudah ikut gila." Ananta mengerucutkan bibir.


"Bunda..."


"Lalu apa pekerjaan orang tuanya?"


Pertanyaan Vera membuat Ananta diam sejenak. "Tidak tahu, Ananta belum pernah menanyakan itu."


"Jadi dia tinggal sendirian di apartement?"


"Sepertinya begitu."


——


Di dalam kamar dengan pencahayaan dari redup, Windy meringkuk di atas tempat tidur. Tubuhnya bergerak ke kanan ke kiri, keningnya mengerut, butiran keringat mulai muncul dikeningnya, tangan satunya menggenggam sprei dan tangan lainnya menyentuh dadanya yang terasa sakit, air mata mulai keluar dari sudut matanya yang terpejam.


Terisak.


Windy mulai menangis.


Suara tangisannya menggema di dalam kamar, dalam tidurnya Windy menyadari dia menangis dikenyataan tapi dia tidak bisa membuka matanya, dia tidak bisa bangun dari mimpi buruknya dan masih terus menangis.


Plak!


(Suara tangisan)


Heuuuhheeuuuheeuuu...


Prang!


"Jangan dia! Aku mohon!"


Hheeuuhheeuuhheeuu...


Dada Windy terasa semakin sakit, Windy menjerit di dalam hati, dia ingin bangun dari mimpi yang menghantuinya.


Lelah, seperti itulah pagi harinya ketika Windy terbangun dari mimpi buruk. Tidak memiliki semangat pagi sambil mengusap seluruh wajahnya, menghapus sisa-sisa air mata yang mengering.


Windy memandangi pergelangan tangan kirinya yang selama ini di tutupi baju lengan panjang yang dikenakannya, ada bekas luka disana, bukan hanya sekedar luka fisik, tapi juga menggambarkan luka dihatinya.


——


"Kak Win, ayo makan! Ayo makan!"


Dengan mata bengkak dan mengantuknya Windy mendengar suara semangat dari Koo yang kelaparan, memintanya untuk makan siang bersama agar dirinya tidak hanya makan roti dan minum susu.


Sebenarnya Windy terlalu malas untuk makan, dirinya tak bersemangat sejak pagi, hanya ingin kembali ke apartemen untuk bermalas-malasan dan merebahkan diri. Tapi keceriaan Koo dan keimutannya membuatnya akhirnya menuruti sepupunya.


Koo mendongak, tersenyum secerah mentari pagi, sepupunya setuju untuk pergi makan. "Makan Kak Win," nada bercanda Koo membuat Windy tersenyum lemah, tapi dengan cepat Koo menjawab dengan serius. "Euhm...bagaimana kalau makanan Thailand?"


"Oke."


Windy setuju, keduanya menuju restoran Thailand tempat biasa mereka makan yang sudah lama tidak mereka kunjungi.


Dengan cepat Koo masuk lebih dulu, memilih meja paling tengah yang posisinya benar-benar ditengah restoran, meja paling beda diantara yang lain yang membuat Koo merasa seperti tamu VIP.


"Mau pesan apa?" Windy bertanya pada Koo dengan buku menu ditangannya.


"Tom Yam dan Gaeng Daeng." Koo menjawab tanpa melihat buku menunya.


"Khao Phad, lalu...Mango Sticky Rice." Windy menyerahkan buku menu pada pelayan perempuan disampingnya.


"Untuk minumnya?" Pelayan bertanya.


"Nom Yen dan Cha Yen." Jawab Windy, minuman yang selalu dia dan Koo pesan ketika di restoran Thailand.


Kebanyakan orang pasti sudah tahu masakkan Thailand bernama Tom Yum, sedangkan Gaeng Daeng adalah kari ayam merah, makanan ini memiliki rasa gurih dari santan kelapa, manisnya gula palem dan rasa asin dari saus ikan, tidak hanya berisi potongan ayam, tetapi di dalamnya ada juga potongan nanas dan potongan bambu muda.


Khao Phad adalah Nasi goreng khas Thailand yang terdiri dari nasi, telur, bawang putih, saus tiram, saus kecap, garam dan gula, dimasak dan disajikan bersama potongan timun, selada, potongan jeruk dan potongan tomat lalu biasanya ditambahkan dengan potongan ayam, potongan daging, kepiting atau udang.


