Waiting for a Rainbow

Waiting for a Rainbow
Enam - Hutang



Koo memicingkan mata saat Windy duduk di depannya. "Kak Windy seperti habis bangun tidur, apa Kakak minum obat tidur lagi?"


Windy menyentuh wajahnya. "Apa terlihat sejelas itu kalau aku habis bangun tidur?"


"Tidak juga, hanya saja aku tahu." Koo menyerahkan makanan disampingnya yang sudah lebih dulu dia pesankan untuk Windy, meletakkannya di depan sepupunya. Bagaimana mungkin dia tidak tahu wajah bangun tidur Windy yang pernah tinggal dirumahnya.


"Aku tidak minum obat tidur, hanya tadi Ananta memaksaku untuk tidur." Windy mulai menyendokkan bubur ayam di depannya, aneh memang makan bubur ayam yang biasanya untuk sarapan menjadi makan siang, tapi tidak masalah, ditambah dengan minum soda akan menjadi lebih nikmat, walau entah Windy akan menghabiskan makanannya atau tidak kali ini.


"Dan Kak Windy menurut?" Satu alis Koo naik, cukup terkejut karena setiap bertemu dengan Ananta sepupunya itu terlihat seperti musim panas dan musim dingin yang bertolak belakang.


"Hm, dan kamu tahu? Setiap akhir pekan nanti Ananta akan sering berkunjung ke cafe."


"Memang Kak Ananta tahu Kak Windy punya cafe?"


Windy menggeleng. "Dia tidak tahu, dia mengira aku bekerja di cafe sebagai pelayan, dia datang dengan ibunya kemarin dan aku yang melayaninya, jadi tadi aku merayu dan menyuruhnya untuk lebih sering datang ke cafe untuk menghabiskan uangnya."


Koo tersenyum kecil. "Uangnya pun tidak akan habis walau Kak Win menyuruhnya untuk membeli cafe dan toko milik Kak Win sekalipun."


"Memang dia seberapa kaya?" Windy memasang wajah penasaran.


"Euhm...dia memiliki beberapa hotel berbintang, resort, villa, kemudian apartem-"


"Cukup," Windy menghentikan, tidak perlu dipikir pun Windy sudah tahu Ananta jauh darinya. "Sudahlah, selama dia mau berkunjung ke cafe aku sudah senang, karena itu akan menambah penghasilanku."


"Dasar, tapi kenapa aku tidak tahu kalau kemarin Kak Ananta datang dengan ibunya ke cafe?"


"Itu...karena...kamu...terlalu fokus dengan makananmu." Windy mencubit pipi Koo gemas dan Koo tesenyum lebar. "Ah ya, dimana Nato dan Thio?" Windy bertanya, tujuannya kemari tentu bukan hanya makan dengan Koo tapi juga mencari momen para kapalnya.


"Mereka sudah pulang,"


"Apa?!" Tanpa sadar suaranya menjadi keras, membuat Koo sedikit terkejut.


"Ada apa memangnya?"


Windy menggeleng, bahunya turun dan menghela napas. "Tidak ada." Windy menggila, dia belum mendapatkan asupan kapalnya hari ini.


——


Ananta : Tidurlah lebih cepat hari ini.


Hantu Kampus mengirimkan pesan pada Windy, dia berada di depan gedung apartemen Windy sekarang, dari dalam mobilnya, Ananta mendongak melihat ke lantai lima nomor 0505 yang lampunya terlihat menyala.


Darimana dia tahu itu apartemen Windy? Mudah, gedung apartemen tempat tinggal Windy adalah milik keluarganya, tentu dia memiliki akses untuk tahu siapa saja penghuni di gedung apartemen itu.


Setelah Windy pingsan hari itu, Ananta mengawasinya, lampu apartemen Windy yang tiba-tiba menyala tengah malam hari itu membuatnya tahu gadis gila itu tidak tidur, Ananta juga melihat saat mobil sepupu Windy memasuki parkiran apartemen di pagi harinya.


Windy : Terserahku mau tidur jam berapa, bukan urusanmu!


Ananta menggelengkan kepala, Windy selalu mengatan 'bukan urusanmu' padanya. Kenapa gadis gila ini selalu cepat berubah suasana hatinya, Ananta terheran.


Memutuskan untuk kembali ke rumah, Ananta mengurungkan niatnya saat melihat Windy keluar dari gedung apartement mengenakan jaket biru dan celana trining yang kedua ukurannya terlihat kebesaran di gadis berbadan ramping seperti Windy.


