Toxic Friendzone

Toxic Friendzone
Bermuka Dua



"Bagaimana keadaanmu?" tanya seorang laki-laki ketika melihat gadis yang ia tunggu telah membuka matanya.


"Aku kenapa?"


Gadis itu menatap sekitar dengan pandangan linglung, lalu ia melirik tangannya yang tertancap infus. Seketika tubuhnya gemetar, ia tidak ingat apapun yang terjadi. Kenzie tersenyum lalu mengusap lembut rambut Kayla, untuk menenangkan gadis tersebut.


"Tidak apa-apa. Kata dokter kau hanya kecapean." bisik Kenzie lembut.


"Lalu kenapa aku diinfus?"


Tubuh Kayla semakin bergetar, matanya sudah berkaca-kaca. Ia tidak berani bergerak barang sedikitpun, takut-takut benda yang menempel di punggung tanggannya itu menyakiti dirinya.


Gadis itu begitu phobia dengan infus.


"Tenanglah Kay, supaya kau cepat sembuh."


Kayla bungkam, ia memilih tidak bertanya lebih lanjut. Jika hanya jawaban 'tenang serta tidak ap-apa' saja yang ia dapatkan. Memang orang yang tidak mengalami memang tidak bisa memahami derita orang lain. Gadis itu hanya menatap langit - langit kamar dengan tatapan kosong. Entah apa yang terjadi, ia benar-benar tidak ingat apapun.


Kenzie yang melihat Kayla bungkam hanya diam saja. Biarlah gadis itu tenang terlebih dahulu. Lelaki itu kemudian bangkit, setelah menyematkan kecupan pada kening Kayla. Gadis itu hanya diam saja, namun hatinya menghangat mendapat perlakuan seperti itu. Mengingatkannya pada seseorang.


***


Laki-laki itu memasuki kamarnya, untuk menyegarkan diri. Langit sudah gelap, dan digantikan oleh rembulan. Dari siang ia hanya berdiam diri menatap gadis kecilnya yang terlelap. Kenzie menyalakan shower, dan air mulai membasahi tubuhnya. Pikirannya menerawang pada pertemuan singkatnya dulu. Ia terkekeh ringan, sambil menyugar rambutnya kebelakang.


"Kau selalu bisa mengganggu pikiranku." gumamnya sendiri.


Kenzie keluar dari kamar mandi, ia tidak boleh terlalu lama. Dengan cepat ia memakai bajunya, dan keluar kamar dengan berlari kecil. Setelah sampai di depan pintu ia begitu terkejut, karna mendengar isakan kecil dari seseorang. Kenzie membuka pintu dengan kasar dan seketika amarahnya memuncak.


"Maid!" teriaknya lantang.


"Iya tuan. Tuan membutuhkan sesuatu?" cicit salah satu maid sambil membungkuk 90 derajat dengan nafas yang ngos-ngosan. Hampir saja jantung mereka lepas dari tempatnya ketika mendengar teriakan tuannya yang bak petir itu.


"Apa aku membayar kalian untuk bersantai?! Lihatlah di dalam apa yang terjadi. Benar - benar tidak becus!" Teriaknya lantang, yang membuat para pelayan itu memejamkan matanya erat.


Kenzie kemudian masuk ke dalam dan diikuti oleh para pelayan itu. Nyawa mereka saat ini, benar-benar sedang terancam.


"Hiks hiks bu-bunda.." isak tangis gadis itu pilu.


Melihat Kayla yang terduduk dilantai dengan isak tangis, serta muntahan di sampingnya. Membuat hati Kenzie terasa begitu sakit. Ia merutuki kebodohannya, yang sempat meninggalkan gadis itu sendiri. Kenzie menggendong Kayla dan kembali membaringkannya dengan perlahan. Tangannya terulur untuk membersihkan sisa muntahan di bibir Kayla, tanpa rasa jijik sedikitpun. Sedangkan para maid itu sudah pergi setelah membersihkan ruangan itu.


"Apa yang sakit hm?" tanyanya lembut.


"A-aku hiks mau bu-bunda."


"Iya nanti aku panggil bunda kesini, sekarang kamu tenang dulu."


Kayla tidak menanggapinya, gadis itu lebih memilih memejamkan matanya dan berbalik memunggungi Kenzie. Lelaki itu hanya menghela nafas, dan berlalu keluar.


Setelah melihat sahabatnya keluar Kayla membalikkan badannya, dan menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Pikirannya berkelana, yang diingatnya terakhir kali adalah ia yang menikmati berbagai macam makanan di kantin sekolah. Apakah itu penyebabnya?


Tapi terakhir kali ia menikmati berbagai macam makanan seperti itu, memang kondisinya menurun. Tapi tidak sampai ia diinfus seperti ini. Terlebih ia merasa perutnya kram dan selalu ingin muntah. Kayla mengulurkan tangannya berusaha menggapai segelas air yang terletak di nakas samping tempat tidur. Selain kram perut, sepertinya ia juga mengalami dehidrasi.


"Aww sa-sakit." gumamnya ketika hendak meraih segelas air yang serasa begitu jauh.


Prang!


Naas gelasnya jatuh, dan air yang terbuang sia-sia. Serta dahaganya yang tak terpenuhi. Kayla menghela nafasnya pelan, dan kembali membaringkan tubuhnya. Kenapa ia tidak memanggil maid saja?  Jawabannya sederhana, ketika ia bicara perutnya akan bertambah lebih sakit.


