
Salah satu anak buahnya membuka
pintu mobil dan dengan cepat Kenzie membaringkan Kayla dengan perlahan di kursi depan. Setelah menutup pintu ia berlari kecil menuju kursi kemudi dan membaringkan gadis kecilnya secara perlahan di pahanya. Senyumnya semakin terbit melihat wajah damai gadisnya yang tengah terlelap. Lalu mobil itu melesat pergi meninggalkan sekolah beserta umpatan dan makian kasar dari Azka. Serta Jennita dengan perasaan campur aduknya, hatinya gelisah antara lega dan khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.
Lega karena kayla sudah dibawa oleh orang yang menurutnya tepat.
Khawatir karna ia takut terjadi apa-apa pada Kayla.
Mata tajam laki-laki itu menatap jalanan yang terlihat sedikit padat. Dan sesekali melirik pemandangan yang tidak akan pernah membuatnya pernah bosan sedikitpun. Tangannya sibuk memutar kemudi, untuk menyalip kendaraan yang menghalangi jalannya. Gadis kecilnya butuh perawatan, karna itu ia harus cepat sampai.
Hati, jiwa, serta raganya berteriak mengucapkan rasa syukur yang amat dalam kepada-Nya. Karena telah dipertemukan oleh gadis dengan sifat dan rupa bak seorang malaikat.
Bibirnya melengkung, menunjukkan senyuman manisnya sekaligus mistis. Aneh memang, ketika melihat seorang gadis yang ia amat sayangi, terbaring tidak sadarkan diri. Bibirnya malah menyunggingkan senyum dengan sejuta makna.
Tangannya sesekali merapikan anak rambut yang menutupi pemandangan yang begitu mengagumkan di matanya. Meski ia juga sibuk memutar kemudi. Sungguh, sebuah karya-Nya yang maha agung. Katakanlah ia gila, dengan memberi makanan yang sudah.
Kadaluwarsa.
Memiliki imun yang lemah lebih memudahkan, serta mempercepat sistem kerjanya. Namun itulah terror secara langsungnya. Kendaraan roda empat tersebut terus berjalan membelah jalanan yang masih terlihat ramai. Bagaimana tidak? Hari masih cerah, bahkan sang surya belum pamit untuk digantikan oleh rembulan.
Dua insan yang berada di mobil tersebut, akhirnya sampai pada tempat yang sudah terencana. Setelah mematikan mesin mobilnya, Kenzie segera menggendong Kayla dan mulai memasuki sebuah mansion yang megah. Kaki jenjangnya melangkah perlahan, serta sikap acuh tak acuhnya semakin membuat para pelayan yang berjejer rapi disana menundukkan kepalanya. Ketika melihat sang tuan telah tiba. Dengan cepat seorang laki-laki tampan berperawakan tubuh tinggi kekar itu, mengikuti tuannya dari belakang.
"Sudah siap?"
"Sudah tuan."
Laki-laki dengan segala keangkuhannya itu, terus melangkah sambil bertanya pada tangan kanannya yang berada di belakangnya. Semuanya sudah disiapkan, dan itu tentu saja atas perintahnya. Meski bibirnya terangkat menandakan senyuman, tak bisa dipungkiri ia juga merasa sangat amat cemas serta khawatir.
Bagaimana kalau terjadi sesuatu? Tapi yang jelas, semua itu tidak akan terjadi. Selama ia masih berpijak di bumi serta nafas yang masih berhembus.
Pintu lift terbuka, dengan cepat Kenzie masuk dengan Kayla yang berada dalam dekapannya tentu saja. Hatinya cemas namun tidak dengan raut wajahnya. Lift berhenti pada ruangan yang ia tuju, dan semua orang yang berada di ruangan itu bergerak cepat. Orang-orang yang berpakaian putih itu dengan cepat mempersiapkan segala yang di perlukan. Karna ia di panggil dengan tujuan ini.
"Kenapa baru disiapkan sekarang?!" teriak Kenzie lantang yang membuat semua orang disana bergerak dengan cepat.
"Maaf tuan mungkin masih ada yang perlu mereka siapkan." ujar Alan, selaku tangan kanannya.
"Lambat! Cepatlah atau kepala kalian akan berlubang!"
Puluhan orang berpakaian putih yang ada disana meneguk ludahnya kasar. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Bukan satu atau dua orang yang menangani, namun puluhan dokter maupun perawat profesional yang dipanggil Alan ke rumah megah itu atas perintah tuannya.
Kenzie membaringkan Kayla secara perlahan di kasur berukuran queen size yang sudah tersedia disana. Ia mengusap perlahan keringat di dahi gadis itu, sambil bergumam kecil.
"Maafkan aku, tapi kau yang memulainya," gumamnya lirih.
Cup
Setelah mengusap keringat Kayla, ia mengecup dalam pipi gembul gadis itu. Hingga suara seseorang membuatnya menggeram kesal.
"Maaf tuan, sebaiknya anda menunggu di luar. Kami akan menangani nona."
"Siapa kau berani menyuruhku?!" teriak Kenzie lantang.
"Tapi tuan kami-"
"Cepat! Atau aku mutilasi kalian semua sekarang juga!"