Mobil Ananta terus mengikuti Windy yang berjalan disebrang, sudah 1 jam lebih dia mengikuti Windy dan entah berapa lama lagi gadis gila itu akan terus berjalan.


——


Bruk!


"Aaaww..." Windy merintih, makalah ditangannya terjatuh, lutut dan kedua tangannya mencium jalan beraspal yang dilewati. "Sakit..." gumamnya pada diri sendiri, beruntung dirinya tidak terluka.


Windy kehilangan keseimbangan, kakinya terasa lemas dan sakit akibat semalam olahraga berjalan kaki selama dua jam, berharap dirinya lelah dan tidur dengan cepat walau kenyataannya dia tidak bisa tidur karena kakinya kram dan terasa sakit di tengah malam. Dan sekarang, kakinya seperti tidak ingin digunakan untuk berjalan.


"Biar kubantu, bangunlah." Sebuah tangan terulur di depan Windy yang masih terduduk di jalan sambil membersihkan tangannya.


Mendongak melihat siapa yang membantunya, Windy menahan napas, jantung didadanya mulai berdebar kencang, kepala Windy rasanya tiba-tiba pusing, Windy seperti tidak tahu bagaimana harus memberikan respon.


"Ini, makalahmu jatuh."


Dua orang pemuda di depan Windy membuatnya hanya bisa menatap, siapa yang otaknya masih bisa berpikir ketika ditolong oleh Arya dan Peter, salah satu kapalnya.


"Kamu baik-baik saja?" Arya bertanya, tidak adanya respon dari Windy membuatnya saling bertatapan dengan Peter, lalu Peter mengangguk.


Arya menarik pergelangan tangan Windy untuk berdiri, membantu membersihkan tangan gadis di depannya yang menbuat Windy tersadar karena dia takut membuat Peter cemburu.


"Tidak tidak, aku bisa membersihkannya sendiri, terima kasih." Mata Windy masih bergantian menatap keduanya yang terlihat sangat tampan dari dekat, lalu matanya beralih ke bibir dua pemuda di depannya, bibir yang Windy lihat dengan matanya sendiri saling bersentuhan. Wajah Windy memanas, berbeda dengan Arya dan Peter yang melihatnya bingung.


"Wajahmu memerah, mau kami antar ke klinik?" Arya kembali bertanya, Windy menggeleng cepat.


"Tidak," Windy mengambil makalahnya ditangan Peter. "Terima kasih."


Windy dapat merasakan tangannya dingin, ini pertama kalinya dia berhadapan langsung dengan kapalnya selain Dirra Nato dan Wino Thio.


"Euhm..." gumaman Windy membuat Arya dan Peter menunggu apa yang ingin dikatakan gadis di depan mereka. "Boleh aku berfoto dengan kalian?" Tanya Windy menahan napas.


Pertanyaan itu membuat Arya mengerutkan alis, Peter memandangnya dengan ekspresi bingung. Keduanya saling menatap, kemudian saling melempar senyum.


"Boleh," jawaban Arya membuat Windy sangat sangat sangat senang. Mereka tidak tahu betapa gugupnya Windy bertanya seperti itu, takut jika permintaannya ditolak.


Cekrik!


Cekrik!


Cekrik!


Windy tersenyum puas melihat hasilnya. "Terima kasih," ujarnya dengan senyum paling lebar untuk Arya dan Peter.


"Sama-sama, lain kali berhati-hatilah ketika berjalan."


Windy mengangguk, bahkan selama beberapa saat dirinya lupa kalau kakinya sakit, sebelum Arya kembali mengingatkan dengan kalimatnya barusan.


"Kami pergi dulu, sampai ketemu lagi, Windy."


Keduanya berjalan meninggalkan Windy yang berdiri dengan senyum melihat keduanya berlalu, tapi...


Heh?! Darimana Kak Peter tahu namaku?


Windy membekap mulutnya, terkejut, kenapa Peter bisa tahu namanya?


"Sudah selesai sesi fotomu?"


Suara dibelakangnya menginterupsi, Windy menoleh, melihat Ananta bersandar pada tembok dibelakangnya dengan tangan bersedekap menatap kearahnya.


Tidak mengacuhkan Ananta, Windy berjalan seolah barusan tidak ada yang berbicara, menganggap Ananta seperti julukkannya yang tak terlihat, Hantu Kampus.


