Toxic Friendzone

Toxic Friendzone
Misteri



Senandung kecil memenuhi koridor, seorang gadis terlihat berlari kecil sambil memainkan tali tasnya. Sesekali ia juga tersenyum saat siswa siswi lain menyapanya ramah.


"Hai Kayla, udah sembuh ya?" tanya seseorang yang berpapasan dengannya dikoridor. Kemarin satu sekolah sempat heboh karna Kayla yang tiba-tiba saja pingsan, dan sekarang malah sudah terlihat berlarian.


"Udah, cepat kan? Iya dong ini kan Kayla. Jadi anaknya kuat." jawabnya semangat sambil tertawa kecil.


"Bagus dong. Yaudah kami duluan ya Kay, bye.."


"Iya bye teman-teman..." balas Kayla sambil melambaikan tangannya tanpa memperhatikan jalannya. Hingga tiba-tiba ia merasa menabrak sesuatu, namun Kayla juga tak mengalihkan pandangannya ke depan.


"Aww... kok bisa ada tembok disini sih?" gerutunya sambil mengusap keningnya. Ini terasa keras, lebih sakit dari pada tembok beneran. "Tapi kok ada kaki ya.." Kayla menggaruk tengkuknya yang tak gatal, kemudian secara perlahan ia menoleh dan seketika terkejut.


"Hah? Temboknya m-mana?"


"Tembok apa hm...? Dari tadi aku disini menyimak gerutuan kamu Kay..."


"H-hah..?"


"Hah hoh hah hoh aja kamu, bentar kamu nggak sampai amnesia kan karna nabrak aku?"


"Ih ya nggak lah, ya kali aku sampai amnesia karna kejedot dada bidangnya kamu, tapi lumayan keras sih..eh..." Kayla menutup mulutnya sendiri, untung dia tidak sampai menyebut apa yang ada dipikirannya saat ini, apalagi kalau bukan roti sobek.


Lelaki itu tertawa nyaring, sungguh kepolosan gadis dihadapannya ini begitu menggemaskan. "Dasar.." ujarnya sambil mengacak gemas rambut Kayla yang disertai tawa kecil membuat mata bulat gadis itu mengerjap indah


Kayla menepuk pipinya sendiri, harap-harap ini bukanlah mimpi seperti apa yang selalu ia impikan. Gadis itu mencubit pelan lengannya, dan kemudian mengaduh sakit. Ternyata ini bukan mimpi, ini kenyataan dan sedang terjadi dihadapannya serta dialami oleh dirinya sendiri. Azka semakin tertawa nyaring, entah apa yang dilakukan oleh gadis dihadapannya ini sampai-sampai ia terlihat mencubit dirinya sendiri.


"Astaga Kayla, apa yang kau lakukan? Tenang ini bukan mimpi.." seru Azka sambil meraih tangan yang dicubit sendiri oleh empunya tadi dan mengusapnya pelan. "Lain kali kalau kau ingin memastikan mimpi apa bukan, cubit saja aku. Jangan tangan yang indah ini, kasihan nanti dia lecet gimana.."


"H-hah iya.." Kayla ternganga, sungguh ini jauh diluar ekspetasinya. Kata orang ekspetasi tidak pernah sesuai dengan realita. Tapi sekarang apa yang ia alami jauh dari eskpetasi yang ia harapkan.


"Baiklah aku duluan ya Kay, jaga kesehatanmu jangan sampai sakit lagi.."


"I-iya.."


Azka tersenyum dan melambaikan tangannya kemudian melenggang pergi. Meninggalkan Kayla yang masih terlihat ternganga, dan mematung di tempat.


"Ya ampun, aku mimpi apa ya semalam.."


"Mimpiin cogan novel.."


"Cogan novel? Hm iya sih, tapi tadi kan cogan nya asli.." gumam Kayla yang masih termangu ditempat.


"Kay.."


"Hm.."


"Mikayla!" teriak Jennita, namun tak begitu keras takut-takut nantinya malah jadi pusat perhatian.


"Iya Jenn.."


"Iya iya apanya, ayo ke kelas! Pasti kelas sudah dimulai sekarang.." gerutu Jennita sambil menarik tangan sahabatnya menuju ke kelas. Ia menggelengkan kepalanya heran, sahabatnya itu masih saja terlihat melamun tapi ia juga tak menolak ketika ditarik.


Kayla mengikuti langkah Jennita yang tergesa, entah kemana dirinya akan dibawa, ia tidak peduli. Namun satu hal yang pasti, pagi ini adalah pagi terindah dalam hidupnya.


"Kay ayo cepat, nanti kita dihukum.."


Meresahkan sekali, kemarin sahabatnya itu tiba-tiba saja pingsan saat mengobrol dengannya, dan pagi ini Kayla malah terlihat melamun dan senyum-senyum sendiri di koridor. Ia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi


***


Burung berkicauan di dahan yang rapuh, seakan tak menyadari kalau dahan yang ia hinggapi sudah tua dan  bisa patah kapan saja. Tapi buat apa cemas? Saat dahan yang ia hinggapi patah, masih ada sayap yang akan menyelamatkannya.


Itulah hidup, saat kau berkecukupan datanglah rasa malas untuk belajar dan mengabaikan pendidikan. Buat apa belajar. Toh sudah berkecukupan, bukankah belajar untuk bekerja? Itu salah, saat harta tak diimbangi dengan pendidikan lalu buat apa? Apa kita hidup hanya untuk menikmati harta dan warisan? Tanpa disadari harta tidaklah kekal, tidak seperti ilmu yang dibawa sampai mati.


Seperti burung tadi, ia mengabaikan dahan yang rapuh dan mengandalkan sayapnya untuk menyelamatkannya. Tapi ia lupa saat ia terbang menyelamatkan diri, masih ada pemburu yang siap untuk menembaknya.


SMA Saint Peterson, sebuah sekolah yang berdiri tegak ditengah kota Jakarta yang bangunannya sampai sekarang masih menjadi teka-teki untuk semua orang. Sekolah yang dihuni oleh kalangan atas sampai dengan bawah itu, layaknya bangunan istana yang dipimpin oleh seorang raja. Namun dibalik itu semua, ternyata hanya ada siswa siswi yang siap untuk menuntut ilmu. Belajar dan belajar, untuk menghadapi kerasnya dunia.


"Jenn aku mie ayam ya satu sama jus jeruk, terus cabe nya yang banyak sama mie nya juga ya.."


"Hm.."


"Ih Jennita kok hm doang? Dengar nggak aku bilang apa tadi?"


"Iya iya Kay.."


Jennita hanya mengangguk dan mengiyakan apa yang sahabatnya itu katakan. Biar saja gadis itu berkhayal makan itu semua. Karna apa yang ada  ia katakan tadi tak mungkin terjadi setelah kejadian kemarin.


"Bener ya Jenn? Nggak boong kan?" Selidiknya sambil menunjuk-nunjuk Jennita, yang hanya dijawab tatapan malas oleh empunya.


Kayla bersedekap dada, hari ini ia sangat ingin makan itu semua setelah kejadian kemarin yang membuatnya harus makan bubur tawar seharian. Kayla menepuk wajahnya, tidak ia tidak mau makan itu lagi. Membayangkannya saja sudah membuatnya mual.


"Wah Ken, aku minta ke Ken saja. Papay Jennita.."


"Iya Kay papay.." balas Jennita sambil melambaikan tangannya ke Kayla. Kemudian ia menutup mulutnya sendiri menahan tawa. Ada-ada saja. Minta ke Kenzie? Mimpi saja sahabatnya itu kalau dikasih.


...tbc....