Tanpa mengatakan sepatah kata lagi, para dokter dan suster itu mulai memeriksa Kayla. Sebenarnya mereka juga sudah diberitahu tentang makanan yang diberikan kepada gadis malang itu, oleh pemberinya sendiri. Untuk menyiapkan obat apa yang harus mereka persiapkan. Jika saja itu bukan seorang Kenzie, maka sudah dipastikan para dokter itu akan melaporkannya ke pihak berwajib.
Kenzie berbaring di samping Kayla sambil menggenggam tangan mungil gadis itu, dan sesekali mengecupnya. Ia tidak merasa terganggu sedikitpun dengan para petugas medis yang lalu lalang di sekitarnya. Matanya melirik tajam ketika seorang suster memasangkan infus pada Kayla. jika saja gadis itu tengah sadarkan diri, maka sudah dipastikan ia akan menjerit ketakutan.
"Hati-hati! Jika dia kesakitan, tanganmu yang akan kupotong!" ujar Kenzie dingin.
Suster itu hanya menganggukkan kepalanya tanpa menatap mata monster yang berwajah malaikat itu. Sedangkan dokter yang menangani Kayla, hanya menghela nafas pelan. Gadis yang ia tangani ini, memiliki daya tahan tubuh yang lemah. Dan malah di berikan makanan seperti itu, sungguh gadis yang malang.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Kenzie dingin tanpa menatap lawan bicaranya.
"Dia sudah lebih baik. Jika saja nona tidak cepat di tangani mak-"
"Jngan bicara sembarangan?!"
"Tapi itulah kenyataannya tuan. Nona ini memiliki daya tahan tubuh yang lemah, apa tuan tau?"
"Hm."
Salah satu dokter yang bicara itu menghela nafasnya gusar. Ingin rasanya ia memaki laki-laki tak berperasaan itu. Tapi nyalinya tidak sebesar itu. Karna masih ada keluarga yang harus ia nafkahi.
"Lalu kenapa anda masih memberikan makanan kadaluwarsa itu? Jika saja terlambat sedikit saja maka nyawa nona ini tid-"
"Diam?!" sentak Kenzie tajam.
"Siapa kau berani mempertanyakanku?! Tugasmu disini hanya merawat dan tidak lebih dari itu!"
Puluhan manusia berseragam medis disana semakin gemetar melihat tuannya yang arogant itu, ketika mereka melihat salah satu dokter yang dengan beraninya berusaha menasehati Kenzie. Meski hanya satu, tapi semua pasti kena imbasnya.
"ALAN?!"
"Tuan memanggil saya?"
"Usir mereka semua! Sebelum aku lubangi kepalanya satu persatu!" desis Kenzie tajam, habis sudah kesabarannya.
Satu yang paling tidak disukainya, yaitu dipertanyakan. Jika saja para manusia yang ia usir itu telah menyelamatkan gadis kecilnya. Maka ia akan menggiling puluhan dokter dan suster itu, terutama salah satu dokter yang berani mempertanyakannya.
Sesuai perintah tuannya laki-laki yang bernama lengkap Alandro Adriano, yang kerap dipanggil Alan itu. Membawa puluhan petugas medis yang sempat ia bawa ke istana tuannya tadi keluar. Sebelum para penyelamat nyawa semua orang itu, mati mengenaskan ditangan tuannya yang berdarah dingin.
Kenzie melempar semua barang yang ada diruangan tersebut dengan brutal. Dadanya naik turun menahan amarah yang siap meledak. Berani-beraninya dokter itu mempertanyakan dirinya. Ia tau bahwa yang dilakukannya salah. Namun apa boleh buat? Seorang pembangkang harus merasakan akibatnya.
"Argh...sialan!!"
Laki-laki itu mengerang frustasi, semua benda sudah ia lemparkan kemana-mana. Namun tetap saja, api dalam dirinya masih berkobar. Kenzie menyugar rambutnya kebelakang, yang membuat auranya semakin terpancar. Ia menghirup udara rakus dan menghembuskannya perlahan, hingga berulang kali. Untuk berusaha menenangkan dirinya, karna masih ada Kayla-nya yang terbaring lemah dan harus ia jaga.
Sudut bibirnya terangkat, membentuk lengkungan sempurna. Hingga senyuman tampan itu keluar. Hanya karna mengingat gadis yang tengah terbaring lemah itu saja, bisa mengembalikan mood nya yang kacau. Kenzie berjalan mendekati Kayla, dan ikut berbaring di samping gadis itu. Rasanya ia ingin waktu terhenti, walau sebentar saja. Untuk menikmati wajah gadis yang memancarkan kedamaian itu. Serta meresapi setiap waktu yang ia lalui bersama gadis kecilnya.
Katakanlah ia laki-laki gila yang egois. Namun ia ingin bahwa Kayla hanya untuknya saja. Menyimpannya untuk dirinya sendiri. Karna gadis ini adalah takdir yang tercipta untuknya.
"Aku tau, bahwa Kay hanya menganggap kehadiranku sebagai seorang kakak." Monolognya sendiri.
"Tapi, aku tidak bisa! Seseorang yang sudah terikat denganku akan terikat selamanya. Jikapun kau menentangnya nanti, tidak apa-apa." ujarnya sambil tersenyum.
"Karna aku akan menggunakan caraku sendiri, untuk mendapatkannya."
Senyuman tampan yang sempat hadir tadi, kini berganti menjadi seringai yang mengerikan.
...tbc....