Toxic Friendzone

Toxic Friendzone
Tidak Butuh Izin Siapapun



"Atas izin siapa kalian berduaan disini?" tanya lelaki itu dingin, dengan tatapan yang berkilat tajam menatap dua insan yang mematung di tempat. Tidak, lebih tepatnya hanya Kayla saja dan lelaki itu duduk santai sambil terus menyuapi gadis dihapadannya.


"Ayo buka mulutmu lagi Kay..." ujar Azka ketika Kayla tidak membuka mulutnya dan hanya menundukkan kepalanya. Gadis itu merutuki dirinya dalam hati, tidakkah Azka sadar dengan situasi yang tengah terjadi sekarang. Hingga lelaki itu bisa sesantai itu memintanya untuk membuka mulutnya.


Brak!


Dalam keadaan ruangan yang sudah seperti kapal pecah, dua insan tersebut masih melakukan aksi suap-suapannya. Hingga Kayla yang ditarik paksa oleh Kenzie hingga gadis itu jatuh begitu saja ke lantai.


"Apa-apaan hah?!" teriak Azka marah dan segera membantu Kayla untuk berdiri namun naas ia ditendang begitu saja oleh Kenzie.


"Menyentuh berarti mati!" desis Kenzie tajam namun matanya menatap mata Kayla dalam hingga gadis itu memalingkan wajahnya dengan tubuh yang bergetar. Ini adalah pertama kalinya seorang Kenzie yang berperan manis dalam hidupnya semarah ini padanya. Tapi ia tidak heran lagi dengan itu, karena sikap manis yang selama ini lelaki itu tunjukkan hanyalah bualan belaka.


"Brengsek!"


Bugh!


Tidak terima dengan tendangan Kenzie yang tiba-tiba, Azka pun ikut membalasnya. Jangan salahkan dirinya, karena yang memulai semua ini bukanlah dirinya.


Kenzie berdecih sambil menggelengkan kepalanya dan tertawa, "Kalian benar-benar ingin mati!" desisnya tajam seraya mengarahkan pistolnya pada kedua insan itu. Namun tanpa diduga, Kayla mendorong Azka kuat hingga lelaki itu tersungkur karena terkejut dengan apa yang Kayla lakukan.


"Kayla!" panggilnya lagi namun dengan cepat Kayla menutup pintunya dan menguncinya cepat. Dalam hati gadis itu sangat berterimakasih pada Azka, namun jangan sampai karenanya ada nyawa yang harus di korbankan.


Kenzie menghempas tangan Kayla dan menyudutkannya di dinding sambil mencekik lehernya. "Berusaha melindunginya hm?" desis Kenzie tajam yang membuat sekujur tubuhnya meremang, kali ini Kenzie benar-benar seperti malaikat maut yang siap mencabut nyawa. Namun ia harus tetap tenang untuk melawan api tersebut.


"K-Kenzie lepas dulu..." ujar Kayla dengan nafas yang terengah, hampir saja nyawanya terenggut karena cekikan itu. Tenaga lelaki itu benar-benar tidak main-main, sekalipun lawannya adalah seorang gadis yang baru saja diseretnya dari ranjang UKS.


Sadar akan nafas Kayla yang terputus-putus Kenzie segera melepaskan tangannya dari leher yang sudah mulai membiru. Sahabat yang biasanya saling melindungi itu, kini mendapat tatapan horror dari siswa siswi yang melewati koridor.


"Aku tidak melindunginya, tapi aku melindungimu!" ujar Kayla sambil menatap dalam mata Kenzie yang dipenuhi api amarah. Lelaki itu tertawa sumbang setelah mendengar perkataan Kayla.


"Bulshit!" teriaknya lantang dan kembali menyeret Kayla menuju parkiran, gadis ini harus ia beri pelajaran setelah kebebasan yang didapatnya selama ini.


"Lepas Kenzie!"


Raungan pengampunan Kayla hanya sia-sia dihadapan Kenzie yang sedang di landa amarah. Semuanya hanya menjadi penonton dan saksi bisu atas semua yang terjadi padanya.


"Kayla..." lirih seorang gadis dibalik pilar yang menatap semua yang terjadi dengan bisu, tidak ada yang bisa ia lakukan selain berdoa untuk sahabatnya.