Waiting for a Rainbow

Waiting for a Rainbow
Tiga - Kecupan Maut



"Kak Win,"


Koo terus memanggil Windy berulang kali yang berjalan cepat di depannya.


"Kak Win tunggu..."


"Kak Windy...."


"Kak Win..." Koo berhasil meraih tangan Windy, menggenggamnya.


Windy berbalik, menundukkan wajah tanpa melihat Koo, menyandarkan kepalanya di pundak sepupunya.


"Kak Win,"


Tangan Koo yang menggenggam Windy digenggam balik lebih erat. Windy menarik napas berulang kali, matanya memperhatikan kaki yang rasanya ingin berlari menyembunyikan diri.


"Tadi pasti aku sangat mengerikan." Gumam Windy.


"Kak Win,"


Windy merasa frustasi karena dirinya sendiri. Dia menarik Koo lebih dekat untuk dipeluk, menenggelamkan wajahnya di dada Koo.


Ada sesuatu di dalam diri Windy, dia merasa dirinya aneh, tidak suka diusik, mudah marah, terkadang, mendengar pintu yang ditutup dengan keras saja membuat Windy ingin mengamuk, mendengar suara teriakkan pun Windy tidak suka, begitu banyak hal kecil lainnya yang Windy tidak suka, itu membuat Windy cukup frustasi.


Apalagi Ananta, pemuda yang sekarang sering muncul tiba-tiba dan menganggunya, Windy tidak suka, dia tahu sikapnya berlebihan dan selalu marah pada Ananta yang mencoba menggodanya untuk menarik perhatian, dan itu membuat Windy merasa buruk, Windy tidak ingin Ananta tertarik padanya, dan Windy juga tidak ingin Ananta sakit hati karena ucapan yang keluar dari mulutnya selalu kasar dan ketus.


Rasanya ingin menangis, sejak kemarin Windy diselimuti rasa bersalah pada Ananta, seharian ini pula dirinya mencari Ananta dimana pun di kampus tapi tidak menemukannya.


"Dasar Hantu!" Windy mengomel pada kantong plastik yang dibawanya, karena kemarin pemuda itu mengatakan suka rasa cokelat, maka Windy membelikan apapun yang rasanya cokelat sebagai permintaan maafnya untuk Ananta.


Windy sampai di tribun lapangan sepak bola tempat dirinya pertama kali bertemu Ananta, tapi nihil, Windy juga tidak menemukan Hantu Kampus itu disana.


Menghela napas, Windy mendudukkan dirinya, lelah, ternyata memang tidak mudah mencari Ananta kalau dia sendiri yang tidak menampakkan diri.


Mata Windy beralih melihat club sepak bola yang sedang melakukan pemanasan di pinggir lapangan, tidak tampak Kana diantara mereka, tapi ada Arya dengan seragam birunya. Lama Windy memperhatikan mereka, sampai entah apa yang membuat Arya berlari dengan cepat ke tempat yang Windy tidak bisa lihat.


Penasaran, jiwa fujoshi Windy membuatnya turun dari tribun dan mengikuti kemana Arya pergi, tapi Windy bergeming saat melihat Arya menarik Peter dengan posesif ke belakang stadion.


Apa kapalku akan menjadi kenyataan?


Pikiran Windy menggila, selama ini dia tidak pernah berharap kapal-kapalnya benar-benar berkencan, tapi kalau itu sungguhan, tentu Windy akan bersorak merayakannya seperti saat dia tahu Kana dan Evan benar-benar menjalin hubungan. Terkadang, Windy merasa bangga dengan insting fujoshinya yang luar biasa.


Apa yang Arya dan Peter perdebatkan Windy tidak dapat mendengarnya, dia menjaga jarak dari keduanya, bersembunyi dan hanya melihat, Windy tidak gila untuk memotret mereka seperti apa yang biasa ia lakukan, karena adegan seperti ini adalah masalah pribadi yang tidak akan Windy campuri.


Windy membekap mulutnya sendiri saat melihat Arya mengunci Peter dengan tubuhnya, jantungnya ikut berdetak kencang dan dadanya berdesir saat melihat Arya mulai mencium Peter yang awalnya kasar menjadi lembut.


Kyaaaaaa!!


Windy sudah gila, dirinya luar biasa senang tahu satu kapalnya lagi mulai berlayar alias benar-benar memiliki hubungan percintaan.


