
"Coklat dari Azka!" tekan lelaki itu sembari menatap Kayla tajam, namun gadis itu nampaknya masih enggan untuk membuka mata. Namun setelah mendengar nama Azka, ia membuka matanya dan menatap Kenzie dengan linglung. Darimana lelaki itu mengetahuinya?
"Coklat? Azka nggak ngasih apa-apa."
Kenzie tertawa sumbang setelah mendengar perkataan Kayla, tidak ada yang akan lepas dari pandangangannya. "Aku masih meminta baik-baik Kay..." bisik Kenzie di telinga gadis itu sembari menyeka keringat yang terus bercucuran di pelipis Kayla. Namun tangannya terhenti ketika Kayla menahan tangannya. "Kenapa emangnya?"
"Kenapa kalau aku dikasih coklat sama Azka?" tanya Kayla sembari menatap berani mata tajam yang menghunus retinanya.
"Aku masih mampu buat beliin kamu coklat!" teriak Kenzie lantang, apalagi setelah melihat gadis itu yang menatapnya dengan berani seolah menantangnya.
Kayla terdiam, dan setelahnya ia tersenyum menatap Kenzie. "Aku juga mampu beli coklat sendiri Ken," bisik Kayla sembari tersenyum, "Tapi diberikan oleh orang yang spesial itu jauh lebih berharga, ini bukan tentang nilai tapi sebuah ketulusan!" lanjutnya lagi dengan tatapan yang tak lepas dari lelaki itu.
"Berikan coklatnya!"
"Minggir Kenzie!" balas Kayla tak kalah keras ketika lelaki itu kembali berusaha meminta coklatnya.
"Berikan coklatnya Kayla!"
Kayla terdiam setelah mendengar nada bicara lelaki itu yang naik satu oktaf, inilah watak asli dari seorang Kenzie.
"Kau nggak punya hak untuk itu, jadi sekarang menyingkir dari hadapanku!"
Kenzie tertawa sumbang, semua orang berbicara tentang hak dan sekarang Kayla juga menyinggung hak itu. "Hak yang seperti apa sayang?"
"Kenzie minggir!"
"Kau mau tau hak apa?" smirk Kayla menatap wajah Kenzie yang merah padam menaha amarah.
"Kau bukan siapa-siapa dihidupku, jadi kau tidak punya hak apapun. Puas?"
"KAYLA!"
PLAK!
Kayla memegang pipinya yang terasa kebas, ia tersenyum getir. Akhirnya lelaki yang selalu menunjukkan kelembutannya itu menunjukkan sifat aslinya. Sahabat kecilnya yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri, yang selama ini berdiri bagaikan sebuah perisai, kini mengangkat tangan padanya. Kayla mendongak dan menatap Kenzie datar sembari mengelap sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah.
"Minggir!"
"Kay a-aku..."
"A-aku tidak sengaja." ujarnya terbata.
"Jangan mengatakan kejujuran sebagai ketidak sengajaan, karena tanganmu lebih jujur dari mulutmu!" desis Kayla tajam dan mendorong lelaki itu agar menyingkir dari hadapannya.
"Kayla!" teriak Kenzie ketika melihat punggung kecil itu menghilang dari hadapannnya. "Awas kau Mikayla!" seringainya sembari menyugar rambutnya kebelakang. "Ini baru permulaan sayang, akhirnya kau juga menunjukkan sifat aslimu." kekehnya geli, sifat polos kekanakan yang selama ini ia saksikan nyatanya tidak seindah itu. Dibaliknya ada sifat tersembunyi yang semakin membuatnya tergila-gila.
Sembari menghidupkan sebatang rokok, lelaki itu terduduk di bawah pohon yang rindang sembari memikirkan langkah apa yang akan ia ambil selanjutnya. Ia suka tantangan, karena mendapatkan seorang Mikayla Marcellina Meida tidak semudah yang terlihat. "Kau seperti putri malu sayang..." kekehnya sembari menghembuskan asap rokoknya yang mengepul di udara. Seorang gadis yang terlihat lugu dan polos nyatanya adalah gadis yang cerdik. Kenzie tersenyum simpul, sudah lama ia memendam rasa ini sendirian dan sekarang akan ia dapatkan bagaimanapun caranya. Kotor atau bersih semua akan ia lakukan untuk memenuhi keinginannya.
"Hhhh, apa yang seorang Kenzie Giovanni Danvers tidak bisa dapatkan?"