
Ananta : Apa semalam kamu tidak tidur?
Windy menautkan alisnya membaca pesan Ananta, darimana pemuda itu tahu?
Windy : Bukan urusanmu!
Ananta menggeleng samar, benar-benar berbeda dengan Windy yang ramah yang dia temui sore tadi.
Ananta : Aku ada di depan gedung apartemenmu sekarang.
Windy : Sayangnya aku tidak berada disana sekarang.
Ananta : Lalu dimana?
Windy : Bukan urusanmu!
Windy meletakkan ponselnya di atas nakas lalu membuang dirinya ke atas tempat tidur. Dirinya baru ingat kalau mengajak Ananta mengambil tugas kuliahnya berarti pemuda itu tahu dimana apartemennya.
Yang penting dia tidak tahu nomor apartemenku.
Windy berguling ke kanan, lalu ke kiri, menyentuh bibirnya.
Sebutan Hantu Kampus saja memang tidak cukup, dia benar-benar Pengganggu Busuk.
"Kak Win..." Koo berkacak pinggang saat masuk ke kamarnya setelah mandi melihat Windy berguling-guling di atas kasurnya. Untuk makan mungkin dia sedikit berantakkan, tapi untuk kasur, Koo sangat rapi.
"Lihat, spreiku kusut karena Kak Windy," protes Koo yang selalu dijawab Windy dengan enteng.
"Sudahlah, aku ingin tidur bersamamu malam ini." Windy memposisikan dirinya tidur dengan benar di kasur Koo. "Kemarilah," Windy menepuk bantal disampingnya.
"Tidak mau." Koo menolak, dia mengambil bantalnya dan berniat pergi tidur ke kamar sebelah, kamar Windy sebelumnya saat tinggal dirumah Koo
"Koo..." Windy memanggil yang tidak diacuhkan Koo. "Kalau begitu biarkan Chanel tidur bersamaku."
"Tidak boleh, Chanel akan tidur bersamaku. Ayo Chanel!" Koo mengajak anjingnya yang sedang berbaring di karpet di samping tempat tidurnya.
"Dia tidak mau menurutimu..." Windy tertawa. "Chanel, kemarilah." Windy menepuk tempat disebelahnya, Chanel menurut. "Waaww...dia lebih menurut padaku." Windy tersenyum penuh kemenangan.
Koo, dia mengerucutkan bibirnya sambil menutup pintu dan pergi ke kamar sebelah.
Pukul 01.57 mata Windy kembali terbuka setelah dia mencoba tidur selama setengah jam. Ponsel disampingnya dia ambil, memainkannya selama setengah jam dan matanya tidak juga mengantuk. Kali ini Windy bukan takut untuk tidur, tapi dia tidak bisa tidur.
Sepertinya aku terlalu takut pada mimpiku.
Windy menghela napas, mengelus bulu Chanel disampingnya yang sedang tertidur.
Ting!
Ananta : Jam berapa kamu akan pulang?
Pesan Ananta membuat Windy terduduk.
Windy : Jangan bilang kamu masih ada di depan apertemenku.
Ananta : Kalau iya?
Windy : Berarti kamu gila.
Ananta : Kamu yang lebih gila dini hari seperti ini belum pulang.
Windy : Menurutku kamu lebih gila karena menunggu orang semalam di apartemennya.
Ananta : Aku khawatir.
Windy : Padaku?
Ananta : Ya, padamu. Apa aku salah mengkhawatirkan seseorang yang membuatku tertarik padanya?
Windy meletakkan ponselnya, dia sudah tidak ingin membalas pesan Ananta.
——
"Selamat pagi," Koo menyapa orangtuanya dan Windy di meja makan, rambutnya masih basah karena dia baru selesai mandi.
Koo menoleh ke Windy yang duduk di sebelah kanannya, memperhatikan. "Kak Windy semalam tidak tidur lagi?" Pertanyaan Koo membuat orang tuanya menatap Windy.
Windy tidak menjawab, dia mengambil roti dan meminum susu di depannya dengan tenang.
Keira, ibu Koo, wajahnya menyiratkan kekhawatiran, sudah lama keponakkannya itu tidak makan dengan benar dan tidak bisa tidur. "Win, Tante ambilkan nasi ya?"