Tidak ingin menginterupsi, dengan wajah bahagia Windy berniat meninggalkan Arya dan Peter dengan dunia mereka sendiri, tapi betapa terkejutnya Windy saat dia berbalik ada sebuah badan besar dibelakangnya yang juga melihat apa yang Arya dan Peter lakukan.


Tangan Windy dengan cepat membekap mulut pemuda dibelakangnya, Ananta, yang mencoba memberontak karena perlakuan Windy membuatnya tidak bisa bernapas. Windy menyeretnya pergi menjauh dari apa yang sedang dilihat gadis itu.


"Jangan katakan pada siapapun apa yang kamu lihat." Ujar Windy setelah melepaskan tangannya dari mulut Ananta.


"Kenapa?"


"Ya...jangan! Lagi pula itu bukan urusanmu!"


Satu alis Ananta terangkat. "Kamu..."


Belum sempat Ananta menyelesaikan kalimatnya, Windy dengan cepat mengalihkan perhatian Ananta dengan menyerahkan kantong plastik yang sejak tadi pagi dibawanya.


"Ini!"


"Apa ini?"


Windy menundukkan kepala. "Permintaan maafku."


Kantong plastik ditangan Windy belum diambil Ananta, pemuda itu melangkah lebih dekat ke arah Windy sampai Windy berada diantara dirinya dan tembok.


"Aku ingin mencoba sesuatu denganmu, apa kali ini kamu juga akan marah?"


Ananta meletakkan tangan kirinya di samping sisi kanan kepala Windy. Gadis itu tidak melawan, seperti Windy tahu Ananta tidak akan melakukan hal buruk padanya.


Windy menatap mata cokelat Ananta, mata yang sedang menatapnya sekarang.


"Aku minta maaf untuk kemarin, wajahku pasti mengerikan dan perkataanku sangat buruk, tapi aku benar-benar tidak suka kamu melakukan hal seperti itu padaku."


Ananta menghela napas, dirinya kemarin memang sempat terkejut, tapi tidak masalah, dirinya yang membuat Windy marah.


Ananta mengambil kantong plastik dari tangan Windy untuknya. "Kalau aku meminta, apa kamu akan melakukannya?" Tanya Ananta sambil membuka cokelat pemberian Windy.


"Apa?"


"Bisa ambil ini dengan mulutmu?" Ananta mengambil potongan kecil cokelat dari tangannya lalu meletakkan diantara bibirnya untuk diambil Windy.


Mata datar Windy mengarah ke cokelat di bibir Ananta. "Tidak." Windy masih waras untuk tidak menuruti permintaan Ananta yang jelas tidak mausk akal.


Ananta tersenyum mengunyah cokelat di dalam mulutnya. "Seperti dugaanku." Ananta menjauhkan dirinya dari Windy. "Aku memaafkanmu, aku juga tidak akan memberitahu siapapun apa yang telah kamu dan aku lihat barusan. Aku juga minta maaf, tapi aku tidak akan berhenti mengganggumu, karena melihatmu adalah hal yang sangat menarik."


Cup!


Dengan cepat Ananta memberi kecupan di pipi kiri Windy.


"Ananta! Brengsek kau!" Windy mengumpat.


"Ucapkan sekali lagi dan aku akan menghajarmu dengan bibirku." Ananta menggigit bibirnya, berjalan menjauh sambil tersenyum puas menggoda Windy. "Terima kasih hadiahnya!"


Aarrrgghhhh!!


Suasana hati Windy yang tadinya senang karena melihat Arya dan Peter bersama sekarang menjadi kacau karena Ananta.


Windy menyesal merasa bersalah dan meminta maaf pada pemuda penganggu itu.


—-


Ananta : Kalau mencariku, kenapa tidak mengubungiku?


Pesan dari Ananta membuat Windy berpikir, bahkan dirinya lupa jika memiliki nomor Hantu Kampus itu.


Windy : ****!


Ananta : Aku tahu kamu mencariku seharian ini.


Windy : Brengsek!


Ananta : Berhentilah mengatakan kata cinta padaku.


Windy memasang ekspresi menjijikkan membaca pesan Ananta.


Windy : Sinting!