Untuk Mango Sticky Rice terdiri dari ketan, santan dan potongan mangga kuning yang manis. Sedangkan Cha Yen adalah Thai Tea, dan Nom Yen adalah sirup salak berwarna merah muda dan susu yang disajikan dengan es batu, mirip seperti es kopyor.


"Habiskan," Koo mengatakan dengan ekspresi imut saat Windy tidak menghabiskan Khao Phad yang dipesannya.


"Tidak, sudah cukup." Windy menolak, menyilangkan sendok dan garpu diatas piringnya. "Liburan semester nanti aku akan pergi ke Bangkok, mau ikut?"


Koo mengerutkan kening sambil menghabiskan Khao Phad Windy. "Tidak, Kak Win hampir selalu pergi liburan ke Bangkok, apa tidak bosan?"


Tidak mungkin seorang Windy Lusitanica penggemar Boys Love akan bosan pergi ke negara tempat para aktor favoritnya berada. Sebagai Fujoshi, apalagi tujuannya kalau bukan menghadiri event, mengikuti fan meeting, dan mengabadikan setiap moment kapal-kapalnya, Windy bahkan sudah membeli kamera profesional baru untuk dibawa.


"Barang disana murah, bagaimana mungkin aku akan bosan." Dirinya tidak berbohong, hanya saja berbelanja bukan tujuan utamanya, kecuali membeli produk-produk yang menjadikan artis favoritnya sebagai brand ambassador.


"Kalau begitu belikan aku produk Lancome, Baby Bright, Hira Blue, idolo, mys-"


"Kenapa banyak sekali?"


"Aku hanya menyebutkan empat merk, apanya yang banyak? Bukannya Kak Windy bahkan memborong semua produk itu dan membagi-bagikannya? Dan sekarang punyaku habis, jadi aku minta Kak Windy untuk membelikannya."


Menghela napas, yang dikatakan Koo benar, bahkan tanpa sadar Windy membeli berbagai macam produk yang disebutkan Koo sebagai oleh-oleh dan memberikan ke karyawannya, termasuk Koo yang sangat menjaga kulitnya bahkan lebih dari dirinya, tidak heran kulit Koo sangat putih dan wajahnya sangat mulus, bukan seperti dirinya yang hanya memakai kadang-kadang itu pun kalau tidak malas.


"Hm...akan aku belikan, tenang saja, ayo, sudah hampir jam 2, aku ada kelas."


"Kak Win," panggilan Koo dengan nada seperti anak ****** menghentikan Windy yang sudah berdiri. "Es krim, hehe."


"Akan aku belikan di jalan, ayo!"


——


Ting!


Windy menerima notifikasi pemberitahuan dari akun media sosial yang diikutinya. Sebuah video singkat berdurasi lima belas detik memperlihatkan tiga pasangan boys love berjejer sambil bergaya dengan tatapan mengarah ke kamera yang membuat Windy tersipu, mereka terlihat sexy dengan tatapan yang mereka tunjukkan.


Kyaaaa!!


Senyum lebar menghias wajah, tangan kirinya menyentuh wajah dan matanya berbinar memandang ponsel, membuat tidak hanya Windy yang tersenyum, tapi juga seorang pemuda yang memperhatikan tanpa si gadis sadari.


Mereka ada di samping lapangan basket, sekarang. Tujuan Windy adalah datang adalah untuk menonton dan memotret Juan yang sedang bermain, sedangkan tujuan Ananta adalah menghampiri Windy yang mengabaikan pesan dan panggilannya dan baru menemukan gadis gila itu dilapangan basket yang sekarang sedang tersenyum sediri melihat layar ponselnya.


Lalu seperti biasa, ketika Windy sudah membuka media sosialnya, dia akan lupa pada sekitarnya dan terus mencari informasi terbaru mengenai pasangan boys love yang dia shipperkan, lupa kalau dia ada di tempat umum dan menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian orang lain karena tingkah anehnya.


Tidak ingin kelakuan orang yang disukainya dilihat banyak orang, Ananta yang sejak tadi berdiri beberapa meter dari Windy akhirnya menghampiri, memegang puncak kepalanya, membuat Windy mengalihkan perhatian.


