Waiting for a Rainbow

Waiting for a Rainbow
Duabelas - About Her



Maafkan jika semakin kesini cerita ini semakin aneh.


——


Entah berapa lama dirinya tertidur, tapi Windy belum ingin membuka matanya, tangannya masih berada ditempat yang sama, di dada Ananta.


Terlebih...saat ini dia merasakan sesuatu mengusap wajahnya berulang kali dengan napas yang dapat dirasakan dipermukaan kulitnya.


Hidung Ananta.


Bukan hanya kali ini, tapi terkadang Windy juga merasakan ditidur-tidur sebelumnya ada seseorang yang menciumnya berulang kali. Hanya saja...kali ini dirinya lebih ingin memastikan karena kali ini kesadarannya lebih penuh dari sebelumnya.


Beraninya mencuri kesempatan dalam kesempitan.


Tapi pikiran Windy seolah berhenti, satu kalimat yang didengarnya dari Ananta membuat dadanya terasa menyesakkan, kemudian jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat.


"Aku berharap kamu tidak menangis lagi."


Lalu usapan lembut terasa dipipinya.


——


Ananta sadar dirinya diperhatikan Windy sejak tadi, tapi tak ada kata yang keluar dari bibir gadisnya begitu juga dengan dirinya.


Perut Windy rasanya seperti melilit, jantungnya juga masih berdegup kencang, entah kenapa satu kalimat yang didengarnya dari Ananta tadi membuat perasaannya kacau balau.


"Katakan," pada akhirnya Ananta merasa gemas karena Windy tidak juga mengutarakan apa yang ada dipikirannya.


"Apa?" Windy berpura-pura bodoh.


Yang tadinya duduk di depan Windy, Ananta menutup bukunya, bergerak untuk duduk disamping Windy, duduk sangat dekat yang membuat Windy terpojok dipinggir sofa ditempat persembunyiannya.


Kedua tangannya menahan bahu Ananta karena wajahnya semakin mendekat, tapi kemudian tangannya dibahu Ananta diraih pemuda itu dan dilingkarkan dilehernya.


Windy...tubuhnya terasa kaku seperti tidak bisa menolak karena Ananta menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam yang baru pertama dia lihat, senyum tipis juga menghiasi bibirnya yang sering beradu mulut dengan Windy.


Cup.


Satu kecupan lembut dirasakan dipipinya, Ananta melakukannya dengan sangat lembut, bukan seperti Ananta ingin menggodanya, tapi seperti menyampaikan rasa sayang pada dirinya dan perlakuannya barusan cukup untuk membuat Windy merasa tiba-tiba merinding di dekat pemuda yang baru saja menciumnya.


"Aku ingin lebih mengenalmu, boleh?" Tanya Ananta, suaranya lembut. "Biarkan aku menjadi orang yang bebannya kamu bagi. Aku sedih melihat gadis yang aku suka memikul bebannya sendiri, aku tidak ingin kamu menangis di setiap tidurmu, tapi aku akan siap menjadi orang pertama yang menghapus air matamu."


Ananta serius, tatapannya mengunci Windy agar melihat kesungguhan darinya. Tapi Windy, gadis itu malah menyunggingkan senyum aneh. Pemuda di depannya adalah orang aneh menurutnya, yang tahu cintanya tidak akan terbalas, tapi masih saja ingin berada disisinya dan membantunya, Penganggu Busuk ini belum juga menyerah.


"Oke."


Windy setuju, hanya satu kata yang keluar dari bibirnya dan itu sudah membuat Ananta sangat senang, gadisnya membuka diri untuknya.


"Minggirlah!"


Windy mendorong tubuh Ananta yang masih dekat dengannya untuk menyingkir.


"Tetap saja galak," Ananta mencibir tapi dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya dan Windy hanya mendegus.


——


Berjalan di samping Ananta, baru kali ini Windy benar-benar memperhatikan Hantu Kampus disebelahnya.


"Apa kamu harus memasang wajah seperti itu?"


"Wajah seperti apa?" Saat menoleh ke gadis disebelahnya wajahnya segera berubah, membuat Windy mengerutkan kening.


"Wajah seperti tidak ingin didekati orang lain."


"Oh...tapi untukmu aku tidak akan memasang ekspresi itu." Sudut bibir Ananta melengkung ke atas menunjukkan senyumnya pada Windy.


