
"Gimana, boleh gak gue jadi sahabat kalian??" Tanya Cera kedua kalinya.
Mereka bertiga saling pandang seperti memiliki telepati mengangguk lalu "BOLEHH" teriak mereka serentak
Brakkkk
terdengar gebrakan pintu dari luar kamar mereka
Cera terkaget dengan teriakan ketiga gadis itu serta gebrakan dari pintu kamarnya.
"Ada apa?? kenapa kalian teriak?". Tanya penjaga keamanan yang sering keliling di asrama kamar para murid.
"Hehehe, gak papa kok pak. Biasa hanya pembicaraan para anak cewe pak". Jawab Ay cengengesan kepada penjaga muda itu. Dari nada bicaranya terdengar sedikit genit.
"Ya sudah jangan teriak lagi, nanti yang lain bisa kaget juga denger suara kalian. Baiklah kalau begitu bapak keluar dulu, ingat jangan teriak teriak lagi" Peringatnya dengan gelengan kepala.
"Hihi, gik pipi kik pik, biisi hinyi pembiciriin piri ciwi pik" Cibir Davi. Sedangkan orang yang di Cibir hanya tertawa renyah.
Mereka semua berbincang banyak layak nya seperti sahabat yang baru bertemu setelah sekian lama. Tak ada rasa canggung sedikit pun di dalam obrolan mereka.
"Oh ya sebelum gue koma, gue satu kamar sama siapa". Tanya Cera. Dia memang ingin mencari informasi tentang Cera asli sebelum dia mewujudkan keinginan Cera yang asli.
Mereka bertiga saling pandang. "Kok tanya kami emang lo gak ingat" Tanya El
"Ternyata rumor itu benar ya" Cerocos Ay melihat Cera yang tak menjawab pertanyaan El.
"Rumor apaan" Tanya Davi heran. Dia memang tidak menyukai gosip seperti kedua sahabatnya itu.
"Makanya kalo orang datang ngasih gosip, lo jangan kabur. Nah kan ketinggalan info kan lo". kata Ay kepada Davi
"Jadi katanya Cera itu" Sambung Ay sembari menunjuk Cera "Lupa ingatan terus penampilan nya sama sikap nya berubah banyak" Sambar El. Davi mengangguk meski dia gak terlalu paham.
"Jadi??" Tanya Cera
"Apa? jadi apa?" Tanya Davi bingung. Sedangkan Cera memutar matanya malas.
"Jadi siapa teman sekamar gue" Tanya Cera lagi dengan menekan tiap kata yang di ucapkan nya
"oh teman kamar Lo itu Gresya Anindita. Sahabat masa kecil lo bukan" Ucap Davi lebih ke seperti pernyataan bukan pertanyaan.
"Gresya?" Tanya Cera memastikan
Mereka bertiga mengernyit heran "Iya Gresya, kenapa?" Ucap Davi menatap Cera menunggu jawaban.
"Gak kenapa kenapa kok, cuma nanya aja" Ucap Cera dengan senyum paksa.
"Lagi punya masalah sama Gresya?" Tanya El sepertinya dia melihat perubahan ekspresi gue.
"Hah? gak kok, gue gak punya masalah kok sama Gresya" Ucap Cera. Gue emang gak punya masalah kan sama Gresya. Mungkin gak untuk sekarang.
Grizelle mengangguk "Lo gak istirahat dulu, pasti capek kan habis dari perjalanan kesini". Ucapnya
......................
Setelah membersihkan dirinya, Cera melihat ketiga orang itu sudah tertidur pulas. cepat sekali mereka tertidur.
Gue ikut merebahkan diri di samping El. Pergerakan gue sepertinya sedikit mengganggunya.
"Udah selesai" Ucap nya dengan mata masih terpejam. Gue berdehem mengiyakannya. El kembali tertidur melanjutkan mimpinya mungkin.
Cera berusaha untuk memejamkan matanya, tapi dia sama sekali tidak bisa tidur. Mungkin karena tadi dia sudah tertidur pulas di kereta.
Cera memutuskan untuk keluar, mungkin melihat lihat sekitar sini bukan masalah kan.
Cera keluar dari kamarnya melihat lihat di sekeliling nya. Asrama ini sangat lah besar. Karena terlalu fokus melihat di sekelilingnya dia tak sengaja menabrak seorang perempuan. Orang tersebut jatuh begitu pun dengan dirinya.
Cera segera bangkit mengulurkan tangan kepada perempuan yang tak sengaja dia tabrak. Perempuan itu menerima uluran tangannya.
"Maaf ya gue tadi ngeliatin sekeliling sampai gak lihat orang di depan" Ucap Cera segan
"Aku juga minta maaf tadi jalannya buru-buru, jadi gak lihat kamu " Ucap perempuan itu menepuk-nepuk pakaian nya yang sedikit kotor.
Pergerakan nya terhenti ketika menatap wajah Cera. Tanpa di sangka dia menghamburkan pelukan kepada Cera. Cera yang memang belum siap sedikit limbung, beruntung dia bisa menahan badannya agar tidak jatuh.
Cera membiarkan gadis ini memeluk nya dengan erat, ya meski sedikit sesak napas saking eratnya. Gadis itu menguraikan pelukan nya, dengan sisa bulir air mata di ujung matanya.
"Ceraaa kangennn, aku buru buru kesini tadi saat tau kamu ke akademi lagi" Rengeknya
"lo Gresya?" tebak Cera dengan muka penuh tanya. Raut wajah gadis itu berubah jadi tersenyum kecut. "Jadi kamu lupa ya" jawab gresya
"Yaudah gak papa, ke depannya aku yang akan selalu di samping kamu, gak usah ingat yang lalu" Sambung Gresya dengan Senyum cerah bak matahari.
"Hmm, kamu mau keliling ya? boleh aku temenin gak" Tanya gresya. Cera mengangguk.
Mereka berdua berjalan beriringan. Hening tak ada yang membuka suara. Cera yang memang tidak terbiasa membuka obrolan memilih diam. Sedangkan Gresya di sampingnya merasa canggung tapi tak tau ingin berbicara apa dengan Cera.
"Kamu tinggal sekamar dengan siapa?" Tanya Gresya membuka obrolan mereka
"Ayra, El sama Vira" Jawab Cera singkat
"Vira? kok aku kayaknya gak pernah dengar nama itu ya?" Tanya Gresya keheranan."Lebih tepatnya Davi" Ucap Cera.
Gresya menggangguk "oh Davi".
"Kenal?" tanyaku. "Heeh kenal kok" Ucap Gresya menggangguk lagi.
Mereka berdua berjalan melewati tiap tiap ruangan yang ada di akademi itu. Tanpa terasa waktu udah berlalu, malam yang sudah semakin pekat. Tepat di depan kamar Cera mereka berpisah. Setelah melambaikan tangannya, Cera segera ke kamarnya.
Tiga orang di kamar ini masih tertidur pulas. Dia bergegas merebahkan tubuhnya di atas kasur di samping El. Sambil melihat langit-langit kamarnya.
Serta Memikirkan dirinya yang ternyata benar-benar ada di dunia fiksi. Dirinya yang masih belum sampai di konflik cerita. Dia akan berusaha untuk menjauh dari konflik ini, meskipun pasti akan muncul konflik baru. Tanpa sadar dirinya juga ikut terlelap, sebelum mata benar-benar terpejam dia sempat memikirkan bahwa besok pasti akan ada hal baru yang akan menyambut dirinya.