Di dalam kamarnya, Ananta terkekeh membaca isi chatnya dengan Windy. Bersiap untuk tidur, dia meletakkan ponselnya, tangannya beralih mengambil foto usang berbingkai yang dimilikinya sejak usia 10 tahun, foto yang tidak sengaja dia temukan dikamarnya, foto yang hampir selalu dipandanginya sebelum tidur.


—-


Ananta menyunggingkan senyum saat turun dari mobil melihat Windy yang tak jauh darinya sedang berlari, entah apa yang gadis itu lakukan, dia tidak memperhatikan sekitarnya dan hanya fokus pada apa yang dia lakukan. Ananta menduga Windy pasti sedang menjadi penguntit lagi hari ini.


Ananta berjalan dengan santai ke arah Windy berlari, mengabaikan beberapa pasang mata yang menatap kearahnya. Kata orang, dirinya memiliki pesona yang menarik perhatian selain karena wajah cool miliknya, juga senyumannya yang menurut banyak orang manis, walau begitu Ananta lebih senang memasang wajah tak acuhnya, itu membuatnya tidak perlu berinteraksi dengan banyak orang karena mereka akan takut lebih dulu untuk mendekatinya.


Tapi dengan Windy, Ananta harus menunjukkan sisi dirinya yang lain agar dapat dilihat oleh gadis gila itu, kalau tidak, Windy tidak akan melihat kearahnya atau mungkin menganggapnya tidak ada seperti julukan yang melekat pada dirinya, Hantu Kampus.


Entah kemana Windy pergi, Ananta mengedarkan pandangan, berhenti untuk memperhatikan sekitar, dia melihat Windy berdiri di tengah parkiran sepeda motor.


"Mau kemana?" Ananta mencengkram tangan Windy yang sedang mengeluarkan motor dari parkiran.


"Oh?!" Windy sedikit terkejut, tapi dirinya sedang terburu-buru. "Kembali ke apartemen, tugas kuliahku ketinggalan." Jawabnya cepat.


"Dengan ini?" Ananta mengarahkan matanya pada sepeda motor yang sekarang Windy naiki.


"Tentu saja!" Windy tidak peduli, kuliahnya 15 menit lagi dimulai dan Si Pengganggu Busuk ini menghalanginya.


"Aku antar dengan mobilku!" Ananta berkata cepat, menekan bahu Windy sebelum Windy mengegas sepeda motornya untuk pergi.


Windy berdecak, memutar bola matanya malas, Ananta sadar dirinya sebentar lagi akan membuat bom di depannya meledak sehingga dia mengambil keputusan tiba-tiba.


"Aku ikut!" Ananta mendudukkan dirinya di atas sepeda motor dibelakang Windy dengan perasaan aneh, ini kali pertama dirinya naik sepeda motor, tangannya berpegangan pada Windy, memeluk pinggang gadis di depannya dengan erat yang sekarang melajukan motornya dengan kencang.


"Win, pelan-pelan!"


Peringatan Ananta bagi Windy seperti angin yang tidak dipedulikan, butuh lima menit menuju apartemennya dengan sepeda motor, butuh lima menit Windy bolak-balik dari parkiran apartemennya menuju kamarnya, dan butuh lima menit untuk dirinya kembali sampai ke kampus. Tidak ada waktu, Windy menyalip semua kendaraan di depannya, meninggalkan Ananta yang diam menunggunya di parkiran apartemen, dan meninggalkan Ananta begitu dia memarkirkan motornya kembali di kampus.


Ananta menggelengkan kepalanya melihat Windy berlari meninggalkannya, Windy memang sudah gila, bagaimana mungkin gadis itu mengendarai sepeda motor dengan liar sampai membuat Ananta memejamkan mata dan memeluknya dari belakang dengan erat.


"Nan," tepukkan dibahu kanannya membuat Ananta menengok. "Sehat?"


Ananta memiringkan memegang kepalanya. "Kepalaku pusing."


Juan disampingnya terkekeh. "Aku juga biasa mengendarai motor dengan cepat, tapi gadis yang memboncengmu barusan aku akui dia lebih cepat."


Ananta setuju, dia sering melihat Juan saat SMA melaju kencang dengan sepeda motor kesayangannya.


"Tapi...siapa dia?" Juan bertanya karena dia penasaran. Ananta tidak pernah mau menerima tawarannya untuk duduk di atas sepeda motornya, tapi dengan gadis yang dilihatnya barusan, Ananta mau melakukannya.