Pintu kembali terbuka dan menampakkan sosok lelaki tampan yang membawa sebuah nampan. Kenzie mendekat dan begitu terkejut ketika melihat pecahan gelas di lantai.


"****! Dasar maid bodoh." umpat Kenzie pelan.


"Kay kamu mau minum?"


"Hm."


"Kenapa nggak manggil aku tadi?" tanya Kenzie khawatir.


Gadis itu hanya menggeleng sembari tersenyum tipis.


"Sekarang kamu makan dulu, biar cepat sembuh. Bunda udah aku telfon tadi, dan dia bilang mau kesini." ujarnya sambil membantu Kayla duduk.


"Aww sa-sakit Ken." ringis Kayla sambil mencengkram erat tangan Kenzie, berusaha menyalurkan rasa sakitnya.


"Apa yang sakit?" tanyanya panik.


"Pe-perutku rasanya sa-sakit sekali."


"Ini minum dulu."


Kenzie memberikan minum pada Kayla dan tidak menanggapi rintihan gadis itu. Memang apa yang harus ia katakan? Reaksi dari aksi yang ia lakukan memanglah seperti itu, dan Alan telah mengatakannya tadi. Menyampaikan pesan dari dokter yang telah diusir secara kasar oleh tuannya.


Kayla meminum air itu dengan terburu-buru, sungguh ia merasa begitu haus.


"Pelan-pelan Kayla."


"Lagi."


"Lagi."


Kenzie dengan sabar terus mengisi gelas yang telah kosong itu, dan ini adalah yang kelima. Dehidrasi adalah efek yang sangat kuat dari makanan kadaluwarsa itu, setelah perut yang kram.


"Sudah?"


"Iya." jawab Kayla sambil mengangguk pelan.


"Apa itu?" cicitnya pelan sambil menunjuk sebuah mangkuk yang di pegang Kenzie.


"Ini bubur Kay. Sekarang kamu makan, ayo buka mulut."


Kayla menggeleng keras sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan mungilnya.


"Aku tidak suka."


"Kay, jangan bandel. Ayo makan!"


"Tapi aku tidak su-"


"Kayla, kau tidak mau kan? Kalau infus itu menempel di tanganmu selama seminggu?" ujar Kenzie sambil tersenyum, namun perkataannya begitu menusuk.


Kayla semakin menggeleng keras, dua jam saja ia tidak tahan. Apalagi seminggu?


"Nah sekarang ayo makan. Orang sakit tidak boleh protes, nanti tambah sakit!" ujar Kenzie sambil menyuapi Kayla.


Gadis itu menerimanya dengan patuh, meski rasa hambar menyerang lidahnya.


"Kayla sayang!!" pekik seorang wanita  yang membuat Kayla hampir tersedak. Ia pun menoleh dan mendapati ayah dan bundanya yang berteriak histeris.


"Ayah...bunda."


"Mana yang sakit? Apa yang kamu makan? udah bunda bilangin kamu nggak boleh jajan sembarangan."


Kayla menutup telinganya ketika mendengar ocehan bundanya yang seperti kereta api. Sedangkan ayahnya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Kayla baik-baik aja bunda. Bunda jangan khawatir." ujar Kayla sambil memeluk erat bundanya. Meski perutnya serasa di tusuk-tusuk ketika badannya bergerak sedikit saja.  Ia tidak boleh membuat bundanya menjadi lebih panik.


"Iya, tapi Kayla nggak boleh lagi jajan sembarangan."


Kayla hanya mengangguk sambil tersenyum hangat.


"Ken, terimakasih sudah merawat Kayla. Nanti kalau dia maksa jajan sembarangan lagi kamu hukum aja tuh anak ayah yang bandel." ujar Larry ayahnya Kayla, sambil mengelus rambut putrinya sayang.


"Ini juga aku hukum kok yah." serunya dalam hati disertai seringai yang mengerikan.


"Ayah kayak sama siapa aja, nggak usah sungkan kali."


"Apa sakitnya Kayla parah Ken?" tanya Larry khawatir.


"Nggak yah, kata dokter dia akan sembuh beberapa hari lagi. Karena imun tubuhnya yang lemah."


Larry mengangguk paham, sejak kecil putrinya ini memang memiliki imun yang lemah dan mudah jatuh sakit. Nesya terus mengelus kepala putrinya hingga Kayla tertidur pulas.


"Ayah sama bunda nginap?" tanya Kenzie setengah berbisik.


Larry dan Nesya menggeleng sambil tersenyum. Lagipula ia percaya pada Kenzie, yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.


"Nggak Ken, ayah pulang dulu sama bunda."


"Jaga Kayla baik-baik."


Kenzie mengangguk, dan mengantar orang tua Kayla keluar.


***


"Jika aku Tuhan, aku akan menghentikan waktu sebentar."


"Hingga aku puas menatapmu."


Laki-laki itu berbaring di sebelah gadis yang tengah tertidur pulas, tenggelam dalam alam mimpi yang indah. Kenzie terus menatap wajah damai Kayla, sembari memainkan rambut gadis itu.


"Hm, wangi. Aromamu selalu membuatku candu." ujarnya sambil terus menciumi rambut Kayla. 


"Kay tahu? Jantungku selalu berdebar kencang jika berada di dekatmu."


Kenzie mengambil tangan mungil gadis itu dan mengarahkan ke jantungnya, yang selalu berdetak cepat. Jika berada dekat dengan gadis kecilnya.


"Kay milik Ken. Always."