Waiting for a Rainbow

Waiting for a Rainbow
Satu - ‘Hantu Kampus’ I



Yang menakutkan di dunia ini bukan tersesat di dalam hutan, bukan gelapnya malam, bukan terjebak hujan, bukan tersambar petir, bukan digigit serangga, dan juga bukan hantu. Bagi gadis bernama Windy, yang paling menakutkan di dunia adalah...


Dirinya sendiri.


.


.


.


Universitas M.


Windy baru saja menyelesaikan kelas ketiganya hari ini, dia segera berlari menuju lapangan sepak bola untuk melihat dua orang yang dia suka sebelum masuk ke kelas keempatnya.


Evan dan Kana. Kucing dan Serigala, begitulah Windy memberi julukkan pada dua pemuda tampan dalam pandangannya sekarang.


Kana sedang menggiring bola di lapangan menggunakan seragam bola warna merahnya, sedangkan Evan duduk di tribun penonton menyaksikan sekaligus menunggu Kana.


Windy? Gadis itu duduk di tribun dengan jarak yang cukup untuk membidikkan kamera ponselnya ke arah Evan dan Kana. Begitu banyak foto yang dia ambil, dari Kana yang selesai bermain bola menghampiri Evan, saat Evan memberikan minum pada Kana, saat keduanya saling bertatapan, tersenyum, apapun yang sedang dilakukan Evan dan Kana Windy sangat antusias, sudah satu tahun ini Windy memperhatikan Si Kucing dan Si Serigala, selama satu tahun itu pula dirinya menggila, karena Windy adalah shipper.


Tidak hanya Evan dan Kana, Windy juga memiliki shipping lain di kampus, ada beberapa, tapi pasangan yang paling manis diantara mereka semua menurutnya adalah Evan dan Kana.


Kalau menurut versi Windy, pasangan paling lembut menurutnya adalah Dirra dan Nato, pasangan posesif adalah Arya dan Peter, pasangan menggemaskan ada Wino dan Thio, pasangan paling sering bertengkar Triyan dan Niel, dan pasangan yang terus menempel Juan dan Ginan.


Windy adalah penggemar Boys Love, selama satu tahun ini dia memperhatikan banyak mahasiswa di kampus, menemukan yang bisa dia shipping-kan sampai terbentuklah beberapa versi pasangan menurutnya.


Hap!


Windy panik tiba-tiba ponsel ditangannya diambil, dirinya mencoba meraih dan melompat menggapai ponselnya yang diangkat tinggi.


"Kembalikan!"


"Tidak sopan menggambil foto orang lain tanpa ijin."


Windy berkacak pinggang. "Kamu juga tidak sopan mengambil ponsel orang lain, itu namanya pencuri."


Pemuda didepannya menyeringai. "Sadar atau tidak, kamu pun seorang pencuri." Ujarnya kemudian mengembalikan ponsel Windy.


"Bukan urusanmu!"


Windy pergi meninggalkan lapangan sepak bola dengan perasaan kesal sambil menggosok ponselnya, menghilangkan jejak-jejak tangan kotor yang berani menyentuh ponsel berharganya. Siapa pun pemuda itu, Windy tidak suka karena dia menganggunya.


"Kamu menyukai mereka berdua?" Pemuda tadi berjalan di samping Windy, mengikutinya.


Kening Windy mengerut, kenapa dengan tidak sopan pemuda disampingnya menanyakan hal seperti itu pada orang yang baru pertama kali ditemuinya.


"Bukan urusanmu!"


Windy berjalan dengan cepat, tujuannya setelah ini adalah kantin Fakultas Teknik tempat Triyan dan Niel, dan Windy tidak ingin membuang-buang waktunya untuk pemuda yang tidak dia kenal.


Sampai di kantin Fakultas Teknik, Windy mengedarkan pandangannya, hampir seluruh meja di kantin itu adalah laki-laki, tapi dengan cepat Windy mengenali Triyan dan Niel dari belakang yang sedang duduk bersama teman-temannya.


"Penguntit."


Gumaman itu menghilangkan senyum Windy yang diam-diam mengambil foto Triyan dan Niel.


"Sadar atau tidak, kamu pun seorang penguntit." Windy membalas ucapan pemuda disebelahnya.


"Kamu juga menyukai mereka berdua?" Si pemuda mengikuti arah pandang Windy.


"Bukan urusanmu!"


"Ada berapa banyak foto pria di ponselmu?"


"Bukan urusanmu!"


"Apa kamu dibayar untuk melakukan ini?"


"Bukan urusanmu!"


"Atau mungkin kamu mengidap kelainan jiwa?"


Brak!


Windy menggebrak meja, hampir semua orang di kantin menoleh ke arahnya termasuk Triyan dan Niel.