"Gadis gila."


Juan tersenyum menggoda. "Pasti gadis gila yang membuatmu ikut gila, benarkan? Aku melihat fotomu dengannya di Facebook, benar-benar mencengangkan dia bisa membuatmu menampakkan diri."


—-


Windy menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sepupunya baru saja mengirimkan link agar Windy membuka internet dan tampaklah foto dirinya membonceng Ananta yang memeluknya dengan erat.


Aku pasti sudah gila!


Windy mengutuk dirinya sendiri memandangi foto dilayar ponselnya, otaknya pasti sudah terkubur dalam-dalam dibawah tanah karena sampai membiarkan Ananta memeluknya.


Ini semua karena tugas sialan yang ketinggalan!


Umpat Windy kesal setengah mati di dalam hati. Kalau tidak terburu-buru karena tugasnya yang tertinggal, dia pasti masih bisa berpikir dengan akal sehat untuk menendang Ananta dari atas motornya.


Ting!


Ananta : Sudah melihat foto kita?


Windy : Ya, kamu memegangiku dengan sangat erat, Tuan Muda.


Ananta : Kalau ingin mendapat pelukkan lagi katakan padaku, aku tidak akan sungkan.


Windy memutar bola matanya malas.


Ananta : Ah ya, temui aku di lapangan sepak bola, sekarang.


Windy : Tidak mau! Malas!


Ananta : Aku melihat pria yang kamu sukai ada disini sekarang.


Tanpa membalas, Windy segera berjalan cepat menuju lapangan sepak bola, Ananta benar, Evan dan Kana ada disana.


Teriknya sinar matahari tidak membuat Kana ingin berteduh, pemuda dengan kulit kecoklatan itu hari ini sedang melatih para juniornya di club bola, ada Arya juga, kalau begitu dia pasti akan melihat Peter datang.


Senyum di wajah Windy tidak bisa disembunyikan, dua kapalnya sudah berlayar dan itu membuat hati Windy berbunga saat memandangi mereka.


Gemas gemas gemas!


Windy tersipu saat melihat Kana dari pinggir lapangan melemparkan senyum pada Evan di tribun, apalagi setelah itu dia dihajar dengan pemandangan Peter yang datang dan melambaikan tangannya pada Arya.


Ananta yang berjalan dibelakang Windy tersenyum tipis menghampiri gadis itu sambil menggelengkan kepala, duduk disebelah Windy tanpa Windy sadari, lalu berbisik ditelinganya.


"Tumben kamu tidak memfoto mere-"


Ananta tidak dapat melanjutkan ucapannya, matanya mengerjap karena tiba-tiba Windy begitu dekat di depan matanya dengan bibir mereka yang saling bersentuhan.


Windy bergeming.


Ananta bergeming.


Hanya dua detik tapi otak keduanya seperti berhenti berjalan. Ananta yang otaknya lebih dulu berfungsi memahami situasi, dia mengambil kesempatan dengan menyapukan lidahnya di atas bibir Windy.


Manis.


"Ananta!" Suara teriakkan Windy seperti hampir terdengar ke seluruh stadion, baik yang berada di lapangan atau di tribun sebelah mereka menoleh pada Ananta dan Windy.


"********! Brengsek! *******!" Windy berdiri mengeluarkan semua umpatan yang dia tahu. Seluruh darahnya naik ke atas kepala, Windy siap meledak.


Krep!


Mata Windy terbelalak, tangannya mengepal, Ananta menggigit bibir bawahnya, sakit.


"Aku tidak suka mendengarmu mengumpat." Ananta menggeram pelan di depan bibir Windy.


Dada Windy naik turun menahan emosi. Tidak, bukan karena Ananta, tapi karena kata yang keluar dari mulutnya sendiri.


Kepala Windy tiba-tiba terasa pusing, satu tangannya memegang dada, jantungnya berdetak kencang dan terasa sakit secara bersamaan seolah ditusuk seribu pisau. Air mata mulai turun membasahi pipinya, gadis itu menangis, sesegukkan sampai tidak bisa bernapas, tangannya mencengkram baju Ananta erat, menjerit dalam hati meminta pertolongan tapi tidak ada kata yang keluar dari mulutnya.


Lalu Windy...


Pingsan.