Transmigration The Antagonist'S And Secret

Transmigration The Antagonist'S And Secret
Bab 14



Saat mendengar hal ini, Cera segera merubah ekspresi nya menjadi sumringah. Kebetulan sekali, tapi apa yang ingin Tuan Zainal Ditanio Abraham yang super sibuk bicarakan dengannya?


Cera segera menemui ayahnya. "Ada apa?" tanya Cera saat sudah berada di depan ayahnya. Dia merasa sedikit canggung berhadapan dengan ayahnya.


Zainal menghela napas "maaf" ucapnya


"oh maaf" Cera mengangguk tanpa sadar tunggu tunggu what ayahnya minta maaf, apa telinga nya bermasalah. Untuk apa karena apa, ayolah otaknya belum sempat mencerna ucapan itu.


"Maaf karena ayah belum bisa menjadi ayah yang baik untukmu dan menyembunyikan hal besar darimu. Maaf untuk ayah yang mengecewakan perasaan mu. Maaf ayah sering egois dan bertindak sesuka hati tanpa memperdulikan perasaan mu" lanjut ayahnya dengan kepala sedikit menunduk


"Tapi ayah benar benar menyayangimu, sangat menyayangi mu". Lanjutnya lagi


Cera tak tau harus berbuat apa. Dia hanya menggeleng dan segera menghamburkan pelukan kepada ayahnya. Dia hanya ingin memeluk pria itu.


Zainal terkejut dengan respon putrinya dan membalas pelukan hangat itu . Dia merasa pelukan putrinya itu semakin erat juga rapuh sehingga jika mengeratkan sedikit saja pelukannya itu tubuh kecil itu akan hancur.


Zainal mengakhiri adegan mengharukan itu. Memandang wajah manis putrinya dengan air mata di sudut matanya.


"Apa ini artinya kamu sudah memaafkan ayah hmm" ucapnya sedikit terkekeh


"Tidak!"


"Baiklah, untuk menebus kesalahan ayah" jedanya dengan tangan mengetuk ngetuk dagu seperti berpikir "Kamu boleh meminta apapun" Sambungnya.


"Gak semudah itu, satu dua ataupun permintaan sebanyak apapun tak akan mampu menghapus luka yang ayah torehkan di hati Cera!!"ungkap dengan ketus


"Ayah tau, memang begitu banyak luka yang ayah torehkan tapi ayah tak akan menyerah sampai kamu memaafkan ayah" Ucap Zainal lembut seraya mengelus lembut surai rambut hitam bergelombang itu.


Bukan keinginan nya untuk memeluk pria tua ini, hanya tubuh ini yang bergerak sendiri. Dia atau lebih tepatnya elyn tak akan pernah sudi memeluk pria yang tega menelantarkan putrinya bahkan ketika bayi. Pemilik tubuh ini pernah di siksa oleh orang lain, secara fisik dan mental di hadapan orang tua ini namun dia bahkan tak bergeming. Ayah seperti apa pria di hadapannya ini


Hening, tak ada lagi yang berbicara. Cera yang terhanyut akan pikirannya sedangkan Zainal hanya terdiam saat tak mendapatkan respon dari putrinya.


"Hm" Zainal berdehem untuk menghilangkan perasaan canggung nya. "Jadi ayah mendapatkan surat dari akademi, apakah kamu ingin kembali kesana" sambungnya


"Wah kebetulan lagi, emang lagi dapat jackpot hahaha" batin Cera. Dia kemudian mengangguk


"Jika tak ada lagi yang dibicarakan, saya izin pamit untuk kembali ke kamar" Ucapnya lagi. Zainal pun menganggukkan kepalanya.


Cera berbalik, segera menuju keluar. sesudah dia berada di pintu, pria itu berkata lagi


"Jangan lupa besok keberangkatan mu dan kamu akan kesana berangkat dengan kakak mu Zio. Dan tak ada penolakan. Bersiaplah dan bawa segala apa yang kamu butuhkan, pakaian dan lain lain. Dan jika ada hal lain yang kamu perlukan katakan saja padaku". Tegasnya


Cera tercengang bukan bukan lebih tepatnya terkejut, berangkat dengan Zio sama saja berangkat dengan malaikat maut dia bahkan tidak boleh menolak.


Dia kembali ke kamarnya. Dia menyiapkan segala pakaian dan kebutuhan kebutuhannya yang lain. Baiklah dia harus berpikir tenang, dia hanya akan berangkat bukan tinggal bersamanya. Tapi bagaimana kalau bertemu dengannya dia gemetar, bagaimanapun Zio lah tokoh yang paling membenci nya.


"rileks rileks santai Cer" Ucapnya dengan menarik dan menghembuskan napas secara berulang ulang.


Akibatnya dia menjadi tak bisa tidur karena memikirkan hal ini. Dia melihat jam, pukul 03.30 dini hari. Padahal besok pagi pagi dia akan berangkat. Dan perjalanan pasti akan sangat lama.


...****************...


Besoknya


Cera bersiap, dia sedikit memoles wajah nya. Dia memakai gaun sederhana dibawah lutut. Cera segera turun menuju ruang makan dimana semua keluarga telah berkumpul. Dan semua makan dengan tenang.