"Aku bilang bukan urusanmu! Berhentilah mengikutiku!" Suaranya bergetar, Windy tidak ingin marah, tapi dirinya juga tidak suka diusik.


Dengan suasana hati yang buruk Windy kembali ke fakultasnya, dia menuju kantin membeli sekotak susu dan sebungkus roti yang di makan dengan cepat. Dalam perjalanan ke kelas, Windy terdiam, ucapan pemuda itu memang keterlaluan mengatakan kalau dirinya kelainan jiwa, tapi juga tidak seharusnya Windy berteriak, pemuda itu hanya penasaran karena sikap anehnya.


Memang aku yang aneh.


Tidak hanya aneh, mungkin lebih tepatnya Windy sudah gila sejak menjadi Fujoshi (sebutan seorang wanita yang menyukai konten gay). Itulah sebabnya Windy tidak pernah bercerita pada siapa pun kalau dia penggemar Boys Love dan terlihat aneh karena sering mengambil foto-foto mahasiswa yang dia shipping-kan.


"Kak Windy!" Panggilan manja terdengar memanggil. Pemuda berkulit putih berwajah cantik berbibir merah muda berlari menggemaskan menghampiri Windy, kedua tangannya dia lingkarkan dilengan kanan Windy.


"My Bunny..." Windy mengelus puncak kepala sepupu imutnya bernama Koo yang lebih tinggi darinya, tingkahnya manja dan kekanakkan seperti anak kecil karena dia anak tunggal, tapi Koo hanya menunjukkan sikap seperti itu pada keluarga besarnya termasuk Windy.


"Kak Win masih ada kelas lagi?"


"Hm, sekitar 15 menit lagi, kenapa?"


Koo mengeluarkan ponsel dari saku celananya. "Lihat ini," Koo menunjukkan sebuah foto di laman facebook yang diikutinya, di beranda itu memperlihatkan Windy sedang berusaha mengambil ponselnya yang diangkat tinggi oleh pemuda di depannya.


Windy menghela napas.


"Berkat Kak Windy hari ini kami semua dapat melihat Si Hantu Kampus."


Kalimat Koo tidak dapat di mengerti Windy. "Hantu kampus? Apa maksudnya? Dia hantu yang tidak sengaja terpotret kamera ponsel, begitu?" Windy bertanya dengan wajah polos, dia jadi beranggapan bahwa dirinya dapat melihat hantu.


"Bukan, laki-laki ini namanya Ananta, mahasiswa tahun ketiga yang sering dibicarakan karena pesonanya, tapi dia sangat jarang terlihat."


Windy mengerutkan kening, dia tidak tertarik dengan apa yang Koo bicarakan. Jika pemuda pengganggu itu jarang terlihat, tapi pasti dia dapat ditemukan di ruang kelas, perpustakaan, di toilet, atau ditempat lain.


"Sungguh, dan Kak Ananta itu incaran para gadis, coba lihat bagaimana cara matanya memandang, cara dia berbicara, ekspresinya, Kak Windy pasti akan jatuh cinta."


Windy memutar bola mata, baginya pemuda itu adalah pengganggu yang tidak ingin ditemuinya lagi, bagus kalau dia tidak pernah terlihat, karena bagi Windy pun baru hari ini dia melihat pemuda itu.


Cukup sekali dan tetaplah jadi Hantu Kampus yang tak terlihat.


"Kak Win," Koo memanggil Windy dengan gumaman, mata sepupunya itu seperti terhipnotis melihat sesuatu di belakang Windy yang membuat Windy menoleh.


Harapan Windy musnah, pemuda tadi kembali muncul dihadapannya.


"Apa?" Windy bertanya dengan nada malas.


"Milikmu?" Ananta menunjukkan flash drive ditangan kanannya, flash drive dengan gantungan stroberi milik Windy.


"Punyaku!"


Untuk kedua kalinya hari ini Windy mencoba meraih barang miliknya di tangan Ananta. Koo yang berdiri di belakang mereka diam-diam mengabadikan momen Windy dan Ananta dengan kamera ponselnya.


"Kembalikan!" Ananta mengangkat tangannya lebih tinggi.


"Apa begitu caramu meminta barangmu kembali?"


Windy mendengus. "Lalu bagaimana?"


"Jawab pertanyaanku."


Windy bersedekap. "Kalau pertanyaanmu sama dengan yang tadi, aku tidak mau jawab, jadi cepatlah, kelasku sebentar lagi dimulai."


"Siapa namamu?"


"Windy."


"Nama lengkap?"


Windy memutar matanya. "Windy Lusitanica."


"Nomor ponsel?"


"628026939237."


"Ini," Ananta mengembalikan flash drive Windy. "Aku akan menghubungimu nanti."


Windy mengerutkan kening dengan mulut sedikit terbuka, matanya mengikuti Ananta yang pergi menjauh lalu menatap Koo yang masih berdiri dibelakangnya.


