
Kayla mengerjapkan matanya, karena terusik oleh sinar matahari yang begitu menyengat. Namun ia merasakan seperti ada sesuatu yang menimpanya, dan seketika ia terbelalak kaget melihat Kenzie yang terbaring lemas di atas perutnya.
"Kenzie?" gumamnya pelan.
Kayla berusaha membangunkan Kenzie namun nampaknya laki-laki itu tidak menunjukkan tanda-tanda ia akan membuka matanya. "Bangun ken!" ujar Kayla sambil berusaha memindahkan kepala Kenzie yang berada di atas perutnya. Ia merasa di timpa beban yang begitu berat, sedangkan tubuhnya begitu kecil.
"Awww.." pekik Kayla kala infus yang menempel di tangannya terlepas saat berusaha memindahkan Kenzie. Kayla memekik kesakitan, tangannya mengeluarkan darah yang membuatnya ketakutan.
"Sa-sakit, Ken bangun!!" seru Kayla sambil mengguncangkan tubuh Kenzie.
Melihat tangannya yang masih mengeluarkan darah, Kayla meraih selimut untuk menutup luka serta menghentikan darahnya. Gadis itu masih mencoba membangunkan Kenzie, namun nihil lelaki itu masih terbaring lemas di pangkuannya.
"Ken.." panggil Kayla lagi, sambil mengusap peluh pada kening Kenzie. Ia bisa merasakan suhu tubuh lelaki itu meningkat.
Sahabatnya itu nampaknya demam, dan ia tidak bisa membangunkannya ataupun memindahkan tubuh lelaki itu dari pangkuannya. Kayla celingukan, ia tidak tahu harus memanggil siapa.
"Seseorang apa ada orang diluar?!" teriak Kayla nyaring.
"Apa rumah sebesar ini tidak berpenghuni?" gumamnya sambil meringis melihat kondisi tangannya. Pagi ini dirinya sudah merasa lebih baik, namun justru ia mendapati sahabatnya terbaring lemah di pangkuannya. Apa yang terjadi?
Kayla kembali membaringkan tubuhnya, sepertinya tidak seorangpun yang mendengar teriakannya. Ia menatap langit-langit kamar sambil berpikir, apa yang harus ia lakukan. Seketika ia tersentak, ia ingat satu nama yang ia kenal disini.
"Kak Al!! Kak Alan?!" teriak Kayla lantang, harap-harap lelaki itu mendengar teriakannya.
"Huh. Apa kamar ini kedap suara?" gerutu Kayla pelan.
"Ken, bangun dong. Kamu kenapa sih?" serunya sambil menggoyangkan tubuh Kenzie.
BRAK!
Kayla terlonjak kaget, ketika pintu pada kamar yang ia tempati di dobrak kasar. "Ya ampun, kalian ngapain?" tanya Kayla heboh, saat melihat pria berbadan besar berseragam hitam, lengkap dengan senjatanya berbaris rapi di hadapannya. Juga para maid yang senantiasa menundukkan kepalanya.
"Kalian tuli?! Semuanya yang ada disini tidak ada yang berguna, ****! Pergi kalian semua, dan jangan pernah datang lagi jika masih sayang nyawa!"
Kayla tersentak mendengar teriakan mengerikan dari seseorang yang dipanggilnya kakak tadi, Alan. Kemudian datanglah seorang pria paruh baya menghampirinya, dan mengobati luka di tangannya.
Seorang wanita yang diketahui maid itu maju dan membungkuk dengan tubuh yang gemetar. "Tuan ma-maafkan kelalaian kami..."
"Pergi! Bukan satu dua kali kalian membuat kesalahan. Tapi sudah berkali-kali!"
Alan melambaikan tangannya ke udara, dan pria bertubuh besar yang berada di ruangan itu mengusir keluar para maid yang terus meminta maaf tersebut.
"Kak Alan, apa harus sampai seperti itu?" cicit Kayla pelan, suaranya hampir tidak terdengar. Ini mengerikan, jiwa polosnya menyaksikan hal yang menurutnya tidak biasa.
"Mereka pantas mendapatkannya nona." jawab Alan datar.
"Tapi kasihan kalau mereka di pecat kak. Bagaimana nanti nasib keluarga mereka?"
"Apa nona sudah merasa baikan?"
Kayla merengut kesal, lelaki tampan namun datar dan dingin di hadapannya ini mengalihkan pembicaraannya. "Iya sudah." jawabnya kemudian, sudahlah mungkin lelaki yang ia panggil kakak itu tidak ingin membahasnya lagi.
"Ken kenapa?" tanya Kayla pada dokter yang memeriksa sahabatnya itu.
Dokter tersebut terlihat menghela nafas pelan, "Tidak apa-apa, tuan hanya kelelahan." Kayla mengangguk paham, kemudian beranjak berdiri. Ia tidak habis fikir, kemarin sahabatnya baik-baik saja.
"Nona mau kemana?" tanya Alan cepat.
"Kamar mandi."
Alan menganggukkan kepalanya, kemudian menatap dokter itu. Melihat Kayla telah pergi, Alan mulai bertanya. "Bagaimana keadaannya?"
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, tapi sebaiknya kurangilah mengkonsumsi alkohol."
"Baiklah, sekarang kau boleh pergi."
