
Plak!
Kayla tersenyum getir, ketika ia kembali menerima tamparan dari lelaki itu. Kenapa, apakah perkataannya salah? Mereka hanya sahabat dan untuk lebih dari itu ia rasa tak akan pernah bisa.
Tamparan yang Kenzie layangkan memang terasa begitu sakit, namun hatinya lebih sakit. Matanya berkaca-kaca dan tubuhnya gemetar karena kejadian yang tak terduga ini. Tapi, di tengah kekecewaannya, ia mengumpulkan keberanian untuk memberikan respons yang tak terduga.
"Dalam satu tindakan, kau telah menghancurkan persahabatan kita, Kenzie," ucap Kayla dengan suara lemah namun berapi-api. "Aku tak pernah menyangka bahwa kau bisa begitu kejam. Apakah itu membuatmu merasa lebih baik?"
Kenzie tercengang, terperangah dengan perkataan Kayla. Ia menatap Kayla dengan campuran rasa penyesalan dan marah. "Kau tak tahu apa-apa tentang perasaanku! Aku mencoba memberimu segalanya, tapi semuanya sia-sia karena kau memilih menolakku dengan cara seperti ini!"
Kayla mengusap pipi yang terasa panas akibat tamparan tadi. Ia mencoba untuk mengendalikan emosinya, menyadari bahwa kemarahan tak akan membawa keadaan menjadi lebih baik. "Aku maafkanmu, Kenzie. Tapi, dengan cara apa kau berharap aku menerima perasaanmu dengan kasar seperti ini? Kita selalu bersikap baik satu sama lain dan saling mendukung, apa yang terjadi dengan itu semua?"
Kenzie berjuang mencari kata-kata yang tepat, sesuatu yang bisa menjelaskan apa yang ada di dalam hatinya. "Aku takut. Aku takut kehilanganmu, Kayla. Aku tak ingin melihatmu menjadi milik orang lain, aku ingin menjadi orang yang selalu berada di sisimu."
Kayla terdiam sejenak, membiarkan kata-kata Kenzie masuk ke dalam hatinya. Tiba-tiba, ia tersadar dengan penuh kelegaan. "Kenzie, aku tak pernah menyadari perasaanmu. Aku takkan menyalahkanmu karena itu. Tapi, kamu harus belajar bahwa tidak semua orang akan merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan."
Kenzie menatap Kayla dengan penuh harapan. "Jadi, apakah kamu memberiku kesempatan untuk mengubah pendapatmu?"
Kayla tersenyum, mencoba untuk memulihkan suasana di antara mereka. "Aku tak bisa membuat janji, Kenzie. Percaya atau tidak, ada seseorang yang masuk ke dalam hidupku dengan caranya sendiri. Aku memang menolaknya, tapi itu tak berarti jantungku tertutup untuk orang lain. Kita tak pernah tahu apa yang bisa terjadi di masa depan."
"Kenzie, kita ditakdirkan untuk bersama sebagai teman. Semua yang telah kita lewati bersama tak boleh hancur begitu saja karena masalah cinta. Kita bisa melewatinya dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya," kata Kayla dengan tulus.
Kenzie mencoba mengontrol emosinya, merasa lega karena masih memiliki seorang sahabat yang baik hati seperti Kayla. Ia mengangguk perlahan. "Aku janji, aku akan memperbaiki kesalahanku. Kita akan menjadi sahabat seperti dulu lagi, dan aku akan selalu berada di sampingmu tanpa ada alasan lain selain persahabatan yang tulus."
Kayla tersenyum lebat, merasa hubungan mereka akan menjadi lebih baik setelah kejadian ini. Mereka berpegangan tangan, tanda kebersamaan dan tekad untuk memperbaiki persahabatan mereka. Seiring berjalannya waktu, mereka berdua belajar mengatasi rasa sakit dan mengerjakan langkah mereka untuk menjaga satu sama lain.
Dalam hati, Kayla berharap Kenzie akan menemukan orang yang pantas untuknya, seperti yang ia temukan dalam kehidupannya. Dan sejalan dengan itu, juga untuk dirinya sendiri. Mereka berdua mengetahui bahwa meskipun cinta bisa menimbulkan luka, persahabatan yang tulus tak akan pernah hilang.
Kayla memeluk Kenzie dengan tulus, ia berharap setelah kejadian ini tidak akan ada kesalahpahaman lagi dan hubungan persahabatannya akan berjalan seperti biasa. Setidaknya itulah yang Kayla inginkan, namun berbeda dengan isi hati dari seseorang yang tengah ia peluk. Kenzie tersenyum smirk, gadisnya benar-benar polos dan lugu dan ia semakin mencintainya.
"Kau pikir semudah itu sayang? Aku tidak akan pernah melepasmu, sekalipun langit memintanya." batinnya berteriak sembari memeluk Kayla erat, kali ini ia akan mengalah agar Kayla tidak merasa takut ataupun segan dengannya dan setelah kejadian ini sudah dapat dipastikan jika gadis kecilnya akan bersikap seperti biasa pada dirinya. Penuh keceriaan dan sikap manjanya yang membuat warna tersendiri dalam hidupnya.
"Kenzie, kau tidak sepintar itu untuk membodohiku..." ujarnya dan tentu saja di dalam hati. Kayla tersenyum smirk dan melepaskan pelukannya.
"Apa kau tidak tau kalau ini sakit?" sungut Kayla dengan manja yang membuat Kenzie terkekeh dan mengacak rambut gadis itu.
"Akan aku obati." jawab Kenzie dan mengecup pelan luka lebam di pipi Kayla. Gadis itu mengepalkan tangannya erat, sungguh ia tidak nyaman dengan perlakuan itu namun demi rencananya ia akan menerima segalanya.