Windy menggeleng, "Windy belum lapar Tan." Senyumnya garing.
Menyendokkan makanan dari piringnya, Koo mengarahkan ke Windy. "Koo suapi, A..."
"Koo...aku-"
"Satu kali saja, aku mohon." Wajahnya memelas, Koo memintanya. "A..." Windy terpaksa membuka mulutnya, hanya satu suap, setidaknya itu bisa membuat Koo dan orang tuanya tidak merasa begitu khawatir padanya.
"Gadis pintar," Koo menepuk puncak kepala Windy sambil tersenyum cerah, Windy gemas, dia mencubit pipi Koo.
"Aku bukan anak kecil..."
"Kenapa? Anak kecil itu lebih baik baik daripada Kak Win yang selalu menganggapku seperi bayi."
"Karena kamu memang masih bayi!"
"Aku sudah berusia 19 tahun!"
"Tapi dimataku kamu berusia 19 bulan!"
Koo mengerucutkan bibir, membuang napasnya kesal. "Ma..." Koo meminta bantuan pada ibunya.
"Sudahlah, di mata Mama dan Papa kamu berusia 19 hari." Bukan membela, Keira malah menambahkan.
"Pa..." Koo semakin cemberut, Kinan, ayah Koo, dia hanya menggelengkan kepala dan tersenyum menanggapi rengekkan anak satu-satunya.
Sampai di kampus, Windy berpisah dengan Koo diparkiran, Koo ada kelas pagi hari ini sedangkan dia tidak, tapi Windy lebih memilih pergi ke kampus dibanding kembali ke apartemennya, bahkan kaos dan kemeja yang dipakainya sekarang adalah milik Koo yang seperti miliknya sendiri karena ketika menginap Windy tidak pernah membawa pakaiannya. Rok span yang digunakan pun adalah milik Keira saat masih muda dan pas dengan ukuran pinggang Windy walau diatas lutut.
Tujuan Windy sekarang adalah klinik, menemui dokter tampan yang dekat dengannya, meminta agar dirinya diberikan obat tidur.
Namanya dokter Juno, pria muda keturuan Korea yang memiliki wajah tampan seperti model, banyak mahasiswi yang berpura-pura sakit untuk melihat dan diperiksa olehnya, begitu pun Windy, awalnya Juno mengira Windy ikut mengantri hanya untuk mengganggunya seperi mahasiswi lain. Tapi saat Juno mendengarkan keluhan Windy sebagai pasiennya, Juno tahu Windy memiliki masalah serius.
"Tidak bisa tidur lagi?"
Juno dengan jas dokter putihnya menebak saat Windy datang keruangannya dan langsung meletakkan kepala di atas mejanya begitu duduk.
"Hm, tolong berikan saya obat tidur Dok, saya ingin tidur sebentar." Windy memohon.
"Jam berapa kuliahmu?"
Juno melihat jam ditangannya, sekarang jam 8, ada waktu 5 jam untuk Windy tidur. "Sudah berapa lama tidak tidur?" Ujarnya mengambil obat tidur untuk Windy.
"2 hari." Juno menggelengkan kepalanya samar. "Ini, minumlah dan pergi tidur disebelah sana." Juno memberikan obat dan air ke tangan Windy.
Windy baru akan meminum pil ditangannya, tapi ponselnya berbunyi.
Bip bip bip bip!
Alarm Windy berbunyi, bertuliskan 'Latihan pagi club tenis'.
"Aku lupa!" Teriak Windy yang langsung membungkam dirinya sendiri. "Dokter, saya pamit, terima kasih obatnya." Ujar Windy cepat berlalu sambil memasukkan obat tidurnya ke dalam tas.
"Hari apa ya sekarang?" Gumam Windy pada dirinya sendiri sambil berlari menuju lapangan tenis. "Ah benar, ini hari senin." Ingatnya.
Sampai di lapangan tenis Windy menghela napas lega melihat Dirra baru memasuki lapangan, itu artinya dia tidak terlambat.
Oh!