"Memang dia bisa ingat nomorku tanpa mencatatnya?"


Koo mengangkat kedua bahunya. "Nomor Kak Windy terlalu mudah untuk dihafal oleh seseorang seperti Kak Ananta."


"Jadi maksudmu dia hafal nomorku? Meski tadi aku mengatakannya dengan cepat?" Windy sedikit panik.


"Yup!" Koo mengangguk mantap, berbanding terbalik dengan Windy yang sekarang merasa dirinya bodoh karena dia benar-benar menyebutkan nomor ponselnya ke Hantu Kampus.


"Tapi...ada hubungan apa Kak Windy dengan Kak Ananta?" Koo yang berjalan duluan berhenti, berbalik untuk menilik ke dalam mata Windy.


"Apa? Tidak ada, dia hanya pengganggu."


Hari menjelang gelap saat Windy selesai dengan kelas terakhirnya, melelahkan, beruntung dosen yang mengajar tidak memberikan tugas, karena tugas dari tiga kelas sebelumnya sudah membuat Windy akan menjadi orang sibuk minggu ini, belum ditambah dengan dirinya yang menjadi shipper.


Windy memeriksa tasnya, lebih tepat flash drive miliknya, memastikan barang berharganya tidak ketinggalan, tidak terjatuh, atau hilang, apalagi flash drive yang berisikan foto-foto koleksi kapal miliknya selama satu tahun yang dikumpulkannya, tentu saja kapal yang dimaksud adalah beberapa pasangan yang Windy shipping-kan.


"Peter!"


Bukan hanya pemilik nama yang menoleh karena namanya dipanggil, tapi juga Windy yang menoleh untuk mencari sumber suara dari sisi kanannya.


Pemuda tampan berbadan tinggi tersenyum cerah saat namanya di panggil oleh pemuda yang berjarak 7 meter darinya, Arya.


Tangan Windy bergerak cepat mengambil ponselnya, berbalik berpura-pura mengambil foto selfie dirinya yang sebenarnya mengarah ke Arya yang sedang menghampiri Peter. Cukup banyak orang berlalu lalang disekitarnya, tidak memungkin Windy secara terang-terangan mengarahkan kameranya ke arah Arya dan Peter, jadi beginilah cara mengambil foto mereka.


Windy tidak berhenti tersenyum, jantungnya berdegup kencang saat melihat Arya yang lebih pendek dari Peter mencoba untuk membisikkan sesuatu di telinga pemuda yang lebih tinggi darinya.


Tangan Windy tak henti-hentinya terus menekan tombol bulat untuk memotret, sampai seseorang muncul dibelakangnya.


"Mengambil foto lagi heh?"


Windy menghela napas kasar, apanya yang jarang terlihat, Si Hantu Kampus itu sudah ketiga kalinya muncul dihadapannya hari ini.


"Menyingkirlah!" Windy mencoba mendorong dengan satu tangan yang sia-sia tidak dapat menyingkirkan Ananta dari belakangnya. Tapi Ananta sengaja mengalah, dia menuruti keinginan Windy dan membiarkan gadis itu terus memotret objek dibelakangnya sampai kedua pemuda itu pergi.


Windy melompat kecil karena senang melihat foto-foto yang barusan diambilnya. Hari ini dia beruntung mendapatkan tiga momen kapal yang dilayarkannya.


"Coba kulihat," tangan Ananta begitu cepat mengambil ponsel Windy, pemuda itu penasaran apa yang menarik dari foto yang diambil gadis berambut sebahu itu, seberapa banyak pria yang disukainya, itu membuat Ananta ingin tahu.


"Berhentilah menggangguku, kembalikan!"


Ananta tidak mendengarkan, dia terus menggeser foto-foto di galeri Windy sambil menghindari gadis itu.


"Tidak sopan! Kamu benar-benar tidak sopan!"


"Bercerminlah, aku bisa saja mengadukanmu pada mereka yang kamu curi fotonya diam-diam. Kamu juga tidak lebih sopan dariku."


Kalimat Ananta membuat Windy diam, tapi dia tetap berusaha merebut ponselnya dari tangan Ananta.


"Ini," Ananta mengembalikan ponsel Windy setelah beberapa saat lalu mengeluarkan ponselnya sendiri, mengetikkan angka-angka yang dengan mudah dia hafal lalu menekan tombol yang membuat ponsel di tangan Windy berbunyi. "Itu nomorku, jangan pernah berani untuk tidak mengangkat, tidak membalas, atau memblokirnya, kalau berani, aku akan mengadukanmu pada orang-orang di dalam foto diponselmu."


"Kamu mengancamku?!" Windy menantang mendekatkan wajahnya pada Ananta.


"Iya!"


Jawaban tegas Ananta membuat Windy menciut. "Kenapa?" Tanyanya bingung dengan suara pelan.