"Pasti ada alasan kamu memasang wajah seperti itu."


"Hm, aku tidak begitu suka orang-orang mendekatiku karena sesuatu."


"Apa itu?"


Ananta menyunggingkan senyum, dia suka Windy ingin tahu tentangnya.


"Hmm...itu seperti mengambil keuntungan dariku."


Windy mengangguk, masuk akal, Hantu Kampus disebelahnya ini orang kaya. "Bagaimana jika aku juga mengambil keuntungan darimu?"


Tangan kirinya merangkul leher Windy. "Bukannya sudah? Aku menuruti dengan datang ke cafe setiap akhir pekan."


"Itu tidak masuk hitungan. Bagaimana kalau nanti aku ingin tas mewah, baju mahal, dan pergi ke luar negeri?"


"Tentu, kamu hanya perlu menjadi nyonya muda dirumahku."


Windy memutar bola mata, mengalihkan pandangan karena Ananta menatapnya begitu dekat.


"Menjauhlah! Aku mengijinkanmu untuk lebih mengenalku, bukan menjadi kekasihku! Jadi jangan dekat-dekat!"


"Ck, pelit!"


Ananta melepaskan tangan kirinya dari leher Windy dengan bibir cemberut yang sekarang dengan jelas dia tunjukkan di depan umum, tapi Windy tidak peduli, mata gadis itu melihat pada sosok beberapa meter di depannya yang sedang berjalan dengan cepat, membuat jiwa fujoshi Windy penasaran dan mengikutinya, mengikuti Triyan.


"Mau kemana?"


"Bukan urusanmu!"


Jawaban Windy yang masih sama membuat Ananta menghela napas, tapi melihat dari gelagatnya sepertinya Ananta tahu, jiwa penguntit Windy sedang kambuh.


Di kantin Fakuktas Teknik yang ramai, Windy mengikuti Triyan yang berjalan menghampiri teman-temannya di salah satu meja. Tentu saja, gadis itu berharap mendapatkan moment Triyan-Niel yang akan menambah koleksi foto simpanannya.


Tapi...


Buk!


Triyan yang tiba dimeja teman-temannya berada segera mengambil kerah Niel dan langsung melayangkan tinju di wajah temannya itu.


"Kenapa kamu memukulnya?!" Satu teman wanitanya berteriak pada Triyan yang tak digubris, emosi terlihat dari wajah pria tampan itu, sedangkan yang menerima pukulan terjatuh dan terdiam bingung.


"Kamu ********! Brengsek! *******! Apa lagi yang mau kamu sembunyikan hah?!" Triyan kembali menarik kerah baju Niel untuk berdiri dan kembali dihajarnya.


"********! Brengsek! *******! Apa lagi yang mau kamu sembunyikan hah?!"


Windy yang berdiri tak jauh dari mereka menjatuhkan ponsel karena tangannya gemetar, apa yang dilihat didepan matanya sekarang membuat matanya terasa panas, kepalanya pusing, degup jantungnya berdentum tak karuan membuat dadanya sakit.


Prang!


Ananta yang baru sampai melihat kekacauan di  kantin Fakultas Teknik hanya menggelengkan kepala, tapi tidak saat dia melihat gadisnya terduduk dan menangis beberapa meter di belakang orang-orang yang berkumpul melihat kekacauan yang terjadi.


"Windy!"


Ananta menghampiri Windy segera, melihat keadaan Windy dengan segala ingatan yang dia punya, dia pernah melihat Windy seperti ini sebelumnya di lapangan sepak bola waktu itu.


"Kita pulang, kita pulang, oke?"


Ananta berusaha menenangkan, wajah Windy tampak pucat, air mata yang membasahi hampir diseluruh wajah Windy segera Ananta hapus dengan kedua tangan.


"Kamu akan baik-baik saja, semua akan baik-baik saja. Aku disini."


Ananta tidak tahu kenapa Windy seperti ini, begitu juga saat dilapangan sepak bola, tapi yang bisa dilakukannya sekarang adalah menenangkan gadisnya dan membawanya pulang, Ananta khawatir Windy akan pingsan seperti waktu itu.


