Transmigration The Antagonist'S And Secret

Transmigration The Antagonist'S And Secret
Bab 10



"Bolehkah aku duduk disini, semua kursi di sini penuh" Ucap pria tersebut


Sebelum menjawab Cera menoleh dan melihat ke sekeliling nya. Dia memang melihat seluruh meja dan kursi disini penuh, akhirnya dia pun mengangguk kan kepala nya. Pria tersebut pun langsung duduk tepat di depan Cera.


Cera pun melanjutkan makannya yang sempat tertunda tadi. Cera merasa bahwa pria di depan ini selalu menatapnya. Cera pun sedikit melirik dan ternyata benar pria ini menatapnya dalam serta senyum manis bak orang gila itu.


Cera merasa sedikit risih, dia akhirnya menghentikan kembali makan nya. Dia menatap balik pria di depan nya ini. Pria tersebut mengalihkan pandangannya.


Cera memang tidak mengenal siapa pria di depan nya ini namun wajah pria ini sangat familiar, dia sangat mengenali wajah itu.


"Siapa kau, kenapa terus menatap ku seperti itu??" Tanya ku


"Apakah kau tak mengenali ku??apakah mungkin kau melupakan ku?? ternyata benar ya bahwa kau kehilangan ingatan" Ucap nya mengabaikan pertanyaan ku


"Jawab dulu pertanyaan ku, baru kau tanya balik" Ucap ku dengan ekspresi datar


"Baiklah, begini aku adalah kakak kedua mu Riordano. Apa kau tak melihat ku tadi saat sedang sarapan, aku tepat berada di depan mu" Ucap Rio panjang lebar


"Tidak" Jawab Cera seraya menggeleng kan kepala nya.


Rio menghembuskan nafas nya kasar, jawaban adik nya sungguh singkat jelas dan padat juga membuat nya kehilangan topik pembicaraan.


"Apa kau benar-benar melupakan ku?? sedikit pun tidak ingat tentang ku??" Tanya nya sedikit memelas


"Ya, aku bahkan tak mengingat sedikit pun tentang ku. Jadi, bagaimana bisa aku mengingat mu" Ucap Cera


Di dalam novel Rio memiliki sikap yang berbeda dari dua saudara Cera. Dia menyayangi Cera dengan tulus tetapi tak pernah menunjukkan nya secara langsung. Dia selalu mengamati Cera secara diam-diam, juga sering memberikan apa yang Cera ingin kan dan butuh kan.


Tentu saja tidak dia berikan secara langsung, dia selalu meminta bi Narti untuk memberikannya dan merahasiakan nya.


"Sudahlah jangan di bahas" Ucap Cera, jujur dia hanya ingin makan dengan tenang


"Oh ya lupa, aku saja sempat terkejut mendengar ucapan ayah. Tapi kau tenang saja, aku tak akan membiarkan ayah menjodohkan mu dengan seenaknya" Ucap Rio meyakinkan Cera


"Kau harus Janji" Ucap ku


"Ya aku janji" Ucap nya


"Bukankah kau kehilangan ingatan mu jadi apa ada yang ingin kau ketahui, apapun itu tentang keluarga, kehidupan mu, karakter mu atau yg lain??" Tanya Rio


"Ceritakan semuanya, terutama tentang keluarga dan jangan rahasiakan apapun" Jawab ku serius


Kak Rio pun cerita semuanya, dia juga memesan makanan. Di perjalanan pulang pun Kak Rio masih cerita namun di pertengahan jalan tiba-tiba Kak Rio teringat akan urusan penting yang membuat nya bergegas pergi dan meminta maaf karena tak bisa menemani ku untuk pulang ke rumah.


Cera tak mempermasalahkan nya, dia pun mengangguk dan berkata:


"Tak apa kak, selesai kan saja urusannya dulu. Aku juga masih ingin jalan jalan sebentar"


"Baiklah, kakak pergi dulu kamu hati hati jaga diri baik-baik" Ucap nya seraya mengusap kepala ku dengan lembut


'deg'


"Apakah begini rasanya mempunyai seorang kakak?" batin Cera


Usapan di kepalaku sempat membuat ku mematung. Sebagai anak tunggal aku tak pernah merasakan kasih sayang selain dari mama. Di kehidupan kedua ini, aku benar-benar dapat merasakan nya.