
Cinta adalah kata yang rumit bagi sebagian orang yang belum pernah merasakannya. Tahap sebelum cinta adalah kenyamanan, rasa nyaman yang kita dapat dari orang-orang terdekat mampu menghadirkan cinta. Tapi sebelum nyaman itu datang, cinta lebih dulu datang dalam hidupnya. Mencintai diam-diam, tanpa mengenal dan hanya menatap dari kejauhan mampu menghadirkan cinta dalam hatinya.
Namun pengharapan itu nyatanya tidak hanya datang dalam dirinya. Sepertinya cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, terbukti dengan coklat yang ia terima dengan sunggingan senyum yang mengukir paginya menjadi lebih indah. Indahnya, andai ia bisa menghentikan waktu dan tetap berada dalam kubangan tatapan penuh damba. Tapi sepertinya kisahnya tidak seindah itu, badai datang dari segala arah dan menghancurkan mimpinya yang sedikit lagi menjadi nyata.
Benar, sedikit lagi. Cintanya terbalas, apa yang lebih indah dari itu?
"Kay!"
"Kayla bangun!"
"Hei, bangun cantik."
Keringat membanjiri pelipisnya, gadis itu terduduk sembari memegang kepalanya yang berdenyut nyeri. Entah apa yang terjadi, sehingga ia berakhir di ranjang uks bersama dengan seorang lelaki yang selalu berada dalam mimpinya.
"Kay are you okay?" tanya Azka cemas sembari mengambilkan segelas air dan membantu Kayla untuk meminumnya.
"Iya kak..." jawabnya setelah meminum air yang diberikan Azka, kepalanya masih berdenyut hebat dengan sudut bibirnya yang sedikit berdenyut nyeri, dan sekarang ia ingat apa yang terjadi.
Azka menghela nafasnya pelan ketika melihat Kayla yang sepertinya enggan berbicara dan tengah menutupi sesuatu.
"Kayla bisa cerita apapun ke kakak..."
Kayla mendongak dan tersenyum sembari mengangguk pelan, "Makasih kak."
"Apa yang terjadi Kay? Kenapa aku menemukanmu pingsan di taman?"
Azka tersenyum dan mengelus surai gadis itu lembut, ia tahu bahwa Kayla tengah berbohong dan ia tidak ingin memaksanya untuk menceritakan apa yang terjadi.
"Baiklah, kau sudah makan?" tanyanya lembut, yang dibalas gelengan oleh empunya.
Azka terkekeh lalu ia mengambil semangkuk bubur, "Ayo makan, aku suapi..."
Kayla tersenyum hangat, dalam hati ia berharap jika apa yang tengah terjadi bukanlah mimpi. Kalaupun itu mimpi maka biarkan ia menikmatinya sebelum waktu yang membangunkannya.
"Kenapa melamun hm, ayo buka mulut..." ujar Azka lembut ketika melihat gadis mungil di hadapannya hanya melamun dalam diam. Entah apa yang terjadi hingga gadis periang seperti Kayla tidak bisa menceritakannya. Ia akan mencari tahu soal itu, dan firasatnya berkata penyebab gadis di hadapannya ini terdiam hanya karena satu orang.
Kayla menerima suapan demi suapan itu dalam diam hingga satu suapan lagi dan bubur itu habis tak tersisa, Azka terkekeh wajah Kayla terlihat begitu lucu.
"Ternyta Kayla makannya banyak juga ya..."
Gadis itu tertawa renyah setelah meminum susunya hingga tandas. "Aku hobby makan kak, kalau kakak terus memberiku makanan aku tidak akan pernah keberatan tapi takutnya aku yang menjadi beban buat kakak..."
Azka terdiam lalu ia tersenyum sembari mengelus surai gadis itu, Kayla yang polos dan baik hati. "Selama itu kau, tidak akan pernah ada kata beban buat kakak. Paham cantik?" ujarnya sembari mencubit gemas pipi Kayla yang sedikit berisi.
Sambil tersenyum malu dengan semburat merah di pipinya Kayla mengangguk perlahan, namun sedetik kemudian dobrakan pintu membuat keduanya menoleh. Siluet hitam memenuhi ambang pintu, dengan jantung yang berdegup kencang Kayla meremas tangannya sendiri, karena ia tahu siapa yang datang.
"Keluar!"