Hap!


Ananta mencari perhatian Windy dengan mengambil makalah dan ponsel ditangannya.


"Ananta..." Ananta tersenyum samar mendengar Windy memanggil namanya. Windy memprotes, merengek dengan nada malas, kakinya terasa sakit jika harus mengejar Ananta yang berjalan lebih dulu meninggalkannya. "Setidaknya kembalikan salah satu!" Windy mencoba bernegosiasi.


Hantu Kampus berbalik, berjalan kembali ke arah Windy. "Hm, pilihlah salah satu."


Tapi bukan makalah yang Ananta berikan, dia mengembalikan ponsel Windy ketangannya. "Aku mau makalahku, bukan ponselku." Windy mencoba mengambil makalahnya tapi seperti biasa Ananta menghindar dengan cepat. "Ayolah Nan, aku sedang tidak minat bermain-main denganmu, kakiku sakit, dan aku harus mengumpulkan makalah itu ke kantor jurusan sekarang."


Windy mencoba memelas, tapi Ananta tidak acuh, dia berjalan meninggalkan Windy, tujuannya adalah ke kantor jurusan untuk membantu Windy mengumpulkan tugasnya.


Dengan wajah cemberut, Windy mengikuti Ananta beberapa meter dibelakangnya, tidak tahu kemana pemuda itu akan membawa makalahnya tapi dia segera tahu saat Ananta sampai di kantor jurusannya.


Windy bernapas lega, dia pikir Ananta akan terus menggodanya yang akan membuatnya terlambat mengumpulkan makalah.


"Kelas apa?" Ananta bertanya pada Windy meihat tumpukkan tugas berbagai kelas di meja depan kantor jurusan Windy.


"B."


"Selesai." Ujar Ananta pada Windy. "Ayo,"


"Kemana?" Windy menahan lengan Ananta yang menarik pergelangan tangannya.


"Klinik, mengobati kakimu."


"Memang kenapa kakiku?"


"Kamu sendiri yang bilang tadi kalau kakimu sakit."


"Aa...tapi tidak apa-apa, aku ada kelas setelah ini, terima kasih sudah membantu mengumpulkan tugasku."


Ananta diam, menatap mata cokelat Windy yang sedang menatap mata cokelatnya. Tangan besarnya dia letakkan di atas kepala Windy, menekan sambil mengelusnya. Hanya mendengar Windy mengucapkan terima kasih padanya saja sudah membuat jantungnya berdetak lebih cepat.


"Sampai kapan kamu mau terus disini? Kembali ke fakultasmu sana!" Pengusiran yang dilakukan Windy membuyarkan segala pikiran di kepala Ananta.


Ananta maju satu langkah ke depan Windy, mensejajarkan wajahnya, menyeringai. "Aku sudah membantumu mengumpulkan tugas, jadi kamu berhutang padaku."


"Apa?! Tidak tidak, kamu menipuku, aku tidak mau berhutang padamu! Ananta! Kamu menjebakku!"


Windy menghentakkan kakinya yang sudah sakit jadi bertambah sakit.


Ananta sialan!


——


Ting!


Windy membuka laman foto-foto dirinya dengan Ananta yang dikirimi Koo.


Aku juga ingin ditatap Ananta seperti itu.


Aku melihatnya di kantor jurusanku hari ini, benar kata orang, pesona seorang Hantu Kampus tidak dapat ditolak.


Aku iri, aku ingin Ananta mengelus kepalaku juga.


Dia tampan.


Aku suka saat dia mulai menggoda gadisnya.


Lihat senyumnya? Aku akan meleleh jika dia tersenyum seperti itu dihadapanku.


Aku suka cara menatapnya yang seolah tidak peduli, tapi aku sangat suka perubahan tatapan matanya saat menatap pada gadis didepannya >_<


Siapa pun gadis itu, aku berterima kasih sudah membuat Hantu Kampus kita mulai berkeliaran dan menunjukkan wujudnya.


Windy bergidik membaca komen para mahasiswi yang memuja si Tuan Muda Manja Kaya Raya. Tatapan seperti apa yang dibicarakan orang-orang? Menurutnya Ananta terlihat sama saja.


——


"Kenapa terus menatapku? Mulai menyukaiku? Hm?" Disela-sela waktu kerjanya di cafe Windy mendatangi meja Ananta. Menghampiri pemuda yang membaca buku ditangannya yang tidak pernah Windy lihat, yang dia tahu hanya Ananta yang suka menggodanya.