"Mengapa sekarang gue ngerasa lebih banyak orang di sini banding biasanya" Tanyanya penasaran


"Tentu saja karena keberangkatan mu, Zio dan yang lain ke akademi" Jawab Rio tanpa menoleh


"Bukan gue sama Zio aja yang berangkat"


"Enggak dong sayangnya Rio, banyak dari anak paman dan bibi juga tentunya" Jawabnya mengacak rambut cera dengan gemas


"Ihhhh jangan, nah kan berantakan lagi rambut gue" Ucap ku garang


"maaf-maaf hehe, habis kamu nanya terus, gemas banget jadinya"


"Yaudah yok, semua orang udah di luar" sambungnya mengulurkan tangan pada Cera dan tentu saja di sambut Cera. Mereka berjalan beriringan.


Saat sudah di luar Cera melihat sebuah kereta. Dia naik tanpa menunggu yang lain. Setelah semua naik, kereta itu jalan. Cera duduk di samping Zio dan lelaki bertopeng yang tentunya adalah sepupunya.


Dia menatap heran lelaki tersebut dan lagi lagi hanya dia perempuan di sini, sedangkan yang lain semuanya laki laki. Dia tak ingin memikirkan nya. Cera menatap keluar, di melihat pemandangan, juga banyak perumahan.


Perjalanan mungkin masih sangat panjang. Dia merasa mengantuk tapi tak mungkin dia akan mengatakan nya pada Zio. Menatap mata nya saja dia takut, apalagi berbicara dengan nya.


Cera merasa sudah lama dia di perjalanan namun mengapa belum sampai sampai juga. Rasa kantuk lagi lagi menderanya dan....


Puk


......................


Zio POV


Semalam ayah meminta ku untuk berangkat dengan gadis sialan itu. Argh kenapa harus dengan nya. Apakah ayah tak tahu bahwa aku sangat membencinya.


"Gue masih ingat ketika gadis itu memegang pisau"


"Dia yang menyebabkan Bunda meninggal"


"Darah itu, teriakan serta tangisan bunda waktu itu"


Argh liat trauma nya kembali lagi dengan mengingat gadis itu. Dia tak bisa melupakan kejadian 13 tahun yang lalu. Dimana bunda nya meninggal dengan mengenaskan.


Waktu mendengar gadis itu siuman dan mendengar bahwa dia lupa ingatan juga agak sedikit berubah, gue langsung pulang ke rumah.


Memang saat pertama kali melihat nya, dari segi penampilan dia memang berbeda tidak seperti penampilan nya yang biasa. Dan Wow gadis itu juga berani menatapku lebih dari 5 detik saat dia mengelilingi rumah ini mungkin.


"Ternyata lupa ingatan membuat mu berani kepada ku" Ucap Zio sedikit mengancam


"Sejak kapan aku takut" Balasnya dengan tatapan berani


"Hmm, menarik" Batin Zio


"Selama kau masih hidup, aku tidak akan membiarkan mu hidup dengan tenang, PEMBUNUH" Balasku dengan mengancamnya dan berlalu pergi.


"Ya sudahlah mungkin dia memang tak mengingat ku" ucap Zio setelah menjauh gadis itu yang tak lain adalah Cera.


saat makan malam waktu itu gue melihat Rio yang bersebelahan dengan Gadis itu yang duduk di depanku. Entah apa yang mereka bicarakan saat Gadis itu berbisik dan Rio menjawab nya. Lalu Gadis itu menatapku, dengan tatapan yang mungkin sedikit takut


"Gue yakin gadis itu bertanya tentangku" gumamnya dengan seringaian


Setelah ayah memberitahuku bahwa aku akan berangkat dengan gadis sialan itu, gue segera bersiap. Mengingat Saat gadis itu koma, gue memang berada di akademi. Gue kira gadis itu akan mati. Namun sial nya gue salah. Memang seperti nya kematian terlalu mudah untuk nya.


Paginya gue makan dan lagi lagi Rio duduk bersebelahan dengan gadis itu. Entah sejak kapan mereka jadi seakrab ini. Seingat gue Rio tak pernah peduli dengannya. Tapi...ya sudahlah


Gue keluar mengekori ayah dari belakang. Saat kereta sampai, gue sempat berpamitan dulu dengan ayah, tentu saja sebagai tata Krama. tetapi....Ck, gadis itu mendahului ku naik ke kereta, memang pada dasarnya tak punya sopan santun dan tata krama


Saat di tengah perjalanan, gue ngeliat gerak gerik gadis itu yang seperti orang mengantuk. Tapi gue juga peduli. Tak lama setelah itu.


Puk


Gadis itu tertidur dengan kepalanya yang berada di bahu sepupu Azril Sharkan Abraham . Gue liat sepertinya dia terkejut, meski ekspresi nya tak terlihat karena menggunakan topeng.


CK....Anak ini menyusahkan!


Gue pindahin kepala gadis ini ke bahu gue pelan agar tak terbangun. Kenapa gue pindahin jawabannya karena sepupu gue tak terbiasa berinteraksi secara nonfisik apalagi berinteraksi secara fisik.


Huhhh


"tunggu tunggu, kenapa bahu gue basah" Gue menengok ke samping dan....


Ileran


"Sialan" Umpat Zio pelan


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author : HAYY HAYY AKU KEMBALI😙😚


Kia : Berisik!


Cera : bisa diam gak Thor gue lagi mikir ini


Zainal : Hm😑


Zio : *menatap tajam dengan tangan mengasah pisau*


Author : huhuhu kalian jahat😭😭


Rio : banyak diam itu lebih baik *menepuk bahu author*