
"Kayla.."
Teriakan itu menggema memenuhi seisi mansion, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu mengernyit heran entah siapa gerangan yang berteriak heboh pagi-pagi begini. Nesya mematikan kompornya lalu berjalan keluar, seketika senyumnya terbit ketika melihat siapa yang datang. Dengan lugu nya gadis itu malah tertawa tanpa beban setelah berteriak di rumah orang.
"Jennita ayo masuk." ujar Nesya sembari menghampiri gadis itu, wanita paruh baya itu berdecak kagum ketika melihat gadis itu telah rapi dengan seragamnya berbeda sekali dengan anak gadisnya yang senantiasa masih di alam mimpi.
"Kamu langsung masuk aja Jenn, pasti Kayla masih mimpi.." ujarnya seraya tertawa dan kembali berjalan menuju dapur. "Jennita masuk ya tante.." jawab jennita lalu berjalan ke kamar Kayla setelah melihat acungan jempol dari bunda sahabatnya.
Jennita mengetuk pintu itu pelan sambil memanggil Kayla, lalu ia berfikir sejenak sangat mustahil sahabatnya akan terbangun dengan cara seperti ini. Gadis itu lalu membuka pintu pelan, untunglah tidak terkunci. Setelah terbuka Jennita berdecak, sahabatnya itu masih saja bergelung pada selimut tebalnya.
"Uh Bunda, 5 menit lagi.."
Gadis itu tertawa pelan ketika mendengar gumaman sahabatnya yang mengira bahwa ia adalah bundanya. Jennita semakin membuka gorden itu hingga terbuka seluruhnya. Seketika seorang gadis yang masih memejamkam matanya itu membuka matanya sambil menguap pelan.
"Bangun Kay, kita kan ada ulangan sekarang.."
"Bunda kok tau aku ada ulangan sekarang.." kawab gadis itu sambil mengusap matanya pelan, sungguh cahaya matahari itu terasa menusuk retinanya.
Jennita menggelengkan kepalanya pelan, sepertinya gadis itu belum sadar sepenuhnya. "Iya kan ini bunda Jennita jadi tau segalanya, jadi cepat bangun Kay!" geram gadis itu sambil menarik selimut sahabatnya yang membuat Kayla memekik.
"Ih Jennita kok ada disini?" tanya Kayla cepat dengan kesasadaran yang telah terkumpul, seingatnya ia tidak jadi menginap di rumahnya sahabatnya. Lalu mengapa gadis itu berada dalam kamarnya?
"Oh God! Kayla cepat mandi sana atau aku siram kamu!"
Gadis itu tertawa dengan piyama yang bergambar doraemon itu dengan segera ia berlari ke kamar mandi. Jennita menggelengkan kepalanya pelan ketika melihat sahabatnya telah hilang di balik pintu.
"Wah.." Jennita berdecak kagum ketika menelisik kamar sahabatnya itu, sangat indah dan penuh dengan warna. Jangan lupakan dinding yang penuh dengan gambar karakter.
Pintu terbuka dan gadis itu menoleh terdapat Kayla yang sudah lengkap dengam seragamnya, "Cepet amat." ujar Jennita sambil mendudukkan dirinya di kursi meja belajar sahabatnya itu.
"Aku mandi Jenn, bukannya tidur.."
Jennita tertawa, tapi baguslah jadi mereka bisa belajar sampai sekolah lagi nanti. "Aku nggak belajar sama sekali Kay.." gumam Jennita lesu, setelah menerima telfon kemarin ia menjadi tidak fokus dan terus kepikiran.
Kayla menoleh setelah selesai menyisir rambutnya, lalu ia menepuk pundak Jennita dengan pandangan yang serius, "Tenang Jenn kamu tidak sendiri!" Kayla terbahak raut wajah sahabatnya yang menatapnya intens begitu serius.