Begitu sampai di apartement, Windy langsung meringkukkan dirinya di sofa dan Ananta menyelimuti dengan selimut yang sempat digunakannya waktu itu yang tergeletak di ujung sofa. Dirinya duduk di karpet, mengelus kepala Windy dengan tangan kanannya karena tangan kirinya tiba-tiba dipegang erat oleh gadis itu.


"Tetaplah bersamaku." Gumamnya pelan meminta Ananta untuk tidak pergi kemana pun.


"Aku disini, tidak pergi kemana pun." Dan mata Windy mulai terpejam selagi Ananta masih terus membelai rambutnya, Tapi kemudian tangannya mengambil ponsel, menghubungi Koo untuk memberi tahu keadaan sepupunya, Ananta berharap pemuda itu tahu kenapa Windy bisa seperti ini..


——


"Hiperventilasi,"


Koo menyebutkan satu kata yang baru Ananta dengar, itu adalah suatu keadaan yang terkadang muncul dari reaksi panik, stres, atau fobia dimana seseorang merasa mengalamai suatu keadaan emosional tertentu seperti cemas, depresi, atau marah, dan terkadang hiperventilasi dapat membuat pingsan orang yang sedang mengalaminya.


Untuk Windy sendiri, terkadang dia mengalami hiperventilasi ketika tiba-tiba ingatan dari masa lalunya muncul yang menyebabkan rasa sakit didadanya. Koo dulu pernah melihat saat Windy mengalami hiperventilasi, bahkan dulu lebih parah karena rasa tertekan Windy yang luar biasa hingga membuatnya depresi. Rasa sakit yang ditinggalkan orangtuanya membuat Windy menyayat pergelangan tangannya sendiri, dan itu adalah ingatan menyakitkan Koo saat melihat sepupunya yang sekarang dia ceritakan pada Ananta karena cerita itu tidak akan pernah keluar dari mulut Windy sendiri, termasuk kematian orang tuanya dan Windy yang sulit menerima perasaan orang lain untuknya.


Helaan napas panjang dengan segala rasa iba dan kekhawatiran menjadi satu di benak Ananta saat ini.


"Kak Windy juga tidak suka dengan suata benda yang pecah, suara teriakkan, letusan, orang marah-marah, hal-hal seperti itu, atau mungkin kalimat-kalimat yang pernah dia dengar sewaktu orang tuanya bertengkar saat dia kecil, banyak hal sebenarnya yang dia tidak suka. Tapi yang paling aku khawatirkan..." Koo membasahi bibirnya sebelum melanjutkan. "Kak Windy yang mencoba bunuh diri lagi."


Koo meraih pergelangan tangan kiri Windy, membuka lengan panjang yang digunakan sepupunya sedikit dan menunjukkan pada Ananta luka bekas sayatan yang pernah Windy buat.


Di satu sisi Ananta menyadari kalau Windy tidak pernah mengenakan pakaian lengan pendek, tidak suka saat mendengar pernyataan cinta darinya, gadisnya yang terjaga dan tidak tidur, air mata yang keluar saat dia tidur, kalimat yang diucapkan dari mulutnya saat berbicara dengan Dokter Juno, juga...sepinya apartemen karena dia tinggal seorang diri.


Seberapa banyak kamu menderita?


Ananya bertanya-tanya dalam benaknya, tanpa sadar dari sudut matanya dia mengeluarkan air mata, yang dilakukannya selama ini adalah menambah beban yang Windy alami, pantas Windy mengatakan hanya karena dia ada disekitarnya saja sudah membuat Windy merasa pusing.


"Maafkan aku."


Ananta mengecup tangan Windy tepat di bekas luka gadis itu, dia lebih ingin menjaga gadisnya dari rasa sakit, ingin agar Windy berbagi dengannya, ingin melakukan apapun yang gadisnya minta kecuali berpisah dengannya, Ananta akan melakukan apapun, apapun. Dan sekali lagi, Ananta kembali melihat air mata keluar dari sudut mata Windy yang segera dihapusnya.


"Koo..."


Windy bergumam saat membuka matanya sedikit yang dia lihat adalah sepupunya yang duduk di lantai melihat kearahnya.


"Hm...?"


Koo menjawab dengan gumaman dan tersenyum, dia bertindak seperti biasa tidak ingin membuat Windy khawatir walau sebenarnya sepupunya itu selalu membuatnya khawatir terlebih saat tidak mau makan.