"Nona Kayla sudah lebih baik sekarang, pengaruh dari makanan itu sudah hilang. Tapi dia masih harus meminum obatnya." ujar dokter itu sebelum pergi, dan Alan menganggukkan kepalanya.
Setelah kepergian dokter itu, Alan menatap Kenzie khawatir. Sudah ia katakan untuk tidak terlalu berlebihan saat meminum alkohol. Namun apa boleh buat, sifat keras kepala lelaki itu sangat mendominasi.
Pintu terbuka, membuatnya terhenyak dari lamunannya. Kayla masuk, namun raut wajah gadis itu membuat Alan mengernyit heran. "Ada apa nona?" tanya Alan menatap Kayla.
Kayla menautkan kedua jarinya, dan bergerak gelisah, "Kak, a-aku lapar."
Kayla melangkahkan kakinya menuju balkon kamar dan membuka pintunya perlahan. Angin segar seketika menerpa wajahnya, begitupun sinar matahari yang menusuk penglihatannya. Ternyata hari sudah siang, pantas saja ia merasa sangat lapar. Sebenarnya ia tak malu mengucapkannya, tapi hanya saja ia merasa sungkan untuk meminta tanpa kehadiran sahabatnya itu. Meskipun ini rumah Kenzie sendiri.
Matahari bersinar begitu cerah, membuat suasana di rumah sahabatnya terasa sangat nyaman. Burung-burung berkicauan, harum semerbak dari hamparan taman bunga di bawah sana sampai ke indra penciumannya. Kayla mengedarkan pandangannya, ini tidak bisa disebut rumah. Tempat yang ia pijaki ini lebih mirip seperti bangunan disekolahnya. Sebuah kastil, dengan hamparan taman luas yang ditumbuhi oleh dari berbagai macam bunga. Kayla masih melihat sekeliling, ternyata ia baru menyadari jika mansion ini, jauh dari hiruk pikuk keramaian.
Apa disini juga ada menara? Pikirnya dalam hati.
Meski bukan pertama kali Kayla datang ke rumah Kenzie, namun baru kali ini ia mengamati tempat itu. Kayla memegang pembatas balkon, sambil menatap ke depan dengan senyum manisnya. Tempat yang indah dan menyejukkan hati. Sepi dan jauh dari keramaian.
Kayla tersentak kala tangan besar seseorang melingkar di perutnya. Ia pun menoleh, "Ken?"
"Hmm."
"Sudah merasa baikan?"
"Hmm."
"Lepas dulu." ujar Kayla sambil berusaha melepaskan tangan Kenzie yang melingkar begitu erat. Ia merasa sesak, terlebih kenapa sikap sahabatnya menjadi aneh?
"Ken, aku tidak bisa bernafas!"
Kenzie melonggarkan pelukannya, namun tangannya tak lepas sedikitpun yang membuat Kayla menjadi risih. "Ken, kau kenapa sih? lepas dulu aku lapar."
"Lalu?"
"Ya aku mau makan."
"Nanti saja."
"Ken..."
Kenzie tak menghiraukan ocehan Kayla, ia bahkan kembali mengeratkan pelukannya sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Kayla. "Kay, tadi aku melihat darah di selimut. Apa kau baik-baik saja?" lirihnya pelan.
"Aku baik-baik saja, hanya saja tadi infusnya terlepas yang membuat tanganku berdarah." jelas Kayla, namun tangannya tetap berusaha melepaskan tangan Kenzie di perutya yang justru semakin terasa mengetat.
"Kay, apa kau bisa diam?" bisik Kenzie, terdengar datar. Kenapa gadis ini seolah menolak kehadirannya?
Kayla tertegun, dan seketika berhenti meronta. Nada bicara itu, juga pernah ia dengar sewaktu berangkat sekolah waktu itu. Apa ini?
Ketukan pintu terdengar, membuat Kayla menghela nafas lega. Ia pun melirik Kenzie, lelaki itu terlihat memejamkan matanya. "Ken ada yang mengetuk pintu."
"Biarkan saja."
"Aku rasa itu orangtuaku."
Mendengar itu membuat Kenzie membuka matanya, dan melepaskan pelukannya. Kayla tersenyum senang, dan berjalan untuk membuka pintu. Seorang maid, lengkap dengan sebuah nampan berisi makanan telah berdiri dihadapannya dengan senyuman. Kayla mempersilahkan masuk, dan pelayan itu meletakkannya di meja dan berlalu keluar.
"Kau bohong."
"Aku lapar Ken, lagipula hari sudah siang." ujar Kayla mulai menyantap sarapan sekaligus makan siangnya.
Kenzie duduk di samping Kayla, dan mengamati wajah manis gadis itu ketika makan. "Suapi aku."
"Hah?"
"Aku juga lapar."
"Aku akan mengambilkannya." ujar Kayla hendak berdiri.
"Tidak Kayla, satu piring berdua. Lagipula aku masih sakit, jadi harus disuapi." katanya dengan cengiran lebar.
Kayla kembali duduk, dan menyuapi sahabatnya itu dengan malas.
"Gak ikhlas nih?"
"Ikhlas Ken, kalau tidak udah aku habiskan sendiri." ujar Kayla sambil terus menyuapi Kenzie.
Kenzie tersenyum senang, ia terus menerima suapan demi suapan dari Kayla.
"Kenapa kau tiba-tiba sakit?"
...TBC...