"Iss!" Dengus Jennita lalu berjalan dan menghampiri sahabatnya yang tengah mengambil tasnya. "Tapi Kay, itu si Elfata kenapa ya?" tanya Jennita, ia bingung harus bertanya darimana karna begitu banyak pertanyaan yang muncul di benaknya.
Kayla menoleh dan tersenyum, ternyata sahabatnya itu masih saja mencemaskan hal itu, "Dia baik Jenn, kamu jangan khawatir."
"Lelaki baik nggak akan menelfon tengah malam dan mengatakan hal yang tidak aku mengerti!"
"Maksudnya?"
Tok Tok Tok
Keduanya saling pandang dan dengan cepat Kayla mengikat tali sepatunya, "Jenn coba buka pintunya.."
Jennita mengangguk dan berjalan untuk membuka pintu. Seketika ia menegang ketika melihat raut wajah datar dan dingin yang menyapanya.
"Minggir!"
Gadis itu dengan cepat membuka pintu dan berjalan mundur, aura lelaki itu sungguh membuat nyalinya menciut. Sungguh ia melupakan satu hal ketika menjemput sahabatnya itu yaitu Kenzie yang selalu datang untuk menjemput Kayla.
"Kayla.." Panggil lelaki itu dengan senyuman lebar yang terpatri dibibirnya. "Sudah siap?" tanyanya pada Kayla sambil menyelipkan anak rambut gadis itu ke belakang telinganya.
"Kenzie?"
Kayla tersenyum lalu mengangguk, dan ia menoleh pada seorang gadis yang masih berdiri kaku di ambang pintu. Kayla menghela nafasnya lalu menggandeng tangan Kenzie untuk keluar, "Ayo Ken nanti kita telat!"
Jennita berjalan dan mengikuti keduanya, terlihat sekali bagaimana Kenzie merangkul erat sahabatnya itu. Gadis itu bergidik ngeri, rasanya ia merinding ketika melihatnya. Bagaimana sebuah obsesi yang besar begitu pekat dibalik mata yang terlihat teduh ketika menatap sahabatnya.
"Bunda kami langsung berangkat ya!"
"Eh kalian nggak sarapan dulu?" tanya Nesya sambil menata makanan di meja makan. Ketiganya menggeleng sambil tersenyum dan wanita paruh baya itu mengangguk sambil memberikan kotak makanan pada putrinya.
Nesya melambaikan tangannya ketika melihat ketiganya telah pergi. Lalu ia melanjutkan kegiatannya di dapur, meski ada puluhan maid ia lebih suka menjalankan aktifitasnya sendiri karena menurutnya itu sudah kewajibannya sebagai ibu rumah tangga.
"Jenn ayo ikut mobil Ken aja, daripada kamu sendiri," ujar Kayla sambil menggandeng tangan Jennita menuju mobil lelaki itu. Kenzie bersedekap dada menatap penuh senyuman pada kedua gadis itu, namun jauh di lubuk hatinya ia mengumpat kesal. Kenapa gadis bernama Jennita itu seperti parasit?
"J-Jangan Kay, aku kan bawa mobil." Jennita menghentikan langkahnya lalu berbalik hendak pergi, sungguh atmosfer ini membuatnya merasa sesak.
"Masuklah," ujar Kenzie sambil menatap kedua gadis itu, Kayla memekik senang lalu dengan segera mendorong Jennita masuk di kursi belakang dan dirinya dengan segera duduk di sebelah sahabatnya.
"Kay.."
"Aku disini ya Ken, mau belajar bentar bareng Jennita."
Kenzie tersenyum lalu mengangguk samar, hari ini ia benar-benar menjadi supir. Lalu lelaki itu menancap gas nya dan menuju sekolah diiringi dengan tawa kedua gadis yang memenuhi mobilnya.
Kayla tersenyum, sungguh ini hari yang menyenangkan baginya. Bermain - main sedikit di pagi hari bukankah hal yang baik?
Jangan pernah tunduk karena alasan takut.
...🤸♀🤸♀...