Toxic Friendzone

Toxic Friendzone
Drama



Kayla menatap Kenzie dengan rasa tidak percaya. Dia tidak mengerti mengapa Kenzie tiba-tiba memberikan ciuman lembut di pipinya setelah perlakuan buruk yang dia alami. Namun, dia menyadari bahwa dia harus terus berpura-pura dan memainkan perannya dengan baik.


Setelah beberapa saat, Kayla mencoba untuk melepaskan diri dari genggaman eratnya dengan lembut. Namun, Kenzie menariknya lebih dekat lagi dengan senyuman tipis di wajahnya.


"Maafkan aku, Kayla," bisik Kenzie sambil menatap mata Kayla dengan tulus. "Aku tahu ini mungkin terasa aneh, tapi aku melakukannya karena ada alasan di baliknya. Tolong percayalah padaku."


Kayla melihat ekspresi tulus di wajah Kenzie, dan dia merasakan ada sesuatu yang berbeda pada lelaki itu kali ini. Tanpa sepatah kata pun, Kayla memutuskan untuk memberikan Kenzie kepercayaan sementara, meskipun hatinya masih terasa tak nyaman.


Waktu berlalu dan Kayla masih memainkan perannya seolah tidak pernah terjadi apapun di antara mereka. Mereka berdua menyusuri lorong sekolah yang sepi, menjauh dari pandangan orang lain. Kenzie melangkah dengan mantap, sementara Kayla mengikuti dengan hati-hati. Tidak ada yang berbicara selama perjalanan mereka, tetapi suasana yang tidak nyaman terasa begitu kentara.


Setelah beberapa menit, Kenzie berhenti di sebuah ruangan kosong di salah satu sudut sekolah. Ruangan itu tampak tidak terawat, dengan debu yang menutupi meja-meja dan kursi-kursi yang berantakan. Kayla mengerutkan kening, bertanya-tanya mengapa Kenzie membawanya ke tempat yang terabaikan seperti ini.


Kayla terdiam sejenak hatinya bertanya-tanya dan juga was-was. Ini masih pagi ia tidak mau terjadi sesuatu seperti apa yang ada di pikirannya sekarang.


"Kenzie, kenapa kita berhenti di ruangan ini?" tanya Kayla dengan suara parau. Matanya melirik sekeliling ruangan yang tampak sunyi dan berantakan.


Kenzie tersenyum misterius, menatap Kayla dengan mata penuh keyakinan. "Tenang saja, Kay. Aku punya sesuatu yang ingin kuceritakan padamu di sini."


Kayla menjadi penasaran dan duduk di salah satu kursi yang masih bisa dipakai. Dia menunggu dengan hati yang berdebar-debar, bertanya-tanya apa yang ingin dikatakan Kenzie.


Di antara debu-debu yang terbang, Kenzie melangkah mendekati Kayla. Dia duduk di kursi di depan Kayla dan melihatnya dengan penuh perasaan. "Kayla, sudah lama kita bersahabat, bukan?"


Kayla mengangguk, wajahnya penuh tanda tanya. "Ya, sudah hampir sepanjang hidup kita. Kenzie, kau terlihat serius. Apa yang ingin kau katakan?"


Kenzie menghela nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Aku memiliki perasaan yang lebih dari sekadar persahabatan padamu, Kay. Selama ini, hatiku tak pernah berhenti untuk memikirkanmu. Kau seperti bintang yang menuntunku dalam kegelapan. Aku jatuh cinta padamu."


Kayla terdiam, bibirnya terbuka tanpa suara. Dia tidak pernah menyangka bahwa Kenzie punya perasaan lebih dari sekadar sahabat padanya. Selama ini, dia juga merasa ada ikatan yang spesial antara mereka, tetapi dia takut untuk mengatakannya.


Mendengar itu, Kenzie mengepalkan tangan ringan di pangkuannya, merasa lega. "Benarkah, Kay? Aku sungguh takut kehilanganmu jika aku mengungkapkan perasaan ini."


Kayla tersenyum, meneguk keserakahan di dadanya. "Kenzie, kita telah melewati banyak hal bersama. Persahabatan kita kuat, dan aku juga merindukanmu ketika kita tidak bersama. Jika ini yang kamu inginkan, mari kita menjalin hubungan yang lebih dari sekadar teman."


Kenzie tersenyum lebar, rasa bahagia memancar dari wajahnya. Dia meraih tangan Kayla dengan lembut, mengucapkan terima kasih secara tak langsung. "Ya, Kayla, aku ingin menjalin hubungan yang lebih dalam denganmu. Bersamamu adalah kebahagiaanku."


Ruangan kosong itu, yang tadinya tampak suram dan tidak terawat, seolah berpendar dengan cahaya baru. Kayla dan Kenzie saling menggenggam tangan, merasa dunia mereka bergeser menjadi sesuatu yang indah dan lebih terang.


Dari sudut ruangan lain, mereka mendengar langkah-langkah mendekat. Melihat itu, Kenzie tersenyum dan berkata, "Saatnya mengumumkan hubungan kita pada teman-teman kita, Kay. Aku tidak sabar untuk memperkenalkanmu sebagai kekasihku."


Kayla mengangguk, penuh semangat dalam matanya. Keduanya berdiri dengan tangan tergenggam dan berjalan keluar ruangan kosong itu, siap menghadapi dunia luar yang menanti mereka berdua.


Semangat cinta mereka terus tumbuh, dalam persahabatan dan hubungan yang jauh lebih dalam. Bersama-sama, mereka siap mengarungi kehidupan dengan kegembiraan, kekuatan, dan cinta yang tidak pernah pudar.


"Bukankah indah sayang?" Kenzie tersenyum smirk menatap Kayla yang tengah menapatnya datar. "Bukankah indah jika itu terjadi, dan bukan kepura-puraan semata?" bisiknya parau sembari membelai wajah gadis itu.


"Lebih indah jika kau tidak mengatakan apapun Kenzie." sanggah Kayla dan menekankan setiap kalimat yang ia katakan, ia muak berpura-pura dan sekarang akan ia ikuti permainan lelaki itu.


"Dialog yang bagus sayang, bagaimana jika kita terapkan saja?" kekeh Kenzie, ia tidak menyangka jika gadis kecilnya sepintar ini. Tapi menarik juga, bukan kisah yang flat.


Kayla menepis tangan lelaki itu dan berlari keluar namun tangannya segera di cekal oleh Kenzie.


"Kau pikir semudah itu pergi dariku sayang?"