Toxic Friendzone

Toxic Friendzone
Terancam



Setelah bertahun-tahun menjadi teman baik, Kayla akhirnya putus asa dengan perlakuan Kenzie yang seenaknya. Selama ini, dia telah memendam perasaan obsesif terhadap Kayla, dan sikap Kenzie yang menganggapnya sebagai miliknya membuat Kayla merasa terkekang dan tidak dihargai sebagai individu yang mandiri.


Selama ini ia masih bisa diam dan menerima segala perlakuan Kenzie yang menurutnya tidak masuk akal dan pura-pura tidak terjadi apa-apa. Namun kini cukup sudah, Kayla merasa sudah saatnya untuk memberontak dan menunjukkan kepada Kenzie bahwa dia bukanlah milik siapa pun. Dia merasa bahwa dia harus mendapatkan kebebasan dan dihargai sebagai teman sejati, bukan sebagai properti Kenzie.


"Kenzie stop!" teriak Kayla lantang, namun lelaki itu tetap saja diam dan menyeretnya menuju apartemennya. Setelah sampai ia melempar Kayla begitu saja ke lantai tanpa memperdulikan bagaimana kondisi gadis itu sekarang.


"Jangan bersikap berlebihan Ken! Kita hanya sahabat tidak lebih!" teriaknya lagi dan segera berdiri, ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan lelaki itu.


"Cuma sahabat?" smirk lelaki itu dan mendorong kasar Kayla, gadis yang sudah berani berteriak padanya. "Kalau gitu ayo kita resmikan! Mulai sekarang kita pacaran, kau milikku dan aku milikmu!"


"Nggak semudah itu Ken! Kau emang udah gila!" sentak Kayla kasar dan mendorong lelaki itu balik, ia sampai kehilangan kata-kata lagi untuk menjelaskannya pada lelaki yang tidak mau mengerti itu.


"Aku nggak minta persetujuanmu Mikayla, entah kau setuju atau tidak kau tetap milikku!" smirk lelaki itu sambil berjalan mendekat yang membuat Kayla memundurkan tubuhnya. "Karna itu pernyataan sayang, bukan pertanyaan!"


Plak!


"Satu lagi, kau nggak berhak buat nolak!"


Awal yang manis dan akhir yang pahit, gadis itu hanya bisa terdiam memegang pipinya. Mulai hari ini akan ia tunjukkan bagaimana sosok asli dari seorang Kayla yang lugu dan manis.


Kayla terdiam, tanpa mengatakan sepatah katapun atau meneteskan air mata ia pergi ke balkon apartemen itu. Sudur bibirnya terangkat, namun karena tamparan itu ia hanya bisa memperlihatkan sedikit senyumnya. Setidaknya ia memberikan sedikit senyuman pada matahari yang terlihat kembali ke peraduan.


"Cantiknya..." gumamnya kecil sembari menyandarkan tubuhnya pada kursi gantung di balkon itu. Biasanya ia akan datang ke apartemen ini dan bermain sepanjang hari, terlihat dengan beberapa alat lukis yang ada di balkon itu.


"Dunia memang penuh teka teki." gumam Kayla lagi sembari memejamkan matanya sejenak, ia lelah sangat lelah. Tidak peduli dengan keadaan lelaki yang bersamanya beberapa saat lalu.


Kesadarannya hampir saja hilang, namun ketika merasakan sesuatu yang dingin yang menempel di pipinya Kayla membuka matanya kembali. Terlihat Kenzie dengan penuh kasih sayang mengobati luka lebam di pipi Kayla.


"Katakan padaku jika ini cuma mimpi, maka aku akan segera bangun." gumam Kayla tanpa menatap Kenzie yang tengah mengobatinya. Rasanya ia tidak rela jika persahabatannya hancur hanya dengan obsesi lelaki itu.


Kenzie hanya diam sembari tangannya terangkat untuk menghapus bulir bening yang jatuh begitu saja di pipi Kayla.


"Sayang..." lirih Kenzie pilu sembari menggenggam erat tangan Kayla namun dengan cepat gadis itu menyentaknya kasar.


"Call me Kayla!" teriak Kayla marah dan segera berdiri. Telinganya panas ketika mendengar panggilan itu dari seseorang yang telah ia anggap seorang kakak.