"Jadi seseorang sepertimu bisa membaca buku juga." Gumaman Windy membuat Ananta menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan membaca bukunya.


"Ananta, dengarkan aku." Windy meminta perhatian seperti dia akan berbicara sesuatu yang serius. "Banyak orang berkomentar di foto kita mengatakan caramu memandangku dengan memandang orang lain terlihat berbeda, tapi dimataku terlihat sama saja, memang apa bedanya?"


Puk!


Windy menerima timpukkan dari buku ditangan Ananta.


"Aawww..." Windy memicingkan matanya, cemberut.


"Bukan hanya caraku memandangmu yang berbeda, tapi aku juga memperlakukanmu dengan istimewa."


Windy berdecih, "Apa yang istimewa? Kamu hanya penganggu yang sering menggodaku dan berbuat tidak sopan, itu bukan tindakkan istimewa!"


"Tapi aku hanya melakukan hal seperti itu padamu, jadi kamu istimewa."


"Menurutku itu sama sekali tidak istimewa, itu menjengkelkan."


Ananta tertawa, tatapannya berubah menjadi penuh hasrat pada Windy.


"Kamu tahu, hal yang ingin kulakukan sekarang padamu adalah membungkammu dan kembali merasakan rasa manis dibibirmu."


Windy bergidik mengusap kedua lengannya. "Kamu menyeramkan." Tapi Windy tidak memasukkan kalimat Ananta ke dalam hati, menganggapnya bercanda walau sebenarnya Ananta serius dengan ucapannya.


"Apa pekerjaanmu sudah selesai?"


Windy menatap sekeliling, cafenya cukup ramai, sepertinya dia harus tetap tinggal untuk membantu.


"Belum, kalau mau pergi duluan saja, terima kasih sudah berkunjung ke cafe hari ini."


"Kamu mengusirku?" Ananta menjepit leher Windy dengan lengannya, hampir seluruh pelanggan di cafe melihatnya karena Ananta seperti pusat bumi bagi para gadis-gadis yang sedang berkunjung ke cafe Windy.


"Aku tidak mengusirmu, kalau ada urusan duluan saja, aku juga tidak menyuruhmu untuk menungguku sampai selesai bekerja." Ujar Windy sambil mencoba melepaskan lengan Ananta dari lehernya.


"Tapi aku ingin, tapi tidak hari ini karena Bunda menyuruhku untuk pulang cepat."


Windy mengangkat kedua bahunya tidak acuh mendengar alasan Ananta yang tidak dibutuhkan Windy, Windy tidak ingin tahu urusan Tuan Muda Manja Kaya Raya itu.


Masih dengan tangannya yang melingkar dileher Windy, Ananta membawanya ke depan kasir untuk menemaninya melakukan pembayaran.


"Tidak perlu, makananmu aku yang akan bayar." Windy berujar cepat, Ananta menautkan alisnya.


"Bukankah tujuanmu membawaku ke kemari untuk memerasku, kenapa jadi kamu yang bayar?" Ananta merapatkan pelukkannya di leher Windy.


"Aku bayar hutang karena kamu sudah membantuku mengumpulkan tugas hari itu." Jawab Windy cepat, jaraknya terlalu dekat dengan Ananta, membuatnya tidak nyaman karena banyak pasang mata memperhatikan.


Ananta menggeleng, "Tidak, aku tidak mau kamu membayar hutangmu dengan cara seperti ini, karena sebenarnya hutangmu bukan hanya itu. Pertama, kamu berhutang agar aku merahasiakan apa yang kita lihat waktu itu di belakang stadion. Kedua, hutang saat aku menggendongmu ke klinik. Ketiga, hutang karena membuat kepalaku pusing saat dibonceng olehmu. Empat, hutang saat aku membantumu tidur ditempat persembunyianku. Dan yang kelima hutang saat aku membantu mengumpulkan tugasmu."


"Tunggu, kenapa semua itu dihitung sebagai hutang?!" Protes Windy tidak terima.


"Karena semua itu memang hutangmu padaku."


"Tidak, bagaimana bisa begitu? Kamu sedang membodohiku!"


Ananta mendekatkan bibirnya ke telinga kiri Windy. "Terserah, yang pasti kamu harus membayar hutangmu."