Baru akan mendekat, bahu Windy yang tadinya tegak menjadi turun ke bawah. Dirinya teringat Koo yang satu kelas dengan Nato, kuliah mereka minggu lalu yang diliburkan diganti menjadi senin pagi ini, itu artinya Windy tidak mendapatkan momen kapalnya, Dirra dan Nato, biasanya Windy akan melihat Nato datang menonton latihan Dirra dan Wino bersama dengan Thio dan Koo.
Walau begitu, Windy tetap mengambil beberapa foto Dirra saat latihan dan berencana siang ini akan makan di Fakultas Ekonomi bersama Koo agar Windy dapat memotret senior dan teman sepupunya itu.
Berjalan pergi meninggalkan lapangan tenis, baru beberapa langkah dari tempatnya memotret di dekat pohon tiba-tiba Windy merasasakan tubuhnya ditarik.
"Jangan menarikku sembarangan, tidak sopan!" Windy berusaha melepaskan pergelangan tangannya yang digenggam Ananta kuat.
"Aku rasa aku tidak perlu sopan padamu." Hantu Kampus membawa Windy ke salah satu tempat persembunyiannya, ke atap gedung yang memiliki sebuah ruangan tempat penyimpanan kursi-kursi tak terpakai, disana ada sebuah sofa yang masih cukup bagus tempat biasa Ananta duduk sambil membaca buku manajemen miliknya.
"Duduk," Ananta menepuk tempat disebelahnya, di sofa berwarna abu-abu tempatnya duduk.
Windy masih berdiri di depan Ananta, memandanginya yang merentangkan satu tangan menyambutnya agar mau duduk disebelahnya. "Tidak mau."
"Aku tidak akan melakukan apapun, aku hanya ingin kamu tidur sebentar, aku akan membangunkanmu, aku janji." Ananta menepuk pundak kirinya, tempat dimana dia ingin Windy bersandar padanya.
Dengan wajah yang penuh dengan kecurigaan, Windy perlahan mendekat duduk disebelah Ananta dengan memberikan jarak cukup banyak, Windy merapatkan dirinya dengan pinggiran sofa.
"Darimana kamu tahu aku belum tidur?" Windy memicingkan mata.
Ananta tidak menjawab, dia melepaskan jaket yang dipakainya, menyampirkan ke atas paha Windy karena gadis gila disebelahnya duduk dan membuat rok yang dikenakannya memperlihatkan seperempat pahanya.
"Kamu kuliah mengenakan rok seperti ini?" Ananta mengalihkan topik, menggeser duduknya, menghimpit Windy.
"Tidak, ini punya ibunya Koo." Windy menahan pundak Ananta untuk tidak mendekat padanya.
Satu alis Ananta terangkat. "Jadi semalam kamu menginap di rumah Koo?"
"Hm."
"Kamu tidur dengannya?" Wajah Ananta mulai mendekat.
"Dengan siapa? Windy semakin menahan pundak Ananta.
"Sepupumu,"
"Tidak, aku mengajak Koo untuk tidur bersamaku tapi dia menolak, jadi aku tidur dengan Chanel."
"Chanel?"
"****** peliharaan Koo."
Ananta mengangguk, menjauhkan wajahnya dari Windy dengan perasaan cemburu di hatinya karena tanpa Windy sadari dirinya mengatakan mengajak Koo untuk tidur bersamanya di depan Ananta.
Windy membuang napas lega, jarak Ananta yang terlalu dekat dengannya tadi membuatnya salah fokus melihat ke bibir Ananta, mengingatkan ciuman mereka di tribun waktu itu.
"Boleh aku bertanya?"
"Apa?" Windy memperbaiki jaket Ananta yang menutupi pahanya. Menurutnya Penganggu Busuk disebelahnya gentleman, tapi Windy tidak tersanjung.
"Saat kamu menangis dan jatuh pingsan, apa itu karena aku?" Pertanyaan Ananta membuat Windy meliriknya, pemuda itu bertanya dengan kepala menunduk.
Windy menghela napas. "Bukan, itu kesalahanku sendiri, aku tahu kita tidak sengaja berciuman."