Saat matanya terbuka lebih lebar, Windy mendorong kepalanya ke belakang karena terkejut Ananta berada disampingnya dengan jarak dekat.


"Baik-baik saja?"


Pertanyaan Ananta membuat Windy kembali mengingat, walau dirinya tidak pingsan, tapi ingatannya setelah tidur dia coba kumpulkan lagi.


"Hm." Windy bergumam menjawab, dia mendudukkan diri dan menarik Koo untuk duduk disebelahnya, menyandarkan kepalanya selagi mengumpulkan kesadaran sepenuhnya dengan memeluk pinggang ramping Koo yang terkadang membuatnya iri.


Ananta, dia ikut duduk disamping Windy satunya lalu memeluk gadis itu yang tidak di protes, mungkin karena gadisnya merasa lelah setelah hiperventilasinya kambuh.


"Aku akan ambilkan makanan,"


Saat Koo mencoba beranjak melepaskan diri dari Windy, Windy menahannya.


"Sebentar lagi, aku mohon, setelah itu aku akan makan." Windy membujuk yang disetujui Koo.


"Manja," Koo berdesis mencibir.


"Kamu dulu bahkan lebih manja." Windy mendebat.


Windy beralih bersandar pada Ananta saat Koo bangun menuju dapur menyiapkan makan untuk mereka, bukan masak tentunya karena Koo mengambil persediaan makanan yang dia bawa tempo hari.


Pelukkan erat dan kecupan dikeningnya Windy rasakan dan hanya membiarkannya. Lalu seperti biasa satu tangannya bertengger di dada kiri Ananta agar dia dapat merasakan detak jantung Tuan Muda Manja Kaya Raya itu. Ananta pasti khawatir saat melihat dirinya seperti itu lagi untuk kedua kalinya.


"Maaf, aku pasti membuatmu terkejut tadi."


"Hm, setidaknya kamu tidak pingsan seperti waktu itu."


"Apa Koo menceritakannya padamu?"


"Sedikit."


Windy diam, kata sedikit yang dimaksud pasti banyak karena tangan kiri Ananta mengelus pergelangan tangan kirinya dari balik lengan panjang yang menutupi bekas lukanya. Windy tidak marah karena dia sudah mengijinkan Ananta untuk lebih mengenalnya, hanya menghela napas sedikit karena Ananta tahu mengenai dirinya sekarang.


Tubuh pemuda yang dipeluknya bergerak, tangan Ananta meraih kedua pipi Windy agar gadisnya mendongak menatapnya, membuat Windy bingung.


"Apa?" Windy bertanya, dan jawaban yang diterimanya adalah belaian lembut di kedua pipinya dan kecupan di kedua matanya yang terpejam saat wajah Ananta mendekatinya.


"Biarkan aku menjadi orang yang bebannya kamu bagi. Aku sedih melihat gadis yang aku suka memikul bebannya sendiri, aku tidak ingin kamu menangis di setiap tidurmu, tapi aku akan siap menjadi orang pertama yang menghapus air matamu."


Kata-kata Ananta terngiang di kepala Windy saat Ananta menjauhkan wajahnya membuat mata mereka bertemu dan saling menatap. Ananta tersenyum lembut, begitu juga tatapan yang diberikan untuknya.


"Ekhem!"


Koo dengan santainya sengaja menginterupsi, dia meletakkan tiga piring sekaligus di meja lalu meminta Ananta untuk mengambilkan minum yang sudah dia siapkan dan Ananta melakukannya.


Windy baru akan menyendokkan makanan ke dalam mulutnya, tapi ingatan yang tiba-tina muncul menghentikannya dan membuatnya berteriak.


"Kapalku!"


Dia teringat dengan Triyan dengan wajah marahnya memukul Niel di kantin Fakultas Teknik, dan hal itu cukup membuatnya gelisah karena ingin tahu keadaan kapalnya.


"Kapal? Kapal apa?"


Koo mengerutkan kening tidak mengerti maksud sepupunya yang tiba-tiba berteriak tentang kapal. Koo dan Ananta saling memandang, tapi tidak dengan Windy yang meletakkan piringnya lalu bingung mencari ponsel karena seingatnya dia sempat mengambil gambar sebelum dirinya kambuh.


"Kak Win makan dulu!!!"


TBC...