"Kamu di lapangan basket, bukan di perpustakaan."


Kalimat Ananta menghentikan Windy dari aktivitas di dunia maya, dirinya melirik ke kanan dan ke kiri seperti orang yang baru sadar dari pingsan.


"Belum pulang?"


Karena sedang dalam suasana hati yang bagus, Windy menanggapi Ananta dengan santai, membiarkan pemuda yang sering menganggunya duduk disampingnya.


"Sebentar lagi." Windy menjawab sambil mengarahkan kamera ponselnya ke Juan yang sedang mengoper bola, kembali ke tujuan awalnya ke lapangan basket.


Dari sampingnya, Ananta dapat melihat ke arah mana Windy mengarahkan ponsel, keningnya mengerut. "Kamu mengambil foto Juan?"


Windy tidak terlihat kaget atau mencoba menyembunyikan dirinya yang sedang memotret, itu karena ujungnya Ananta akan tahu siapa pria-pria yang ada di ponselnya, Hantu Kampus itu selalu mengambil kesempatan untuk memeriksa galeri fotonya, jadi Windy bersikap tidak peduli lagi selain menyembunyikan kalau dirinya fujoshi, biarlah Ananta menganggapnya menyukai banyak pria di kampus. "Kamu mengenalnya?"


"Hm, dia temanku SMA." Ananta menjawab dengan wajah cemberut yang disembunyikan yang tidak disadari Windy.


Gadis gila ini bahkan mengenal dan mengambil foto Juan yang populer tapi tidak sepopuler dirinya, itu yang dia pikirkan.


Ananta merenung, apa dia terlalu menyembunyikan dirinya sehingga Windy tidak pernah melihatnya? Tapi memang begitulah dirinya, membatasi untuk berinteraksi dengan orang lain dan lebih cenderung menyendiri.


"Apa aku tidak cukup tampan untuk masuk ke dalam ponselmu? Apa aku tidak menarik?"


Tangan Windy berhenti menekan tombol bulat diponselnya, menoleh untuk menatap Ananta dengan suara lirihnya yang baru pertama kali Windy dengar.


"Apa maksudmu?" ekspresi Windy penuh tanda tanya.


"Kamu mengambil banyak foto pria, tapi kenapa tidak ada fotoku di galerimu? Bukankah aku tampan? Bukankah aku mempesona? Banyak gadis suka padaku tapi kenapa kamu tidak melihatku?"


Windy menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bagaimana cara menjelaskannya? Tidak mungkin dia menjawab 'karena aku belum menemukan pasangan pria yang cocok untukmu jadi aku belum bisa menjadi shipper dan mengambil momentmu dengan pasanganmu, dan itu membuatku tidak memiliki fotomu digaleriku'. Jelas sekali Windy tidak akan menjawab seperti itu, itu sama saja mengatakan pada seluruh mahasiswa di kampus kalau dirinya fujoshi yang menyukai konten gay, yang artinya sama dengan bunuh diri karena hal-hal seperti itu belum bisa diterima di negara ini, dirinya pasti akan dianggap gila karena mendukung hal seperti itu walau kenyataannya begitu.


Menghela napas tanpa tahu bagaimana cara menjelaskan, Windy menjawab dengan jujur. "Karena aku tidak menyukaimu."


Benarkan? Windy tidak menyukai Ananta seperti dirinya menyukai para kapalnya, jadi untuk apa mengambil foto Ananta walau dia tampan dan mempesona?


Ananta, dadanya seperti tertancap panah mendengar jawaban Windy, gadis itu menjawab seakan tidak peduli pada perasaannya yang jelas mengatakan sejak awal kalau dirinya tertarik pada gadis didepannya.


"Tapi aku menyukaimu."


Aku menyukaimu, aku mencintaimu, tapi kenapa kamu berkhianat?!


Kalimat Ananta yang tidak Windy duga membuatnya memasang wajah ngeri. Windy tidak suka, tidak suka dengan kalimat yang menyatakan kalau orang lain tertarik padanya, memiliki perasaan padanya, menyukainya, mencintainya, Windy tidak suka pernyataan itu ditujukan untuknya.