"Tapi aku sengaja menjilat bibirmu." Tukas Ananta cepat, dia menoleh kesamping menatap Windy.
"Ya, kamu juga menggigit bibirku karena tidak suka mendengarku mengumpat." Windy tertawa kecil. "Aku marah, tapi aku kehilangan kendali pada diriku sendiri, dan...aku juga salah."
Windy mengingat bagaimana dia mengumpat pada Ananta, mengatakan dia ********, brengsek, dan *******, membuat Windy sendiri teringat sesuatu dan itu membuatnya terkejut karena dirinya mengatakan hal yang sama seperti apa yang didengarnya dulu.
Tapi ternyata Ananta masih merasa bersalah padanya walau kejadian itu sudah beberapa hari yang lalu, sedangkan Windy sudah tidak mempermasalahkan ciuman itu.
"Sudahlah, tadi menyuruhku kesini untuk tidurkan, kenapa jadi banyak bertanya. Kalau merasa bersalah, pinjami aku pundakmu, aku mengantuk." Windy menggeser duduknya, meletakkan kepalanya dibahu kiri Ananta. Sebenarnya dia belum merasa mengantuk, tapi dia tidak ingin Ananta membahas tentang hal itu.
"Satu pertanyaan lagi,"
"Apa?" Windy mendengus, tangannya dia lipat di depan dada.
"Sejak kapan kamu bekerja sebagai pelayan di cafe kemarin?" Windy menyunggingkan senyum samar, dia kembali mendudukkan diri dengan benar.
"Cukup lama, apa kamu ingin menghabiskan uangmu untuk membeli dessert disana? Aku akan merekomendasikan berbagai jenis dessert cokelat kesukaanmu. Aku juga akan mengatakan pada pemiliknya kalau kamu adalah seorang Tuan Muda kaya raya, jadi dia akan senang saat kamu datang berkunjung."
"Aku tidak sekaya yang kamu pikir."
"Tidak mungkin, kamu saja tidak pernah menaiki sepeda motor, mobilmu juga mercedes benz yang aku perkirakan harganya lebih dari 1 M, kemarin kamu juga datang ke cafe dengan ibumu, apanya yang bukan 'Tuan Muda Manja Kaya Raya' kalau begitu?"
Ucapan Windy yang menjadi cerewet tiba-tiba membuat Ananta mendengus, apalagi mendengar julukkannya menjadi 'Tuan Muda Manja Kaya Raya'.
"Kalau kamu menghabiskan uangmu di cafe tempatku bekerja, aku akan sangat senang." Windy mendekatkan wajahnya ke Ananta, menatapnya dengan mata berbinar seperti memohon agar Ananta datang ke cafe Kukirajuni miliknya.
"Hari apa saja kamu bekerja disana?"
Pertanyaan Ananta membuat Windy senang. "Sabtu dan minggu."
"Kalau begitu aku akan berkunjung sabtu dan minggu."
Pernyataan Ananta membuat Windy tanpa sadar memeluknya dengan gemas, Ananta cukup terkejut, tapi dia senang di dalam hati melihat Windy senang.
"Ah, maaf." Windy tersadar, tapi dia senang mendapat pelanggan tetap baru seperti Ananta yang akan berkunjung ke cafenya setiap sabtu dan minggu walau membuat Windy yang biasanya hanya datang dua atau tiga kali dalam sebulan ke cafenya kini harus datang setiap akhir pekan.
"Tidurlah," dengan wajah acuh tak acuhnya Ananta meletakkan kepala Windy dipundaknya. Windy menurut, karena dia dalam mode senang.
Tidak sampai sepuluh menit, Windy yang tidak tidur selama dua hari terlelap tanpa meminum obat yang dimintanya dari dokter Juno, tangannya pun tanpa sadar melingkar di pinggang Ananta, napasnya tenang, mendengar detak jantung Ananta tanpa sadar membuatnya tertidur.
Persis.
Ananta berujar di dalam hati mengamati Windy yang tidur bersandar pada dirinya. Tangannya terulur merapikan rambut Windy, hidungnya tanpa sadar perlahan mengecup Windy dari puncak kepala ke seluruh wajah gadis gila yang tertidur disebelahnya.